Kim Jong Un Akui Korea Utara Sedang Hadapi Ancaman Wabah Kelaparan
Elshinta
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kim Jong Un Akui Korea Utara Sedang Hadapi Ancaman Wabah Kelaparan
DW.com - Kim Jong Un Akui Korea Utara Sedang Hadapi Ancaman Wabah Kelaparan

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, dalam sebuah sidang Komite Sentral Partai Buruh Korut, mengimbau petani-petani lokal untuk mampu memitigasi dampak cuaca ekstrem yang melumat hasil panen tahun ini. Kegagalan panen menurutnya dipicu serangkaian badai musim panas yang melanda tahun lalu.

Korea Utara saat ini masih berada di bawah embargo ekonomi internasional. Tanpa sanksi pun, negeri Komunis itu acap kewalahan menjamin ketersediaan pangan bagi warganya, yang ditandai oleh maraknya kasus malnutrisi seperti dilaporkan PBB.

Di tengah pandemi corona, gelombang cuaca ekstrem yang menyebabkan bencana banjir meluluhlantakkan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Di hadapan Komite Sentral, Kim mengabarkan kendati mencatat pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kapasitas produksi, Korea Utara mengalami "serangkaian bencana” yang menciptakan ancaman bagi rakyat.

"Situasi pangan untuk rakyat semakin menegangkan, ketika sektor pertanian gagal memenuhi kuota produksi beras dan gandum akibat kerusakan yang dipicu bencana topan tahun lalu,” katanya seperti dilansir kantor berita KCNA.

Bencana alam picu gelombang kelaparan

Banjir yang diakibatkan topan pada musim panas tahun lalu merusak ribuan rumah dan jutaan hektar lahan pertanian. Sebagai reaksinya pemerintah di Pyongyang membangun ulang desa-desa yang rusak dalam tempo singkat.

Tapi kerusakan pada sektor pertanian bersifat jangka panjang. Kim mendorong aparat negara mengambil langkah-langkah kongkrit untuk memitigasi dampak cuaca ekstrem. Menurutnya, menjamin ketersediaan bahan pangan adalah "prioritas utama.”

Perkembangan teranyar di Korea Utara mengingatkan pada bencana kelaparan antara 1994 dan 1998, di mana hingga 3,5 juta penduduk meninggal dunia. Saat itu pun, kelangkaan pangan dipicu kegagalan panen akibat bencana alam banjir.

Sejak bencana kelaparan parah itu, produksi dan distribusi pangan di Korut belum sepenuhnya pulih. Hal ini terlihat pada besarnya bantuan pangan dari luar negeri. Menurut estimasi Korea Selatan, Pyongyang membutuhkan setidaknya 1,2 juta ton bahan pangan untuk mencegah bencana kelaparan.

Hal senada diperingatkan Kantor Koordinasi Kemanusiaan PBB (OCHA). Menurut juru bicaranya, dampak pandemi "semakin memperparah” situasi kemanusiaan di Korut tahun ini. Diperkirakakan, sebanyak 10,6 juta penduduk membutuhkan bantuan pangan.

April silam, Kim Jong Un mengimbau warganya untuk menyiapkan diri menghadapi "situasi paling buruk” usai musim panen. Imbauan serupa pernah dikampanyekan kakeknya, Kim Il Sung, yang mengajak rakyat melakukan "mars penderitaan” sebagai tugas patriotik melawan bencana kelaparan.

rzn/as (afp,rtr)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Klaim Vaksin Johnson & Johnson Efektif Melawan Varian Delta
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Perusahaan farmasi yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Johnson & Johnson, mengungkapkan bahwa...
Usai Pecahkan Rekor Suhu Terpanas, Desa Kanada Hangus Dilalap Api
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Setelah didera gelombang panas mematikan selama tiga hari berturut-turut, warga Lytton di Kanada seb...
Pemain Game Profesional: Kaya Tapi Hadapi Risiko
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Main game semakin disukai untuk rileks, untuk bersosialisasi dan untuk beralih dari kesibukan sehari...
Membujur di Tepian Laut, Kota-kota Pesisir Hadapi Ancaman Mematikan
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Pesisir laut selama berabad-abad jadi pusat lalu lintas perdagangan antar negara, pembangunan, dan p...
Uni Eropa Bersiap Akhiri Produksi Kendaraan Berbahan Bakar Fosil
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Masa operasional mobil bermesin bahan bakar minyak bumi di Eropa sepertinya tinggal menghitung hari....
Mahasiswa Indonesia Teliti Pengolahan Air di Jerman
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Sebenarnya Eliezer Justinus Kurnia tidak punya rencana untuk berkuliah di Jerman, setelah tamat S1 d...
PBB Desak Negara-negara Serius Tangani Isu Perbudakan dan Rasisme Masa Lalu
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Komisaris Tinggi Hak Asasi Mansuia PBB Michelle Bachelet mendesak negara-negara untuk mengambil &quo...
Jangan Menyerah, Ayo Berbagi Cerita Perjuangan Hadapi Pandemi
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Di masa-masa awal pandemi COVID-19, Harpini Winastuti, 85, duduk diam termenung di rumahnya. Saat it...
Membaca Kembali Kemerdekaan Timor Leste
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Dari pembicaraan di dataran tinggi Dieng yang beriklim sejuk dan rumah bagi sekian banyak candi-cand...
Berkisah Tentang Anne Frank, Debut Film Animasi di Festival Film Cannes
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Buku Harian Anne Frank, kisah pencurahan harapan dan impian seorang gadis muda Yahudi ketika bersemb...
Live Streaming Radio Network