Ribuan Pekerja Kontruksi Berunjuk Rasa Melbourne, Kebanyakan Anti-vaksin
Elshinta
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ribuan Pekerja Kontruksi Berunjuk Rasa Melbourne, Kebanyakan Anti-vaksin
ABC.net.au - Ribuan Pekerja Kontruksi Berunjuk Rasa Melbourne, Kebanyakan Anti-vaksin

Lebih dari seribu pengunjuk rasa yang sebagian besar anti-vaksinasi memadati pusat kota Melbourne, Australia, hari Kamis (21/09). 

Polisi dikerahkan untuk mengawasi pengunjuk rasa yang kebanyakan adalah pekerja konstruksi atau 'tradie'.  

Mereka awalnya berkumpul di luar markas Serikat Pekerja Konstruksi, Kehutanan, Maritim, Pertambangan dan Energi (CFMEU) kemudian bergerak menuju Gedung Parlemen.

Unjuk rasa terjadi setelah pekerjaan konstruksi dihentikan selama dua minggu mengikuti aturan pembatasan yang diumumkan semalam.

Beberapa dari pengunjuk rasa membawa spanduk bertuliskan "kebebasan", sementara yang lain menyanyikan lagu kebangsaan dan meneriakkan "f*** the jab", atau persetan vaksinasi.

Segelintir peserta mengaku jika mereka adalah anggota serikat buruh yang menentang kewajiban vaksinasi.

Polisi mengatakan seorang jurnalis dan tiga anggota polis terluka dalam unjuk rasa tersebut.

Pihak kepolisian juga mengatakan 44 orang pengunjuk rasa telah ditangkap dan kemudian jumlahnya akan bertambah.

Reporter dikencingi, dilempari kaleng minuman

Selama unjuk rasa, reporter TV Channel 7 Paul Dowsley diserang secara fisik beberapa kali oleh pengunjuk rasa.

Dia dilempari sekaleng minuman ke bagian kepalanya saat sedang melaporkan kejadian di depan kamera.

Kepala Paul yang berdarah juga sempat ditampilkan di kamera.

Pemerintah Victoria mencatat adanya 443 kasus aktif COVID-19 di 186 lokasi konstruksi.

Bendahara Negara Bagian Victoria Tim Pallas mengatakan 50 persen dari lokasi konstruksi yang diperiksa telah diketahui tidak memenuhi persyaratan di tengah pandemi, itulah yang memicu keputusan agar sektor konstruksi ditutup karena bisa mengancam kesehatan masyarakat. 

"Industri ini tidak boleh kembali menggunakan cara yang selama ini dilakukan … karena mengancam kesehatan masyarakat."

Keberatan dengan wajib vaksinasi

Aksi unjuk rasa terorganisir ini juga menjadi bentuk penentangan terhadap Pemerintah Victoria yang mengharuskan semua pekerja konstruksi divaksinasi minimal satu dosis.

Tadi malam, Tim Pallas mengatakan keputusan untuk menutup lokasi konstruksi di Melbourne, Ballarat, Geelong, Mitchell dan Surf Coast selama dua minggu merupakan tanggapan atas "ketidakpatuhan yang meluas" dalam industri tersebut.

Pemerintah juga mengutip "perilaku yang mengancam keselamatan di lokasi dan di jalan" sebagai alasan lain di balik keputusannya.

Pagi ini, Ketua CFMEU John Setka mengatakan yakin pengunjuk rasa yang turun ke jalan dan melakukan aksi kekerasan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan anggota serikat pekerja.

"Ada beberapa anggota serikat dalam unjuk rasa itu, tetapi secara keseluruhan, mereka bukan yang paling banyak," katanya.

John mengatakan "pengunjuk rasa profesional" yang berkumpul di depan kantor CFMEU hari Senin kemarin adalah mereka yang terlibat dalam bentrokan dengan polisi di daerah Richmond akhir pekan lalu.

Dia mengatakan tindakan orang-orang yang sebagian besar justru bukan anggota serikat pekerja atau pekerja konstruksi ini telah menyebabkan ditutupnya industri tersebut.

"Kami telah menjaga industri ini agar berjalan dengan aman sejak COVID menyerang dan berusaha agar semua anggota kami bisa bekerja," katanya.

John mengatakan dia tidak pernah mendukung kewajiban untuk vaksinasi, tetapi serikat pekerjanya pro-vaksinasi.

"Kami menyiarkan iklan di radio yang mendorong anggota kami untuk pergi menemui dokter umum, jika memiliki kekhawatiran, supaya bisa divaksinasi," katanya.

Walau demikian, dia menekankan pentingnya "menghormati hak-hak orang yang benar-benar punya alasan untuk tak divaksinasi".

"Daripada memaksa orang untuk divaksinasi, lebih baik kita perlahan-lahan berbicara dengan mereka dan mencoba meyakinkan mereka," kata John.

Dia mengatakan larangan masuk kerja bagi pekerja yang tidak mau divaksinasi adalah "kekerasan" dan dia tidak mendukungnya.

Pemimpin Oposisi Victoria, Matthew Guy mengatakan Pemerintah harus mencoba melakukan tes COVID-19 di lokasi pembangunan konstruksi daripada menutup industri yang menimbulkan kerugian miliaran dolar seminggu.

"Dalam situasi seperti ini, pemimpin serikat pekerja dan pemerintah perlu duduk dan meredakan situasi, serta lebih penting lagi menyediakan alat tes di lokasi konstruksi sehingga kita dapat mengetahui lokasi mana yang bermasalah dan segera menutupnya," ujarnya.

Penutupan didukung, meski pahit

Dirut Asosiasi Perusahaan Konstruksi di Victoria, Rebecca Casson, menggambarkan penutupan industri konstruksi sebagai "pukulan pahit" tetapi pihaknya dapat memahaminya.

Dia mengatakan unjuk rasa itu sangat membuat frustrasi pelaku industri yang berusaha melakukan hal yang benar.

Asosiasi tersebut juga mendukung pemeriksaan kepatuhan terhadap protokol COVID-19.

Organisasi tersebut juga mendukung aturan kewajiban vaksinasi yang diterapkan oleh pemerintah.

Rebecca yakin semua pekerjanya bisa mendapatkan dosis pertama vaksinasi dalam dua minggu ke depan sebelum kembali bekerja.

Ada yang bawa kertas mendukung NAZI

Anggota parlemen dari Partai Buruh, Bill Shorten mengecam sejumlah oknum yang menurutnya berpura-pura sebagai pekerja dan membantu menyelenggarakan aksi protes hari Senin lalu.

Bill mengatakan "orang-orang yang menyebut dirinya NAZI" telah menggunakan sistem pesan terenkripsi untuk mengumpulkan orang.

"Beberapa orang dari kerumunan itu adalah pekerja konstruksi, tetapi yang lain yang adalah pekerja palsu," ucap mantan pemimpin oposisi Australia ini.

"Mereka pergi ke toko barang bekas dan membeli rompi seharga A$2 [Rp20 ribu] agar dapat berpura-pura sebagai pekerja konstruksi," katanya.

Bill mengatakan walau tidak ada orang yang ingin melihat industri tutup, masih ada segelintir orang dalam industri ini yang justru bertindak menghambat pembukaan kembali kegiatan konstruksi.

Diproduksi oleh Natasya Salim dari laporan dalam bahasa Inggris

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Presiden Indonesia Dinyatakan Bersalah Soal Pencemaran Udara, Ini Hukumannya
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Presiden Indonesia Joko Widodo dan pejabat lainnya di Indonesia dinyatakan bersalah atas kelalaian m...
China Semakin Perkuat Militernya, Seberapa Kuat Negara Barat?
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Saat Australia memilih kekuatan nuklir sebagai bagian pertahanan dan garis pertempuran sedang ditari...
Indonesia Mencermati dengan Penuh Kehati-hatian Soal Kapal Selam Nuklir Australia
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Kementerian Luar Negeri Indonesia mencermati secara hati-hati rencana Pemerintah Australia untuk mem...
Ada Sejumlah Pria Tak Mau Divaksinasi Karena Takut Buah Zakar Membengkak
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Selasa kemain, penyanyi ternama Nicki Minaj mengajukan pertanyaan yang mungkin belum ada dalam piki...
Dua Buronan Kasus Terorisme Tewas Ditembak Pasukan Gabungan TNI-Polri
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Ali Kalora, militan ekstremis yang masuk daftar pencarian orang (DPO) kasus terorisme yang paling di...
Saya Petarung: Manny Pacquiao Mencalonkan Diri Menjadi Presiden Filipina 2022
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Ikon tinju dan senator Filipina Manny Pacquiao mengatakan dia akan mencalonkan diri sebagai presiden...
Priya Dipaksa Menyaksikan Pacarnya Dibakar Hidup-hidup. Itu Salah Satu Alasannya Tak Bisa Pulang ke Sri Lanka
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Image: The Tamil family has been granted three more months but beyond that is anyone's guess. A...
Hal Apa Saja yang Mengejutkan Pendatang Tentang Australia?
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Ada beberapa hal yang kemungkinan besar muncul di benak seseorang yang hendak pindah ke Australia: m...
PM Australia Mengontak Presiden Jokowi untuk Menenangkan Indonesia Soal Kapal Selam Nuklir
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Perdana Menteri Scott Morrison menghubungi Presiden Joko Widodo kemarin setelah Kementerian Luar Neg...
Ribuan Pekerja Kontruksi Berunjuk Rasa Melbourne, Kebanyakan Anti-vaksin
Jumat, 24 September 2021 - 09:52 WIB
Lebih dari seribu pengunjuk rasa yang sebagian besar anti-vaksinasi memadati pusat kota Melbourne, A...