Pelecehan Seksual Online Meningkat di Masa Pandemi
Elshinta
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:56 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pelecehan Seksual Online Meningkat di Masa Pandemi
DW.com - Pelecehan Seksual Online Meningkat di Masa Pandemi

Dunia terasa runtuh ketika Priya mendapati foto bugilnya diunggah ke internet oleh sang pacar. Dia bersikeras unggahan vulgar itu akan mengurangi rasa percaya dirinya sebagai perempuan, membuatnya jadi objek hasrat kaum laki-laki.

"Dia bilang para laki-laki itu akan mengimpikan saya, tapi hanya dia yang berhak memiliki,” ujarnya dalam laporan Reuters.

Sejak itu sang pacar rutin mengawasi perilaku Priya di internet. Dia "diihina sebagai pelacur,” jika kedapatan bertukar pesan online dengan laki-laki lain. "Perilaku saya membuat dia marah,” imbuh korban.

Kisah Priya terlalu berlimpah, menurut lembaga PBB, UN Women. Di seluruh dunia, angka perundungan online terhadap perempuan meningkat tajam. Pelakunya kebanyakan pasangan atau mantan pasangan yang terjebak di dalam rumah selama pandemi.

"Cara kita mengonsumsi internet sama sekali berubah. Aktivitas online tidak lagi dilihat sebagai kemewahan, melainkan sambungan hidup buat banyak orang,” kata Azmina Dhordia, peneliti senior di World Wide Web Foundation, lembaga penelitian internet.

Wabah kekerasan di internet

Bahkan sebelum wabah pun, lebih dari separuh perempuan muda mengaku pernah mengalami perundungan online, menurut survei oleh lembaga yang ikut didirikan oleh salah seorang penemu internet, Tim Berners-Lee, itu.

Unggahan foto, video atau informasi pribadi tanpa persetujuan pemilik, alias doxxing, termasuk jenis pelanggaran yang paling banyak terjadi. Internet di masa pandemi, kata Dhordia menjadi "tidak ramah dan semakin tidak ramah karena kita lebih sering online.”

Gadis berusia delapan tahun termasuk yang menjadi sasaran perundungan. Satu dari lima perempuan muda mengaku mengurangi atau berhenti menggunakan media sosial lantaran ancaman fisik atau kekerasan seksual, menurut sebuah survei oleh kelompok advokasi perempuan, Plan International.

Jajak pendapat itu mencatat, hampir separuh remaja perempuan pernah diancam di internet. Akibatnya seperempat responden merasa hidupnya tidak aman. "Fakta ini menggugah kesadaran, mengingat betapa banyaknya yang sudah dilakukan untuk membuat ruang digital lebih inklusif,” kata Neema Lyer, direktur sebuah lembaga hak digital berbasis di Uganda.

Menurut Serikat Telekomunikasi Internasional PBB, saat ini ada lebih banyak perempuan yang aktif di internet. "Bahwa setelah semua upaya ini, perempuan yang aktif secara online masih mengalami kekerasan di kehidupan nyata, tujuannya adalah membungkam perempuan,” imbuhnya.

Teknologi minim solusi

Saat ini Facebook, Twitter dkk. sedang menggiatkan kampanye anti-perundungan online. Aplikasi percakapan video, Zoom, juga dipaksa merapatkan celah keamanan menyusul keluhan perihal adanya sambungan tak diundang dari pihak luar yang membanjiri ruang konferensi dengan gambar porno atau ujaran rasis.

Meski demikian hampir sepertiga atau 64% perempuan mengaku dirundung oleh pengguna tak dikenal di Twitter. Sementara di Facebook jumlahnya mencapai seperempat responden, menurut jajak pendapat oleh End Violence Against Women (EVAW), sebuah lembaga pemantau perundungan online.

Pegiat perempuan mengatakan pelecehan seksual online sulit diregulasi lantaran minimnya legislasi terkait. Berbagai negara saat ini tercatat masih belum memiliki landasan hukum yang kuat untuk melindungi perempuan di ruang digital.

Menurut advokat HAM India, Akhila Kolisetty, saat ini hanya India, Kanada, Inggris, Pakistan dan Jerman yang mengharamkan pelecehan seksual berbasis gambar, di mana foto atau video intim pribadi disebarkan tanpa persetujuan.

Bahaya lain muncul dari lingkup teknologi, berupa video "deepfakes” yang menampilkan olahan video digital berkualitas tinggi, di mana wajah korban digabungkan dengan tubuh bintang porno, kata Kolisetty.

"Di negara-negara yang tidak memiliki Undang-undang spesifik, sulit bagi korban untuk mencari keadilan,” imbuhnya.

rzn/pkp (Reuters)



Hanya segelintir negara yang melarang praktik mengunggah foto intim pribadi tanpa persetujuan pemilik. Sementara jenis pelanggaran lain dibiarkan tak teregulasi. Akibatnya internet menjadi kian tak ramah bagi perempuan.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Dipimpin Perempuan, Misi Luar Angkasa Emirat Sukses Masuki Orbit Mars
Rabu, 24 Februari 2021 - 08:27 WIB
Misi pertama ke Mars yang diluncurkan oleh Uni Emirat Arab (UEA) memasuki orbit planet itu pada hari...
Tianwen-1 Sukses Mengorbit, Cina Siap Ungkap Kondisi Bawah Permukaan Mars
Rabu, 24 Februari 2021 - 08:27 WIB
Misi luar angkasa tidak pernah mudah, baik ketika Anda mengirim astronot yang hanya berjarak 400 kil...
Toilet Ekologis Solusi bagi Kawasan Kurang Air Bersih
Rabu, 24 Februari 2021 - 08:27 WIB
Buruknya sanitasi di kalangan penduduk miskin seringkali berkaitan dengan minimnya akses air bersih ...
Teknologi Pendeteksi Wajah dan Kaitannya dengan Evolusi
Rabu, 24 Februari 2021 - 08:27 WIB
Hampir tidak ada lagi gedung atau ruang publik yang tidak diawasi oleh kamera pengawas. Namun teknol...
Mencegah Pemborosan dengan Konsep Makanan
Rabu, 24 Februari 2021 - 08:27 WIB
Ketika industri makanan membuang jutaan ton bahan pangan setiap tahunnya, sejumlah restoran mulai me...
Jerman Rayakan 1.700 Tahun Sejarah Kehidupan Yahudi
Rabu, 24 Februari 2021 - 08:27 WIB
Pada tahun 321, Kaisar Romawi, Konstantin, akhirnya mengizinkan kaum Yahudi bekerja untuk pemerintah...
Bagaimana Kehidupan Komunitas Yahudi di Jerman Setelah Holocaust?
Rabu, 24 Februari 2021 - 08:27 WIB
Sudah ada lebih dari 200.000 orang dan terus bertambah, komunitas Yahudi Jerman adalah satu-satunya ...
Galeri Foto: Alih Profesi Akibat Pandemi
Rabu, 24 Februari 2021 - 08:27 WIB
COVID-19 meninggalkan sejumlah kisah duka. Selain kehilangan anggota keluarga, ada pula yang kehilan...
Penenun India Beralih ke Alat Tenun Tradisional untuk Lindungi Lingkungan
Rabu, 24 Februari 2021 - 08:27 WIB
Di desa Chithode di wilayah Tamil Nadu, India, udara dipenuhi cericit nyanyian burung dan bunyi klik...
Seni Memupus Takut: Kisah Transpuan Migran Berkulit Hitam di Portugal
Rabu, 24 Februari 2021 - 08:27 WIB
Aquila Correia merasa selangkah lebih dekat mewujudkan mimpinya ketika dinyatakan lolos di beberapa ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV