Kemenangan Besar: Mahasiswa Indonesia Melewati Lockdown Ketat di Melbourne
Elshinta
Jumat, 06 November 2020 - 16:22 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kemenangan Besar: Mahasiswa Indonesia Melewati Lockdown Ketat di Melbourne
ABC.net.au - Kemenangan Besar: Mahasiswa Indonesia Melewati Lockdown Ketat di Melbourne

Ketika tiba di Melbourne Februari lalu, Emanuel Limbongan asal Tanjung Pinang dari Kepulauan Riau tidak sabar untuk memulai studi di luar negeri.

Namun sebulan kemudian, Pemerintah Victoria mengumumkan status state of emergency yang membatasi pergerakan warganya di tengah pandemi.

Keputusan yang mengejutkan Emanuel, mahasiswa S1 jurusan Bisnis dan Manajemen Hotel di The Hotel School Melbourne yang baru saja mulai beradaptasi dengan kehidupan barunya.

"Depressed [depresi] sih, jujur, apalagi orang bilang kasihan ya, sampai sini sudah lockdown, saya memikirkan financial [keuangan] juga, apalagi sekarang papa saya tidak kerja," kata Emanuel.

"Saya memiliki ekspektasi waktu ke Melbourne, tapi saya tidak akan dapat ekspektasi itu dan tidak mungkin dipaksakan ... kalau dipaksakan, pasti akan depresi, stress, dan sedih terus."

Karenanya, Emanuel mengaku mulai memfokuskan dirinya pada hal yang positif, termasuk saat harus menjalani kuliah secara online.

"Belajar online itu tidak seburuk itu sebenarnya. Saya suka karena bisa private lecture bersama dosen saya," kata Emanuel yang mengaku sering mengajukan banyak pertanyaan di kelas.

"Misalnya, di satu kelas ada 50-60 orang, mereka [murid] tidak mau menyalakan mic, ya sudah akhirnya saya berbicara berdua saja dengan guru. Lebih enak justru, dan jelas."

Lockdown menghantam kesehatan mental saya

Serupa dengan Emanuel, Audi Tangkudung juga terpaksa mengubur harapannya soal belajar di luar negeri yang ia bayangkan sebelumnya.

"Kehidupan kampus yang seutuhnya, seperti ngerjain tugas di lawn [halaman rumput], atau kenalan dan janjian sama teman-teman di kampus, sudah jelas tidak bisa saya alami selama tujuh bulan terakhir," katanya.

Meski sempat mengalami kuliah tatap muka selama tiga minggu, Audi, mahasiswa S2 Pemasaran dan Komunikasi di University of Melbourne, kemudian harus menjalankan kuliah online.

Audi mengaku, kondisi lockdown yang harus ia lalui telah mempengaruhi juga kondisi mentalnya.

"Saya masih bisa menjalani dan oke saja dengan [metode] belajar online, tapi berada dalam situasi lockdown telah menghantam kesehatan mental saya," kata Audi.

"Ini bukan kayak ingin bunuh diri atau ingin menyakiti diri sendiri ya, tapi saya rasanya disfungsi, mau coba baca atau mengerjakan tugas, enggak bisa karena nggak berfungsi aja. Mau dipaksa juga tetap enggak bisa," tambahnya.

Tapi masa-masa itu berhasil dilalui Audi berkat layanan konseling untuk pelajar internasional yang diaksesnya.

Tujuh bulan kemudian, Audi bukan saja mengatasi kondisi kesehatan mentalnya, tapi juga berhasil menyelesaikan dua semester perkuliahan di Melbourne dengan baik.

"Melihat kembali apa yang sudah saya lewati, bisa mengatasi kondisi dan situasi itu semua adalah kemenangan besar untuk saya," ujar pria asal Jakarta ini.

Mengacaukan rencana untuk tahun 2020

Nicole Kusuma asal Makassar merasa cukup beruntung karena paling tidak sudah menyesuaikan diri selama delapan bulan sebelum lockdown diberlakukan di Melbourne.

Namun, pandemi tetap mengacaukan sederet rencana yang sudah mahasiswi S1 Teknik Sipil RMIT University tersebut pikirkan untuk tahun 2020.

"Pikirnya tahun 2020 itu ingin melakukan lebih banyak roadtrip dan awalnya juga ingin mencari pekerjaan part-time," kata Nicole yang mengaku belum mencoba banyak hal di semester pertama.

"Awalnya juga mau magang, karena mau masuk tahun kedua, dan untuk jurusan Engineering, magang lumayan dibutuhkan."

Bagi Nicole yang akan menyelesaikan studinya di tahun 2023 nanti, kelas online juga menghambat motivasinya untuk belajar.

"Saya jadi malas nonton lecture [kelas pengajaran], karena tidak ada jadwal tetap dan RMIT tidak terlalu [mementingkan] absen. Jadi kami menonton sesuai [jadwal] kami saja," katanya.

Pelajar Indonesia sambut pembukaan kembali Melbourne

Kabar bahwa Melbourne telah melonggarkan kembali aturan sejak minggu lalu telah menghidupkan kembali semangat dalam diri ketiga pelajar asal Indonesia ini.

"Senang sih, paling tidak bisa jalan-jalan ke luar. Sebelumnya mau makan di tempat tapi tidak bisa dine-in juga kan. Jadi pulang lagi. Window shopping juga tidak bisa," kata Nicole.

Emanuel di sisi lain tidak sabar untuk mulai mengejar ekspektasinya ketika menginjakkan kaki di Melbourne.

"Hal yang bakal saya lakukan ya bertemu kembali dengan manusia, ikut beberapa organisasi yang ada di sini, dan pastinya hunting pekerjaan untuk menambah pengalaman," ujarnya semangat.

Berbeda dengan Nicole dan Emanuel, Audi "menghadiahi dirinya sendiri" dengan berbelanja di Collins Street.

Audi yang masih punya sekitar setengah tahun lagi untuk belajar di Australia berharap bisa mendapatkan pengalaman kuliah yang normal.

"Tetapi satu hal yang sangat ingin saya rasakan lebih dari segalanya adalah mengalami wisuda yang proper [semestinya]," kata Audi.

"Ketika akhirnya nanti sudah berhasil mendapat gelar, [wisuda] ini adalah semacam perayaan dan pengakuan untuk saya, yang berhasil melalui tahun dan masa-masa yang sulit ini," ucapnya.

Ikuti berita seputar komunitas Indonesia dan pandemi Australia lainnya di ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kerusuhan di Ibukota Washington,  Twitter Mengunci Akun Presiden Donald Trump
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Sekelompok orang pendukung Presiden Donald Trump bentrok dengan kepolisian, menyebabkan kerusuhan di...
Awak Kapal Asal Indonesia yang Ditahan di Iran Dikatakan Dalam Kondisi Baik
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Kedutaan Besar RI di Tehran, Iran, mengatakan terus melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak untuk...
Keluarga Korban Bom Bali:
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Beberapa anggota keluarga di Australia dari korban yang tewas dalam peristiwa bom Bali tahun 2002 me...
Jadwal Vaksinasi Australia Dimajukan, Siapa Yang Akan Disuntik Pertama?
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Jadwal penyuntikan vaksin virus corona di Australia akan dimajukan menjadi bulan depan, dengan menda...
Thailand Pernah Jadi Contoh Sukses Penanganan COVID, Kini Kasusnya Melonjak
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Thailand pernah dianggap contoh sukses penanganan COVID-19 di awal pandemi, tetapi negara itu telah ...
Abu Bakar Bashir Bebas, PM Australia Mengatakan Menghormati Keputusan Indonesia
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengatakan pembebasan Abu Bakar Basyir menjadi kesedihan b...
Brisbane Lockdown Tiga Hari Untuk Hentikan Penularan Jenis Baru Virus Corona
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Terhitung pukul 18:00 malam ini waktu setempat, warga di Brisbane, Logan, Ipswich, Moreton dan Redla...
Kongres AS Resmi Sahkan Kemenangan Biden, Ada Usulan Trump Segera Dilengserkan
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Setelah kerusuhan dengan massa menyerbu masuk ke gedung parlemen Amerika Serikat di Washington DC, K...
Brasil Menyatakan Tingkat Kemanjuran Vaksin COVID-19 Sinovac Mencapai 78 Persen
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Vaksin virus corona buatan China yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech China telah dinyatakan 78 pe...
Australia Batasi Jumlah Kedatangan Luar Negeri untuk Hindari COVID Jenis Baru
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Di tengah meningkatnya penyebaran varian baru virus COVID-19 asal Inggris, hari ini (8/01), Pemerint...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV