Infeksi COVID-19 Tak Terkendali, PM Modi Didesak Berlakukan Lockdown Ketat
Elshinta
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Infeksi COVID-19 Tak Terkendali, PM Modi Didesak Berlakukan Lockdown Ketat
DW.com - Infeksi COVID-19 Tak Terkendali, PM Modi Didesak Berlakukan Lockdown Ketat

Ketika gelombang kedua COVID-19 menghantam India, jumlah keseluruhan kasus infeksi tembus 21,49 juta, yang tersebar di kota-kota padat penduduk hingga desa-desa terpencil. Pada Jumat (07/05), India melaporkan hari 414.188 kasus baru dengan 3.915 kasus kematian.

Pakar medis mengatakan tingkat keparahan COVID-19 yang sebenarnya di India adalah lima hingga 10 kali lipat dari penghitungan resmi.

Dahsyatnya penyebaran infeksi corona di India membuat Perdana Menteri Narendra Modi menuai kritik karena tidak mampu bertindak cepat. Jajaran pemerintahannya juga mendapatkan sentimen negatif karena telah menunda program vaksinasi, yang menurut para ahli medis upaya itu merupakan satu-satunya harapan India untuk dapat mengendalikan gelombang kedua COVID-19.

Surat kabar Hindustan Times pada Jumat (07/05) menuntut: "Percepat pemberian vaksin, dan kendalikan gelombang kedua pandemi ..."

Tidak cukup vaksin

India tengah berjuang memproduksi dosis vaksin yang cukup untuk membendung 'tsunami' COVID-19. Meski telah memberikan setidaknya 157 juta dosis vaksin, tingkat inokulasi India mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir.

"Setelah mencapai sekitar 4 juta sehari, kami sekarang turun menjadi 2,5 juta per hari karena kekurangan vaksin," kata Amartya Lahiri, seorang profesor ekonomi di Universitas British Columbia seperti dikutip surat kabar Mint.

"Target 5 juta per hari adalah batas bawah dari apa yang kita targetkan, bahkan pada tingkat itu, akan membutuhkan waktu satu tahun bagi kita memvaksin dua dosis untuk setiap orang. Sayangnya, situasinya kini sangat suram," tambahnya.

Desakan lockdown ketat

PM Modi menghadapi tekanan yang semakin besar untuk segera memberlakukan penguncian nasional yang jauh lebih ketat. Para ahli medis, pemimpin oposisi, hingga beberapa hakim Mahkamah Agung mendesaknya untuk menerapkan lockdown, sebagai satu-satunya pilihan menghambat penyebaran virus corona.

Modi, yang mengadakan konsultasi dengan para pemimpin terpilih dan pejabat negara bagian yang terkena dampak paling parah pada Kamis (06/05), sejauh ini telah menyerahkan tanggung jawab untuk memerangi virus kepada pemerintah negara bagian yang tidak memiliki perlengkapan yang memadai.

Srinath Reddy, Presiden Public Health Foundation of India, sebuah konsultan publik-swasta, mengakui bahwa sejumlah negara bagian mengalami intensitas epidemi yang berbeda, tetapi "strategi nasional yang terkoordinasi" masih sangat diperlukan.

Menurutnya, keputusan penanganan COVID-19 perlu didasarkan pada kondisi lokal, tetapi harus dikoordinasikan oleh pusat. "Seperti orkestra yang memainkan partitur yang sama, tetapi dengan instrumen yang berbeda," katanya.

ha/hp (Reuters, AP)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Dikirimi Balon Api, Israel Luncurkan Serangan Udara ke Jalur Gaza
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Serangan udara Israel ke Jalur Gaza pada Rabu (16/06), menjadi aksi balasan pertama di bawah pemerin...
Gelombang Pembatalan Hantui Proyek Batu Bara Cina di Luar Negeri
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Satu per satu proyek pembangunan pembangkit listrik batu bara yang dibiayai Cina di luar negeri berg...
Kim Jong Un Akui Korea Utara Sedang Hadapi Ancaman Wabah Kelaparan
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, dalam sebuah sidang Komite Sentral Partai Buruh Korut, mengimbau p...
Usai Pertemuan di Jenewa, Biden dan Putin Akan Gelar Konferensi Pers Terpisah
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin, keduanya disertai delegasi tingkat tinggi, ...
Uni Eropa Cabut Larangan Masuk Untuk Warga AS dan 7 Negara Lain
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Negara-negara anggota Uni Eropa telah sepakat untuk mencabut pembatasan perjalanan terkait pandemi c...
Kapan Vaksin Covid-19 Akan Tersedia?
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Di seluruh dunia saat ini tercatat ada 160 kandidat vaksin. 50 diantaranya sudah melakukan uji klini...
Jens Stoltenberg: NATO Harus Berdiri Melawan Rezim Otoriter Cina dan Rusia
Rabu, 16 Juni 2021 - 10:30 WIB
"Di era persaingan global, Eropa dan Amerika Utara harus melawan rezim otoriter seperti Rusia d...
Korean Wave: Dari Investasi Ekonomi Pemerintah Korea Selatan Jadi Gerakan Sosial Dunia
Rabu, 16 Juni 2021 - 10:28 WIB
Foto dan video ribuan ojek online (ojol) memadati gerai restoran McDonald's untuk membeli menu e...
Duterte Tolak Bekerja Sama dalam Penyelidikan ICC soal Perang Melawan Narkoba Filipina
Rabu, 16 Juni 2021 - 10:28 WIB
Jaksa Utama Mahkamah Pengadilan Internasional (ICC), Fatou Bensouda pada Senin (14/06) meminta dilak...
Ketegangan Memuncak Jelang Parade Yahudi Ekstrem Kanan di Yerusalem
Rabu, 16 Juni 2021 - 10:28 WIB
Demonstrasi kelompok ultranasionalis Yahudi siap digelar pada Selasa (15/6) sore waktu setempat. Aks...
Live Streaming Radio Network