Ilmuwan Jerman Robert Koch dan Dunia Mikroba yang Menarik Perhatiannya
Elshinta
Kamis, 15 April 2021 - 12:25 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ilmuwan Jerman Robert Koch dan Dunia Mikroba yang Menarik Perhatiannya
DW.com - Ilmuwan Jerman Robert Koch dan Dunia Mikroba yang Menarik Perhatiannya

Semasa pandemi setahun belakangan, ada satu nama institusi yang paling sering terdengar di Jerman, yakni Robert Koch Institut (RKI). Institusi tersebut bertanggung jawab atas pengendalian penyakit menular di negara ini. Namun, siapakah Robert Koch - orang yang namanya kemudian didapuk menjadi nama sebuah lembaga yang cukup dihormati ini?

Dunia di abad ke-19 tampaknya banyak dilanda perang dan berbagai infeksi penyakit menular. Tuberkolosis, kolera, difteri, dan infeksi pada luka menjadi beberapa penyebab utama kematian para warganya. Dan saat itu, masih minim pengetahuan tentang kenapa penyakit tertentu mudah sekali mewabah.

Di abad tersebut, lahir Robert Koch pada tanggal 11 Desember 1843, sebagai anak ketiga dari total tiga belas bersaudara dari keluarga penambang di Clausthal, Jerman. Tahun 1862 pemuda Robert Koch yang masih berusia 19 tahun dan baru saja lulus sekolah menengah datang ke Universitas Göttingen dengan penuh semangat belajar. Ia awalnya mendaftar untuk belajar matematika, fisika dan botani. Niatnya ingin jadi ahli matematika, namun ternyata di jurusan itu ia hanya bertahan dua bulan.

Robert Koch segera menemukan kecintaannya pada ilmu medis dan beralih ke fakultas kedokteran. Kecemerlangannya tidak lagi terbendung. Mahasiswa itu segera menulis artikel ilmiah pertamanya pada usia yang terbilang muda. Setelah menyelesaikan studi, ia bekerja di rumah sakit di Berlin dan Hamburg.

Perhatian akan mikroba berawal dari antraks

Dari tahun 1870 hingga 1871 Robert Koch bekerja sebagai dokter dalam Perang Prancis-Prusia. Sekembalinya dari medan perang, ia bekerja sebagai petugas kesehatan masyarakat di Wollstein (kini termasuk wilayah Polandia). Di sanalah dia mulai mendalami biologi bakteri.

Di luar medan perang, antraks merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti di Eropa pada saat itu. Seluruh kawanan ternak bisa dengan mudah mati karena penyakit ini. Antraks juga dapat menyebabkan kematian pada manusia.

Banyak orang pada zaman itu menduga bahwa penyakit di sekitar Wollstein ini disebabkan oleh suatu zat misterius, atau bahkan hal aneh yang tidak dapat dijelaskan. Namun, Koch tidak puas dengan penjelasan ini dan mulai meneliti tentang antraks.

Berdasarkan penelitiannya, ia menemukan jawaban mengapa ternak di padang rumput tertentu dapat berulang kali terjangkit antraks: bangkai hewan yang mati tidak cukup dalam dikubur di dalam tanah. Dia juga menemukan bakteri antraks dapat membentuk spora yang bisa bertahan dalam jangka waktu lama di lingkungan yang berbeda.

Hidup di era penemuan

Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia. Robert Koch adalah orang pertama yang membuktikan bahwa penyakit menular disebabkan oleh mikroorganisme. Pada tahun 1878 ia menerbitkan buku On the Aetiology of Wound Infection Diseases, di mana ia menjelaskan agen penyebab infeksi pada luka.

Temuan ini diterima dengan sangat baik sehingga dia dipanggil ke Berlin untuk bekerja sebagai Kepala Kantor Kesehatan Kekaisaran. Di sana, dia berhasil mengisolasi bakteri penyebab tuberkulosis.

Tapi dokter muda itu tidak cepat puas dan ingin tahu bagaimana cara memerangi penyakit di tubuh manusia. Hidup di era yang penuh penemuan ilmu pengetahuan, dia pun berkeliling dunia untuk mencari patogen penyebab penyakit.

Di Mesir dan India ia menemukan bakteri yang bertanggung jawab atas sebaran penyakit kolera, di Rhodesia (sekarang Zimbabwe) ia meneliti wabah ternak dan penyakit kuku dan mulut. Sementara di Italia, Afrika bagian timur, dan Papua Nugini, ia meneliti malaria.

Hadiah Nobel dan Robert Koch Institut

Hasil pengamatan Koch telah memungkinkan ilmuwan dalam waktu singkat mengembangkan cara untuk memerangi penyakit, yang sampai saat itu manusia sama sekali tidak berdaya. Untuk pertama kalinya dalam dunia kedokteran, penyebab penularan suatu penyakit dapat dibuktikan dengan jelas.

Robert Koch pun menjadi orang pertama yang dicatat sejarah berhasil mengidentifikasi mikroorganisme penyebab penyakit. Temuannya ini telah membantu memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kesehatan manusia di seluruh dunia. Ini adalah dua hal yang menjadi kekuatan pendorong di balik disiplin ilmu mikrobiologi modern.

Atas kerja keras dan karyanya inilah, ia diganjar Hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 1905. Dalam karirnya, Robert Koch sendiri berhubungan erat dengan ahli patologi Jerman, Julius Friedrich Cohnheim, dan ahli imunologi Paul Ehrlich.

Begitu besarnya berpengaruh Robert Koch hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa pun mendeklarasikan 24 Maret sebagai Hari Tuberkulosis Internasional. Ini adalah hari ketika Koch mempresentasikan temuannya tentang bakteri tuberkulosis dan bagaimana dia menemukannya.

Kini namanya menjadi lembaga federal Jerman yang bertanggung jawab atas pengendalian dan pencegahan penyakit menular. Lembaga yang awalnya bernama Royal Prussian Institute for Infectious Diseases ini didirikan tahun 1891 dan diketuai oleh Robert Koch hingga tahun 1904. Sekitar 50 tahun sejak pertama kali didirikan, nama organisasi tersebut secara resmi diubah menjadi Robert Koch Institut.

ae/rap (rki.de, cdc.gov, ndr.de)

Laporan tambahan oleh Helle Jeppesen dan Andreas Noll



Penelitian ilmuwan Jerman Robert Koch tentang mikroba penyebab penyakit menular seperti TBC, antraks, dan malaria membantu perpanjang harapan hidup dan tingkatkan kesehatan manusia di seluruh dunia.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Indonesia Butuh Lebih Banyak Perempuan di Bidang Sains dan Teknologi
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB
"Anak perempuan jangan ambil jurusan teknik, itu jurusan laki-laki." Anda pernah dengar pe...
Chloe Zhao: Mendadak Tenar Dengan Nomadland, Sekarang Jajal Superhero Marvel
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB
Nama Chloe Zhao, sutradara kelahiran Cina, mendadak melejit dengan film Nomadland yang akan menjadi ...
Harga Sebuah Kemerdekaan: Greenland Bergulat Antara Konservasi dan Eksploitasi Alam
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB
Angin kencang menyapu lanskap hijau yang terbentang di depan lahan pertanian milik Naasu Lund. Deru ...
Kisah Cinta Pemuda Antarsuku Rwanda Hapus Luka Masa Lalu
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB
Sepasang kekasih Stanislas Niyomwungeri dan Jacinta Murayire lahir dan dibesarkan di desa yang sama ...
Riset Muslim di Jerman: Agama Tidak Hambat Integrasi
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB
"Kita bisa,” kata Kanselir Angela Merkel pada malam tersohor enam tahun silam, ketika Jer...
AS Selidiki Bombardier Terkait Dugaan Suap Pengadaan Pesawat ke Garuda Indonesia
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB
Amerika Serikat (AS) telah bergabung dalam penyelidikan internasional atas dugaan kasus penyuapan te...
Warga Jerman yang Telah Divaksin Dibebaskan dari Aturan Pembatasan
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB
Parlemen Jerman pada Kamis (06/05) menyetujuig aturan baru yang memberikan hak khusus kepada orang-o...
Cina Kecam G7, Tegaskan Taiwan Adalah
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB
Cina pada hari Kamis (06/05) mengutuk pernyataan bersama para menteri luar negeri anggota G7 yang me...
Penggusuran Paksa Warga Palestina Picu Bentrokan di Yerusalem Timur
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB
Bentrokan antara kepolisian Israel dan warga Palestina memasuki malam kedua pada Kamis (6/5). Warga ...
Infeksi COVID-19 Tak Terkendali, PM Modi Didesak Berlakukan Lockdown Ketat
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB
Ketika gelombang kedua COVID-19 menghantam India, jumlah keseluruhan kasus infeksi tembus 21,49 juta...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV