Eksportir Sapi Australia Khawatirkan Peningkatkan Kasus COVID di Indonesia
Elshinta
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Eksportir Sapi Australia Khawatirkan Peningkatkan Kasus COVID di Indonesia
ABC.net.au - Eksportir Sapi Australia Khawatirkan Peningkatkan Kasus COVID di Indonesia

Kalangan eksportir sapi Australia menyatakan khawatir dengan eskalasi krisis COVID di Indonesia yang telah menempatkan mereka dalam "situasi tragis".

Menurut Ketua Dewan Eksportir Ternak Australia (ALEC) Mark Harvey-Sutton, di saat krisis COVID-19 memburuk, harga sapi yang tinggi dan pengetatan pasokan domestik, ekspor sapi menjadi turun 27 persen dibandingkan tahun lalu.

Namun ia menambahkan perhatian utama mereka saat ini adalah kesehatan dan keselamatan mitra bisnisnya di Indonesia.

"Saya telah menerima laporan dari staf importir yang telah meninggal atau sakit parah karena COVID," katanya.

Industri peternakan berduka

Salah satu perusahaan ternak terbesar di Australia Consolidated Pastoral Company (CPC) memiliki dua tempat penggemukan sapi, yaitu di Lampung dan Medan, dengan kapasitas total 27.000 ekor sapi.

Dirut CPC Troy Setter mengatakan meski pihaknya telah melakukan vaksinasi terhadap 500–600 staf mereka dan telah menerapkan protokol COVID yang ketat, namun situasinya lebih membahayakan dalam beberapa pekan terakhir.

"Kami mengalami tekanan pada usaha, pekerja, dan pelanggan kami karena jenis virus corona baru yang lebih ganas ini," katanya kepada ABC.

"Staf kami tambah banyak yang sakit dalam beberapa minggu terakhir dan, kami juga telah kehilangan beberapa pekerja," ujar Troy.

"Ini juga jadi tantangan kami di Australia, kami merasa sangat tidak berdaya untuk membantu [mengatasi keadaan di Indonesia]," tambahnya.

Turun sekitar sepuluh persen

Lonjakan kasus COVID-19 terjadi pada momen penting dalam kalender agama di Indonesia ketika umat Islam merayakan hari raya Idul Adha.

Menurut Troy Setter, biasanya sekitar 1,8 juta hewan yang dipotong selama hari raya qurban, termasuk sapi, domba, kambing, dan kerbau.

Tapi ia memperkirakan pemotongan kali ini turun sekitar 10 persen dibandingkan tahun lalu.

"Hal yang menarik yaitu sejak Juni kita sebenarnya melihat peningkatan signifikan harga daging sapi dan sapi hidup yang masuk ke Indonesia, meskipun volumenya turun," jelasnya.

“Kami sekarang melihat penurunan daya beli rata-rata konsumen Indonesia dan itu adalah tantangan nyata."

"[Terutama] dengan harga sapi yang lebih tinggi, harga pakan yang lebih tinggi, serta penguncian dan penutupan restoran tempat produk kami biasanya pergi."

Dampaknya pada permintaan sapi Australia

Memburuknya pandemi di pasar terbesar ekspor sapi Australia ditambah lagi dengan pembatasan aktivitas warga tentu saja berdampak bagi ketahanan pangan di Indonesia dan permintaan daging sapi Australia.

Troy mengatakan cara penanganan pandemi selama beberapa minggu mendatang akan sangat penting.

"Bagi kami prioritasnya tentu saja perlindungan dan kepedulian terhadap para pekerja kami. Untuk penjualan, kasusnya adalah wait and see," katanya.

"Kita belum pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya, jadi sulit diprediksi," ujar Troy.

Pada hari Selasa, Presiden Joko Widodo memperpanjang pelaksanaan PPKM hingga 25 Juli untuk menahan lonjakan kasus COVID-19.

Pendiri Indonesia Institute, Ross Taylor, menyebut hal itu sebagai perubahan kebijakan Pemerintah Indonesia, namun banyak faktor sosial dan ekonomi yang membuat pembatasan mobiltas menjadi rumit.

"Perpaduan antara kesehatan masyarakat dan dampak ekonomi lebih terasa di Indonesia daripada di Australia, dan perdagangan ternak ini merupakan contohnya," kata Ross Taylor.

"Banyak sekali sapi yang kita jual ke penggemukan di Indonesia, masuk ke pasokan daging untuk kelompok sosial ekonomi rendah melalui pasar basah," katanya.

"Bagus saja untuk mengatakan perlunya lockdown dan menghentikan sementara perdagangan ini tapi dampaknya akan langsung pada kemampuan masyarakat mencukupi kebutuhan makan mereka," katanya.

Kekhawatiran soal kesejahteraan hewan

Ledakan kasus COVID-19 di Indonesia terjadi di saat pengawasan terhadap perdagangan sapi hidup sudah mulai meningkat.

Jumat lalu, ALEC diberitahu tentang keluhan kepada Departemen Pertanian, Air dan Lingkungan Federal atas penanganan dan penyembelihan sapi yang tidak sesuai aturan di tujuh rumah potong hewan di Indonesia.

Juru bicara Departemen Pertanian mengatakan bahwa laporan berasal dari People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) pada 25 Juni dan masih dalam pengecekan.

Menurut Mark Harvey-Sutton industri ekspor ternak Australia bekerjasama dengan importir untuk memastikan standar kesejahteraan hewan dipertahankan selama pandemi.

"Kami telah berbicara dengan importir Indonesia selama seminggu terakhir tentang ketidakpatuhan ini. Mereka menyampaikan bahwa mereka berkomitmen untuk menegakkan standar," katanya.

"Kami sangat berbesar hati dan menghargai upaya mereka untuk memastikan standar tetap diterapkan selama masa sulit ini," katanya.

"Situasi COVID di Indonesia semakin menunjukkan pentingnya ketahanan pangan bagi rakyat Indonesia, sangat penting bagi kami menjaga pasokan sapi ekspor ke mitra utama kami ini," kata Mark.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Perusahaan di Australia Ini Terima Bantuan Finansial, Tapi Labanya Dilaporkan Naik
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB
Dua jaringan toko kacamata terkenal di Australia yang dimiliki oleh perusahaan asing meraih laba ber...
Warga Distrik Aifat Papua Barat Masih Mengungsi, Bahan Makanan Jadi Kebutuhan Mendesak
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB
Sekitar 2.000 warga Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat, mengungsi ke hutan dan ke kampun...
Mahasiswa Asing di Australia Tak Lagi Dibatasi Jam Kerjanya di Sektor Rawan COVID-19
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB
Pemerintah Australia telah mencabut batasan jam kerja untuk mahasiswa asing di sektor esensial selam...
Presiden Indonesia Dinyatakan Bersalah Soal Pencemaran Udara, Ini Hukumannya
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB
Presiden Indonesia Joko Widodo dan pejabat lainnya di Indonesia dinyatakan bersalah atas kelalaian m...
China Semakin Perkuat Militernya, Seberapa Kuat Negara Barat?
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB
Saat Australia memilih kekuatan nuklir sebagai bagian pertahanan dan garis pertempuran sedang ditari...
Indonesia Mencermati dengan Penuh Kehati-hatian Soal Kapal Selam Nuklir Australia
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB
Kementerian Luar Negeri Indonesia mencermati secara hati-hati rencana Pemerintah Australia untuk mem...
Ada Sejumlah Pria Tak Mau Divaksinasi Karena Takut Buah Zakar Membengkak
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB
Selasa kemain, penyanyi ternama Nicki Minaj mengajukan pertanyaan yang mungkin belum ada dalam piki...
Dua Buronan Kasus Terorisme Tewas Ditembak Pasukan Gabungan TNI-Polri
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB
Ali Kalora, militan ekstremis yang masuk daftar pencarian orang (DPO) kasus terorisme yang paling di...
Saya Petarung: Manny Pacquiao Mencalonkan Diri Menjadi Presiden Filipina 2022
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB
Ikon tinju dan senator Filipina Manny Pacquiao mengatakan dia akan mencalonkan diri sebagai presiden...
Priya Dipaksa Menyaksikan Pacarnya Dibakar Hidup-hidup. Itu Salah Satu Alasannya Tak Bisa Pulang ke Sri Lanka
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB
Image: The Tamil family has been granted three more months but beyond that is anyone's guess. A...
Live Streaming Radio Network