Kejamkah Masak Kepiting Hidup-hidup? Ini Temuan Baru Soal Rasa Sakit Pada Hewan Laut
Elshinta
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kejamkah Masak Kepiting Hidup-hidup? Ini Temuan Baru Soal Rasa Sakit Pada Hewan Laut
ABC.net.au - Kejamkah Masak Kepiting Hidup-hidup? Ini Temuan Baru Soal Rasa Sakit Pada Hewan Laut

Dalam salah satu lirik lagu Nirvana berjudul 'Something in the Way', Kurt Cobain menawarkan ungkapan klise, "Tidak apa-apa makan ikan, karena mereka tak punya perasaan".

Mungkin hanya metafora tapi apakah pernyataan ini benar? Jika tidak, mengapa pendapat ini dipercayai oleh orang banyak?

Simpati manusia pada anjing dan kucing serta sebagian besar mamalia, tampaknya tidak berlaku untuk hewan laut.

Tapi bisakah anggapan ini berubah dan hewan laut dilindungi secara hukum?

Parlemen Inggris sedang memperdebatkannya sekarang ini, lewat rancangan undang-undang (RUU) untuk membentuk "Komite Perasaan Binatang", guna meningkatkan perlindungan terhadap kesejahteraan ikan dan invertebrata.

"Saya merasa ngeri dengan perlakuan terhadap hewan seperti lobster, kepiting, dan cumi-cumi. Caranya disimpan dan caranya dibunuh," ujar Baroness Fokes, anggota DPR Inggris dari partai konservatif dalam perdebatan RUU.

"Sudah cukup bukti untuk menunjukkan bahwa hewan non-vertebrata harus dilindungi undang-undang," katanya.

Di Australia, UU Kesejahteraan Hewan berbeda-beda di setiap negara bagian.

Perlindungan hewan dengan undang-undang sangat tergantung apakah organisme dimaksud diklasifikasikan sebagai hewan.

Di Australia Selatan dan Australia Barat, misalnya, ikan dan krustasea (udang, kepiting, dan sejenisnya) dikecualikan dari UU Kesejahteraan Hewan, begitu juga di Queensland dan Tasmania yang tak memasukkan krustasea sebagai hewan.

Pengecualian juga dibuat oleh beberapa negara bagian untuk penangkapan ikan komersial dan rekreasi.

Jadi, apakah politisi Inggris Baroness Fookes ada benarnya dan haruskah Australia mengikutinya?

Berikut ini penjelasan sains tentang ikan, krustasea, cumi, dan bagaimana mereka menanggapi rasa sakit dan perasaan lainnya.

'Ikan itu merasakan sakit'

Kita bisa memulai dengan melihat reaksi ikan terhadap kail pancing, apakah gerakan ikan menunjukkan rasa sakit atau hanya gerak refleks yang tidak disengaja.

Contoh yang biasa digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara kedua reaksi ini adalah saat tangan kita tak sengaja menyentuh kompor panas.

Reaksi pertama kita yaitu langsung menarik tangan, sebagai gerakan refleks yang terjadi berkat transmisi sinyal antara anggota tubuh yang terbakar dan tulang belakang, yang terjadi sebelum kita mengalami rasa sakit.

Rasa sakit itu sendiri terjadi secara terpisah, yaitu setelah kita menarik tangan, setelah sinyal diproses di neokorteks otak melalui jalur sinyal yang kompleks.

Tanpa adanya proses yang kedua ini, kita tak akan mengalami rasa sakit, meskipun telah menarik tangan dari kompor panas.

Menurut Profesor Brian Key dari University of Queensland di Brisbane, ikan tidak memiliki perangkat neokorteks.

Dia menyebut sejumlah eksperimen telah dilakukan dengan mengeluarkan banyak bagian dari otak ikan. Tapi ikan tersebut masih merespons rangsangan dengan cara refleks yang sama, seperti saat kita menarik tangan dari kompor panas.

"Itu yang disebut respons otonom. Kita mengeluarkan otak ikan sedikit, dan sedikit lagi, dan lagi. Tapi begitu kita menusuk ikan itu, perilakunya tetap sama," jelas Profesor Key.

Menurutnya memang sebagian orang sulit untuk percaya bahwa ikan tidak merasakan sakit, karena kita selalu mengaitkan reaksi ikan dengan pengalaman kita sendiri.

"Setiap orang memiliki seperangkat nilai inti tapi sebagian besar berpandangan bahwa jika kita menusuk ikan dan ikannya bereaksi, berarti ikan itu merasakan sakit," ujarnya.

Ikan merespon obat penenang

Di sisi lain, ada orang yang berpendapat rasa sakit diperlukan untuk bertahan hidup dan, lebih luas lagi, berpandangan bahwa bertahan hidup merupakan bukti adanya rasa sakit.

Pengalaman negatif atau menyakitkan, menurut argumen ini, diperlukan untuk secara permanen mengubah perilaku hewan terhadap ancaman yang akan datang.

Tanpa pengalaman seperti itu, seekor hewan akan terus berada dalam bahaya, dan mau tidak mau menderita cedera yang mengancam nyawanya.

Sejumlah penelitian menunjukkan ikan dengan cepat mengubah perilakunya setelah terpapar dengan apa yang kita anggap sebagai pengalaman menyakitkan.

Lucunya lagi, sejumlah pemancing mengusulkan perlunya mengubah cara memancing, yakni menggunakan pancing yang lebih halus dan kail yang disamarkan.

Ada juga bukti fisiologis untuk mendukung usulan ini, yaitu nosiseptor.

Nosiseptor adalah neuron sensorik yang ditemukan di kulit manusia yang membantu mengirimkan sinyal listrik jangka panjang ke otak.

Profesor Culum Brown dari Macquarie University menjelaskan, penemuan nosiseptor pada ikan trout menjadi bukti kuat ikan juga merasakan sakit.

"Kita telah mengetahuinya sejak 2002 bahwa ikan juga memiliki nosiseptor, yaitu saraf yang bertugas untuk mendeteksi rangsangan menyakitkan pada manusia," jelas Prof. Brown.

Pemberian obat penenang pada ikan juga telah terbukti mengubah respons "rasa sakit" dan ketakutan mereka.

"Kecemasan cukup terlihat di sejumlah besar hewan, termasuk ikan," kata Profesor Brown.

"Dengan melihat berbagai obat penenang yang kita gunakan pada manusia, semua obat itu berfungsi juga pada ikan," jelasnya.

Bagaimana dengan kepiting, gurita, dan invertebrata lainnya?

Meskipun penelitian tentang rasa sakit pada invertebrata tidak sekomprehensif penelitian pada ikan, beberapa bukti menunjukkan bahwa mereka pun mengalami rasa di luar respons refleks.

Namun, sekali lagi, perdebatan tentang hal ini belum selesai.

Profesor Brown menjelaskan bahwa invertebrata memiliki sistem saraf yang sangat berbeda dengan vertebrata.

Namun, nosiseptor telah diidentifikasi pada cumi dan sejenisnya seperti sotong, nautilus, dan gurita.

"Makhluk seperti sotong dan gurita, mengalami evolusi sistem saraf sepenuhnya secara independen dari vertebrata. Mereka pada dasarnya adalah siput," jelasnya.

"Namun yang menakjubkan, beberapa obat penenang juga bekerja pada cephalopoda," tambahnya.

Sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa gurita yang diberi pil ekstasi berperilaku ramah, terlihat dari jumlah sentuhan dan interaksinya satu sama lain.

Meskipun nosiseptor belum ditemukan pada krustasea (kepiting, udang, udang karang, dan sejenisnya), namun ada petunjuk lain terjadinya perubahan perilaku terkait dengan pengalaman negatif.

Di laboratorium, krustasea menghindari objek yang memberikan kejutan listrik. Udang karang yang disetrum ternyata memiliki konsentrasi serotonin pada otak dan glukosa darah yang lebih tinggi.

Obat penenang juga ditemukan bekerja mengurangi "ketakutan" pada lobster dalam sebuah studi tahun 2014.

"Ketika kita berbicara tentang kesanggupan merasa, kita berbicara tentang kapasitas," kata Profesor Brown.

"Tampaknya kapasitas itu muncul dari sistem saraf yang kompleks," katanya.

Tapi menurut Profesor Key, eksperimen serupa telah dilakukan pada invertebrata seperti ikan, di mana bagian otak dan sistem saraf dikeluarkan tanpa mengubah "respons otonom" terhadap rangsangan.

"Pada moluska, hasilnya sama," ujarnya.

"Bagian dari keluarga moluska adalah gurita. Mereka tak memiliki perangkat itu. Orang mengatakan bahwa mereka ini makhluk yang cerdas," jelasnya.

"Hewan ini adalah struktur yang kompleks tapi tidak serumit manusia," tambah Profesor Key.

Jadi apakah UU tentang kekejaman terhadap hewan harus berlaku juga untuk ikan dan krustasea?

Profesor Brown dan Profesor Key melakukan penelitian yang dapat membantu para ahli etika dalam menjawab pertanyaan ini.

Menurut Profesor Brown hukum tentang perlakuan manusiawi terhadap hewan kemungkinan akan berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan.

"Pertanyaan sebenarnya saat ini yaitu seberapa jauh evolusi hewan ini berjalan. Hewan apa yang mungkin bertahan hidup dan apa persyaratan minimumnya?" katanya.

"Dugaan saya setelah krustasea, mungkin orang akan membuat UU untuk melindungi semut, tawon, dan lebah," tambahnya.

Tapi menurut Profesor Key sekarang ada cukup bukti ilmiah, apakah rasa sakit adalah sifat universal atau bukan. Sehingga harus berhati-hati untuk memasukkan "hak-hak hewan" menjadi aturan hukum.

"Hal itu tidak selalu dapat dibenarkan. Nantinya semua hewan dengan sistem saraf akan dianggap punya kemampuan merasa," katanya.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Bulan Depan Australia Mulai Bagikan Visa Kerja Sektor Pertanian untuk Orang Asing
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Sebuah visa baru di Australia yang bisa memberi jalan untuk mendapatkan status penduduk tetap akan m...
Australia Tolak Berikan Visa Kepada Mantan Satpam Kedutaannya di Afghanistan
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Australia telah mengevakuasi lebih dari 800 orang termasuk warga Afghanistan yang pernah membantu pa...
PM Morrison Desak Australia Hentikan Lockdown Jika Vaksinasi Sudah Cukup
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan supaya para menteri utama negara bagian untuk t...
Terbukti Korupsi Bansos, Mantan Menteri Sosial Juliari Batubara Divonis 12 Tahun Penjara
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Mantan Menteri Sosial Juliari P. Batubara dijatuhi hukuman pidana penjara selama 12 tahun dengan den...
Sebentar Lagi Musim Panen Gandum, Australia Butuh Ribuan Pekerja
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Setiap musim semi di Australia berarti masa panen raya gandum, dan pada tahun 2021 dibutuhkan ribuan...
Lockdown Semakin Memperjelas Adanya Kesenjangan Hidup di Sydney
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Elena Bermeister, seorang 'single mother' baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-40. ...
Kematian di Bawah 1.000 Orang, Indonesia Longgarkan PPKM di Beberapa Wilayah
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Indonesia mulai mengizinkan berbagai sarana publik seperti rumah ibadah dibuka kembali di beberapa k...
Sekelompok Murid Berupaya Memulihkan Nama Perempuan yang Dituduh Penyihir
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Senator Amerika Serikat, Diana DiZoglio, telah memperkenalkan undang-undang untuk membersihkan nama ...
Akan Lebih Banyak Orang yang Meninggal di Rumah: Relawan COVID-19 di Thailand Khawatir Pandemi Akan Terus Memburuk
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Meningkatnya kasus COVID-19 akibat varian Delta di Thailand membuat sistem layanan kesehatan negeri ...
Daripada Tidak Terlindungi Sama Sekali: Warga Australia Ini Akhirnya Mau Divaksinasi AstraZeneca
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Di tengah persediaan Pfizer yang terbatas di Australia, banyak yang memilih untuk divaksinasi dengan...
Live Streaming Radio Network