Perusahaan di Australia Ini Terima Bantuan Finansial, Tapi Labanya Dilaporkan Naik
Elshinta
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Perusahaan di Australia Ini Terima Bantuan Finansial, Tapi Labanya Dilaporkan Naik
ABC.net.au - Perusahaan di Australia Ini Terima Bantuan Finansial, Tapi Labanya Dilaporkan Naik

Dua jaringan toko kacamata terkenal di Australia yang dimiliki oleh perusahaan asing meraih laba berlipatganda setelah mengklaim tunjangan gaji JobKeeper.

Peritel global Specsavers mengklaim lebih dari AU$90 juta (Rp900 miliar lebih) untuk mendapat bantuan dana dari program 'JobKeeper' dan tercatat sebagai salah satu penerima terbesar yang diketahui publik.

Informasi yang diperoleh ABC mengungkapkan saingan Specsavers yaitu Luxottica juga meraih laba lebih dari dua kali lipat setelah menerima puluhan juta dolar JobKeeper.

Luxottica merupakan perusahaan induk dari jaringan toko kacamata OPSM dan Sunglass Hut.

Baik Specsavers maupun Luxottica merupakan perusahaan milik asing.

Specsavers berbasis di Guernsey, wilayah Inggris yang bebas pajak.

"Kedua perusahaan ini memperoleh keuntungan peningkatan laba sebesar $130 juta," kata analis investasi Dean Paatsch.

Tunjangan JobKeeper merupakan subsidi gaji yang menelan biaya AU$90 miliar (Rp900 triliun lebih) kepada sekitar 1 juta perusahaan yang mencakup sekitar 3,8 juta pekerja.

Nama-nama perusahaan penerima JobKeeper serta jumlah uang yang mereka terima tidak terbuka untuk publik.

Tapi dokumen yang diajukan ke regulator keuangan ASIC dan diperoleh ABC mengungkapkan nilai subsidi ini terhadap Specsavers dan Luxottica.

Pendapatan Specsavers anjlok pada April tahun lalu di tengah lockdown sebelum pulih kembali saat ekonomi dibuka.

Pendapatannya sepanjang tahun turun hanya 1 persen, sementara laba melonjak $78 juta menjadi $150 juta.

Specsavers menerima sekitar $92 juta dari JobKeeper, sementara menurut informasi yang diterima ABC perusahaan itu mengembalikan sekitar $4 juta.

"Dana pembayar pajak tetap membayar subsidi gaji ini meski pun di setiap negara bagian dan teritori, kecuali Victoria, semuanya sudah normal kembali setelah bulan Juli," jelas Dean Paatsch.

Specsavers beroperasi di Australia mencakup kantor pusat bersama sekitar 500 usaha optik dan audiologi, yang dimiliki secara independen dalam struktur seperti waralaba.

"Mereka semua melihat penurunan pendapatan yang dramatis dan masing-masing dari mereka secara individual memenuhi syarat untuk JobKeeper," kata seorang juru bicara Specsavers kepada ABC.

"Skema JobKeeper sangat bernilai karena memungkinkan mitra toko kami untuk bertahan, terus memberikan layanan mendesak dan penting serta menjaga pegawai mereka tetap bekerja," tambahnya.

Jaringan toko ini terus memberikan layanan optometri selama lockdown sementara bagian ritel yang tidak penting dibatasi.

Peningkatan laba Luxottica

Luxottica South Pacific Holdings memiliki sekitar 200 gerai Sunglass Hut dan sebagian besar dari 300 gerai OPSM di Australia.

Pendapatan dalam operasinya di Australia turun lima persen sementara labanya melonjak sebesar $50 juta menjadi $67 juta.

Laporan keuangannya menunjukkan pengeluaran untuk gaji karyawan, atas bantuan tunjangan JobKeeper, telah turun sebesar $56 juta.

"Sekali lagi, semua peningkatan besar dari peningkatan laba mereka terjadi karena adanya tunjangan JobKeeper," ujar Paatsch.

"Jika Anda memenuhi syarat dalam sekejap, Anda terus menerima subsidi selama enam bulan, terlepas dari apakah usaha Anda telah kembali normal atau tidak," papar Dean Paatsch.

Perusahaan induk Luxottica berbasis di Paris dan diketuai serta sebagian dimiliki oleh salah satu dari 100 orang terkaya di dunia versi Forbes.

Luxottica tidak menjawab pertanyaan ABC tentang JobKeeper.

Tahun keuangan Specsavers adalah dari Maret 2020 hingga Februari 2021, sedangkan tahun keuangan OPSM adalah dari Januari hingga Desember 2020.

'Menyelamatkan 700 ribu pekerjaan'

Bendahara Negara (Treasurer) Josh Frydenberg menjelaskan JobKeeper telah menyelamatkan setidaknya 700.000 pekerjaan.

"Tanpa JobKeeper, lebih banyak pekerjaan akan hilang dan usaha terpaksa ditutup," katanya.

Perusahaan yang memenuhi syarat mulai menerima JobKeeper pada awal 2020, dan berlangsung hingga tersebut hingga sekitar akhir September ketika pendapatan mereka dievaluasi kembali.

Sampai saat itu, perusahaan menerima dana $1.500 per karyawan yang memenuhi syarat setiap dua minggu.

Evaluasi pada bulan September mengakibatkan sebagian besar pekerja dan setengah dari perusahaan tidak lagi berhak menerima JobKeeper.

Frydenberg membela langkah pemerintah yang tidak mengevaluasi ulang omset perusahaan penerima lebih awal untuk memastikan omset mereka telah pulih.

"Dalam pandangan perbendaharaan negara saat itu, adalah menjaga JobKeeper ini untuk memberikan kepastian dan dukungan bagi perekonomian," katanya.

Frydenberg juga membela langkah pemerintah yang tidak memasukkan ketentuan pengembalian dana bila ternyata perusahaan mengalami keuntungan.

Anggota DPR dari oposisi Andrew Leigh mengatakan keuntungan para pengecer toko kacamata itu menunjukkan bagaimana subsidi gaji menjadi "tunjangan perusahaan" untuk sejumlah pihak.

"Pendekatan jangka pendek pemerintah terhadap JobKeeper telah membuat jutaan dolar mengalir ke perusahaan berbasis di surga pajak dan miliarder di luar negeri," katanya.

Tak mau mengambil JobKeeper

Seorang pengusaha kacamata Robyn Main menyediakan layanan bagi penghuni panti jompo di Kota Perth.

Ia hampir tidak memiliki pekerjaan awal tahun lalu karena fasilitas perawatan lansia menjalani lockdown, namun memutuskan untuk tidak mengambil tunjangan JobKeeper.

"Saya tidak membutuhkannya, jadi mengapa harus mengambil sesuatu bila kita tidak membutuhkannya?" ujar Robyn.

"Kami masih memiliki tabungan, kondisi kami baik-baik saja," tambahnya.

Usaha kacamata mengalami pemulihan pada paruh kedua tahun 2020, sehingga Robyn pun mempekerjakan seorang anggota staf untuk pertama kalinya.

Menurut Robyn, perusahaan besar seharusnya mempertimbangkan untuk mengembalikan tunjangan JobKeeper yang pada akhirnya tidak mereka butuhkan.

"Saya berharap mereka memikirkan generasi mendatang dan siapa yang akan membayar beban keuangan negara ini," jelasnya.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Presiden Indonesia Dinyatakan Bersalah Soal Pencemaran Udara, Ini Hukumannya
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Presiden Indonesia Joko Widodo dan pejabat lainnya di Indonesia dinyatakan bersalah atas kelalaian m...
China Semakin Perkuat Militernya, Seberapa Kuat Negara Barat?
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Saat Australia memilih kekuatan nuklir sebagai bagian pertahanan dan garis pertempuran sedang ditari...
Indonesia Mencermati dengan Penuh Kehati-hatian Soal Kapal Selam Nuklir Australia
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Kementerian Luar Negeri Indonesia mencermati secara hati-hati rencana Pemerintah Australia untuk mem...
Ada Sejumlah Pria Tak Mau Divaksinasi Karena Takut Buah Zakar Membengkak
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Selasa kemain, penyanyi ternama Nicki Minaj mengajukan pertanyaan yang mungkin belum ada dalam piki...
Dua Buronan Kasus Terorisme Tewas Ditembak Pasukan Gabungan TNI-Polri
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Ali Kalora, militan ekstremis yang masuk daftar pencarian orang (DPO) kasus terorisme yang paling di...
Saya Petarung: Manny Pacquiao Mencalonkan Diri Menjadi Presiden Filipina 2022
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Ikon tinju dan senator Filipina Manny Pacquiao mengatakan dia akan mencalonkan diri sebagai presiden...
Priya Dipaksa Menyaksikan Pacarnya Dibakar Hidup-hidup. Itu Salah Satu Alasannya Tak Bisa Pulang ke Sri Lanka
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Image: The Tamil family has been granted three more months but beyond that is anyone's guess. A...
Hal Apa Saja yang Mengejutkan Pendatang Tentang Australia?
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Ada beberapa hal yang kemungkinan besar muncul di benak seseorang yang hendak pindah ke Australia: m...
PM Australia Mengontak Presiden Jokowi untuk Menenangkan Indonesia Soal Kapal Selam Nuklir
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Perdana Menteri Scott Morrison menghubungi Presiden Joko Widodo kemarin setelah Kementerian Luar Neg...
Ribuan Pekerja Kontruksi Berunjuk Rasa Melbourne, Kebanyakan Anti-vaksin
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Lebih dari seribu pengunjuk rasa yang sebagian besar anti-vaksinasi memadati pusat kota Melbourne, A...