Vaksin COVID-19 Buatan Johnson & Johnson Cukup Satu Dosis. Apa Perbedaannya?
Elshinta
Selasa, 02 Maret 2021 - 12:41 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Vaksin COVID-19 Buatan Johnson & Johnson Cukup Satu Dosis. Apa Perbedaannya?
ABC.net.au - Vaksin COVID-19 Buatan Johnson & Johnson Cukup Satu Dosis. Apa Perbedaannya?

Amerika Serikat sudah menyetujui penggunaan vaksin ketiga untuk menangani penularan virus COVID-19, yaitu vaksin buatan Johnson and Johnson yang hanya butuh satu dosis.

Sejumlah pihak kini semakin optimistis jika usaha vaksinasi akan berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan semula.

Saat ini berbagai vaksin yang ada di seluruh dunia termasuk di Australia memerlukan dua dosis atau dua kali suntikan.

Vaksin Pfizer memerlukan dua dosis dengan perbedaan pemberian vaksin antara 21 hari.

Sementara vaksin buatan Oxford-AstraZenece, yang baru disetujui penggunaannya di Australia tanggal 16 Februari lalu, memerlukan waktu yang lebih lama antara pemberian dosis pertama dan kedua.

Situs Departemen Kesehatan Australia menyebutkan dosis kedua baru bisa diberikan antara empat minggu sampai 12 minggu setelah dosis pertama disuntikkan.

Vaksin lain yang memerlukan dua dosis saat ini adalah Novavax, sudah dipesan Pemerintah Australia juga sebanyak 51 juta dosis, juga vaksin Moderna, vaksin Rusia Sputnik, dan dua vaksin dari China Sinovac yang digunakan di Indonesia, dan Sinopharm.

Sebenarnya bukan Johnson and Johnson saja yang berhasil mengembangkan vaksin dosis satu kali.

Vaksin CanSino Biologics yang dikembangkan di China juga hanya memerlukan pemberian satu dosis.

Jadi apa beda vaksin Johnson & Johnson dengan vaksin satu dosis lain?

Vaksin yang dibuat oleh perusahaan Amerika Serikat Johnson and Johnson menunjukkan hasil yang lebih efektif dibandingkan vaksin satu dosis yang dibuat oleh China.

Badan Pengujian Obat-Obatan AS (USFDA) mengatakan vaksin Johnson & Johnson memberikan perlindungan kuat terhadap penyakit serius, keharusan dirawat di rumah sakit dan kematian.

Dalam uji coba besar-besaran yang sudah dilakukan di tiga benua, dosis vaksin satu kali diketahui bisa 85 persen melindungi dari penyakit serius yang disebabkan oleh COVID-19.

Perlindungan juga masih kuat di sejumlah negara, seperti Afrika Selatan, di mana belakangan ada varian baru virus yang penyebarannya lebih cepat.

Sementara itu vaksin dosis satu kali dari China hasilnya lebih rendah.

CanSino Biologics mengatakan vaksin mereka memiliki tingkat efikasi 68,83 persen dalam mencegah penyakit yang ditimbulkan COVID-19 setelah diberikan dalam masa dua minggu, turun ke angka 65,28 persen empat minggu setelah vaksinasi dilakukan.

Namun data dari percobaan di Pakistan dan di tempat lain menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam mencegah infeksi terhadap penyakit serius.

Bagaimana perbandingan dengan vaksin dua dosis?

Data yang ada sekarang ini menunjukkan vaksin dengan dua dosis atau dua kali suntikan lebih efektif mencegah gejala yang tidak terlalu serius dari COVID-19.

Namun uji coba yang dilakukan Johnson & Johnson bisa memberikan petunjuk lebih baik mengenai situasi sekarang.

Di Amerika Serikat, vaksin dua dosis Pfizer dan Moderna menunjukkan adanya 95 persen perlindungan terhadap COVID-19.

Tingkat efektivitas satu dosis Johnson & Johnson adalah 85 persen terhadap penyakit serius dan turun menjadi 66 persen untuk keseluruhan, bila data untuk penyakit lebih ringan juga dihitung.

Namun sebenarnya susah membandingkan begitu saja berbagai statistik ini karena adanya perbedaan dimana dan kapan setiap perusahaan ini melakukan uji coba.

Tidak seperti uji coba yang dilakukan Johnson & Johnson, penelitian yang dilakukan Pfizer dan Moderna selesai sebelum varian Afrika Selatan dan Inggris mulai menyebar dengan luas.

Vaksin satu dosis lebih mudah disimpan

Selain hanya diperlukan satu dosis, vaksin Johnson & Johnson ini juga memiliki kelebihan lain, yaitu bisa disimpan di suhu yang lebih hangat.

Kesulitan dalam penyimpanan vaksin Pfizer adalah bahwa vaksin itu memerlukan tempat penyimpanan khusus dengan suhu minus 70 derajat Celcius, sehingga susah dipindahkan dan juga disimpan.

Vaksin Moderna di Amerika Serikat juga harus disimpan di bawah minus 20 derajat Celcius.

Namun vaksin Johnson & Johnson bisa disimpan di lemari es biasa di suhu antara 2-8 derajat Celcius.

Dengan itu, vaksin ini sama dengan vaksin Sputnik V milik Rusia dan Oxford AstraZeneca dalam soal suhu penyimpanan.

Karenanya lebih mudah dalam transportasi ke berbagai tempat.

Di Amerika Serikat, Johnson & Johnson mengatakan akan bisa mendistribusikan 20 juta dosis vaksin di akhir bulan Maret dan sekitar 100 juta vaksin di akhir tahun 2021.

Apakah ada gunanya mendapat vaksin yang kurang efektif?

Untuk saat ini vaksin Johnson & Johnson belum masuk dalam radar untuk disetujui penggunaannya di Australia.

Pemerintah Australia sudah menandatangani tiga persetujuan dengan pengembang vaksin, Johnson & Johnson bukan salah satu diantaranya.

Namun karena virus corona terus berubah, vaksin satu dosis bisa saja nantinya digunakan di Australia.

Lantas jika vaksin Johnson & Johnson digunakan, apakah vaksin tersebut akan menggantikan yang lain?

Dr Francis Collins direktur Institut Kesehatan di Amerika Serikat mengatakan kepada kantor berita AP bahwa dari hasil yang ada, sebenarnya tidak perlu memilih satu vaksin tertentu saja.

"Saya kira pertanyaan utama yang ingin diketahui orang adalah apakah vaksin ini akan mencegah saya terkena penyakit?" kata Dr Collins.

"Apakah ini akan mencegah saya mati dari penyakit serius?

"Berita bagusnya adalah untuk semua pertanyaan ini jawabannya adalah ya."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dan lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jumlah Penduduk Australia Berkurang Pertama Kalinya Sejak Perang Dunia Pertama
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Jumlah pendatang ke Australia berkurang karena perbatasan Australia yang ditutup. Jika masalah ini t...
Peserta WHV Asal Indonesia Tewas dalam Kecelakaan Lalu Lintas di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Dikenal sebagai pekerja keras, Arie Putra ingin membahagiakan orangtuanya dengan bekerja di Australi...
Novel Intan Paramaditha Masuk Nominasi Penghargaan Buku Terbaik di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Kisahnya bermula dari sepasang sepatu merah dan persekutuan dengan jin. Tapi akhir ceritanya tergant...
Ikan Mas: Disantap di Indonesia, Dianggap Hama di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Sebuah penelitian di Australia menemukan 360 juta ikan mas tinggal di saluran air saat musim hujan. ...
Mayoritas Pekerja di Australia Ingin Tetap Bisa Bekerja dari Rumah
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Survei terbaru menunjukkan lingkungan kerja yang ideal bagi warga Australia adalah campuran bekerja ...
Apakah Vaksinasi Akan Membantu Pemulihan Pasien Long COVID?
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Beberapa orang yang telah sembuh dari COVID merasakan gejala berkepanjangan. Tapi sebagian mengaku k...
Penerbangan Internasional ke Melbourne Dibuka Kembali Setelah Paskah
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Penerbangan internasional ke Bandara Melbourne akan dibuka kembali. Apakah perbaikan sudah dilakukan...
Kisah Perempuan Diminta Kerja di Pertanian Australia Hanya Menggunakan Pakaian Dalam
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Sejumlah perempuan backpacker yang bekerja di pertanian Australia mengaku telah mengalami pelecehan ...
Why cant I have sex?: Tantangan Orangtua Indonesia di Australia Ajarkan Seks
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Bagi orang tua asal Indonesia ada tantangan ekstra yang harus dihadapi saat membicarakan topik seks ...
Setidaknya 200 Ekor Sapi di Australia Hanyut Akibat Banjir New South Wales
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Pasangan suami istri masih dalam misi menyelamatkan sapi-sapi mereka yang terbawa arus sungai akibat...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV