Bukan Suatu Keanehan: 80 Persen Muslim di Australia Mengaku Pernah Alami Diskriminasi
Elshinta
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Bukan Suatu Keanehan: 80 Persen Muslim di Australia Mengaku Pernah Alami Diskriminasi
ABC.net.au - Bukan Suatu Keanehan: 80 Persen Muslim di Australia Mengaku Pernah Alami Diskriminasi

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Australia mengumumkan sekitar 80 persen Muslim di negara ini pernah mengalami diskriminasi.

Temuan ini merupakan hasil survei Komnas HAM yang disampaikan kepada publik pada hari Selasa (20/7/2021).

Sebagian besar responden mengaku bahwa mereka telah mengalami perlakuan yang tak menyenangkan karena agama, ras, atau etnis mereka.

Sekitar setengah dari responden mengatakan pernah mengalami perlakuan yang tak menyenangkan saat berurusan dengan aparat penegak hukum.

Sebanyak 48 persen responden mengaku pernah mengalami perlakuan yang tak menyenangkan di tempat kerja atau saat melamar pekerjaan.

Anggota Komnas HAM Australia Chin Tan menjelasdkan, survei ini dilakukan setelah terjadinya serangan teror di Christchurch, Selandia Baru, dengan tujuan lebih memahami apa yang dialami Muslim Australia.

"Kisah-kisah yang disampaikan oleh anggota masyarakat Muslim Australia dalam survei ini telah menyadarkan saya bahwa diskriminasi agama, fitnah dan kebencian yang dimanifestasikan secara mengerikan dalam serangan Christchurch, bukanlah suatu keanehan," ujarnya.

Mengancam lewat telepon

Hal itulah yang dialami pemilik restoran Hana Assafiri di Melbourne.

Ia mengaku, stafnya di Morrocan Soup Bar menerima telepon bernada mengancam setelah Hana muncul dalam program TV ABC beberapa minggu lalu.

"Ada yang menelepon ke tempat restoran saya, bertanya, 'apakah itu bos kamu di televisi?" kata Hana.

Ia mengatakan para stafnya tidak tahu harus menjawab apa.

Hana tampil dalam acara ABC TV sebenarnya bukan untuk membahas soal agama Islam. Namun latar belakang Timur Tengah dan keyakinan agamanya kerap kali dipermasalahkan.

"Mengapa mereka mengaitkan ketidaksetujuan atas pendapat saya dengan keyakinan saya sebagai Muslim," ujarnya.

Aksi nasional melawan rasisme

Anggota Komnas HAM Chin Tan mengatakan Australia perlu mengadopsi kerangka kerja anti-rasisme nasional, yang mencakup kampanye dan program pendidikan bagi staf-staf perusahaan.

"Ini hampir sama dengan kejahatan," katanya.

"Bisakah kita menghentikan kejahatan? Tidak. Namun, kita bisa berusaha untuk menghilangkannya dan membangun masyarakat yang lebih baik," ujar Chin.

ABC meminta konfirmasi kepada Menteri Urusan Migran dan Multikultural Alex Hawke tentang usulan ini namun dia merujuk ke Departemen Dalam Negeri.

Seorang juru bicara Depdagri mengatakan pemerintah federal akan mempertimbangkan laporan Komnas HAM dan menginvestasikan A$63 juta (sekitar Rp670 miliar) untuk program kohesi sosial.

Komnas HAM juga menyebutkan 63 persen dari responden berpendapat bahwa masyarakat Australia terbilang ramah.

Menurut Hana Assafiri, dia sependapat dengan hal itu, dan menyaksikan sendiri hubungan antara pelanggan dan staf migran yang dia pekerjakan di restorannya selama ini.

"Setiap kali kita merasa putus asa dan frustrasi dengan kenyataan seperti yang dilaporkan ini, kita hanya perlu kembali bekerja," katanya.

"Kita memiliki masyarakat dengan keinginan kuat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik," ujar Hana.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Bulan Depan Australia Mulai Bagikan Visa Kerja Sektor Pertanian untuk Orang Asing
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Sebuah visa baru di Australia yang bisa memberi jalan untuk mendapatkan status penduduk tetap akan m...
Australia Tolak Berikan Visa Kepada Mantan Satpam Kedutaannya di Afghanistan
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Australia telah mengevakuasi lebih dari 800 orang termasuk warga Afghanistan yang pernah membantu pa...
PM Morrison Desak Australia Hentikan Lockdown Jika Vaksinasi Sudah Cukup
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan supaya para menteri utama negara bagian untuk t...
Terbukti Korupsi Bansos, Mantan Menteri Sosial Juliari Batubara Divonis 12 Tahun Penjara
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Mantan Menteri Sosial Juliari P. Batubara dijatuhi hukuman pidana penjara selama 12 tahun dengan den...
Sebentar Lagi Musim Panen Gandum, Australia Butuh Ribuan Pekerja
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Setiap musim semi di Australia berarti masa panen raya gandum, dan pada tahun 2021 dibutuhkan ribuan...
Lockdown Semakin Memperjelas Adanya Kesenjangan Hidup di Sydney
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Elena Bermeister, seorang 'single mother' baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-40. ...
Kematian di Bawah 1.000 Orang, Indonesia Longgarkan PPKM di Beberapa Wilayah
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Indonesia mulai mengizinkan berbagai sarana publik seperti rumah ibadah dibuka kembali di beberapa k...
Sekelompok Murid Berupaya Memulihkan Nama Perempuan yang Dituduh Penyihir
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Senator Amerika Serikat, Diana DiZoglio, telah memperkenalkan undang-undang untuk membersihkan nama ...
Akan Lebih Banyak Orang yang Meninggal di Rumah: Relawan COVID-19 di Thailand Khawatir Pandemi Akan Terus Memburuk
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Meningkatnya kasus COVID-19 akibat varian Delta di Thailand membuat sistem layanan kesehatan negeri ...
Daripada Tidak Terlindungi Sama Sekali: Warga Australia Ini Akhirnya Mau Divaksinasi AstraZeneca
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Di tengah persediaan Pfizer yang terbatas di Australia, banyak yang memilih untuk divaksinasi dengan...
Live Streaming Radio Network