Penggusuran Paksa Warga Palestina Picu Bentrokan di Yerusalem Timur
Elshinta
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:17 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Penggusuran Paksa Warga Palestina Picu Bentrokan di Yerusalem Timur
DW.com - Penggusuran Paksa Warga Palestina Picu Bentrokan di Yerusalem Timur

Bentrokan antara kepolisian Israel dan warga Palestina memasuki malam kedua pada Kamis (6/5). Warga Arab di kawasan Sheikh Jarrah memrotes penggurusan paksa empat warga Palestina dari kediamannya.

Kepemilikan rumah yang dihuni keluarga pengungsi Palestina sejak 1948 itu diklaim oleh organisasi Yahudi, dan dibenarkan oleh putusan pengadilan.

Mahkamah Agung Israel sebenarnya dijadwalkan menggelar sidang dengar perkara mengenai kasus ini, Senin (10/5) depan. Namun kekerasan keburu meletup ketika warga Yahudi menempati paksa rumah yang diperebutkan setelah tenggat pada 2 Mei dibiarkan lewat.

Kepolisian Israel mengaku sejauh ini telah menahan tujuh orang atas dugaan "penganiayaan” dan mengklaim situasinya "sudah terkendali.”

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, seorang ibu pemilik rumah menemui warga Yahudi yang kini menempati rumahnya sembari berkata, "Anda mencuri rumah saya!”, yang disambut "Jika saya tidak mencurinya, orang lain akan melakukannya.”

Demonstran Palestina juga bertukar kata kasar dengan politisi kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, yang datang ke Sheikh Jarrah dan berulangkali menegaskan "rumah ini milik kami”.

Tumpang tindih klaim sejarah

Sheikh Jarrah adalah kawasan yang dihuni mayoritas Arab Palestina dan berjarak hanya 2 kilometer dari kota tua Yerusalem.

Menurut laporan al-Jazeera, sebanyak 28 keluarga Palestina yang tergusur dari Yafa dan Haifa Usai perang 1948, diizinkan mengungsi ke kawasan ini oleh Yordania, yang saat itu menguasai Yerusalem Timur.

Pemerintah di Amman berjanji akan memberikan sertifikat kepemilikan lahan kepada para pengungsi. Namun hal ini urung terjadi hingga 1967, ketika Israel menganeksasi Yerusalem Timur.

Awal tahun ini, Pengadilan Yerusalem memutuskan rumah itu secara legal milik organisasi Yahudi, Nahalat Shimon, yang membuktikan telah membeli tanah beberapa dekade silam. Menurut laporan al-Jazeera, organisasi nasionalis Yahudi ini sebelumnya pernah menggugat kepemilikan rumah milik puluhan keluarga Palestina lain.

"Tanah ini adalah tanah Palestina. Dan kami, penghuni wilayah ini, tidak bisa menerima bahwa tanah ini diklaim milik mereka, tanah ini adalah milik kami,” kata Nabeel al-Kurd, lansia 77 tahun yang terancam digusur.

Kasus itu kini diintervensi pemerintah Yordania, yang mengeluarkan dokumen resmi untuk mendukung klaim keluarga pengungsi Palestina.

Mahkamah Agung Israel awalnya menyerukan kedua pihak untuk mencari kompromi. Sidang pada senin depan akan memutuskan apakah korban penggusuran berhak mengajukan banding atas putusan pengadilan.

Proses banding bisa berlangsung hingga bertahun-tahun.

"Kami menolak penggusuran ini,” kata Mona al-Kurd, salah seorang warga Sheikh Jarrah. "Para pemukim ingin kami mengakui hak properti mereka, itu mustahil.”

Yehonatan Yosef, aktivis Nahalat Shimon, yang mengklaim kepemilikan tanah, mengatakan keluarga Palestina menolak "setiap tawaran kompromi,” katanya. "Ini masalah mereka.”

rzn/hp (afp,rtr)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Dikirimi Balon Api, Israel Luncurkan Serangan Udara ke Jalur Gaza
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Serangan udara Israel ke Jalur Gaza pada Rabu (16/06), menjadi aksi balasan pertama di bawah pemerin...
Gelombang Pembatalan Hantui Proyek Batu Bara Cina di Luar Negeri
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Satu per satu proyek pembangunan pembangkit listrik batu bara yang dibiayai Cina di luar negeri berg...
Kim Jong Un Akui Korea Utara Sedang Hadapi Ancaman Wabah Kelaparan
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, dalam sebuah sidang Komite Sentral Partai Buruh Korut, mengimbau p...
Usai Pertemuan di Jenewa, Biden dan Putin Akan Gelar Konferensi Pers Terpisah
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin, keduanya disertai delegasi tingkat tinggi, ...
Uni Eropa Cabut Larangan Masuk Untuk Warga AS dan 7 Negara Lain
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Negara-negara anggota Uni Eropa telah sepakat untuk mencabut pembatasan perjalanan terkait pandemi c...
Kapan Vaksin Covid-19 Akan Tersedia?
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB
Di seluruh dunia saat ini tercatat ada 160 kandidat vaksin. 50 diantaranya sudah melakukan uji klini...
Jens Stoltenberg: NATO Harus Berdiri Melawan Rezim Otoriter Cina dan Rusia
Rabu, 16 Juni 2021 - 10:30 WIB
"Di era persaingan global, Eropa dan Amerika Utara harus melawan rezim otoriter seperti Rusia d...
Korean Wave: Dari Investasi Ekonomi Pemerintah Korea Selatan Jadi Gerakan Sosial Dunia
Rabu, 16 Juni 2021 - 10:28 WIB
Foto dan video ribuan ojek online (ojol) memadati gerai restoran McDonald's untuk membeli menu e...
Duterte Tolak Bekerja Sama dalam Penyelidikan ICC soal Perang Melawan Narkoba Filipina
Rabu, 16 Juni 2021 - 10:28 WIB
Jaksa Utama Mahkamah Pengadilan Internasional (ICC), Fatou Bensouda pada Senin (14/06) meminta dilak...
Ketegangan Memuncak Jelang Parade Yahudi Ekstrem Kanan di Yerusalem
Rabu, 16 Juni 2021 - 10:28 WIB
Demonstrasi kelompok ultranasionalis Yahudi siap digelar pada Selasa (15/6) sore waktu setempat. Aks...
Live Streaming Radio Network