Nasi Bungkus dan Obat: Warga Indonesia Saling Bantu di Tengah Wabah Omicron Australia
Elshinta
Senin, 24 Januari 2022 - 09:53 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Nasi Bungkus dan Obat: Warga Indonesia Saling Bantu di Tengah Wabah Omicron Australia
ABC.net.au - Nasi Bungkus dan Obat: Warga Indonesia Saling Bantu di Tengah Wabah Omicron Australia

Setelah melakukan serangkaian aktivitas di masa liburan akhir tahun bersama teman-temannya, Nandya Gita mulai merasa tidak sehat.

Awalnya ia menganggap hanya masuk angin biasa karena kelelahan.

“Saya mulai curiga terkena COVID, karena tenggorokan saya sakit dan batuk," kata Gita, panggilan akrabnya.

"Padahal selama tinggal di Melbourne, saya enggak pernah sakit batuk,” kata Gita yang sudah empat tahun tinggal di Melbourne bersama suaminya, Radityo Wicaksono yang biasa disapa Tyo.

Batuknya semakin memburuk dan semua badannya sakit, begitu juga dengan gejala yang dialami Tyo.

Kesulitan mengetahui status COVID-19

Saat ini di Australia mereka yang sakit COVID-19 diminta untuk terlebih dahulu melakukan tes COVID dengan cara antigen, sebelum datang ke tempat pengetesan COVID-19 dengan metode PCR. 

Padahal untuk mendapatkan alat tes rapid antigen di Australia saat ini sedang sulit, karena kekurangan pasokan.

"Aku udah nyari rapid antigen tes, enggak ketemu. Sudah tanya teman-teman, mereka juga enggak ada yang punya. Sold out semua di mana-mana," ujar Gita.

Tapi karena ia benar-benar butuh kepastian soal status COVID-nya, Gita memilih untuk tetap pergi menjalankan tes PCR.

“Aku sampai sana [tempat tes PCR] jam setengah tujuh pagi, baru dites jam setengah sebelas siang," kata Gita.

"Rasanya udah kayak mau pingsan, antre berdiri lama banget," ujarnya.

Memiliki gejala "tenggorokan tidak enak" dialami warga asal Indonesia lainnya, Leonhard Dengah, yang bekerja sebagai 'chef'.

“Saat itu memang saya sedang lagi sibuk-sibuknya di restoran, jadi memang mobilitas saya sedang tinggi,” ujar Leon, panggilan akrabnya.

Karena kondisinya tidak juga membaik, Leon menghubungi pemilik restoran tempat ia bekerja.

"Syukurlah dia [merespon] cepat, datang ke tempat saya membawakan rapid antigen test kit ... kebetulan dia punya," ujar Leon.

'Homesick' dan bingung memilih obat-obatan

Hasil tes dari Gita, Tyo, begitu juga dengan Leon menunjukkan mereka positif terkena COVID.

Tapi kepada ABC Indonesia mereka mengaku jika gejala yang dialaminya ringan, karena sudah menerima dua dosis vaksin.

"Saya cuma merasakan sakit kepala dan sakit tenggorokan, tapi level of sickness-nya masih manageable," ujar Tyo.

Yang mereka rasakan saat sakit justru adalah 'homesick' atau kangen rumah dan keluarga di Indonesia.

"Wah, homesick-nya tuh parah banget sih. Pasti terbayang kalau lagi sakit [di Indonesia] dan dirawat sama orangtua, love-nya terasa ya," kata Leon yang sudah dua tahun tidak pulang.

"Meskipun setiap hari mereka tetap mengecek, tapi rasanya beda," kata Leon.

Gita juga merasakan hal yang sama, ditambah lagi ia mengaku kebingungan soal memilih obat-obatan di Australia.

"Cuma dibilang, misalnya, obat batuk. Tapi yang mana? Yang jenisnya apa? Bahkan panadol aja jenisnya juga banyak banget," ujar Gita, yang merasa lebih familiar dengan jenis obat-obatan di Indonesia.

Menanggapi kesulitan ini, dokter sekaligus pakar kesehatan masyarakat dari Alfred Hospital di Melbourne, Dr Sandro Demaio, menawarkan sejumlah solusi.

"Jika Anda memang membutuhkan penghilang rasa sakit, rekomendasi dari College of General Practitioners adalah minum parasetamol saja," ujarnya yang juga Direktur Eksekutif VicHealth.

"Sekarang mungkin ada banyak jenisnya, mulai dari bentuk cair sampai beragam merk lain, tapi parasetamol saja cukup."

Sementara untuk mengurangi rasa sakit atau tidak enak pada tenggorokan, Dr Sandro menyarankan obat dalam bentuk permen, semprotan, atau cair, meski menurutnya "mungkin tidak efektif tapi cukup membantu."

Ia juga mengatakan yang paling terpenting adalah menjaga cairan dalam tubuh, karena dehidrasi sangat mungkin terjadi saat menghindari makan dan minum akibat tenggorokan yang sakit.

"

"Bisa dengan menggunakan pengganti elektrolit yang membantu membantu menjaga cairan tubuh."

"

Perhatian dari sesama warga Indonesia

Meski tidak punya keluarga di Melbourne, ketiganya mengaku banyak mendapatkan bantuan, terutama dari sesama warga Indonesia.

"Teman-teman, yang saya kasih tahu kalau saya isolasi, langsung berinisiatif menanyakan apakah saya mau dibelikan makanan, groceries, atau obat-obatan," kata Leon.

“Ini sangat membantu dan menjadi salah satu yang saya syukuri saat COVID, menyadari bahwa ternyata kita punya komunitas yang caring to each other.

Intan Kieflie*, pemilik rumah makan khas minang Dale Lapau di Melbourne adalah salah satu restoran yang memberikan bantuan kepada mereka yang menjalankan isolasi di rumah dalam bentuk nasi bungkus.

Ia mengatakan bantuan ini menjadi bentuk terima kasih atas dukungan para pelanggannya, karena Intan memulai usahanya lewat jasa 'delivery' saat negara bagian Victroia memberlakukan 'lockdown'.

"

“Sekarang banyak pelanggan yang enggak punya akses mendapatkan makanan karena mereka mesti diisolasi, … jadi akhirnya kami memutuskan ya sudah gantian-lah, dulu mereka yang reach out kita, sekarang giliran kita yang reach out mereka,” kata Intan.

"

Intan mengaku penularan wabah Omicron saat ini berdampak pada usahanya, seperti juga restoran lainnya di Melbourne, tapi ia merasa tidak ada hitung-hitungan soal "untung-rugi dalam memberi".

Gita dan Tyo mengaku senang dan sangat terbantu saat mendapat nasi bungkus gratis dari Intan.

"Rasanya diperhatikan, dan isinya juga enggak main-main. Selain nasi bungkus, ada kopi dan chips juga," ujar Gita.

Sementara Leon mengatakan apa yang dilakukan Intan adalah "ide yang brilian" dan ia menjadi terinspirasi.

"Sesuatu yang baik pasti menginspirasi sesuatu yang baik lagi di masa mendatang, jadi ini bagus banget dan saya bakal bikin [inisiatif serupa] di restoran saya," kata Leon.

Kondisi kesehatan mereka saat ini sudah semakin membaik dan mereka berharap agar protokol kesehatan bisa terus dilakukan supaya angka kasus di Melbourne tidak terus naik.

“Selama dua tahun ini saya udah berusaha strict sama diri sendiri, pakai masker all the time, jadi pas kena tuh rasanya ya kesel, tapi bukan juga berarti perjuangan kita sia-sia ya,” ujar Tyo.

"

“Jadi [menurut saya] harus di-enforce deh pemakaian masker, social distancing, dan peraturan-peraturan yang kelihatannya kecil, kalau memang enggak mau lockdown lagi.”

"

*suami dari Intan, pemilik restoran Dale Lapau, bekerja di ABC

Simak beritanya dalam bahasa Inggris
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Oposisi Australia Menang Pemilu, Anthony Albanese Dilantik Jadi Perdana Menteri Baru
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Pemimpin Partai Buruh Anthony Albanese dilantik sebagai perdana menteri ke-31 Australia, setelah mem...
Dari Perumahan Rakyat ke Kursi Perdana Menteri Australia, Inilah Sosok Anthony Albanese
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Gubernur Jenderal Australia baru saja melantik Anthony Albanese sebagai Perdana Menteri yang ke-31, ...
Mantan Pengungsi Dai Le Terpilih Jadi Anggota Parlemen Federal Australia
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Seorang perempuan asal Vietnam yang pernah tinggal di kamp pengungsi di Filipina Dai Le telah terpil...
Mengapa Aktivis Lingkungan Indonesia tidak Senang dengan Peluang Investasi Nikel Tesla
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Dua minggu lalu Presiden Indonesia Joko Widodo bersama pemimpin ASEAN lainnya mengunjungi Washingto...
Saya Hampir Menangis: Seberapa Besar Peran Warga China Australia bagi Kemenangan Partai Buruh?
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Bersama dengan jutaan warga Australia lainnya, Anna Wang memberikan suaranya untuk Partai Buruh di p...
Warga Denmark Ini Menghabiskan Hampir 10 Tahun Keliling Dunia Tanpa Jalur Udara
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Warga Denmark Torbjørn "Thor" Pedersen tidak pernah menyangka perjalanan keliling dunia y...
Kemenangan Caleg Partai Buruh Sam Lim Sangat Mengejutkan dalam Pemilu Australia
Senin, 23 Mei 2022 - 10:01 WIB
Kemenangan Sam Lim warga asal Malaysia menjadi anggota parlemen federal baru di Australia adalah sal...
Kasus Cacar Monyet Pertama Diperkirakan Diidap Seorang Pria di Sydney yang Baru Pulang dari Eropa
Sabtu, 21 Mei 2022 - 08:41 WIB
Pihak berwenang bidang kesehatan di Sydney mengatakan bahwa seorang pria berusia 40-an mungkin men...
Patut Dicoba: Warga Indonesia Rela ke Pedalaman Australia Demi Mendapatkan Status Penduduk Tetap
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:12 WIB
Christoper Reno Budiman mengaku hidupnya berubah 180 derajat sejak pindah ke Kangaroo Island, Austra...
Program Penjualan Minyak Goreng Indonesia Dilakukan di 10 Ribu Lokasi Untuk Menurunkan Harga Pasaran
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:12 WIB
Menteri Perdagangan Indonesia Muhammad Lutfi mengatakan harga minyak goreng akan stabil segera setel...
InfodariAnda (IdA)