Kopi Asal Indonesia Disukai di Australia, Tapi Volume Ekspornya Masih Rendah
Elshinta
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:41 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kopi Asal Indonesia Disukai di Australia, Tapi Volume Ekspornya Masih Rendah
ABC.net.au - Kopi Asal Indonesia Disukai di Australia, Tapi Volume Ekspornya Masih Rendah

Warga Australia dikenal terobsesi dengan kopi, namun tidak sampai satu persen biji kopinya diproduksi dari tanaman kopi yang dibudidayakan di Australia.

Australia masih menggantungkan impor kopinya dari sejumlah negara, seperti Brasil.

Kopi impor dari Indonesia cukup digemari di Australia, meski jika dibandingkan dengan Brasil, volume dan nilai ekspor kopi Indonesia ke Australia lebih rendah.

"Kopi asal Indonesia disukai konsumen di sini karena umumnya jenis Arabica dengan cita-rasa yang lebih kaya," ujar Ayu Siti Maryam dari Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) di Sydney.

Namun menurut Ayu, kopi impor asal Indonesia tidak tepat bila dibandingkan dengan kopi asal Brasil yang umumnya berupa jenis Robusta yang cita-rasanya lebih pahit.

"Tidak comparable karena yang satunya Arabica dan yang lainnya Robusta," ujar Ayu kepada wartawan ABC Indonesia Farid M. Ibrahim, Senin kemarin (01/03).

Data yang disampaikan ITPC Sydney menunjukkan nilai ekspor biji kopi Indonesia ke Australia mencapai US$10,7 juta atau sekitar Rp152 miliar pada tahun 2019.

Nilai ekspor ini sebenarnya mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2017 yang nilainya mencapai US$22 juta lebih.

"Penurunan terjadi karena adanya bencana Gunung Sinabung yang meletus di tahun 2018, sehingga supply mengalami penurunan," jelas Ayu.

Dia mengatakan daerah utama pengekspor kopi ke Australia yaitu Gayo di Aceh, Jawa Barat dan daerah lainnya di Sumatera.

Menurut data Biro Pusat Statistik RI, Indonesia tercatat sebagai negara eksportir kopi terbesar ke-7 di dunia dengan pangsa ekspor sebesar 4,05 persen pada 2019.

Brasil menempati urutan pertama dengan penguasaan pasar 14,02 persen, disusul Jerman 8,7 persen, Vietnam 7,8 persen, Swiss 7,3 persen, Kolumbia 7,1 persen, dan Italia 4,8 persen.

Secara nasional, daerah pengekspor kopi terbesar adalah Banten 32,08 persen, disusul Lampung 22,9 persen, Sumatera Utara 22 persen, Jawa Timur 13,01 persen, dan Aceh 7,1 persen.

Jawa Barat berada di urutan ke-8 dengan tujuan ekspor antara lain ke Australia.

Di Australia sendiri, meski bukan penghasil kopi, namun pasar kopi tergolong sangat besar dengan pendapatan sebesar US$1,4 miliar pada tahun 2017 atau sekitar Rp20 triliun.

Tingkat konsumsi kopi di Australia mencapai 1,8 juta karung kopi berukuran 60 kilogram.

Jika dirata-ratakan perkapita, setiap warga Australia menghabiskan kopi hampir 2 kilogram di tahun 2019, kebanyakan berupa kopi giling dan hanya sekitar 0,5 kg kopi instan.

Kopi produksi Australia masih mahal

Saat ini, sejumlah petani di Australia mulai membudidayakan tanaman kopi di sejumlah area perkebunan di kawasan yang iklimnya mendukung, misalnya di daerah Newrybar di utara negara bagian New South Wales serta Far North di Queensland.

Kopi Australia memiliki cita-rasa seperti kacang tanah dengan tingkat keasaman dan kafein yang lebih rendah.

Harga kopi produksi Australia saat ini masih lebih mahal dibandingkan dengan kopi impor, yang biaya produksinya diperkirakan jauh lebih murah.

"Kami masuk ke pasar kopi dengan kesadaran bahwa kami akan bersaing dengan produk yang lebih murah," ujar Rebecca Zentveld, yang menanam kopi di Newrybar di utara New South Wales.

Ia mengatakan untuk bisa bersaing, maka petani kopi Australia haruslah berinovasi dalam mekanisasi panen dan pengolahan.

"Kami tidak mampu membayar tenaga kerja dalam jumlah besar, sehingga perlu mamanfaatkan peralatan," jelas Rebecca.

Rebecca dan suaminya John mengembangkan usaha kopi ke model "crop to cup" atau dari hasil panen ke cangkir kopi, setelah mengalami penjualan biji kopi saja tidaklah menguntungkan.

Petani kopi lainnya, seperti keluarga MacLaughlin di Far North Queensland juga semakin kreatif dengan produk mereka.

Keluarga ini melakukan eksperimen dengan kopi fermentasi dan berkarbonasi, serta menggunakan limbah kopi untuk membuat berbagai produk untuk lulur tubuh.

"Industri anggur selalu mengembangkan cita-rasa, sehingga saya berharap industri kopi bisa mengikuti hal seperti itu," kata Candy MacLaughlin.

Budaya minum kopi bermula di kalangan orang Italia di Melbourne

Budaya minum kopi di Australia, menurut Simon Brooks, pencicip kopi profesional yang dikenal dalam industri ini sebagai Q-grader, bermula dari kebiasaan orang Italia yang tinggal di Melbourne.

"Kita (orang Australia) merupakan salah satu peminum kopi paling terdidik di dunia," ujarnya.

"Semuanya dimulai di Melbourne di kalangan orang Italia dan terus berkembang dari sana," jelas Simon.

"Saat pertama kali masuk di industri ini pada tahun 2001, gelombang kedua dalam budaya minum kopi baru saja berlangsung dan di situlah mulai berkembang specialty coffee (bukan kopi instan)," katanya.

Simon menjelaskan, perkebunan kopi di Australia hanya mampu menghasilkan sekitar 400 ton biji kopi, sedangkan volume impor mencapai 80.000 ton.

Karena itu, kata Simon, kopi produksi Australia sangat sulit ditemukan di pasaran.

Namun sejumlah petani mengatakan para penikmat kopi masih mengabaikan pemasok lokal.

Menurut Candy MacLaughlin, keberadaan perkebunan kopi di Australia mungkin belum banyak diketahui.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengenal kopi produksi Australia adalah mengenalkannya ke perusahaan penggilingan kopi.

"Tujuan akhirnya adalah membuat konsumen mencari kopi produksi Australia sendiri," ujarnya.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dengan laporan tambahan dari program ABC Landline.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jumlah Penduduk Australia Berkurang Pertama Kalinya Sejak Perang Dunia Pertama
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Jumlah pendatang ke Australia berkurang karena perbatasan Australia yang ditutup. Jika masalah ini t...
Peserta WHV Asal Indonesia Tewas dalam Kecelakaan Lalu Lintas di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Dikenal sebagai pekerja keras, Arie Putra ingin membahagiakan orangtuanya dengan bekerja di Australi...
Novel Intan Paramaditha Masuk Nominasi Penghargaan Buku Terbaik di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Kisahnya bermula dari sepasang sepatu merah dan persekutuan dengan jin. Tapi akhir ceritanya tergant...
Ikan Mas: Disantap di Indonesia, Dianggap Hama di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Sebuah penelitian di Australia menemukan 360 juta ikan mas tinggal di saluran air saat musim hujan. ...
Mayoritas Pekerja di Australia Ingin Tetap Bisa Bekerja dari Rumah
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Survei terbaru menunjukkan lingkungan kerja yang ideal bagi warga Australia adalah campuran bekerja ...
Apakah Vaksinasi Akan Membantu Pemulihan Pasien Long COVID?
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Beberapa orang yang telah sembuh dari COVID merasakan gejala berkepanjangan. Tapi sebagian mengaku k...
Penerbangan Internasional ke Melbourne Dibuka Kembali Setelah Paskah
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Penerbangan internasional ke Bandara Melbourne akan dibuka kembali. Apakah perbaikan sudah dilakukan...
Kisah Perempuan Diminta Kerja di Pertanian Australia Hanya Menggunakan Pakaian Dalam
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Sejumlah perempuan backpacker yang bekerja di pertanian Australia mengaku telah mengalami pelecehan ...
Why cant I have sex?: Tantangan Orangtua Indonesia di Australia Ajarkan Seks
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Bagi orang tua asal Indonesia ada tantangan ekstra yang harus dihadapi saat membicarakan topik seks ...
Setidaknya 200 Ekor Sapi di Australia Hanyut Akibat Banjir New South Wales
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Pasangan suami istri masih dalam misi menyelamatkan sapi-sapi mereka yang terbawa arus sungai akibat...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV