Menteri Ekonomi dan Iklim Jerman: Mencapai Target Iklim Adalah "Tugas Raksasa"
Elshinta
Jumat, 14 Januari 2022 - 12:07 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Menteri Ekonomi dan Iklim Jerman: Mencapai Target Iklim Adalah
DW.com - Menteri Ekonomi dan Iklim Jerman: Mencapai Target Iklim Adalah "Tugas Raksasa"

Jerman harus segera mengambil tindakan untuk mengatasi ketertinggalan yang parah pada perlindungan iklimdan infrastruktur energi terbarukan, kata Menteri Ekonomi dan Iklim Robert Habeck (Partai Hijau) hari Selasa (11/01) kepada wartawan di Berlin, ketika memaparkan "Neraca Kebijakan Iklim" Jerman hingga saat ini. Jerman akan gagal mencapai target iklim tahunan dan harus dikembalikan ke "jalur target iklim" yang benar, tegasnya.

Robert Habeck menjelaskan, kemungkinan besar target iklim 2022 tidak akan terpenuhi. Dia juga mengakui akan sulit untuk memenuhi target iklim pada tahun 2023. Tanpa perubahan serius, Jerman juga akan gagal memenuhi target pengurangan gas rumah kaca sebesar 65% pada tahun 2030, dibandingkan dengan tahun 1990.

"Kami memulai dengan ketertinggalan drastis," kata Menteri Ekonomi dan Iklim Jerman itu. Dia bertujuan meningkatkan pangsa energi terbarukan Jerman menjadi 80% pada tahun 2030, dan netral iklim pada tahun 2045.

'Tugas raksasa' yang perlu waktu

"Semua ini adalah tugas raksasa. Dan itu akan memakan waktu beberapa tahun sampai kita melihat kesuksesan," tegas Robert Habeck. Untuk itu tingkat pengurangan emisi karbon tahun-tahun mendatang harus tiga kali lipat dari saat ini.

"Sementara emisi karbon rata-rata telah turun 15 juta metrik ton per tahun selama dekade terakhir, itu sekarang harus turun sebanyak 36-41 juta metrik ton per tahun mulai sekarang hingga 2030," katanya.

Untuk itu, Robert Habeck menuntut "program perlindungan iklim segera" - dengan undang-undang, peraturan, dan langkah-langkah lain yang sudah berlaku pada akhir tahun. Langkah-langkah yang disiapkan sejauh ini adalah:

- Lebih banyak turbin angin dan pembangkit listrik tenaga surya

- Kepastian perencanaan untuk instalasi energi terbarukan, melonggarkan beberapa aturan tentang di mana turbin angin dapat dibangun

- Undang-undang yang mensyaratkan rata-rata 2% persen lahan digunakan untuk tenaga angin

- "Paket percepatan tenaga surya", yang berarti semua bangunan baru harus dilengkapi dengan panel surya

- Sistem subsidi yang andal untuk proses produksi industri yang netral terhadap iklim. Perubahan ini berarti pemerintah federal akan mengambil alih lebih banyak pendanaan energi terbarukan daripada konsumen energi

- Investasi baru dalam listrik dari "hidrogen hijau"

Paket pertama undang-undang dan rencana mendesak diharapkan akan disetujui oleh kabinet pada bulan April mendatang, dan disahkan parlemen sebelum istirahat musim panas. Paket lebih lanjut diharapkan akan dirancang selama musim panas untuk disetujui pada akhir tahun.

Jerman perlu tenaga kerja di sektor energi

Robert Habeck juga menekankan bahwa Jerman akan membutuhkan imigrasi yang signifikan untuk menghentikan kekurangan tenaga kerja yang bisa membahayakan transisi energi. Di sektor ini "ada 300.000 lowongan pekerjaan hari ini, dan diperkirakan akan meningkat menjadi satu juta dan lebih," katanya. "Jika kita tidak menutup kesenjangan tenaga kerja itu, kita akan memiliki masalah produktivitas yang nyata."

Martin Kaiser, Kepala Politik Iklim Internasional di Greenpeace Jerman, mengatakan kepada DW bahwa dia menyambut baik komitmen tersebut, tetapi koalisi pemerintah akan dinilai berdasarkan apa yang berhasil dicapai sampai 2023.

"Jadwal yang dia berikan ambisius, dan ini adalah mandat yang jelas kepada para menteri di bidang konstruksi, transportasi, pertanian, dan lingkungan untuk segera memulai dengan tindakan segera (di bidangnya) masing-masing." Lalu awal tahun depan, pemerintah "akan dinilai berdasarkan apakah target iklim terpenuhi," kata Martin Kaiser.

hp/ha (dpa, AFP, Reuters)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Waspadai 10 Varian SARS-CoV-2 Hasil Mutasi
Jumat, 21 Januari 2022 - 07:41 WIB
Krisis Iklim Dekatkan Israel dan Yordania Melalui Perjanjian Air
Jumat, 21 Januari 2022 - 07:41 WIB
Di bawah perjanjian baru itu, Yordania yang tidak punya sumber air alami, akan mengekspor energi sur...
Master Kung Fu dan Produser Film Silat Calonkan Diri Jadi Pemimpin Hong Kong
Jumat, 21 Januari 2022 - 07:41 WIB
Master kung fu dan produser film Hong Kong Checkley Sin Kwok Lam mengatakan pada hari Rabu (19/1) ba...
Dianggap Jadi Sarang Kebencian, Jerman Beri Telegram Peringatan Keras
Jumat, 21 Januari 2022 - 07:41 WIB
Pada Januari 2022, anggota gerakan protes Querdenker (pemikir lateral) Jerman memposting foto aplika...
Jerman Tolak Kirim Senjata ke Ukraina karena Khawatir Tingkatkan Eskalasi
Jumat, 21 Januari 2022 - 07:41 WIB
Tidak butuh waktu lama untuk menguji pemerintah Jerman yang baru, terkait kebijakan luar negeri yang...
Korea Utara Akan Lanjutkan Uji Coba Nuklir
Jumat, 21 Januari 2022 - 07:41 WIB
Korea Utara, pada Kamis (20/01) mengisyaratkan akan melanjutkan uji coba senjata nuklir. Korea Utara...
Thailand akan Lanjutkan
Jumat, 21 Januari 2022 - 07:41 WIB
Skema pembebasan karantina bagi wisatawan asing yang mengunjungi Thailand sebelumnya sempat ditanggu...
Pertolongan Pertama Tiba di Tonga, Saluran Telepon Sebagian Telah Pulih
Jumat, 21 Januari 2022 - 07:41 WIB
Sebuah pesawat C-130 Hercules Angkatan Udara Kerajaan Selandia Baru mendarat di Bandara Internasiona...
Jerman dan Israel Kecam Penyangkalan Holocaust
Jumat, 21 Januari 2022 - 07:41 WIB
Duta Besar Jerman di Israel Susanne Wasum-Rainer dan Duta Besar Israel di Jerman Jeremy Issacharoff ...
Fosil Utuh Ichtyosaurus Ditemukan di Inggris
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:43 WIB
Petugas pemeliharaan yang mengeringkan sebuah bendungan di Rutland, Inggris menemukan fosil tulang v...
InfodariAnda (IdA)