Perancis Suntik Vaksin AstraZeneca untuk Lansia Usia 65 Tahun
Elshinta
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Perancis Suntik Vaksin AstraZeneca untuk Lansia Usia 65 Tahun
VOA Indonesia - Perancis Suntik Vaksin AstraZeneca untuk Lansia Usia 65 Tahun
Perancis kini akan memvaksinasi warga berusia 65 tahun ke atas dengan vaksin COVID-19 yang dikembangkan bersama oleh Oxford University dan perusahaan farmasi Inggris-Swedia AstraZeneca. Keputusan itu diumumkan Selasa oleh Menteri Kesehatan Olivier Veran dalam wawancara yang ditayangkan di televisi. Veran mengatakan siapapun yang berusia di atas 50 tahun yang sudah memiliki penyakit penyerta dapat menerima vaksin Oxford-AstraZeneca, “termasuk mereka yang berusia antara 65 dan 74 tahun.” Perancis termasuk di antara banyak negara Eropa yang menolak menyetujui vaksin Oxford-AstraZeneca untuk warga lanjut usia. Para pengembang vaksin itu tidak memasukkan banyak orang dalam kelompok usia tersebut untuk uji klinis berskala besar mereka, menyebabkan kurangnya data mengenai potensi keampuhannya. Presiden Perancis Emmanuel Macron bahkan bertindak lebih jauh dengan menyebut vaksin itu kuasi atau seperti tidak efektif. Tetapi para pejabat kesehatan menyatakan data lebih lanjut dari uji klinis telah menunjukkan keampuhannya di kalangan warga lansia. Perubahan kebijakan itu jelas akan mendongkrak program kampanye vaksinasi Perancis yang lamban, yang terhambat oleh kekurangan vaksin dari Pfizer-BioNTech dan Moderna. Perubahan itu bersamaan dengan kajian di dunia nyata yang dilakukan di Inggris, yang mendapati vaksin COVID-19 yang dikembangkan Pfizer-BioNTech dan Oxford University-AstraZeneca sangat efektif dalam melindungi warga lansia dari penyakit itu setelah menerima satu suntikan saja. Para peneliti di Layanan Kesehatan Masyarakat Inggris menyatakan vaksin dua dosis dari masing-masing pengembang itu memiliki efektivitas 80 persen dalam mencegah mereka yang berusia 80-an dirawat di rumah sakit sekitar tiga hingga empat pekan setelah suntikan dosis pertama. Kajian ini juga mendapati bahwa dosis pertama vaksin Pfizer-BioNTech memiliki efektivitas antara 57 persen dan 61 persen mencegah infeksi COVID-19 di kalangan warga berusia 70 tahun ke atas, sementara vaksin Oxford-AstraZeneca efektif 60 persen dan 73 persen. Kajian yang diposting hari Senin, belum menjalani proses penelaahan sejawat. Inggris adalah negara Eropa pertama yang menyetujui vaksin Oxford-AstraZeneca bagi semua warga tanpa memedulikan usia. Di AS, Dr. Anthony Fauci, kepala Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular, mengatakan kepada The Washington Post hari Selasa bahwa AS akan tetap menggunakan vaksin dua dosis produksi Pfizer-BioNTech dan Moderna. Semakin banyak pakar kesehatan masyarakat yang mendesak para pejabat kesehatan untuk menggunakan jutaan dosis yang dimaksudkan untuk suntikan kedua itu sebagai suntikan pertama, karena jutaan warga dewasa Amerika belum diimunisasi karena kekurangan vaksin yang akut. Tetapi Dr. Fauci memperingatkan bahwa perubahan strategi dosis tunggal dapat membuat masyarakat kurang terlindungi dan memungkinkan semakin banyak varian menyebar. Pakar penyakit menular AS itu memberitahu the Post bahwa “kesenjangan antara penawaran dan permintaan akan semakin berkurang dan kemudian teratasi” segera begitu Pfizer dan Moderna memenuhi komitmen mereka untuk menyediakan 220 juta dosis pada akhir Maret, bersama-sama dengan yang dijanjikan Johnson & Johnson untuk mengirim 20 juta dosis vaksin dosis tunggalnya bulan ini. [uh/ab]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
200 Warga Indonesia Telah Tinggalkan Myanmar
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Dua ratus warga negara Indonesia di Myanmar telah meninggalkan negara itu. Hingga kini KBRI di Yango...
Free Burma Rangers Bantu Etnis Tertindas di Myanmar
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Sebuah kelompok kemanusiaan multi-etnis, The Free Burma Rangers (FBR), membantu kelompok etnis yang ...
Uni Eropa Menaruh Harapan pada Vaksin Pfizer
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Dalam beberapa bulan terakhir ada kekhawatiran tentang penguatan pemulihan global mendatang akan men...
Kuba Longgarkan Larangan Penjualan Daging Sapi dan Produk Susu
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Kuba mengumumkan pihaknya akan melonggarkan larangan yang sudah diberlakukan selama puluhan tahun te...
Pejabat AS Prihatin atas Penempatan Militer Rusia di Krimea
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Pengerahan besar-besaran pasukan militer Rusia ke Krimea memprihatinkan Amerika. Direktur Badan Inte...
Biden: Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan Mulai 1 Mei
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Presiden Amerika Joe Biden hari Rabu (14/4) mengumumkan rencananya menarik sisa pasukan Amerika dari...
Menteri-Menteri Inggris Tolak Permohonan KTT Darurat soal Irlandia Utara
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Menteri Luar Negeri Irlandia Simon Coveney diperkirakan akan menekan Menteri Luar Negeri Inggris Dom...
Perancis Akan Sikapi Vaksin J&J Sama Seperti AstraZeneca
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Juru bicara pemerintah Perancis Gabriel Attal mengatakan Perancis akan memberikan vaksin Johnson&Joh...
Ikuti Langkah AS, NATO akan Kurangi Pasukan di Afghanistan
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Alliance Treaty Organization/NATO) mengatakan akan menarik se...
Pejabat Kurdi: Roket Mendarat Dekat Pangkalan AS di Bandara Irbil
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Pejabat keamanan Kurdi dalam sebuah pernyataan mengatakan sebuah roket mendarat di dekat pangkalan A...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV