Abu Bakar Bashir Bebas, PM Australia Mengatakan Menghormati Keputusan Indonesia
Elshinta
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Abu Bakar Bashir Bebas, PM Australia Mengatakan Menghormati Keputusan Indonesia
ABC.net.au - Abu Bakar Bashir Bebas, PM Australia Mengatakan Menghormati Keputusan Indonesia

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengatakan pembebasan Abu Bakar Basyir menjadi kesedihan bagi warga Australia yang keluarga dan temannya tewas dalam peristiwa Bom Bali 2002.

"Ini sulit, dan menyayat hati, setelah menghabiskan waktu bersama keluarga para korban, dari pemboman yang mengerikan itu, "kata PM Morrison, hari Jumat (8/01).

Tapi ia menyatakan Australia menghormati keputusan dan sistem peradilan Indonesia, meski tidak mudah untuk menerimanya.

"Mereka telah dibebaskan sesuai dengan sistem peradilan Indonesia. Itu tidak mempermudah orang Australia untuk menerimanya," ujar PM Morrison.

"Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan warga Australia sekarang akan bebas. Terkadang dunia tidak adil. "

Abu Bakar Bashir telah dibebaskan dari Lapas Gunung Sindur sekitar pukul 05:30 pagi setelah shalat Subuh, tim pengacara mengatakan kepada ABC, Jumat (08/01).

"Prosesnya berjalan lancar, kita mengecek tekanan darahnya, semuanya baik," ujar Achmad Michdan, pengacara Bashir.

"Kami menjemputnya ke dalam penjara, satu dokter, pengacara, dan putranya," jelasnya.

"Kita berada di sana sejak pukul 11 malam kemarin, tapi menunggu sampai Ustad Abu Bakar Bashir bangun pada pukul 03:00 pagi."

Sebelumnya tim kuasa hukum mengatakan jika Abu Bakar Bashir akan dibebaskan antara pukul 08:00 pagi hingga 04:00 sore WIB.

"Tapi secara teori ia sudah bebas sejak pukul 00:00 dan setelah pertimbangan kami ingin menghindari kerumunan," kata Achmad.

"Ustad Abu sudah lanjut usia dan jalanan akan macet di siang hari, jadi kita memutuskan untuk mengeluarkannya pukul 05:30 setelah shalat Subuh."

Kini Bashir dalam perjalanan menuju kediamannya di Sukoharjo dengan didampingi keluarga dan tim pengacara dengan pengawalan oleh Densus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Rombongan Bashir mengendarai satu minibus, dua kendaraan dan satu buah ambulans.

Hasil tes COVID-19 Abu Bakar Bashir negatif

Sementara itu, Rika Aprianti, Kepala Bagian Humas dan Protokol Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, mengatakan Bashir telah dibebaskan dengan menggunakan protokol kesehatan, termasuk melewati tes anti gen dengan hasil negatif.

"Kegiatan pembebasan berjalan dengan aman dan lancar," dalam pernyataan yang disampaikan Rika.

Putra Bashir, Abdul Rahim Bashir sebelumnya mengatakan keluarga tidak akan menyiapkan penyambutan kedatangan Bashir di kediamannya, yakni Pondok Pesantren Al Mukmin, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

"Kami memang tidak ingin ada penyambutan. Jadi kita juga tidak mau ada kerumunan masyarakat yang nanti malah memudaratkan [merugikan] orang banyak," kata Abdul kepada kantor berita Antara, Senin kemarin (04/01).

Abu Bakar Bashir dibebaskan setelah selesai menjalani hukuman vonis 15 tahun dikurangi remisi sebanyak 55 bulan.

Bashir yang sekarang berusia 82 tahun sering disebut sebagai pemimpin spiritual jaringan Jemaah Islamiyah (JI) yang memiliki hubungan dengan Al Qaeda.

JI juga dituduh berperan besar dalam bom Bali di tahun 2002 yang menwaskan lebih dari 200 orang, 83 orang diantaranya adalah warga Australia.

Mereka juga dituduh menjadi dalang dalam serangan Hotel JW Marriot di Jakarta pada tahun 2003 yang menewaskan 12 orang.

Reaksi warga Australia yang jadi korban Bom Bali 2002

Di Australia, beberapa keluarga yang anggotanya meninggal saat peristiwa Bom Bali 2002 menyampaikan kekhawatiran dengan pembebasan Bashir.

Salah satunya adalah Sandra Thompson, yang kehilangan putranya Clint yang tewas dalam ledakan bom tersebut.

Sandra mengatakan Bashir adalah salah orang yang harus bertanggung jawab atas ledakan di kawasan Kuta yang terjadi 18 tahun lalu.

"Orang ini membunuh 202 orang dan sejumlah itulah hukuman seumur hidup yang harus dijalaninya," kata Sandra kepada ABC dari rumahnya di New South Wales.

Clint ketika itu sedang berada di Sari Club untuk merayakan masa berakhirnya kompetisi rugby bersama timnya Coogee Dolphins.

Sandra mengatakan meski peristiwa ledakan bom Bali sudah terjadi 18 tahun yang lalu, Bashir masih tetap berbahaya.

"Dia akan kembali mengajarkan apa yang diajarkannya sebelumnya," kata Sandra.

"Dia tidak pernah mengatakan menyesal, dia tidak pernah meminta maaf. Dia masih berpikir dia melakukan hal yang benar."

Warga Australia lainnya adalah Jan Laczynski yang kehilangan lima rekannya dalam peristiwa Bom Bali.

Jan khawatir Bashir akan kembali berdakwah dan menyebarkan kebencian lagi setelah dia dibebaskan.

"Saya khawatir ini akan menjadi awal dari tindak terorisme di masa depan yang akan terjadi lagi, mengingat kekejaman yang dilakukannya di masa lalu," katanya kepada ABC.

Jan mengatakan mayoritas warga Indonesia adalah orang yang baik namun khawatir ada satu persen orang yang akan terpengaruh dengan ajaran Bashir.

Ridwan Habib, seorang pengamat masalah keamanan di Indonesia mengatakan walau pengaruh Bashir sudah melemah, namun anggota militan mungkin akan tetap menggunakan nama Bashir.

"Bashir adalah tokoh senior dalam gerakan jihadis di Indonesia dan tidak mustahil nama besarnya akan digunakan oleh yang lain," katanya.

Jelang pemilihan presiden 2019, Presiden Joko Widodo pernah mempertimbangkan untuk membebaskan Bashir lebih awal dengan alasan kesehatan, namun rencana itu dibatalkan ketika Bashir dilaporkan menolak menyampaikan pernyataan kesetiaan terhadap Pancasila.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Seperti Medan Perang: 18  Pengunjuk Rasa di Myanmar Tewas Tertembak Polisi
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:42 WIB
Polisi Myanmar melepaskan tembakan langsung ke arah para pengunjuk rasa menewaskan belasan orang dal...
Di Tengah Pandemi Permintaan Rumah di Australia Melonjak, Harganya Jadi Naik
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:42 WIB
Harga rumah di Australia mengalami kenaikan bulanan tertinggi sejak Agustus 2003, karena jumlah calo...
Lama-lama kadang ya capek juga: Tantangan Ilmuwan Indonesia Menghadapi Hoaks
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:42 WIB
Tugas ilmuwan di masa pandemi semakin berat, karena harus berhadapan dengan hoaks, disinformasi, ata...
Ratusan Siswi di Nigeria Diculik, Keluarga Cemas Menunggu Kabar Mereka
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:41 WIB
Keluarga lebih dari 300 siswi yang diculik dari sekolahnya oleh orang-orang bersenjata minggu lalu t...
Vaksin COVID-19 Buatan Johnson & Johnson Cukup Satu Dosis. Apa Perbedaannya?
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:41 WIB
Amerika Serikat sudah menyetujui penggunaan vaksin ketiga untuk menangani penularan virus COVID-19, ...
 Sudah Kangen Aku Belum?: Pidato Pertama Trump Sejak Tak Lagi Jadi Presiden
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:41 WIB
"Jadi, kalian sudah kangen aku belum?"Begitulah cara mantan presiden AS Donald Trump membuka pidato ...
Twitter Akan Hapus Akun yang Terus Sebarkan Informasi Palsu Soal COVID-19
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:41 WIB
Usaha jaringan media sosial untuk memerangi berbagai informasi palsu atau yang sengaja menyesatkan m...
Protes di Myanmar Terus Berlanjut, Sudah Ribuan Warga Ditangkap Hingga Saat Ini
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:41 WIB
Pemimpin Myanmar yang digulingkan Aung San Suu Kyi muncul di pengadilan ketika pada saat yang bersam...
Kopi Asal Indonesia Disukai di Australia, Tapi Volume Ekspornya Masih Rendah
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:41 WIB
Warga Australia dikenal terobsesi dengan kopi, namun tidak sampai satu persen biji kopinya diproduks...
Di Tengah Pandemi COVID-19, Penghasilan Petani Australia Justru Meningkat
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:40 WIB
Di tengah ketegangan hubungan dagang dengan China serta pandemi COVID-19, sektor pertanian Australia...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV