AS yang Tak Dapat Bersihkan “Noda Jiwanya” Sendiri, Malah Kritik Negara Lain
Elshinta
Jumat, 28 Mei 2021 - 12:30 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
AS yang Tak Dapat Bersihkan “Noda Jiwanya” Sendiri, Malah Kritik Negara Lain
CRI - AS yang Tak Dapat Bersihkan “Noda Jiwanya” Sendiri, Malah Kritik Negara Lain

Pada hari Selasa lalu (25/5) waktu setempat, berbagai daerah Amerika Serikat (AS) mengadakan kegiatan untuk memperingati George Floyd yang dibunuh oleh polisi kulit putih setahun yang lalu. Meskipun Polisi Derek Chauvin telah mendapat hukuman, tapi rasisme sistemik yang  menjadi “noda jiwa” AS itu tidak berkurang malahan meningkat.

The Journal Time melaporkan, menurut hasil beberapa survei, sejak Juni 2020, kecepatan pembunuhan oleh polisi AS hampir sama dengan 5 tahun yang lalu. Dari tanggal 1 Januari hingga 30 April tahun ini, polisi AS hanya 6 hari tidak melakukan pembunuhan.

Yang lebih parah ialah penegakan hukum dengan kekerasan berdasarkan diskriminasi rasial. Menurut statistik “Mapping Police Violence”, sebuah program investigasi independen AS, dalam 1.126 orang yang dibunuh oleh polisi AS pada tahun lalu, 28 persen diantaranya adalah keturunan Afrika, jauh lebih tinggi daripada proporsi jumlah populasi keturunan Afrika di dalam populasi total AS yaitu 13 persen. Sejauh ini, masih terus bermunculan “kasus Floyd” yang baru.

Sementara itu, reformasi kepolisian yang diimbau berbagai pihak AS sering menghadapi hambatan. Rancangan reformasi kepolisian yang dinamai Floyd itu tidak saja gagal diratifikasi menjadi hukum pada saat peringatan 1 tahun pembunuhannya, bahkan kemungkinan besar akan mati dalam pembahasan tak berujung di Senat. Sejumlah negara bagian malah berturut-turut meratifikasi rancangan atau mengambil kebijakan untuk meningkatkan hak kepolisian, dalam rangka meningkatkan hukuman kepada partisipan kerusuhan dan perlindungan kepada polisi.

Menurut Mapping Police Violence, dari tahun 2013 hingga 2020, di antara polisi yang menimbulkan kematian dalam proses penegakan hukum,  98,3 persen tak digugat. Supremasi orang kulit putih, toleransi sistem pengadilan AS dalam jangka panjang, kelambanan politikus... berbagai unsur itu menjauhkan rakyat AS dari dambaan mereka terhadap kesetaraan ras.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Bunga Teratai Salju Mekar- Kisah Tao Simeng dan Tao Yong
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:21 WIB
Lagu “Xinjiang Hao” (Xinjiang Bagus) pernah sangat  populer di seluruh Tiongkok di ...
Bunga Teratai Salju Mekar-Kisah Dokter Wu Dengyun
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:21 WIB
Setelah lulus dari Perguruan Kedokteran Yangzhou Tahun 1963, Wu Dengyun menuju ke Kabupaten Wuqia, X...
Penelusuran Sumber Virus Tak Boleh Menjadi Senjata Politik
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:21 WIB
 Baru-baru ini, WHO telah melancarkan penelusuran sumber covid-19 gelombang kedua terhad...
Bunga Teratai Salju Mekar-Kisah Dokter Ding Xin
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:21 WIB
Ding Xin adalah seorang dokter kepala Ginekologi di Rumah Sakit Obstetri dan Ginekologi Beijing, dia...
Bunga Teratai Salju Mekar-Kisah Shao Xiangli
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:21 WIB
Shao Xiangli adalah seorang kader bantuan Xinjiang gelombang ke-9 yang dikirim Komite Pengaturan Per...
Bunga Teratai Salju Mekar --- Kisah Xierenayi Xieraili
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:21 WIB
 Sekolah Menengah No.5 Kota Hotan adalah sekolah menengah percontohan yang dibangun deng...
Bunga Teratai Salju Mekar---Kisah Abdul Siti
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:21 WIB
 “Kamu harus menjaga hati yang menghormati kapan pun. Menghormati penerbangan dan ...
Bunga Teratai Salju Mekar---Kisah Bahaguli Tuoleheng
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:21 WIB
 Pada Januari 2020, pandemi Covid-19 merebak. Pada tanggal 23 Januari, kota Wuhan dilock...
Bunga Teratai Salju Mekar-Cerita Sumairemu
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:21 WIB
 Badan bantuan Xinjiang dari Beijing dan badan publikasi setempat menciptakan kartu nama...
Bunga Teratai Salju Mekar-Cerita Mieradili
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:21 WIB
 Mieradili ingin membawa ibunya tinggal bersamanya di kota dengan usahanya sendiri. Guru...
Live Streaming Radio Network