Pergulatan Prancis Melawan Islamisme  
Elshinta
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pergulatan Prancis Melawan Islamisme  
DW.com - Pergulatan Prancis Melawan Islamisme  

Akhir September lalu Prancis dikejutkan oleh serangan senjata tajam terhadap pejalan kaki di depan bekas kantor majalah satir, Charlie Hebdo, di Paris. Setelah bulan-bulan yang tenang, hantu Islamisme yang siap melancarkan aksi kekerasan, kembali menyeruak ke kesadaran publik.

Tidak lama setelah aksi teror terbaru, Presiden Emmanuel Macron menjabarkan bagaimana dia ingin menanggulangi tindak kekerasan atas nama Islam. Penampilannya penuh nuansa, tanpa retorika kanan atau Islamofobia. Tapi mengingat 240 korban jiwa berjatuhan akibat serangan teror dalam lima tahun terakhir, Macron memahami, dia harus mendeklarasikan perang.

Pemerintah di bawah tekanan politik

Pembunuhan brutal terhadap Samuel Paty kembali membuktikan, bahwa di Prancis gerakan bawah tanah Islamisme sedang menyebar dan mampu menyembunyikan diri dari pantauan negara.

Macron menyebut fenomena itu sebagai “Separatisme Islam”, yang tumbuh setelah serangan teror 11 September 2001 di New York, dan semakin menggurita menyusul kebangkitan “Islamic State” dan pemerintahan Islamis otoriter di Timur Tengah.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menyalahgunakan agama sebagai instrumen penindasan dan alat kekuasaan, adalah salah satu dari banyak contoh. Di sini, para pelaku teror menikmati perlindungan dan dukungan ideologis. Dengan sikap tegasnya terhadap aksi agresif Erdogan di timur Laut Tengah, Macron sedang menunjukkan bahwa dia memahami konteks globalnya.

Meski demikian dia harus melancarkan perang di wilayah sendiri. Dan dalam hal ini, banyak kebijakan pemerintah Prancis yang sudah tepat. Program pendidikan untuk imam, kewajiban sekolah bagi anak-anak muslim, deportasi kaum radikal dan pengawasan ketat terhadap lembaga yang mentolelir imam radikal.

Tidak seorangpun di Prancis bisa memainkan kartu Islamofobia. Karena organisasi-organisasi ini punya waktu bertahun-tahun untuk mengakhiri dukungan atau toleransi terhadap ideologi kekerasan di kalangan sendiri.

Ketegasan hanya alat politik

Walau begitu, ketegasan politik hanyalah alat untuk memerangi masyarakat paralel kaum Islamis yang menyebar di kota-kota besar Prancis dan di antara kaum migran. Dalam skenario terbaik, kebijakan itu cuma mampu membukukan keberhasilan jangka pendek dan menenangkan para pemilih.

Pengamat politik di Prancis mengetahui seberapa dalam masalahnya sudah mengakar. Presiden Macron berbicara tentang dua penyebab, sejarah kolonial Prancis yang tidak tuntas dibahas, terutama seputar perang di Aljazair, serta ketimpangan sosial dan ekonomi di kota-kota satelit.

Negara sendiri yang menciptakan ghetto-ghetto itu dan ikut bersalah menyemai “separatisme” yang kemudian tumbuh. Butuh beberapa generasi untuk menanggulangi masalah ini. Dan upaya itu tidak bisa didorong dengan tekanan politik, melainkan lewat kucuran dana, pendidikan, perumahan sosial dan infrastruktur – daftarnya tak berbatas.

Sekitar 25 tahun lalu film “La Haine” mencuatkan kehidupan sosial masyarakat pinggiran di kota-kota besar Prancis. Tahun ini film "Les Misérables" mengangkat kisah serupa, dan menunjukkan betapa situasinya tidak banyak berubah.

Perang melawan Islamise akan menjadi proyek besar bagi Macron yang membidik masa jabatan kedua dalam pemilu tahun depan.
Pengungkapan sejarah kolonial yang dia usulkan boleh jadi akan mengendurkan dukunan kaum kanan terhadapnya. Tapi tanggungjawab yang dia emban itu bernilai historis, terutama untuk seorang presiden.

Kesabaran dan daya persuasi

Juga sekularisme yang kaku di Prancis yang mengeluarkan agama dari ranah publik ikut mempertajam perdebatan saat ini. Di satu sisi, pemerintah menuntut warga muslim beradaptasi pada norma dan Undang-undang Prancis, sementara di sisi lain ia tidak menyisakan ruang bagi ekspresi keagamaan.

Mungkin elit politik di Prancis harus bertanya, apakah glorifikasi tradisi sekuler di era multietnis dan multiagama seperti saat ini masih merupakan dasar yang tepat.

Pada sisi lain kita melihat kegagalan institusi-institusi Islam di Prancis. Dan jumlah korban dari aksi teror yang mencari pembenaran pada ajaran Islam dalam beberapa tahun terakhir juga tidak membenarkan sebuah pembelaan.

Negeri ini dikaruniai imam-imam besar yang memperjuangkan toleransi. Tapi di sekitarnya tumbuh gerakan bawah tanah kelompok salafi dan kaum garis keras yang terus mempropagandakan tindak kekerasan terhadap “kaum kafir”. Konten di laman media sosial milik para pelaku pembunuhan Samuel Paty misalnya, bisa membuat darah membeku.

Presiden Macron akan membutuhkan kesabaran dan daya persuasi, dia harus tegas dan saat yang bersamaan mampu bersikap lentur, jika ingin membuat terobosan dalam perang ini. Karena kemenangan mutlak tidak akan bisa dicapai. Untuk itu Prancis sudah terlalu lama memarjinalkan kelompok ini. Pada akhirnya dibutuhkan lebih dari seorang kepala negara, melainkan juga masyarakat madani Prancis yang mau berkonfontasi dengan sejarah dan kesalahan sendiri.

rzn/as




Pemerintah Prancis melancarkan tindakan keras terhadap kaum Islamis menyusul pembunuhan seorang guru di Paris. Ketegasan saja tidak cukup, tulis redaktur senior DW, Barbara Wesel, Presiden Macron butuh nafas yang panjang
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Sinar X: Penemuan Tidak Sengaja Röntgen yang Merevolusi Dunia Pengobatan
Selasa, 01 Desember 2020 - 09:29 WIB
Semuanya terjadi secara kebetulan - seperti banyak hal lainnya dalam temuan di bidang sains. Wilhel...
Perusahaan Jerman BioNTech: Vaksin Corona Kami Efektif 90 Persen
Selasa, 01 Desember 2020 - 09:29 WIB
Perusahaan Jerman BioNTech dan mitranya di Amerika Serikat, Pfizer, mengumumkan pada hari Senin (09/...
Cina Laporkan Lebih 6.000 Orang Terinfeksi Brucelliosis
Selasa, 01 Desember 2020 - 09:29 WIB
Lebih dari 6.600 orang di kota Lanzhou, provinsi Gansu di barat laut Cina belum lama ini didiagnosa ...
BioNtech: Dengan Kecepatan Cahaya Ciptakan Vaksin Corona Pertama
Selasa, 01 Desember 2020 - 09:29 WIB
"Lightspeed", alias kecepatan cahaya, demikian nama proyek perusahaan Jerman BioNtech yang...
Banyak Mantan Pasien Covid-19 Derita Efek Masalah Psikis
Selasa, 01 Desember 2020 - 09:29 WIB
Virus corona SARS-CoV-2 diketahui sangat agresif dan menyerang serta merusak jaringan paru-paru dan ...
Meme: Sekadar Lelucon Atau Gerbang Digital untuk Manipulasi Media Sosial?
Selasa, 01 Desember 2020 - 09:29 WIB
Tahun 2020 memang tahun yang penuh tantangan. Tidak heran jika kemudian banyak orang beralih ke humo...
Peluang Transaksi Syariah dengan Dinar dan Dirham
Selasa, 01 Desember 2020 - 09:29 WIB
Mengembangkan dan mendorong implementasi ekonomi syariah adalah salah satu mantra ekonomi dari pemer...
Jerman Waspadai Penyebaran Ideologi Islamisme
Selasa, 01 Desember 2020 - 09:29 WIB
Organisasi bantuan Islamic Relief Deutschland (IRD) di Jerman saat ini sedang tersudut. Pernyataan s...
Kegiatan Rohani di Tengah Pandemi COVID-19: Tak Bisa Lagi Patuh?
Selasa, 01 Desember 2020 - 09:28 WIB
Sebuah sinagoge Yahudi Ortodoks telah didenda oleh otoritas New York setelah ribuan orang berkumpul ...
Lembaga HAM Laporkan Gelombang Pembunuhan Warga Ahmadiyah di Pakistan 
Selasa, 01 Desember 2020 - 09:28 WIB
Tiga organisasi hak asasi manusia internasional meminta pemerintah Pakistan lebih giat melindungi ko...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV