Melawan Kebencian: Seniman Indonesia di Australia Lawan Rasisme Lewat Karya Seni
Elshinta
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Melawan Kebencian: Seniman Indonesia di Australia Lawan Rasisme Lewat Karya Seni
ABC.net.au - Melawan Kebencian: Seniman Indonesia di Australia Lawan Rasisme Lewat Karya Seni

Jayanto Tan sedang berada dalam kereta menuju tempat kerja ketika seseorang yang disebutnya berasal dari "kelompok mayoritas" menghampirinya.

"Dia negor saya, saya mestinya di rumah, gak boleh keluar. Atau pulang ke Wuhan," kata seniman asal Indonesia di Sydney, Australia itu.

Pengalaman tersebut membuatnya merefleksikan kembali identitas dirinya dan mendorongnya untuk membuat sebuah karya seni.

Ketika sedang memantau proyek kesenian selanjutnya di internet, ia menemukan sebuah proyek bertajuk "I AM NOT A VIRUS' yang berarti "Saya Bukan Virus".

Proyek tersebut menampilkan karya dari 68 seniman sebagai reaksi terhadap tindakan rasisme yang terjadi di masa pandemi COVID-19.

Di dalamnya, terdapat lima orang seniman berdarah Indonesia yang ikut bersuara.

Teringat pengalamannya di kereta, Jayanto pun mengajukan ide karya seninya.

Seminggu kemudian, Jayanto menerima lampu hijau untuk mengeksekusi proyeknya.

Karya seni ini dinamakannya "No Friend's But The Ghost (Ceng Beng)", hasil refleksi identitas diri Jayanto sebagai seorang warga keturunan Tionghua dan Batak-Melayu.

Terbuat dari keramik, menurutnya produk ini lebih beriorientasi pada proses dibanding hasil akhir.

"Proses dari keramik mengingatkan [saya pada] masa lalu, ketika ibu membawa persembahan untuk Babe," kenang Jayanto akan ayahnya yang meninggal ketika usianya baru lima tahun.

Menurutnya, proses pembentukan keramik dalam karya seni ini melambangkan perlakuan terhadap kelompok minoritas, baik di Indonesia ataupun Australia.

"[Keramik] dari yang lembut, dibakar, dikeringkan, dibakar, dan dikasih warna," katanya.

Jayanto berusaha membahas masalah dan menyampaikan pesan secara halus, yakni melalui sentuhan warna pada makanan yang dipersembahkan dalam ziarah makam orang terkasih (Ceng Beng).

"Tradisi Hokkien, Indonesia, Australia, dikeluarkan. Warna [melambangkan] mixed culture [kebudayaan beragam] dan ras. Tidak ada diskriminasi," katanya.

"Ceng Beng" juga berisi doa Jayanto bagi negara tempat tinggalnya selama 23 tahun ini.

"Sebagai orang ras campur, kelompok minoritas seharusnya diberi perhatian, jangan hanya di stereotype [diberi label]," tuturnya.

'My Country Is My Pain'

Walau tidak mengalami langsung, Elina Simbolon melihat tindakan rasisme terhadap warga Asia-Australia sebagai hal yang "sangat gelap dan menyakitkan".

Reaksi akan peristiwa tersebut diwujudkannya dalam bentuk pakaian yang terbuat dari masker berwarna hitam, bertuliskan "My Country Is My Pain" atau negaraku adalah penderitaanku.

Kalimat lain yang juga ia tuliskan adalah "You Don't Belong Here" yang berarti "Kamu Tidak Layak Tinggal di Sini".

Kedua kalimat ini dituliskannya dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Kanton.

"Ini gabungan dari sculpture, fotografi, dan teks 'You Don't Belong Here', istilahnya orang mengecap kita," kata Elina, seniman asal Indonesia di Melbourne, Australia.

Foto Elina mengenakan karya seninya yang didominasi warna gelap ini diharapkan dapat menarik perhatian orang yang melihat karyanya, khususnya dari kelompok mayoritas.

Terlihat juga rantai yang terbuat dari pipa dan duri dari pengikat kabel menempel pada pakaian tersebut.

Kedua benda yang terbuat dari materi yang mudah ditemukan sehari-hari ini memperkental makna "kekerasan" yang berusaha digaungkan karya ini.

"Saya sengaja pakai warna hitam di fotonya, digelapkan, karena saya ingin orang melihat dan berpikir, 'Ada apa sih?'," katanya.

"Jadi ini salah satu strategi untuk membuka dialog dengan orang, supaya mereka datang, melihat dan mencerna."

Karya yang dibuat selama enam minggu ini juga merupakan bentuk kritik terhadap pemerintah setempat.

"Lokasi diambilnya foto itu, kelihatan pilar-pilar, yang melambangkan power [kekuasaan]," kata Elina.

"Tidak adil juga kan? Kita sama-sama hidup, kalau kena virus juga sama-sama kena, tapi mengapa harus dijadikan bulan-bulanan?"

'Melawan kebencian' lewat tatapan

Tindakan rasisme dialami juga oleh seniman berdarah Indonesia yang tumbuh di Australia, Audrey Alim yang dikenal sebagai AUNA melalui karyanya, "Look At Me" atau "Tataplah Saya".

"Pernah satu kali, di awal pandemi, saya mengenakan masker di kereta dan sadar kalau penampilan saya menarik perhatian banyak orang," katanya.

"Mereka ketakutan akan hal yang tidak mereka ketahui dan mengaitkan hal-hal negatif antara warga Asia-Australia dengan COVID-19."

Dalam karya seninya, Audrey menggambarkan keberaniannya untuk menatap kembali sekian pasang mata yang menghakiminya.

Walau lahir dan besar di SydneyAudrey yang berasal dari keluarga Tionghua-Indonesia mengaku karyanya seringkali masih dipengaruhi kesenian Indonesia.

"Sejak kecil, saya kagum melihat kerumitan gurat garis pada batik, juga pola sederhana dan rumitnya yang berisi kisah," katanya.

"Kebanyakan karya saya dipengaruhi praktik ini, seperti misalnya garis warna emas di waratah [bunga] pada karya ini."

Ajakan untuk melawan ketakutan

Seniman berdarah Indonesia di Australia yang ikut bersuara adalah Wina Jie, melalui karyanya berjudul "I Am Free" atau "Saya Bebas".

Ilustrasi yang berbentuk komik tersebut menurutnya merupakan "reaksi" terhadap perilaku yang dialami warga Asia di Australia.

"Ini menggambarkan kondisi psikis dalam diri, di mana [perempuan tersebut seolah] ingin melawan ketakutannya," kata Wina.

Secara tidak sadar, seniman mural ini juga memberikan sentuhan negara asalnya dalam karya tersebut.

"Kalau diamati, ada dua orang mengenakan hijab dalam karya ini. Ketika menggambarnya saya tidak sadar," katanya.

"Dan juga ada beberapa orang berwajah Asia."

Menurutnya, proses kreatif ini dipicu alam bawah sadar Wina yang pernah menghabiskan masa kecilnya di Jakarta, Indonesia, sebelum pindah ke Sydney di tahun 1986.

Sebagai seorang migran yang sempat kesulitan menyesuaikan diri di Australia, ia berharap agar karyanya menjadi pengingat bagi orang yang mengalami hal serupa dengannya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Bulan Depan Australia Mulai Bagikan Visa Kerja Sektor Pertanian untuk Orang Asing
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Sebuah visa baru di Australia yang bisa memberi jalan untuk mendapatkan status penduduk tetap akan m...
Australia Tolak Berikan Visa Kepada Mantan Satpam Kedutaannya di Afghanistan
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Australia telah mengevakuasi lebih dari 800 orang termasuk warga Afghanistan yang pernah membantu pa...
PM Morrison Desak Australia Hentikan Lockdown Jika Vaksinasi Sudah Cukup
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan supaya para menteri utama negara bagian untuk t...
Terbukti Korupsi Bansos, Mantan Menteri Sosial Juliari Batubara Divonis 12 Tahun Penjara
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Mantan Menteri Sosial Juliari P. Batubara dijatuhi hukuman pidana penjara selama 12 tahun dengan den...
Sebentar Lagi Musim Panen Gandum, Australia Butuh Ribuan Pekerja
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Setiap musim semi di Australia berarti masa panen raya gandum, dan pada tahun 2021 dibutuhkan ribuan...
Lockdown Semakin Memperjelas Adanya Kesenjangan Hidup di Sydney
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Elena Bermeister, seorang 'single mother' baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-40. ...
Kematian di Bawah 1.000 Orang, Indonesia Longgarkan PPKM di Beberapa Wilayah
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Indonesia mulai mengizinkan berbagai sarana publik seperti rumah ibadah dibuka kembali di beberapa k...
Sekelompok Murid Berupaya Memulihkan Nama Perempuan yang Dituduh Penyihir
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Senator Amerika Serikat, Diana DiZoglio, telah memperkenalkan undang-undang untuk membersihkan nama ...
Akan Lebih Banyak Orang yang Meninggal di Rumah: Relawan COVID-19 di Thailand Khawatir Pandemi Akan Terus Memburuk
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Meningkatnya kasus COVID-19 akibat varian Delta di Thailand membuat sistem layanan kesehatan negeri ...
Daripada Tidak Terlindungi Sama Sekali: Warga Australia Ini Akhirnya Mau Divaksinasi AstraZeneca
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Di tengah persediaan Pfizer yang terbatas di Australia, banyak yang memilih untuk divaksinasi dengan...
Live Streaming Radio Network