Ada Awak Asal Indonesia di Kapal Tanker Korea Selatan yang Ditahan Iran
Elshinta
Rabu, 06 Januari 2021 - 21:08 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ada Awak Asal Indonesia di Kapal Tanker Korea Selatan yang Ditahan Iran
ABC.net.au - Ada Awak Asal Indonesia di Kapal Tanker Korea Selatan yang Ditahan Iran

Pengawal Revolusi Iran telah menahan sebuah kapal tanker dengan bendera Korea Selatan di Teluk Persia. Para awak dalam kapal tersebut diketahui berasal dari Korea Selatan, Indonesia, Vietnam dan Myanmar.

  • Korea Selatan meminta agar tanker bahan kimia dilepaskan segera
  • Iran mengatakan telah mulai memperkaya uranium, sebuah pelanggaran terhadap kesepakatan tahun 2015
  • PM Israel mengatakan Iran sedang berusaha mengembangkan senjata nuklir

Pemerintah Korea Selatan di Seoul sudah mengonfirmasi penahanan kapal yang membawa bahan kimia tersebut oleh otoritas Iran di kawasan lepas pantai sekitar Oman dan meminta agar tanker tersebut dibebaskan segera.

Peristiwa ini terjadi di tengah ketegangan antara Iran dan Korea Selatan berhubungan dengan pembekuan dana Iran di bank-bank Korea Selatan berkaitan dengan sanksi Amerika Serikat.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyerukan agar Iran membebaskan tanker tersebut dan menuduh Iran mengancam kebebasan melakukan perjalanan laut untuk mendapatkan kelonggaran dari sanksi ekonomi.

"Rezim Iran terus mengancam hak berlayar dan kebebasan di Teluk Persia sebagai usaha jelas untuk menekan agar masyarakat internasional mengurangi tekanan sanksi," kata juru bicara Deplu AS.

"Kami mendukung seruan Republik Korea Selatan bagi pembebasan tanker segera."

Beberapa media Iran, termasuk televisi nasional Iran, mengatakan Pengawal Revolusi Iran menahan tanker karena mencemarkan kawasan Teluk dengan bahan kimia.

Kantor berita setengah resmi Iran, Tasnim, menayangkan gambar speed boat Pengawal Revolusi mengawal tanker HANKUK CHEMI yang membawa 7.200 ton ethanol.

Menurut Deplu Korea Selatan, tanker itu ditahan di kota pelabuhan Bandar Abbas.

Kantor berita Reuters melaporkan Armada Kelima Angkatan Laut AS yang berbasis di Bahrain masih terus memantau situasi.

Pihak berwenang Iran belum memberikan komentar soal inisiden ini, yang juga terjadi sesaat sebelum kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan ke Iran.

Iran memulai kembali pengayaan uranium

Insiden penahanan tanker terjadi di hari yang sama ketika Iran mengumumkan kembali melakukan pengayaan uranium 20 persen di fasilitas nuklir bawah tanah.

Artinya Iran telah melanggar kesepakatan nuklir tahun 2015 dengan negara-negara adidaya dan kemungkinan mempersulit usaha yang akan dilakukan Presiden terpilih Amerika Serikat, Joe Biden untuk kembali berunding dengan Iran.

Berita itu disambut dengan kritikan dari dunia internasional, termasuk oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang bersuara paling lantang.

PM Netanyahu mengatakan langkah itu dimaksudkan Iran untuk mengembangkan senjata nuklir.

"Israel tidak akan mengizinkan Iran memproduksi senjata nuklir," katanya.

Keputusan melakukan pengayaan uranium merupakan salah satu dari beberapa keputusan yang diloloskan Parlemen Iran minggu lalu akibat terbunuhnya ilmuwan nuklir terkemuka Iran yang disebutkan dilakukan oleh Israel.

Tanggal 1 Januari Badan Nuklir PBB IAEA mengatakan Iran telah memberitahu rencana pengayaan uranium sampai 20 persen di fasilitas nuklir Fordow yang terletak di dalam tanah di kawasan pegunungan.

Iran sebelumnya sudah melanggar kesepakatan batas dengan melakukan pengayaan sampai 4,5 persen, namun masih di bawah angka 20 persen.

Senjata nuklir bisa dibuat bila pengayaan uranium mencapai 90 persen.

Menurut badan intelejen AS dan IAEA, Iran sudah memiliki program senjata nuklir terkoordinir dan rahasia yang dihentikan di tahun 2003.

Namun Iran selalu membantah pernah memiliki program seperti itu.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dan lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

Reuters

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Di Tengah Pandemi Permintaan Rumah di Australia Melonjak, Harganya Jadi Naik
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:31 WIB
Harga rumah di Australia mengalami kenaikan bulanan tertinggi sejak Agustus 2003, karena jumlah calo...
Lama-lama kadang ya capek juga: Tantangan Ilmuwan Indonesia Menghadapi Hoaks
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:31 WIB
Tugas ilmuwan di masa pandemi semakin berat, karena harus berhadapan dengan hoaks, disinformasi, ata...
Ratusan Siswi di Nigeria Diculik, Keluarga Cemas Menunggu Kabar Mereka
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Keluarga lebih dari 300 siswi yang diculik dari sekolahnya oleh orang-orang bersenjata minggu lalu t...
Vaksin COVID-19 Buatan Johnson & Johnson Cukup Satu Dosis. Apa Perbedaannya?
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Amerika Serikat sudah menyetujui penggunaan vaksin ketiga untuk menangani penularan virus COVID-19, ...
 Sudah Kangen Aku Belum?: Pidato Pertama Trump Sejak Tak Lagi Jadi Presiden
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
"Jadi, kalian sudah kangen aku belum?"Begitulah cara mantan presiden AS Donald Trump membuka pidato ...
Twitter Akan Hapus Akun yang Terus Sebarkan Informasi Palsu Soal COVID-19
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Usaha jaringan media sosial untuk memerangi berbagai informasi palsu atau yang sengaja menyesatkan m...
Protes di Myanmar Terus Berlanjut, Sudah Ribuan Warga Ditangkap Hingga Saat Ini
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Pemimpin Myanmar yang digulingkan Aung San Suu Kyi muncul di pengadilan ketika pada saat yang bersam...
Kopi Asal Indonesia Disukai di Australia, Tapi Volume Ekspornya Masih Rendah
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Warga Australia dikenal terobsesi dengan kopi, namun tidak sampai satu persen biji kopinya diproduks...
Di Tengah Pandemi COVID-19, Penghasilan Petani Australia Justru Meningkat
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Di tengah ketegangan hubungan dagang dengan China serta pandemi COVID-19, sektor pertanian Australia...
Revolusi Daur Ulang: Perempuan Australia Ubah Baju Bekas Jadi Bahan Marmer
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Veena Sahajwalla selalu melihat dengan seksama apa yang ada dalam kotak sampah di rumahnya, setiap k...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV