waisak kiri waisak kanan
Krisis Iklim Dekatkan Israel dan Yordania Melalui Perjanjian Air
Elshinta
Jumat, 21 Januari 2022 - 07:41 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Krisis Iklim Dekatkan Israel dan Yordania Melalui Perjanjian Air
DW.com - Krisis Iklim Dekatkan Israel dan Yordania Melalui Perjanjian Air

Di bawah perjanjian baru itu, Yordania yang tidak punya sumber air alami, akan mengekspor energi surya sebesar 600 megawatt ke Israel, dengan imbalan berupa 200 juta meter kubik air bersih yang dimurnikan dari air laut.

Menurut laporan media-media lokal, instalasinya akan dibangun sebuah perusahaan Uni Emirat Arab yang juga membangun pembangkit surya di Yordania. Selambatnya pada 2026, sebuah kabel listrik akan menghubungkan Yordania dan Israel.

Sebaliknya Israel sudah berniat akan menambah fasilitas desalinasi air laut miliknya dari sementara tiga menjadi lima.

Perjanjian ini "sama-sama menguntungkan dan merupakan model untuk konsep ketahanan iklim non-konvensional,” kata Gidon Bromberg, pendiri LSM lingkungan Israel, EcoPeace Middle East.

Organisasinya ikut berjasa membuka pintu kerja sama antara kedua negara. Pada Desember 2020 silam, EcoPeace memublikasikan rencana kerja sama lintas negara untuk ketahanan klim antara Israel, Yordania, dan Palestina.

"Perjanjian ini menciptakan model baru bagi kebergantungan yang sehat antarnegara di wilayah kami,” kata Yana Abu Taleb, Direktur EcoPeace MiddleEast di Yordania.

Kesepakatan itu juga merupakan pendekatan lunak yang dicanangkan pemerintahan baru Israel di bawah Naftali Bennett, menyusul Perjanjian Ibrahim yang menormalisasi hubungan dengan Uni Emirat Arab, Maroko, dan negara Arab lain.

Energi surya sebagai alat politik?

Yordania sejak lama dikenal sebagai negeri rawan air. Sebagian air bersih yang dikonsumsi di negara itu harus diimpor dari negeri jiran. Ketiadaan wilayah perairan juga membuat opsi desalinasi air laut menjadi mustahil.

Sebab itu perjanjian air dengan Israel diyakini akan memberikan Yordania "sesuatu yang bernilai tinggi,” yakni menukar air dengan energi surya yang sangat dibutuhkan di negeri jiran.

Israel yang berambisi memproduksi 30 persen kebutuhan listriknya dari sumber terbarukan pada 2030, tidak memiliki lahan untuk pembangkit surya. Sebaliknya, Yordania tidak hanya memiliki lahan kering yang luas, tetapi juga sudah membangun infrastruktur energi surya yang lengkap.

"Yordania bisa menjadi pusat energi terbarukan di kawasan, dengan menjual energi bersih ke seluruh Timur Tengah, tidak hanya ke Israel,” kata Taleb kepada DW. "Bayangkan ketahanan iklim dan keuntungan ekonomi yang bisa kita ciptakan untuk negara-negara ini.”

Israel sendiri sudah menetapkan krisis iklim sebagai isu keamanan nasional. Doktrin tersebut, kata Bromberg, harus dibarengi dengan pemahaman bahwa ancaman iklim berdampak luas, tidak hanya di satu negara.

"Israel ingin diakui sebagai pemain internasional, sebagai salah satu pemimpin dunia untuk isu-isu iklim,” ujarnya. Artinya, "mereka harus memenuhi komitmen-komitmen (iklim) tersebut.”

Dampak perubahan iklim

Saat ini pun pemanasan global sudah berdampak luas di Timur Tengah, terutama Yordania dan Israel yang tergolong wilayah kering. Di sini, temperatur "meningkat lebih cepat ketimbang di wilayah mana pun di dunia,” kata Colin Price, Direktur Porter School of Environmental Studies di Tel Aviv University.

"Selama dua dekade terakhir, kami mencatat pemanasan yang signifikan di seluruh wilayah Mediterania, termasuk juga di Israel. Jadi, musim panas kami akan semakin panas dan lebih lama.”

Bagi wilayah yang rentan air, perubahan kecil pada pola cuaca bisa memicu bencana kekeringan berkepanjangan.

Menurut "skenario terburuk” yang dikembangkan Layanan Meteorologi Israel (IMS), rata-rata kenaikan temperatur pada akhir abad akan mencapai 4 derajat Celsius. Adapun menurut Price, curah hujan di seluruh kawasan Mediterania akan anjlok sebanyak 20 persen di penghujung abad 21.

"Dampaknya sudah kami amati di banyak negara, seperti di Yunani, Italia, dan Spanyol, di mana hal ini menyebabkan musim kebakaran hutan yang lebih panjang dan lebih intensif,” kata dia.

Optimisme terbatas

Sejak beberapa tahun terakhir, Yordania juga mulai mencatat penurunan drastis pada ketersediaan air. Di ibu kota Amman misalnya, warga terbiasa menunggu datangnya truk tangki air sebelum bisa memasak atau mandi.

"Seluruh wilayah ini memang secara alami rawan air,” kata Yana Abu Taleb. "Kami memiliki cadangan air yang terbatas, dan Yordania merupakan negara paling miskin menyangkut ketersediaan air bersih.”

Namun, bencana kekeringan juga dipicu faktor lain seperti buruknya manajemen air atau lonjakan populasi. Selain itu, tekanan terhadap cadangan air alami juga kian bertambah seiring datangnya 800.000 pengungsi dari konflik di negara-negara jiran.

Tahun lalu, Israel setuju menggandakan jumlah pasokan tahunan air bersih ke Yordania menjadi 50 juta meter kubik. Menurut perjanjian yang baru, jumlah air bisa berjumlah empat kali lipat lebih besar.

"Kedua negara berada dalam posisi sejajar dengan masing-masing punya sesuatu untuk dibeli atau dijual,” kata Bromberg. Dari sudut pandang lingkungan dan politik, perjanjian antara Israel dan Yordania menurutnya bisa menjadi "alasan yang baik untuk optimisme berhati-hati.”

(rzn/ha)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Akankah Peningkatan Suhu Lampaui Batas 1,5 Derajat pada 2026?
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Pakar iklim PBB mengungkap hal yang dikhawatirkan akan jadi kenyataan. Penelitian menunjukkan suhu r...
Senat AS Gagal Lanjutkan Pembahasan RUU Hak Aborsi Nasional
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Pada Rabu (11/05), Senat Amerika Serikat gagal meloloskan RUU yang akan membuat keputusan penting Ro...
Laporkan Kasus Pertama COVID-19, Korea Utara Akan Terapkan Lockdown Ketat
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Korea Utara pada hari Kamis (12/05) secara resmi mengkonfirmasi kasus infeksi COVID-19 pertamanya da...
NATO dan Sekutu Sambut Baik Niat Finlandia dan Swedia untuk Bergabung
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Sekutu Aliansi Pertahanan Negara Atlantik Utara (NATO) mengharapkan Finlandia dan Swedia akan diberi...
Barat dan Cina Bersaing Himpun Kekuatan, Kerja Sama Global Kian Rumit
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Beberapa bulan terakhir, negara-negara Barat yang utamanya dipimpin Amerika Serikat (AS) berusaha me...
Suasana Sunyi dan Tegang Selimuti Gaza Setahun Selepas Perang
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Jajaran tanaman melon dan bunga matahari membentang ke arah pagar keamanan yang mengelilingi Jalur G...
Israel Bersiap Gusur Desa Masafer Yatta di Tepi Barat Yordan
Kamis, 12 Mei 2022 - 08:36 WIB
Segalanya terlihat ala kadarnya di sini. Rumah-rumah warga terbuat dari lembaran plastik dan seng. A...
Elon Musk Berjanji akan Cabut Blokir Twitter terhadap Donald Trump
Kamis, 12 Mei 2022 - 08:36 WIB
Miliarder Elon Musk berjanji untuk membatalkan larangan permanen Twitter terhadap mantan Presiden AS...
Menteri Luar Negeri Jerman Baerbock Mengunjungi Ukraina
Kamis, 12 Mei 2022 - 08:36 WIB
Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock tiba di Ukraina pada hari Selasa (10/05). Kunjungan yan...
Pemerintahan Baru Filipina, Bagaimana Hubungan dengan Cina dan AS?
Kamis, 12 Mei 2022 - 08:36 WIB
Ferdinand "Bongbong” Marcos Jr. berhasil meraup lebih dari 31 juta dukungan atau sekitar ...
InfodariAnda (IdA)