Derita Hazara di Afghanistan: Genosida atau Kejahatan Kemanusiaan
Elshinta
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Derita Hazara di Afghanistan: Genosida atau Kejahatan Kemanusiaan
VOA Indonesia - Derita Hazara di Afghanistan: Genosida atau Kejahatan Kemanusiaan
Beberapa menit setelah bom menghancurkan sebuah minivan lain di sebuah kawasan permukiman Hazara di Kabul Barat, awal Juni lalu, Mohammad Shoaib Khiari mulai menelepon ibunya. Itu pengeboman keempat hanya dalam waktu 48 jam, Ibunya pergi bersama kedua saudara perempuannya pergi membeli tirai untuk rumah baru mereka. Ia panik ketika sang ibu tidak menjawab panggilan teleponnya dan mulai menghubungi rumah sakit-rumah sakit Kabul. Ia menemukan saudara perempuannya, Hosnia, dalam kondisi kritis dengan luka bakar di lebih dari 50 persen tubuhnya. Ibunya dan saudara perempuannya, Mina, 23, sudah meninggal. Dua keranda berselubungkan kain beledu hitam bertuliskan ayat-ayat Al-Quran warna keemasan membawa jasad Mina dan ibunya ke tempat peristirahatan terakhir. Tiga hari kemudian pada tanggal 6 Juni, Hosnia yang berusia 21 tahun meninggal dunia. Ia merupakan korban tewas terbaru dalam serangkaian serangan yang menarget kelompok etnis Hazara Afghanistan. Beberapa kelompok HAM menyebut banyak serangan itu sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Selain termasuk yang termiskin di Afghanistan, etnis Hazara, yang umumnya Syiah adalah kelompok minoritas di Afghanistan yang sebagian besar warganya adalah Sunni. Setelah runtuhnya Taliban 20 tahun yang lalu, kelompok etnis ini mulai berkembang dan meraih kemajuan di berbagai bidang, termasuk pendidikan dan olahraga. Kini, mereka dilanda kekhawatiran bahwa apa yang mereka telah capai akan hilang karena kekacauan dan perang setelah penarikan terakhir pasukan Amerika dan NATO dari Afghanistan musim panas ini. "Orang-orang yang mampu meninggalkan Afghanistan akan pergi meninggalkan Afghanistan, sementara mereka yang tidak mampu akan tinggal di sini dan menunggu kematian," kata Qatradullah Broman, kerabat Mina. Sebuah afiliasi ISIS yang brutal telah menyatakan perang terhadap minoritas Syiah di negara itu dan telah mengaku bertanggung jawab atas banyak serangan baru-baru ini. Taliban, sewaktu mereka terakhir memerintah dituduh membantai orang-orang Hazara, dalam serangan balas dendam, menyusul pembunuhan sejumlah warga etnis Pashtun di Afghanistan Utara. Orang-orang etnis Hazara curiga, pemerintah tidak berbuat cukup untuk mencegah serangan-serangan mematikan itu. Pemerintah jarang menangkap para pelakunya, dan tidak pernah mempublikasikan penyelidikan pihak berwenang. Mereka mengeluhkan lemahnya keamanan di daerah-daerah yang didominasi Hazara, bahkan ketika serangan semakin meningkat. Beberapa menuding sejumlah panglima perang, yang telah membantai Hazara dalam perang-perang sebelumnya, telah bersekutu dengan pemerintah. Menyusul pengeboman pekan lalu yang menewaskan saudara perempuan dan ibu Shoaib, kampanye di media sosial bertagar #StopHazaraGenocide (HentikanGenosidaHazara) sempat menjadi tren di Twitter. Komisi HAM PBB juga telah mengajukan petisi untuk menyelidiki pembunuhan Hazara sebagai genosida, atau setidaknya sebagai perang melawan kemanusiaan, kata Wadood Pedram, direktur eksekutif Organisasi HAM dan Pemberantasan Kekerasan yang berbasis di Kabul, yang memprakarsai petisi itu. Orang-orang etnis Hazara dibantai di mana-mana, termasuk di sekolah, klub olahraga, bahkan rumah sakit. Tahun lalu, sekelompok orang bersenjata menyerang sebuah rumah sakit bersalin, juga di Kabul Barat. Ketika serangan itu berakhir, 24 orang tewas, termasuk sejumlah bayi yang baru lahir dan ibu mereka. Amerika Serikat menuding ISIS yang mendalanginya tetapi lebih dari setahun kemudian tidak ada penangkapan yang dilakukan. Para pekerja HAM mengatakan serangan-serangan itu kini telah meningkat menjadi kejahatan perang. Keluarga Mohammad Shoaib Khiari yang berduka karena kehilangan orang yang mereka cintai, percaya bahwa rakyat Afghanistan lelah perang dan semua orang harus bekerja sama untuk membawa perdamaian di negara itu. "Kita harus berusaha membawa perdamaian ke negara ini, sehingga orang-orang dapat menikmati hidup mereka, saat ini semua orang hidup dalam ketakutan, setiap kali anak seseorang meninggalkan rumah, sulit untuk mengatakan apakah ia akan pulang dengan selamat,” kata paman Khiari, Yusof Rajabi. Pembantaian-pembantaian itu menyebabkan Hazara, yang secara tradisional tidak menyukai kekerasan; meletakkan senjata mereka setelah Taliban melarikan diri; dan merangkul demokrasi yang baru ditemukan di negara itu, beralih ke para pemimpin militan. Beberapa di antara para pemimpin militan itu telah memerangi Taliban dan sekarang menjadi sasaran pemerintah. Di beberapa area di Kabul Barat di mana etnis Hazara mendominasi, keprihatinan semakin keras terdengar. Pembicaraan telah beralih ke mempersenjatai para pemuda Hazara untuk bertahan melawan serangan yang semakin ganas dan sering menarget kaum muda yang berpendidikan. Pengeboman tiga kali pada 8 Mei lalu di sekolah putri Syed-Al-Shahada yang menewaskan lebih dari 100, hampir 80 di antaranya adalah siswa Hazara, membuat marah kelompok etnis itu. Beberapa di antara mereka mengatakan, peristiwa tersebut memicu mereka untuk mengambil tindakan. Duduk di lantai karpet Masjid Wali Asar, juga di Kabul Barat, Ghulam Reza Berati, seorang pemimpin agama Hazara terkemuka mengatakan Hazara kecewa dengan demokrasi yang dibawa oleh koalisi pimpinan AS setelah runtuhnya Taliban. Hazara, yang menyambut orde baru, sebagian besar tidak dilibatkan dalam posisi-posisi penting, katanya. Berati mengatakan, kelompok etnis Hazara termasuk yang pertama meletakkan senjata setelah 2001, sementara pada 2021 banyak panglima perang -- bersama kelompok-kelompok mereka yang memusuhi Hazara -- bersenjata lengkap. "Ketika HAM, hak perempuan, supremasi hukum dan semua hukum yang diakui secara internasional lainnya tidak dihormati dalam peradaban, maka kita harus beralih ke senjata," kata Berati. Keberadaan beberapa panglima perang, yang berkuasa di pemerintahan saat ini, mengingatkan kelompok etnis Hazara tentang kekerasan yang dilakukan para panglima itu terhadap mereka dan potensi bahaya di masa depan. Rajab Ali Urozgani, yang dikenal dengan panggilan Mangol, baru berusia 14 tahun ketika ia bertempur pada 1993 di Afshar, sebuah area yang sebagian besar penduduknya Hazara di Kabul. Sebagaimana didokumentasikan kelompok-kelompok HAM, pertempuran itu sesungguhnya adalah pembantaian yang dilakukan oleh milisi yang setia kepada Abdul Rasool Sayyaf, yang saat ini menjadi orang berpengaruh di Kabul. Mangol, yang kini berusia 42 tahun, mengusapkan tangan ke bekas luka di kepalanya, yang menjadi pengingat tragedi saat itu. Jalannya terpincang-pincang karena tembakan peluru sempat juga menghancurkan kakinya dalam perang itu. Ia kembali ke Afshar awal bulan ini untuk mengunjungi kembali lokasi pembantaian tersebut. Ketika ditanya di mana tepatnya, Mangol menunjuk ke tanah di bawah kakinya. Lokasi itu, katanya, adalah kuburan massal di mana hampir 80 pria, wanita dan anak-anak yang tewas dalam pertempuran Afshar dimakamkan. Sebuah dinding telah didirikan di sekitar situs itu. Sebuah bendera Syiah berkibar di dekat pintu masuk dan setiap orang yang masuk berhenti di bawah bendera itu untuk berdoa bagi para korban yang tewas. Mangol mengaku khawatir dengan nasib kelompok etnis Hazara. Ia sulit berharap perdamaian akan tercipta di Afghanistan setelah pasukan AS dan sekutu-sekutunya angkat kaki dari negaranya. [ab/uh]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Banjir di Bangladesh, Ribuan Orang di Kamp Rohingya Kehilangan Tempat Tinggal
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:45 WIB
Hujan lebat berhari-hari mengguyur kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh Selatan, menghancurkan...
Raja Malaysia Kecam Pemerintah karena Sesatkan Parlemen
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:45 WIB
Raja Malaysia, Kamis (29/7), menegur pemerintah Perdana Menteri Muhyiddin Yassin karena menyesatkan ...
Menlu AS Kunjung Kuwait untuk Perkokoh Hubungan
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:45 WIB
Diplomat tinggi Amerika Serikat, Kamis (29/7), memulai kunjungan ke Kuwait, di mana ia melangsungkan...
Boneka “Amal Kecil” Mulai Misinya, Bangkitkan Kesadaran Nasib Pengungsi 
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:45 WIB
Boneka raksasa bocah perempuan Suriah telah memulai perjalanan lintas benuanya. yang diharapkan akan...
Perawatan di ICU Bisa Sadarkan Warga Yang Belum Divaksinasi
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:45 WIB
Satu pasangan suami istri di Arkansas menunda-nunda untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19. Mereka akh...
Tambahkan 33 Lokasi Warisan Dunia Baru
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:45 WIB
Badan kebudayaan PBB (UNESCO) menambahkan 33 lokasi warisan baru ke dalam daftar. Lanskap Slate di b...
Dirjen WHO: China Harus Berikan Data Mentah tentang Asal-Usul Pandemi
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:45 WIB
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus hari Kamis (29/7) mengatakan bahwa penyelidikan asa...
Tokyo Alami Rekor Lonjakan Infeksi COVID-19 selama Olimpiade
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:45 WIB
Para pejabat Tokyo melaporkan jumlah kasus virus corona tertinggi pada Kamis (29/7) untuk hari ketig...
Menlu AS di Kuwait, Bahas Isu Afghanistan dan Iran
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:45 WIB
Menteri Luar Negeri AS Kamis (29/7) mengatakan bahwa AS sedang bernegosiasi dengan Kuwait dan negara...
Pakar: Vaksin Selamatkan 50 Juta Nyawa, Tapi COVID Ancam Kemajuan pada Masa Depan
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:45 WIB
Program vaksinasi terhadap beberapa penyakit paling mematikan di dunia telah menyelamatkan puluhan j...
Live Streaming Radio Network