Petani Australia Putus Asa, Mendesak Agar Backpacker Segera Didatangkan
Elshinta
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Petani Australia Putus Asa, Mendesak Agar Backpacker Segera Didatangkan
ABC.net.au - Petani Australia Putus Asa, Mendesak Agar Backpacker Segera Didatangkan

Kalangan petani dan pelaku usaha pariwisata Australia mendesak pemerintah untuk memperbolehkan pekerja backpacker datang kembali pada musim panen akhir tahun ini.

  • Industri buah dan sayuran menyatakan ada potensi kerugian sebesar 6,3 miliar dolar bila tak mendapatkan bantuan pekerja backpacker pada musim panen kali ini
  • Para petani dan industri pariwisata mengajukan rencana mempekerjakan backpacker dan asisten rumah tangga yang aman dalam situasi COVID
  • Departemen Pertanian tak pasti seberapa besar kekurangan tenaga kerkja sektor pertanian namun suatu laporamn menyebut setidaknya dibutuhkan 26.000 pekerja.

Para backpacker, termasuk pemegang Work and Holiday Visa (WHV) diharapkan membantu memetik buah, merawat anak-anak petani, hingga menggerakkan sektor pariwisata.

Permintaan itu disampaikan melalui surat resmi ke pemerintah yang saat ini sedang mengantisipasi kekurangan tenaga kerja sektor pertanian pada musim panas ini.

Di sisi lain, pemerintah juga masih dihadapkan dengan persoalan pemulangan sekitar 30 ribu warga Australia yang hingga kini masih berada di luar negeri.

Federasi Petani Nasional (NFF) bersama organisasi backpacker (BYTAP) dalam suratnya menyerukan agar program Working Holiday Maker segera dibuka kembali.

Jumlah backpacker di Australia mengalami penurunan sekitar 50 persen sejak perbatasan negara ini ditutup untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Hal ini diperkirakan akan mengakibatkan kekurangan sedikitnya 20.000 pekerja.

Dalam surat yang dikirim ke 30 politisi federal, NFF dan BYTAP mengatakan para backpacker harus diizinkan masuk ke Australia untuk membantu panen, menjadi asisten rumah tangga petani serta menghidupkan kembali sektor pariwisata.

Ketua NFF Tony Mahar menjelaskan pekerja backpacker biasanya memenuhi 80 persen dari seluruh tenaga kerja sektor pertanian di Australia.

"Sebuah laporan menyebutkan tanpa adanya pekerja working holiday ini, maka industri buah dan sayuran akan mengalami kerugian 6,3 miliar dollar serta peningkatan biaya produksi hingga 60 persen," katanya.

Juru bicara BYTAP Wendi Aylward menambahkan, pekerja backpackers setiap tahun berkontribusi sekitar 3,2 miliar dollar bagi perekonomian Australia.

"Setiap pekerja working holiday membawa uang $5.000 sebagai syarat visa mereka dan menghabiskan $10.300 selama tinggal di sini," kata Wendi.

Kekurangan 26.000 pekerja

Laporan ABC News bulan Agustus lalu menyebutkan, kalangan industri ini menyusun rencana untuk mempekerjakan backpacker secara aman dalam situasi COVID.

Mereka diharapkan berasal dari negara-negara dengan tingkat infeksi COVID yang rendah, menjalani tes yang ketat, serta dikarantina di Australia sebelum mulai bekerja.

Dalam rencana tersebut, Federasi Petani dan BYTAP mengusulkan agar biaya visa untuk backpacker ini diganti menjadi biaya tes COVID, serta biaya karantina diambilkan dari pajak atau potongan dana pensiun dari gaji backpacker itu sendiri.

Namun dalam rapat dengar pendapat di Senat Australia hari Rabu (21/10), pihak Departemen Pertanian kesulitan untuk memastikan apakah benar kekurangan tenaga pemetik buah dan sayur ini mencapai 26.000 orang.

Pejabat Departemen Pertanian Andrew Metcalfe mengaku pihaknya belum membaca laporan dari industri pertanian yang disusun Ernst and Young.

Laporan tertulis yang disampaikan dalam rapat menyebutkan pihak terkait telah berusaha memastikan jumlah kekurangan tenaga kerja sektor ini di tengah pandemi.

"Penggunaan tenaga kerja di bidang pertanian biasanya meningkat dari sekitar 315.000 pekerja pada September mencapai puncaknya sekitar 354.000 pada bulan Februari," bunyi pernyataan itu.

"Penggunaan tenaga kerja tetap tinggi selama bulan Maret dan April sebelum berkurang kembali menjadi sekitar 310.000 di bulan Mei."

Dikatakan, analisis Departemen Pertanian menunjukkan adanya peningkatan penggunaan tenaga kerja asal luar negeri di sektor ini antara September dan Februari. Jumlahnya mencapai 20.000 orang.

"Apabila tidak ada pekerja dari luar negeri yang datang ke Australia untuk memenuhi permintaan ini, tentunya akan menimbulkan kesenjangan."

Tingkat pengangguran Australia saat ini diperkirakan akan mencapai level tertinggi selama beberapa dekade.

Karena itu, usulan dari Federasi Petani juga menyebutkan semua lowongan pekerjaan di sektor ini akan ditawarkan terlebih dahulu pada tenaga kerja setempat.

Pada bulan Juli, Pemerintah menyetujui rencana mendatangkan pekerja dari negara-negara Pasifik untuk bekerja di sektor pertanian.

Menteri Pertanian David Littleproud menyatakan sekitar 4.000 pekerja dari Pasifik bisa masuk melalui program Pekerja Musiman tahun ini.

Namun sejauh ini baru 300-an pekerja asal Vanuatu yang sudah bekerja memetik buah mangga di Australia Utara.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

Ikuti berita seputar pandemi Australia di ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Operasi Media Sosial Kembali Terdeteksi Berusaha Mengalihkan Isu Papua Merdeka
Kamis, 19 November 2020 - 10:22 WIB
Ratusan akun media sosial terdeteksi menyerang wacana Papua Merdeka secara daring dengan modus mengg...
Selamatkan Janda: Upaya Mematahkan Anggapan Buruk Soal Perempuan Bercerai
Kamis, 19 November 2020 - 10:22 WIB
Bertin Tiara resmi bercerai di masa awal pandemi COVID-19 di Indonesia, Maret lalu.Setelah bercerai ...
Hati-hati, Mata-mata Asing Mencoba Memikat Pengguna Jejaring Sosial
Kamis, 19 November 2020 - 10:22 WIB
Badan Intelijen Keamanan Australia (ASIO) mengeluarkan peringatan adanya upaya dari mata-mata asing ...
Kegiatan Rizieq Shihab Membuat Protokol Kesehatan di Indonesia Membingungkan
Kamis, 19 November 2020 - 10:22 WIB
Di saat kasus penularan virus corona yang masih terus meningkat dengan rata-rata ribuan kasus baru s...
Dua Potensi Vaksin COVID-19 Miliki Efektivitas di Atas 90 Persen. Apa Selanjutnya?
Kamis, 19 November 2020 - 10:22 WIB
Produsen obat Amerika Serikat Moderna telah merilis data yang menunjukkan uji coba vaksin COVID-19 9...
Jumlah Politisi Perempuan Australia di Tingkat Pemerintahan Lokal Meningkat
Kamis, 19 November 2020 - 10:22 WIB
Perempuan menjadi politisi dalam tingkat pemerintahan lokal di Australia semakin meningkat, walau ma...
Orang Kaya Australia Habiskan Hartanya Mengatasi Perubahan Iklim
Kamis, 19 November 2020 - 10:22 WIB
Ketika Jeff Wicks pensiun, dia dan istrinya Julie memikirkan kehidupan mereka selanjutnya di Queensl...
Muslim Pro Bantah Menjual Data Pengguna Aplikasinya ke Militer Amerika Serikat
Kamis, 19 November 2020 - 10:22 WIB
Pengembang aplikasi Muslim Pro telah membantah laporan yang menyebutkan data personal pengguna aplik...
Positif COVID Marak di Penjara Indonesia, Epidemiolog Minta Pemerintah Lakukan Tes Massal
Kamis, 19 November 2020 - 10:22 WIB
Jumhur Hidayat, aktivis yang kerap dihubungkan dengan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), d...
Pemerintah Australia Memakai Google Translate untuk Menerjemahkan Informasi Pandemi
Kamis, 19 November 2020 - 10:22 WIB
ABC menemukan bahwa Pemerintah Australia menggunakan Google Translate ketika menerjemahkan informasi...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV