Korban COVID-19 di AS Tembus Satu Juta Jiwa, Korea Utara Umumkan Kematian Pertama karena Omicron 
Elshinta
Sabtu, 14 Mei 2022 - 13:29 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Korban COVID-19 di AS Tembus Satu Juta Jiwa, Korea Utara Umumkan Kematian Pertama karena Omicron 
ABC.net.au - Korban COVID-19 di AS Tembus Satu Juta Jiwa, Korea Utara Umumkan Kematian Pertama karena Omicron 

Pemerintah Amerika Serikat mengingatkan warganya untuk tetap waspada COVID, setelah tingkat kematian di negara itu dilaporkan sudah melebihi angka satu juta orang. Sementara itu di Korea Utara, pemerintah memberlakukan lockdown setelah melaporkan kematian pertama karena COVID.

Dalam pernyataannya, Presiden AS Joe Biden mengatakan angka kematian yang menembus satu juta itu "merupakan sebuah tonggak penacapaian yang tragis" untuk Amerika Serikat yang telah menjadi negara dengan kematian COVID tertinggi di dunia sejak pandemi terjadi di tahun 2020.

"

"Ini berarti ada satu juta kursi kosong di sekitar meja makan. Setiap mereka tidak tergantikan. Setiap mereka meninggalkan keluarga, komunitas, dan bangsa selamanya yang berubah karena pandemi," katanya.

"

"Kita harus tetap waspada dan tidak boleh lengah menghadapi pandemi, dan melakukan segala sesuatu yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa dengan melakukan lebih banyak tes, vaksinasi, dan perawatan."

Angka kematian satu juta orang itu berarti satu dari 327 warga Amerika meninggal karena COVID, sama dengan jumlah penduduk kota San Francisco atau Seattle.

Ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan COVID-19 sebagai pandemi global pada tanggal 11 Maret 2020, virus tersebut sudah merenggut nyawa 36 orang di Amerika Serikat.

Pada bulan Juni 2020, jumlah kematian di AS sudah melebihi jumlah kematian tentara mereka pada Perang Dunia Pertama, dan bisa melampaui jumlah tentara yang meninggal pada Perang Dunia Kedua di bulan Januari 2021, setelah lebih dari 405 ribu orang meninggal.

Virus ini sudah memakan korban kematian lebih dari 6,7 juta orang di seluruh dunia.

Minggu lalu, WHO mengatakan hampir sekitar 15 juta orang di seluruh dunia meninggal karena COVID-19 atau karena dampak COVID terhadap layanan kesehatan selama dua tahun terakhir.

Kematian pertama di Korea Utara

Sementara itu media resmi pemerintah Korea Utara mengumumkan untuk pertama kalinya kematian di negara itu karena COVID-19 hanya sehari setelah mulai melakukan lockdown sejak pandemi global terjadi.

Beberapa pakar mengatakan pernyataan resmi tentang COVID yang jarang disampaikan ini menandakan negeri tersebut sedang mencari bantuan luar negeri.

Bila Korea Utara gagal mencegah penyebaran virus itu, dampaknya akan sangat buruk mengingat negeri itu memiliki sistem layanan kesehatan yang tidak memadai dan diperkirakan 26 juta penduduk di sana kebanyakan belum divaksinasi.

Kantor berita resmi Korea Utara (KCNA) hari Jumat melaporkan bahwa lebih dari 350 ribu orang di seluruh pelosok Korea Utara sedang menjalani perawatan karena demam sejak akhir April dan 162.200 sudah sembuh.

Dikatakan juga bahwa 187.800 orang sedang menjalani isolasi setelah pada hari Kamis (12/05) saja tercatat sekitar 18 ribu orang memiliki gejala demam.

Masih belum jelas berapa dari jumlah tersebut terkonfirmasi COVID-19 karena terbatasnya peralatan tes yang dimiliki Korea Utara.

Korea Utara mengatakan satu dari enam orang yang meninggal disebabkan karena varian Omicron.

Menurut KCNA, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un sudah memerintahkan semua kota dan distrik untuk menjalankan lockdown ketat setelah varian BA2 Omicron ditemukan di ibu kota Pyongyang.

"

"Ini adalah insiden darurat terbesar dengan adanya celah di perbatasan terdepan sistem karantina kita, yang sudah berhasil kita bendung selama dua tahun tiga bulan sejak Februari 2020," kata laporan tersebut.

"

Bantuan dari luar negeri

Pemerintah Korea Utara sejauh ini menolak tawaran penggunaan vaksin COVAX dari PBB, kemungkinan karena mereka tidak menghendaki adanya pemantau internasional masuk ke sana.

Menteri Penyatuan Kembali Korea dari Korea Selatan mengatakan bersedia memberikan bantuan medis dan bantuan lainnya dengan pertimbangan kemanusiaan.

Di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, mengatakan Beijing sudah menawarkan bantuan untuk menangani penyebaran wabah tersebut.

Korea Utara sebelumnya dilaporkan menolak tawaran vaksin yang dibuat oleh China.

Kim Sin-gon, professor di University College of Medicine Korea Selatan mengatakan pernyataan tentang kasus ini telah menunjukkan bahwa Korea Utara bersedia menerima bantuan luar negeri, tetapi dalam jumlah vaksin yang lebih banyak daripada angka yang selama ini ditawarkan.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari berita di ABC News.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kasus Cacar Monyet Pertama Diperkirakan Diidap Seorang Pria di Sydney yang Baru Pulang dari Eropa
Sabtu, 21 Mei 2022 - 08:41 WIB
Pihak berwenang bidang kesehatan di Sydney mengatakan bahwa seorang pria berusia 40-an mungkin men...
Patut Dicoba: Warga Indonesia Rela ke Pedalaman Australia Demi Mendapatkan Status Penduduk Tetap
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:12 WIB
Christoper Reno Budiman mengaku hidupnya berubah 180 derajat sejak pindah ke Kangaroo Island, Austra...
Program Penjualan Minyak Goreng Indonesia Dilakukan di 10 Ribu Lokasi Untuk Menurunkan Harga Pasaran
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:12 WIB
Menteri Perdagangan Indonesia Muhammad Lutfi mengatakan harga minyak goreng akan stabil segera setel...
Ferdinand Marcos Jr Ingin Filipina Hindari
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:12 WIB
Presiden terpilih Filipina Ferdinand 'Bongbong' Marcos Jr mengatakan hubungan negaranya ...
Warga Australia yang Isolasi COVID Bisa Memilih Lewat Telepon dalam Pemilu Hari Sabtu
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:12 WIB
Komisi Pemilihan Umum Australia (AEC) mengubah aturan pemungutan suara untuk memungkinkan pemilih ya...
Anggota TNI AD Terlibat Latihan Militer Bersama bagi Misi Kemanusiaaan di Australia
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:12 WIB
Di sebuah pulau tidak bernama yang dilanda badai topan tropis, prajurit TNI AD bergabung dengan tent...
Pasien Anak yang Diduga Usus Buntu Meninggal di Melbourne, Orang Tuanya Menuntut Jawaban Rumah Sakit
Kamis, 19 Mei 2022 - 09:09 WIB
Ketika Chandra Sekhar Lanka dan Satya Tarapureddi membawa putri mereka Amrita ke Monash's Chi...
Harus Punya Nyali: Bagaimana Pekerja Museum Australia Mengamankan Bangkai Paus untuk Diteliti
Kamis, 19 Mei 2022 - 09:09 WIB
Sebagai kepala divisi mamalia pada Museum Australia Selatan, David Stemmer terkadang harus berkutat ...
Kami tak Mau Dibungkam: Mahasiswa Asing di Australia Berjuang Melawan Majikan yang Curang
Kamis, 19 Mei 2022 - 09:09 WIB
Kasus pekerja asing di Australia yang dibayar rendah oleh majikannya masih sering terjadi. Bahkan k...
Remaja Usia 18 Tahun Ditetapkan Tersangka Penembakan 10 Orang di Amerika Serikat
Kamis, 19 Mei 2022 - 09:09 WIB
Agen federal Amerika Serikat telah mewawancarai orang tua remaja kulit putih berusia 18 tahun yang...
InfodariAnda (IdA)