Gelombang Pembatalan Hantui Proyek Batu Bara Cina di Luar Negeri
Elshinta
Kamis, 17 Juni 2021 - 09:11 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Gelombang Pembatalan Hantui Proyek Batu Bara Cina di Luar Negeri
DW.com - Gelombang Pembatalan Hantui Proyek Batu Bara Cina di Luar Negeri

Satu per satu proyek pembangunan pembangkit listrik batu bara yang dibiayai Cina di luar negeri berguguran. Menurut sebuah studi yang dirilis Rabu (16/6), sejak 2017 jumlah proyek yang dibatalkan mencapai 4,5 kali lebih besar ketimbang yang disahkan.

Riset yang digelar Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) itu mencatat, betapa investasi batu bara kian tergerus oleh upaya mereduksi emisi karbondioksida di banyak negara.

Pembangkit listrik bertenaga batu bara tidak cuma menghasilkan emisi Co2 yang tinggi, tetapi juga merupakan salah satu sumber polusi udara paling besar. CREA menyimpulkan, gelombang pembatalan proyek pembangunan PLTU menyiratkan masa depan muram bagi industri tersebut.

Sejak 2016, sepuluh bank internasional yang tercatat paling banyak berinvestasi di sektor batu bara adalah milik Cina. Menurut CREA, sekitar 12 persen pembangkit batu bara di luar Cina ikut dibiayai dan dibangun oleh perusahaan Cina.

Saat ini beragam proyek berkapasitas total 80 gigawatt yang dibiayai Cina di seluruh dunia masih terus dikerjakan. Namun begitu, CREA meyakini akan semakin banyak proyek yang dibatalkan seiring meningkatnya tekanan publik.

Selain membiayai pembangunan pembangkit listrik di luar negeri, Cina juga tercatat sebagai pengguna batu bara terbesar di dunia. Dalam komitmen iklimnya, Beijing berencana akan memproduksi gas rumah kaca hingga puncaknya di tahun 2030, dan perlahan mengurangi emisi ke titik nol pada 2060.

Pergeseran politik energi di Cina

Presiden Xi Jinping April silam mengatakan, baru akan mulai mengurangi konsumsi batu bara pada 2026, dan sepenuhnya berhenti pada 2050. Tahun lalu, Cina bertanggungjawab atas lebih dari separuh produksi energi batu bara di seluruh dunia.

Aliran investasi Cina belakangan memicu kekhawatiran, lantaran didominasi proyek infrastruktur atau pertambangan yang kerap memicu konflik lingkungan. Dalam sejumlah kasus, proyek-proyek tersebut diwarnai pelanggaran HAM.

Saat ini sejumlah proyek yang dibiayai Cina diperkarakan oleh organisasi lingkungan hingga ke lembaga internasional. Mereka mengimbau Beijing agar mengarahkan investasi untuk sebalknya membiayai proyek energi hijau.

Pemerintah Cina sudah mengindikasikan ingin mengurangi investasi batu bara di dalam atau luar negeri. Menyusul perubahan yang diputuskan bank sentral awal tahun ini, "batu bara bersih” sudah tidak lagi memenuhi syarat untuk mendapat investasi hijau.

Industrial and Commercial Bank of Cina termasuk salah satu institusi keuangan terbesar yang sudah mengambil sikap. ICBC saat ini menyimpan aset batu bara terbesar, dan selama ini merupakan sumber investasi paling gemuk untuk proyek batu bara.

Akhir Mei silam, salah seorang petinggi ICBC mengatakan pihaknya sedang menyusun "rencana dan kerangka waktu untuk penarikan mundur dari investasi batu bara,” kata Zhou Yueqiu, ekonom kepala di ICBC.

rzn/as (rtr,afp)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Klaim Vaksin Johnson & Johnson Efektif Melawan Varian Delta
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Perusahaan farmasi yang berbasis di Amerika Serikat (AS), Johnson & Johnson, mengungkapkan bahwa...
Usai Pecahkan Rekor Suhu Terpanas, Desa Kanada Hangus Dilalap Api
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Setelah didera gelombang panas mematikan selama tiga hari berturut-turut, warga Lytton di Kanada seb...
Pemain Game Profesional: Kaya Tapi Hadapi Risiko
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Main game semakin disukai untuk rileks, untuk bersosialisasi dan untuk beralih dari kesibukan sehari...
Membujur di Tepian Laut, Kota-kota Pesisir Hadapi Ancaman Mematikan
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Pesisir laut selama berabad-abad jadi pusat lalu lintas perdagangan antar negara, pembangunan, dan p...
Uni Eropa Bersiap Akhiri Produksi Kendaraan Berbahan Bakar Fosil
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Masa operasional mobil bermesin bahan bakar minyak bumi di Eropa sepertinya tinggal menghitung hari....
Mahasiswa Indonesia Teliti Pengolahan Air di Jerman
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Sebenarnya Eliezer Justinus Kurnia tidak punya rencana untuk berkuliah di Jerman, setelah tamat S1 d...
PBB Desak Negara-negara Serius Tangani Isu Perbudakan dan Rasisme Masa Lalu
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Komisaris Tinggi Hak Asasi Mansuia PBB Michelle Bachelet mendesak negara-negara untuk mengambil &quo...
Jangan Menyerah, Ayo Berbagi Cerita Perjuangan Hadapi Pandemi
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Di masa-masa awal pandemi COVID-19, Harpini Winastuti, 85, duduk diam termenung di rumahnya. Saat it...
Membaca Kembali Kemerdekaan Timor Leste
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Dari pembicaraan di dataran tinggi Dieng yang beriklim sejuk dan rumah bagi sekian banyak candi-cand...
Berkisah Tentang Anne Frank, Debut Film Animasi di Festival Film Cannes
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB
Buku Harian Anne Frank, kisah pencurahan harapan dan impian seorang gadis muda Yahudi ketika bersemb...
Live Streaming Radio Network