Atlet-Atlet Transgender Berlaga di Olimpiade Tokyo 
Elshinta
Rabu, 04 Agustus 2021 - 10:24 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Atlet-Atlet Transgender Berlaga di Olimpiade Tokyo 
VOA Indonesia - Atlet-Atlet Transgender Berlaga di Olimpiade Tokyo 
Bintang sepak bola Kanada Quinn memang bukan satu-satunya atlet transgender dan/atau nonbiner yang bersaing di Olimpiade Tokyo. Selain Quinn, setidaknya ada tiga atlet lain dengan identitas gender itu, yakni Laurel Hubbard dari Selandia Baru di cabang olahraga angkat berat; Alana Smith dari Amerika Serikat di cabang olahraga skateboard; dan Chelsea Wolfe, juga dari Amerika Serikat, di cabang olahraga balap sepeda BMX. Tetapi, Quinn akan menjadi satu-satunya dari mereka yang membawa pulang medali.  Jenis medali, tentunya, akan tergantung pada hasil pertandingan antara Kanada melawan tim sepak bola putri Swedia pada Jumat mendatang. Kanada akan bersaing memperebutkan emas melawan Swedia setelah mengalahkan Amerika Serikat 1-0 pada Senin (2/8), berkat tendangan penalti di menit ke-75 pertandingan.  Pertandingan hari Jumat (6/8) akan menjadi pertama kalinya tim sepak bola putri Kanada berpartisipasi dalam pertandingan final di Olimpiade. “Saya sangat bangga dengan tim saya. Mereka adalah teman terbaik saya. Saya sangat senang kami membawa pulang medali yang lebih baik daripada perunggu, ” kata Quinn, yang namanya hanya terdiri dari satu kata, menurut outlet media Kanada CBC.  Debut Olimpiade warga asli Toronto ini sebetulnya di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, di mana ia membantu timnya memenangkan medali perunggu. Ia sebelumnya bermain untuk Duke University, kemudian bermain secara profesional untuk Washington Spirit, Paris FC dan Seattle Reign FC, menurut situs web Komite Olimpiade Kanada.  Namun pada Olimpiade Tokyolah Quinn kali pertama secara terbuka mengungkapkan dirinya sebagai atlet transgender dan/atau nonbiner. Dalam sebuah posting Instagramnya awal tahun ini, ia mendorong para pengikutnya untuk lebih bersahabat dengan orang-orang seperti dirinya.  Setidaknya ada 180 atlet LGBTQ di Olimpiade tahun ini, menurut penghitungan terbaru dari situs olahraga LGBTQ Outsports.  Quinn dan timnya akan memenangkan medali perak atau emas. Apapun medalinya, para penggemarnya merayakan apa arti kemenangan itu bagi orang-orang transgender dan/atau nonbiner.  Quinn menjadi atlet transgender terbuka pertama yang berkompetisi dalam 125 tahun sejarah Olimpiade, meskipun Olimpiade sudah mulai mengizinkan atlet transgender pada tahun 2004.  Dalam posting Instagram 22 Juli, Quinn menulis bahwa ia sulit menggambarkan perasaannya tentang pencapaian bersejarah itu. Ia mengatakan, ia bangga masuk dalam jajaran atlet Olimpiade namun juga sedih karena banyak atlet Olimpiade sebelumnya tidak bisa menikmati kemudahan yang dihadapinya karena dunia belum siap menerima mereka.  Berdasarkan pedoman Olimpiade saat ini, yang diperbarui oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada 2015, lelaki transgender dapat bersaing dalam kategori lelaki di Olimpiade tanpa batasan.  Peraturan untuk atlet perempuan transgender jauh lebih ketat. Kadar testosteron mereka harus di bawah 10 nanomol per liter darah selama setidaknya 12 bulan sebelum kompetisi pertama mereka, meskipun tidak ada bukti ilmiah yang jelas yang membuktikan bahwa testosteron meningkatkan performa atlet-atlet papan atas.  Sebetulnya ada beberapa atlet transgender dan/atau nonbiner terkemuka lain yang sebelumnya diperkirakan akan berlaga di Tokyo. Namun mereka gagal dalam kualifikasi di tingkat negara masing-masing. Nikki Hiltz tidak lolos di nomor lari 1.500 meter putri untuk tim AS, seperti rekannya -- CeCe Telfer -- yang dinyatakan tidak memenuhi syarat dalam usahanya untuk dipertandingkan dalam katagori lari gawang 400 meter. Pemain bola voli Tiffany Abreu tidak masuk daftar terakhir tim Olimpiade Brasil.  Komite Olimpiade Internasional telah mengizinkan atlet transgender untuk berpartisipasi di Olimpiade sejak 2004, tetapi hingga tahun ini, tidak ada yang melakukannya secara terbuka. Selain Quinn, Hubbard, Smith dan Wolfe, beberapa atlet transgender dikabarkan bersaing tanpa mengungkap perubahan gender mereka.  Visibilitas transgender yang mengemuka di Olimpiade Tokyo muncul di tengah gelombang undang-undang antitransgender yang melanda Amerika Serikat.  Usulan undang-undang yang melarang atau membatasi atlet transgender untuk berpartisipasi dalam kompetisi olahraga di sekolah dasar, sekolah menengah, dan bahkan perguruan tinggi telah diperkenalkan di 37 negara bagian. Setidaknya tujuh negara bagian telah memberlakukan undang-undang itu meski banyak dari mereka menghadapi gugatan hukum.  Departemen Kehakiman AS belum lama ini menentang larangan yang menarget atlet transgender di West Virginia, dan undang-undang lain yang berdampak pada anak-anak di negara bagian Arkansas. Departemen Kehakiman menyebut kedua legislasi itu melanggar undang-undang federal. Juni lalu, departemen itu bahkan menyatakan akan mengajukan gugatan hukum untuk membatalkan undang-undang baru yang telah diberlakukan di kedua negara bagian tersebut.  Departemen itu mengatakan undang-undang yang diberlakukan di kedua negara bagian itu melanggar klausul perlindungan kesetaraan yang termaktub pada Amendemen ke-14 Konstitusi. Departemen itu juga mengatakan undang-undang di West Virginia melanggar undang-undang hak sipil yang disebut Tittle X, yang melarang diskriminasi atas dasar jenis kelamin dalam program atau kegiatan pendidikan apa pun yang menerima dana federal. [ab/uh]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jokowi: Perlu Segera Dibangun Sistem Ketahanan Kesehatan Global yang Baru 
Jumat, 24 September 2021 - 10:42 WIB
Presiden Joko Widodo mendesak perlunya penataan ulang sistem ketahanan kesehatan global yang baru pa...
Italia Minta Pakistan Ekstradisi Orang Tua Remaja yang Hilang
Jumat, 24 September 2021 - 10:42 WIB
Italia, Kamis (23/9) mengatakan pihaknya telah meminta Pakistan untuk mengekstradisi orang tua dari ...
Phil Grabsky, Shoaib Sharifi Rekam Peristiwa 20 Tahun di Afghanistan
Jumat, 24 September 2021 - 10:42 WIB
My Childhood My Country: 20 Years in Afghanistan (“Masa Kecilku, Negeraku: 20 Tahun di Afghanistan...
Ketimpangan dalam Vaksin Virus Corona Jadi Fokus di Majelis Umum PBB 
Jumat, 24 September 2021 - 10:42 WIB
Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Chad Mahamat Idriss Deby dan Presiden Uganda Yower...
Penyelidik PBB: Junta Militer Myanmar Mungkin Lakukan Kejahatan terhadap Kemanusiaan
Jumat, 24 September 2021 - 10:42 WIB
Seorang penyelidik PBB di Myanmar telah menuduh junta militer negara itu melakukan serangan sistemat...
Blinken Serukan DK PBB Bantu Atasi Perubahan Iklim
Jumat, 24 September 2021 - 10:42 WIB
Menteri Luar Negeri Amerikan Antony Blinken hari Kamis (23/9) menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB u...
Kecam Deportasi Tak Manusiawi Migran Haiti, Utusan Khusus AS Mundur
Jumat, 24 September 2021 - 10:42 WIB
Utusan Khusus Amerika untuk Haiti Daniel Foote Kamis siang (23/9) mengundurkan diri dan mengecam ker...
Pemimpin AS, Australia, Jepang dan India akan Bahas Kerja Sama Indo-Pasifik
Jumat, 24 September 2021 - 10:42 WIB
Pemimpin Amerika, Australia, Jepang dan India dijadwalkan akan melangsungkan pertemuan di Washington...
Irak Hadapi
Jumat, 24 September 2021 - 10:42 WIB
Presiden Irak Barham Salih pada Kamis (23/9) mengatakan bahwa negaranya sedang menghadapi "pertempur...
Blinken Pahami Pengunduran Diri Utusan AS untuk Haiti
Jumat, 24 September 2021 - 10:42 WIB
Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan ia memahami ketidaksepakatan utusan khusus Amerika unt...
Live Streaming Radio Network