Kabar Mantan Pebulutangkis Indonesia: Jadi Komentator Sampai Pensiun di Perth
Elshinta
Jumat, 06 November 2020 - 16:22 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kabar Mantan Pebulutangkis Indonesia: Jadi Komentator Sampai Pensiun di Perth
ABC.net.au - Kabar Mantan Pebulutangkis Indonesia: Jadi Komentator Sampai Pensiun di Perth

Masa puncak kebanyakan atlet adalah antara usia 20 sampai 30 tahunan dan setelah itu mereka masih memiliki waktu untuk melanjutkan "karir kedua" dalam kehidupan mereka.

ABC Indonesia berbicara dengan tiga mantan atlet bulutangkis Indonesia, yaitu Yuni Kartika, Lilik Sudarwai dan Elizabeth Latif yang melakukan tiga hal yang sangat berbeda, setelah berhenti bermain bulutangkis.

Bagi para pecinta bulutangkis Indonesia dan juga penonton televisi, Yuni Kartika mungkin tidak asing lagi karena walau sudah berhenti, perempuan asal Pekalongan ini tetap melakukan sesuatu berhubungan dengan bulutangkis.

Yuni menekuni karir di dunia penyiaran, mulai dari menjadi reporter olahraga sampai sekarang menjadi penyiar atau komentator terutama di pertandingan bulutangkis baik di tingkat lokal maupun internasional.

"Saya pensiun dari bulutangkis di tahun 1996. Saya kemudian sekolah penyiar dulu lalu magang di TVRI dan RCTI sebelum akhirnya jadi penyiar dan komentator olahraga," kata Yuni Kartika.

Menurutnya, dia memang dari awal sudah merencanakan untuk berkiprah di bidang penyiaran televisi setelah pensiun dari bermain bulutangkis.

"Harapannya bulutangkis bisa lebih terkomunikasikan dengan baik di masyarakat dan membuat bulutangkis lebih populer lagi di Indonesia," kata Yuni dalam percakapan dengan wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya, hari Rabu (4/11).

Setahun setelah berhenti bermain bulutangkis, di tahun 1997 ia sudah mulai terlibat di dunia penyiaran dan pekerjaan pertamanya di TVRI sampai sekarang masih merupakan pengalaman yang paling berarti baginya.

"Yang paling saya ingat di zaman awal-awal siaran di TVRI acara Dunia Dalam Berita," kata juara dunia tunggal putri yunior di tahun 1991 tersebut.

"Bisa siaran bareng dengan penyiar-penyiar senior TVRI dan acara itu kan juga termasuk acara prime time pada saat itu."

Berbicara mengenai perbedaan menjadi pemain di lapangan dengan sekarang mengomentari pertandingan bulutangkis, Yuni mengatakan dua hal itu sama-sama memiliki tantangan tersendiri.

"Ini adalah dua yang sangat berbeda, yang satu lebih banyak mengunakan fisik, dan yang satu mengunakan skill berbicara dan komunikasi."

"Sama-sama menantang dan sama-sama bisa mendapatkan kritik kalau kita tidak bisa tampil dengan baik," kata Yuni.

"Kedua-duanya sama-sama menakutkan, kalau kita tidak punya persiapan yang cukup."

Dalam karirnya sebagai pemain bulutangkis, Yuni mengatakan prestasi yang paling dibanggakan adalah ketika menjadi bagian dari tim Indonesia yang merebut Piala Uber di tahun 1994 dan menjadi runner up di turnamen Malaysia Terbuka di tahun 1992 dikalahkan pemain China Huang Hua.

Menanggapi bibit-bibit bulutangkis di Indonesia saat ini, Yuni memiliki penilaiannya sendiri.

"Antusias anak-anak cukup baik ya, karena mereka kan selalu punya idola seperti Kevin Gideon, misalnya, jadi mereka selalu terpicu untuk bermain bulutangkis," kata perempuan yang sekarang berusia 47 tahun tersebut.

"Hanya kalau bicara pemain putri memang agak susah. Jumlahnya yang berminat 30 berbanding 70 dibandingkan dengan pemain putra."

Lilik Sudarwati baru menyelesaikan pendidikan di Lemhanas

Kalau Yuni Kartika lahir tahun 1973, Lilik Sudarwati terpaut tiga tahun lebih awal, yakni dilakhirkan tahun 1970 di Gresik, Jawa Timur.

Lilik berhenti bermain bulutangkis di tahun 1992, setelah tidak terpilih untuk mewakili Indonesia di nomor tunggal putri Olimpiade Barcelona, saat bulutangkis dipertandingkan pertama kalinya di olimpiade.

"Dalam hidup kita harus menentukan pilihan, ketika saya tidak terpilih dalam tim Olimpiade Barcelona, saya memutuskan untuk keluar dari Pelatnas bulan Desember 1992," kata Lilik kepada ABC Indonesia.

"Bulan Januari 1993 saya terbang ke Amerika Serikat untuk sekolah dan pernah di Community College selama dua tahun antara 1993-1995."

Sekembalinya ke Indonesia, Lilik kemudian melanjutkan pendidikan S1 di Fakultas Psikologi, dilanjutkan hingga jenjang S2 dan S3 di bidang Hukum di Universitas Trisakti Jakarta.

Sekarang dia banyak berkecimpung di dunia pendidikan, layanan sosial dan organisasi keolahragaan seperti KONI.

"Olahraga dan kemanusiaan adalah bidang yang betul-betul saya minati," katanya.

Lilik sekarang menjabat Kepala Bidang Sport Science dan Penerapan Iptek KONI Pusat sejak tahun 2011.

"Selain di KONI, saya juga dosen dan baru saja saya terpilih sebagai Komisioner di BSANK (Badan Standarisasi Akreditasi Nasional Keolahragaan)," katanya.

Pekan lalu, Lilik Sudarwati juga baru menyelesaikan Pendidikan Kepemimpinan Nasional selama 7,5 bulan di Lemhannas.

Jadi sekarang apa yang dilihatnya sebagai permasalahan besar dalam pembinaan olahraga di Indonesia?

"Setelah saya lulus dari Lemhannas, saya jadi tahu bahwa Indonesia punya kelemahan besar dalam berkoordinasi di semua lini dan ego sektoralnya tinggi sekali."

"Ini sangat kuat juga terjadi di olahraga." katanya.

Lebih lanjut Lilik mengatakan menciptakan seorang juara di bidang olahraga sebenarnya tidaklah terlalu sulit.

"Yang sulit itu berkoordinasi dan mengintegrasikan seluruh komponen sehingga lebih efektif dan efisien dalam membina atlet," katanya.

"Jika pembinaan berjalan seperti ini sulit bagi Indonesia untuk menciptakan juara-juara tingkat dunia."

"Dan juga sport science adalah hal yang mutlak."

Lilik Sudarwati juga mendesak agar pemerintah memberikan komitmen penuh untuk membina olahraga.

"Kita ini bangsa besar dengan jumlah penduduk 270 juta, harusnya kita bisa nomor satu di Asia Tenggara dari sekarang peringkat empat atau lima, kalau strategi kita benar."

"Contohnya kalau dananya tidak banyak, kita fokus cabang olahraga individual, kirim atlet kita berlatih di luar negeri selama beberapa tahun.

"Karena menunggu dilatih di Indonesia tidak akan sampai-sampai prestasinya."

"Banyak sekali bibit-bibit bagus di Indonesia namun ketika beranjak dewasa hilang karena iklim latihan dan sparing partner kurang," ujar Lilik, yang juga mengatakan ketertinggalan Indonesia adalah di bidang sport science.

Elizabeth Latif menetap di Perth

Elizabeth Latif pensiun dari bulutangkis di tahun 1988, setahun setelah dia menjuarai turnamen Konika Cup di Singapura mengalahkan pemain China Gu Jiaming 1-11, 11-6, 11-6.

"Ini turnamen yang paling mengesankan bagi saya, karena di semifinal saya mengalahkan pemain China lainnya, Han Aiping," kata Elizabeth Latif kepada wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya.

Han Aiping bersama dengan Li Lingwei adalah dua pemain tunggal putri terbaik China dan juga dunia saat itu.

Setelah turnamen tersebut, Itje panggilan Elizabeth mengalami cedera dan bermaksud mengundurkan diri, namun diminta untuk bertahan selama setahun oleh pelatih tunggal putri saat itu, Minarni Sudaryanto.

"Jadi saya berhenti di tahun 1988 setelah Indonesia Terbuka. Sebenarnya saya sudah cedera dari tahun 1987 setelah jadi juara di Konica Cup tapi saya ingat alm Minarni dulu bilang satu tahun lagi bimbing junior." kata Elizabeth.

Setelah berhenti bermain di usia 25 tahun, Elizabeth kemudian terjun di bidang periklanan bersama kakaknya di Jakarta dan juga belakangan memiliki bisnis pijat bersama mantan pemain Indonesia lainnnya, Susy Susanti.

Setelah kerusuhan di tahun 1998, Elizabeth dan keluarganya memutuskan untuk mendapatkan status Permanent Resident atau Penduduk tetap di Perth, ibukota Australia Barat.

"Di tahun 2001 saya melahirkan anak saya di Perth dan kemudian bolak balik Perth-Jakarta," katanya lagi.

"Baru benar-benar pindah di tahun 2014 karena anak saya mau melanjutkan pendidikan di sini."

Sejak berhenti bermain bulutangkis, Elizabeth banyak menghabiskan kegiatan olahraganya dengan bermain golf dan sekarang di Perth banyak terlibat kegiatan sosial di gereja.

"Sejak berhenti bulutangkis, saya gila main golf. Di Perth ada yang minta saya jadi pelatih bulutangkis namun saya tidak mau," kata perempuan kelahiran tahun 1963 tersebut.

Elizabeth mengaku jika sekarang ia sudah merasa betah tinggal di Perth.

"Di sini udara bersih, semua teratur, tidak macet, urus apa-apa jelas.

"Kesehatan terjamin dan dokter-dokter di sini sangat manusiawi dalam menangani pasien, bukan untuk mengeruk uang pasien," kata Elizabeth mengenai keputusannya untuk tinggal di Perth.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kerusuhan di Ibukota Washington,  Twitter Mengunci Akun Presiden Donald Trump
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Sekelompok orang pendukung Presiden Donald Trump bentrok dengan kepolisian, menyebabkan kerusuhan di...
Awak Kapal Asal Indonesia yang Ditahan di Iran Dikatakan Dalam Kondisi Baik
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Kedutaan Besar RI di Tehran, Iran, mengatakan terus melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak untuk...
Keluarga Korban Bom Bali:
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Beberapa anggota keluarga di Australia dari korban yang tewas dalam peristiwa bom Bali tahun 2002 me...
Jadwal Vaksinasi Australia Dimajukan, Siapa Yang Akan Disuntik Pertama?
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Jadwal penyuntikan vaksin virus corona di Australia akan dimajukan menjadi bulan depan, dengan menda...
Thailand Pernah Jadi Contoh Sukses Penanganan COVID, Kini Kasusnya Melonjak
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Thailand pernah dianggap contoh sukses penanganan COVID-19 di awal pandemi, tetapi negara itu telah ...
Abu Bakar Bashir Bebas, PM Australia Mengatakan Menghormati Keputusan Indonesia
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengatakan pembebasan Abu Bakar Basyir menjadi kesedihan b...
Brisbane Lockdown Tiga Hari Untuk Hentikan Penularan Jenis Baru Virus Corona
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Terhitung pukul 18:00 malam ini waktu setempat, warga di Brisbane, Logan, Ipswich, Moreton dan Redla...
Kongres AS Resmi Sahkan Kemenangan Biden, Ada Usulan Trump Segera Dilengserkan
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Setelah kerusuhan dengan massa menyerbu masuk ke gedung parlemen Amerika Serikat di Washington DC, K...
Brasil Menyatakan Tingkat Kemanjuran Vaksin COVID-19 Sinovac Mencapai 78 Persen
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Vaksin virus corona buatan China yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech China telah dinyatakan 78 pe...
Australia Batasi Jumlah Kedatangan Luar Negeri untuk Hindari COVID Jenis Baru
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Di tengah meningkatnya penyebaran varian baru virus COVID-19 asal Inggris, hari ini (8/01), Pemerint...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV