Apa yang Kita Pelajari dari Tikus Lucu Arktik ini?
Elshinta
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Apa yang Kita Pelajari dari Tikus Lucu Arktik ini?
DW.com - Apa yang Kita Pelajari dari Tikus Lucu Arktik ini?

Benua Arktik di Kutub Utara terus mencair dan membawa perubahan muram pada ekosistem Bumi. Perkembangan ini direkam oleh ilmuwan selama berabad-abad di Greenland. Pulau raksasa yang tiga perempat wilayahnya ditutupi lempeng es abadi itu merupakan medan terdepan dalam menghadapi pemanasan global. Ilmuwan antara lain mengamati perkembangan populasi tikus Lemming yang hidup di Greenland. Di tangan satwa pengerat berkuping besar ini lah, keseimbangan ekosistem Arktik bergantung.

Persiapan penelitian yang rumit

Tim di bawah pakar ekologi asal Prancis, Benoit Sittler, dan pakar biologi hewan liar Johannes Lang, asal Jerman, membutuhkan perjalanan yang panjang melalui darat dan udara untuk mencapai tempat penelitian. Mereka melintas di atas gletser dan fjord yang membeku di Greenland. Di tengah perjalanan, mereka pun sudah bisa melihates yang telah meleleh di pertengahan Juni, walau musim panas yang pendek belum benar-benar mulai.

Tujuan perjalanan mereka adalah Lembah Karupelv di pulau Traill. Pendaratan di lereng batu sudah jadi petualangan tersendiri untuk mereka. Pulau Traill sendiri adalah sebuah pulau tak berpenghuni. Tim peneliti datang lengkap dengan berbagai bahan makanan seperti tepung, gula, susu, kopi, tenda, dan tentu juga perangkat ilmiah untuk bertahan hidup selama beberapa pekan sebelum pesawat akan menjemput mereka lagi untuk perjalanan pulang.

Penelitian pun harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian dari bahaya yang mengintai. Jejak beruang es, misalnya, menjadi sesuatu yang amat diperhatikan. Baru saja tiba, tapi sudah Menembak beruang es hanya jadi pilihan terakhir. Sebelumnya, sebuah pagar listrik akan menjadi lini perlindungan pertama terhadap hewan itu.

Sebaliknya, bintang utama proyek itu sendiri sangat tidak berbahaya. Yaitu hewan yang disebut "collared lemming", atau leming berkerah.

Lemming, si tikus penghuni Arktik

Benoit Sittler memulai penelitian Lemming di Greenland 30 tahun lalu. Dari penelitian itulah berkembang proyek jangka panjang. Lemming termasuk sejenis tikus yang menggali lubang di tanah. Mereka terutama hidup di bagian utara bumi. Di Greenland sendiri hidup banyak "collared lemming". Di musim dingin, warnanya putih seperti salju, dan di musim yang hangat, warnanya menjadi abu-abu dan coklat.

Di musim panas Arktik yang singkat, hewan ini hidup di liang-liang di dalam tanah, berlindung dari ancaman hewan yang ingin memakannya. Predator yang meneror mereka antara lain adalah rubah kutub, burung hantu salju dan burung camar pemangsa yang hidup di daerah itu.

Di musim dingin, situasi lebih aman. Cakar bagian depan hewan pengerat ini juga tumbuh lebih kuat, agar ia lebih mampu menggali di tanah dan salju yang beku. Di masa ini, Lemming juga terus berkembangbiak. Di bawah lapisan salju yang tebal, mereka membuat liang-liang dan sarang dari rumput kering. Kemudian mereka bisa beranak beberapa kali. Satu-satunya hewan berbahaya bagi mereka di saat ini hanyalah cerpelai. Populasi Lemming sendiri meningkat dengan sangat cepat, terlebih karena hewan yang baru berusia 6 pekan pun sudah bisa berkembangbiak.

Mencari sarang musim dingin

Dalam tur eksplorasi ini Benoit Sittler mencari sarang musim dingin Lemming. Baginya, mereka adalah cara tak langsung untuk melihat ada berapa hewan berada di lokasi penelitian saat itu. Di bulan Juni ini, salju yang sudah lumer membuat sarang-sarang lemming lebih bisa dikenali.

Akibat perubahan iklim, salju lumer lebih cepat dan turun tidak sedini biasanya. Akibatnya, perkembangbiakkan Lemming dalam jumlah besar, yang disebut "Lemming Peaks”, sekarang tidak lagi ada. Di tahun-tahun lalu, dalam setiap ekspedisi, peneliti bisa menemukan 4.000 sarang. Sekarang, menemukan 400 sarang saja sudah tergolong banyak.

Benoit Sittler menjelaskan bagaimana Lemming memiliki sejumlah jaringan lubang di bawah salju yang menghubungkan semua sarang. Perkembangbiakkan mereka terjadi di sarang-sarang itu.

Ukuran kawasan penelitian sekitar 15 km persegi. Tim ini berjalan ratusan kilometer setiap tahunnya, untuk mencatat perkembangan populasi Lemming. Dua pekan berlalu dan fjord di depan perkemahan sudah hampir bebas dari es.

Benoit Sittler kembali mengadakan tur untuk menghitung jumlah sarang Lemming. Tapi peneliti asal Alsace itu sekarang menyadari bagaimana sarang Lemming dari musim dingin sangat jarang ditemukan. Mungkin jumlahnya terlalu sedikit untuk bisa menambah populasi. Tren tersebut sangat jelas terlihat dan segera didata dan didokumentasi secara terperinci.

Tidak banyak proyek penelitian di Eropa yang punya data sebanyak ini. Data yang bernilai tinggi merupakan bukti bagi perubahan iklim yang masih sering disangkal banyak orang.



Es di Kutub Utara sedang mencair. Lemming, sebuah hewan pengerat legendaris di Arktik, mampu mengungkapkan banyak hal tentang perubahan ekosistem yang sedang terjadi. Mereka menjadi bukti perubahan iklim.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tren Virus Corona: Pandemi Belum Berakhir
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Apa tren global saat ini? Target semua negara adalah masuk bagian biru dari peringkat dan tetap ber...
World Cities Day: Upaya Kota-kota Dunia Atasi Perubahan Iklim
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Jumlah orang yang tinggal di perkotaan diperkirakan akan membengkak pada dekade mendatang, menambah ...
Bernyanyi Jadi Berbahaya di Zaman COVID-19?
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Di sebuah studio di kota München, sebuah tim melakukan penelitian terhadap kandungan virus COVID-19...
Amsterdam Ingin Wujudkan Ekonomi Sirkuler
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Ibukota Belanda, Amsterdam berusaha mewujudkan ekonomi sirkuler hingga tahun 2050. Jadi upaya pengur...
Surga Unik di Siprus
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Bangunan mewah dan berwarna-warni di dekat Limassol, Siprus ini adalah karya seorang seniman lokal b...
Perempuan Diimbau Aktif Redakan Kebencian Lewat Dialog 
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Dialog menutup pintu kebencian, begitulah salah satu kesimpulan akhir yang dibahas selama konferensi...
Hegel, Filsuf Jerman Sumber Inspirasi Karl Marx
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Georg Wilhelm Friedrich Hegel, adalah salah satu pemikir paling terkenal dari Jerman Ia percaya bahw...
Irak: Tatkala Upacara Pemakaman Dipindahkan ke Facebook Selama Pandemi Corona 
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Ketika infeksi COVID-19 meningkat ke level yang mengkhawatirkan di Irak, komunitas-komunitas muslim ...
Ini Yang Dikatakan Obama Tentang Angela Merkel Dalam Buku Terbarunya
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Dalam buku memoar terbarunya yang dirilis Selasa (17/11),mantan presiden AS Barack Obama menyebut An...
“Universitas Jihad“ Pakistan Berbangga atas Alumninya
Kamis, 19 November 2020 - 10:29 WIB
Maulana Yousaf Shah tersenyum lebar saat dia menyebutkan daftar mantan siswa yang kini telah menjadi...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV