Radikalisasi Tertutup Anak-anak Keluarga Teror Surabaya
Rabu, 16 Mei 2018 - 13:05 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
DW.com - Radikalisasi Tertutup Anak-anak Keluarga Teror Surabaya

Orangtua pelaku serangan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo dikabarkan menempatkan anak-anaknya dalam isolasi dan hanya hidup di dalam lingkup kelompok radikal Islam. Demikian klaim kepolisian. Seperti dilaporkan sebelumnya, tiga keluarga bertanggungjawab atas serangan teror paling mematikan sejak satu dekade terakhir di Indonesia.

"Dari kehidupan sehari-hari semua anak-anak pelaku tidak ada yang sekolah dan mereka didoktrin serta dikungkung dalam rumah," kata Kapolda Jawa Timur Machfud Arifin.

Serangan terhadap tiga gereja di Surabaya yang dilancarkan keluarga Dita Supriyanto menewaskan sedikitnya 13 orang, termasuk pelaku. Sang ayah meledakkan diri di Gereja Pusat Pantekosta Surabaya, sementara isterinya, Puji Kuswati, membawa kedua putrinya untuk menyerang GKI Diponegoro. Adapun dua anak laki-laki Dita yang berusia belasan, YF dan FH, bergerak terpisah mengincar sasaran teror lain.

Keluarga teroris beraksi

Pada hari yang sama polisi menyantroni sebuah rusun di Wonocolo, Sidoarjo, setelah masyarakat melaporkan adanya ledakan. Di lokasi kejadian polisi menemukan tiga orang tewas, yakni seorang kepala keluarga bernama Anton, isteri dan seorang anaknya. Kapolri Tito Karnavian mengklaim ledakan tersebut disebabkan kecelakaan saat pelaku hendak merakit bom.

Baca: Mencegah Arus Balik Ideologi Impor

Keesokan harinya sebuah keluarga militan lain mengendarai dua sepeda motor meledakkan diri di pos penjaga Mapolrestabes Surabaya. Empat pelaku mati seketika, sementara seorang bocah perempuan berusia 8 tahun berhasil selamat dan saat ini dirawat di rumah sakit. "Dia sudah siuman," kata Arifin, "dan ditemani oleh keluarga dan petugas sosial ketika ditanyai polisi."

Beruntung tiga anak pelaku ledakan di Sidoarjo berhasil selamat dan dirawat di rumah sakit. Saat ditanyai kepolisian, mereka mengaku hanya berinteraksi dengan rekan-rekan orangtuanya yang berideologi serupa. Setiap hari minggu mereka menggelar pengajian yang juga dihadiri oleh dua keluarga pelaku teror di Surabaya.

Polisi memastikan ketiga keluarga yang terlibat serangan teror saling mengenal satu sama lain dan hidup di kompleks perumahan kelas menengah di Surabaya dan Sidoarjo. "Saya kira pandangan orangtua dan isolasi dari dunia luar mempermudah kepala keluarga mempengaruhi anggota keluarga yang lain," kata Alexander Arifianto, peneliti di Nanyang Technological University di Singapura.

Menolak NKRI dan Pancasila

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, juga mengatakan salah seorang putra pelaku menolak menghadiri upacara bendera atau menghadiri pelajaran Pancasila. Sebab itu pula Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta masyarakat menjadi "mata dan telinga" pemerintah untuk mendeteksi calon pelaku teror secara dini.

Dalam sebuah editorial untuk Lowy Institute, Pakar terorisme Indonesia, Sidney Jones, mendesak aparat keamanan mempelajari jaringan keluarga penebar teror di Surabaya. "Jika tiga keluarga bisa terlibat dalam serangan teror dua hari di Surbaya, pastinya ada lebih banyak lagi yang siap beraksi," tulisnya.

rzn/as (rtr,ap)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jumat, 26 April 2019 - 08:50 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Rusia Vladimir Putin, dalam pertemuan puncak di Vladiv...
Jumat, 26 April 2019 - 08:50 WIB
Apakah keharusan menjalin relasi baru atau berjejaring dengan orang-orang yang hampir tidak Anda ken...
Jumat, 26 April 2019 - 08:50 WIB
Dari mogok sekolah setiap Jumat di depan gedung parlemen Swedia hingga berbicara lantang di depan ko...
Jumat, 26 April 2019 - 08:50 WIB
Generasi baru aktivis muda menjadi bukti bahwa banyak remaja yang peduli dengan isu-isu sosial, poli...
Jumat, 26 April 2019 - 08:50 WIB
Selama beberapa generasi, kita telah diberitahu bahwa susu membantu membentuk tulang yang kuat. Teta...
Jumat, 26 April 2019 - 08:50 WIB
Sejumlah kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di transportasi online masih terjadi semenjak se...
Jumat, 26 April 2019 - 08:50 WIB
Dua tenaga kerja Indonesia, Sumartini dan Warnah, yang telah kembali ke Indonesia setelah bebas dari...
Jumat, 26 April 2019 - 08:50 WIB
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, sudah bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin, pertemuan pertama a...
Jumat, 26 April 2019 - 08:50 WIB
Penjajakan rekonsiliasi yang dilakukan kubu Joko Widodo sejauh ini tidak disambut pihak Prabowo Subi...
Jumat, 26 April 2019 - 08:50 WIB
Sejumlah aktivis pecinta anjing di Solo, Jawa Tengah, yang tergabung dalam koalisi Dog Meat Free Ind...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)