Penyakit Hepatitis Pada Anak Terus Menyebar. Akankah Sampai Australia?
Elshinta
Kamis, 19 Mei 2022 - 09:09 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
 Penyakit Hepatitis Pada Anak Terus Menyebar. Akankah Sampai Australia?
ABC.net.au - Penyakit Hepatitis Pada Anak Terus Menyebar. Akankah Sampai Australia?

Pihak berwenang di bidang kesehatan di seluruh dunia terus melakukan penyelidikan mengenai kematian anak-anak karena hepatitis, dengan korban sekarang mencapai 450 orang.

Hepatitis adalah gejala pembengkakan hati yang disebabkan oleh infeksi virus dan jarang menyerang anak-anak yang sehat.

Kasus kematian anak-anak karena hepatitis ini mulai menarik perhatian dunia ketika pihak kesehatan di Inggris melaporkan adanya tambahan kasus berkenaan pembengkakan hati di mana sebab yang biasanya yaitu virus hepatitis A, B, C, D dan E tidak ditemukan.

Menurut pakar masalah penyakit dalam di Melbourne Winita Hardikar, walau bukan hal yang aneh, kasus seperti ini jarang ditemukan sebelumnya.

"Kita mungkin akan menemukan sekitar lima sampai enam kasus hepatitis non A-E virus pada anak-anak setiap tahunnya dengan satu atau dua di antara mereka memerlukan cangkok hati," kata Professor Hardikar yang bekerja di Royal Children's Hospital di Melbourne.

Biasanya anak-anak akan sembuh dari hepatitis, namun parahnya kasus-kasus terbaru yang terjadi pada anak-anak di bawah lima tahun mengkhawatirkan pakar.

Kebanyakan anak-anak melaporkan gejala seperti sakit perut, diare dan muntah-muntah, sebelum timbul gejala jaundis, di mana kulit dan bagian mata yang berwarna putih menjadi kuning.

Dalam sekitar 10 persen kasus, anak-anak tersebut memerlukan cangkok hati, dan menurut Pusat Pencegahan dan Pengawasan Penyakit Eropa, 11 anak-anak sudah meninggal.

Kasus-kasus ini dilaporkan sudah muncul di lebih dari 20 negara termasuk Amerika Serikat, Israel, Indonesia dan Jepang.

"Kita belum menemukan adanya kasus di Australia, tentu saja kami mengetahui hal ini dan sudah bersiap-siap," kata Profesor Hardikar.

Apa yang menyebabkan hepatitis misterius ini?

Setelah pihak berwenang gagal menemukan bukti bahwa virus hepatitis yang biasanya yang menyebabkan pembengkakan hati, mereka mulai mencari sebab dari lingkungan atau hal lain yang menyebabkan wabah tersebut.

Sejauh ini menurut pakar masalah virus Ian Mackay, sebabnya belum ditemukan, terutama karena penelitian masih berada di tahap awal.

"Saat ini dugaan utama adalah sesuatu yang bisa menularkan," kata Dr Mackay dari University of Queensland. 

"

"Hal yang paling sulit adalah tidak adanya hubungan epidemiologi antar kasus ini, karena yang terkena tidak berada di tempat yang sama, misalnya dari satu keluarga atau di sekolah yang sama.

"

"Mereka menemukan virus atau bakteri tertentu, yang ada di setiap anak-anak yang terkena itu."

Namun pihak berwenang di Inggris sudah berhasil mengidentifikasi dan mulai memfokuskan diri pada beberapa hal.

"Dugaan utama ini ada hubungannya dengan adenovirus," tulis mereka dalam penjelasan kesehatan terbaru.

"Namun kami masih terus menyelidiki kemungkinan peranan virus COVID dan mencoba melihat apakah adanya komponen racun di dalamnya."

Apa itu adenovirus dan mengapa jadi penyebab?

Adenovirus merujuk pada keluarga besar virus umum yang biasanya menyebabkan gejala seperti flu, demam, sakit perut dan gangguan pada mata.

Virus ini sekarang dianggap sebagai penyebab utama, paling tidak di Inggris, karena 72 persen dari anak-anak yang terkena wabah hepatitis tersebut positif mengidap adenovirus.

Para peneliti Inggris menduga bahwa sebagian anak-anak menjadi rentan terkena infeksi adenovirus selama pandemi COVID, karena dengan adanya 'lockdown', anak-anak itu tidak banyak terekspos pada virus.

Mereka mengatakan "adanya gelombang besar adenovirus yang jarang terjadi" telah menimbulkan "komplikasi yang jarang terjadi sebelumnya".

Tetapi beberapa pakar termasuk Dr Mackay mengatakan menetapkan adenovirus sebagai sebab mungkin sama sekali tidak benar.

"Kebanyakan menduga ini karena adenovirus hanya karena banyaknya sampel positif adenovirus, namun mungkin itu tidak tepat karena adenovirus adalah virus yang memang banyak beredar," kata Dr Mackay.

"Harus diingat bahwa banyak virus yang beredar bahkan selama 'lockdown'."

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penetapan adenovirus sebagai sebab tidak bisa menjelaskan "parahnya gejala klinis pada kasus yang ada".

Analisa lebih lanjut dari setiap kasus menemukan bahwa mereka semua mengidap adenovirus subtipe 41, yang sering menimbulkan gejala seperti diare, muntah-muntah, dan sakit perut, namun tidak menimbulkan kerusakan hati yang parah.

Menurut Professor Hardikar, adenovirus bisa menyebabkan gejala parah pada pasien yang mengalami masalah kekebalan tubuh, namun tidak banyak dikaitkan dengan anak-anak yang sehat.

"Adenovirus tidak pernah dikaitkan sebagai penyebab gagalnya fungsi hati yang parah sehingga susah mencari kaitannya," katanya.

"Kecuali adanya virus yang betul-betul mematikan, besar kemungkinan adanya faktor tambahan seperti respon tubuh yang buruk atau hal lain."

Peneliti mencoba melihat kemungkinan lain termasuk COVID-19

Teori lain yang juga sedang dibahas menurut Professor Hardikar adalah adanya faktor tambahan seperti apakah anak-anak tersebut infeksi virus lain termasuk COVID-19, sehingga membuat mereka mengalami gejala lebih parah.

Sejauh ini hanya ada sedikit kasus di mana anak-anak yang terkena hepatitis tersebut juga positif COVID-19. 

Namun pengetesan lebih lanjut dilakukan untuk melihat seberapa besar antibodi yang dimiliki anak-anak karena COVID dan apakah mereka pernah positif di masa lalu.

Kemungkinan lainnya adalah wabah ini disebabkan oleh virus yang sama sekali baru, atau versi adenovirus yang bermutasi yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Tetapi Dr Mackay mengatakan rendahnya kandungan virus dari sampel yang sudah ada membuat para peneliti belum berhasil melakukan pemetaan keseluruhan virus tersebut.

"Sejauh ini dan mungkin karena analisisnya belum selesai, tidak ada pertanda bahwa ini adalah virus adenovirus yang baru," katanya.

"Namun karena kita belum mendapat data lengkap, kita belum sepenuhnya yakin juga."

Yang sudah jelas adalah tidak ada bukti yang menghubungkan kasus hepatitis ini dengan vaksin COVID-19.

"

"Mayoritas kasus adalah balita, dan mereka terlalu muda untuk mendapatkan vaksin," kata para peneliti.

"

Akankah wabah ini terjadi di Australia?

Melihat kasus ini sudah terjadi di berbagai negara, Dr Mackay memperkirakan kasus ini nanti akan juga ditemukan di Australia.

"Ini sudah terjadi di lebih dari 20 negara, jadi saya akan heran kalau nanti tidak terjadi di sini."

Namun Professor Hardikar menekankan bahwa kasus ini masih termasuk jarang, bahkan di negeri seperti Inggris, dan dokter spesialis sudah berpengalaman menangani kasus hepatitis aneh yang terjadi pada anak-anak.

"Kita sudah mengetahui, namun belum menemukan kasus ini dan sejak tahun lalu, kita belum pernah melakukan pencangkokan hati pada anak-anak," katanya.

Menurut para pakar penting sekali bagi para orang tua untuk mengetahui tanda-tanda hepatitis - terutama jaundis (kulit menjadi kuning), warna air kencing yang hitam, muntah-muntah dan rasa pusing.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Perang Antargeng Berlanjut di Sydney, Korban Tewas Ditembak 10 Kali di Tempat Parkir
Rabu, 29 Juni 2022 - 09:53 WIB
Mantan anggota geng motor Lone Wolf Australia, Yusuf Nazlioglu, tewas setelah ditembak setidaknya 1...
Hasil Sensus 2021: Dalam Hal Jumlah Migran ke Australia, India Ungguli China
Rabu, 29 Juni 2022 - 09:53 WIB
Dipti Ray dan keluarganya pindah secara permanen ke Australia dari India pada tahun 2020. Peremp...
Remaja Australia Kecanduan Nikotin di Tengah Maraknya Pasar Gelap Vape
Rabu, 29 Juni 2022 - 09:53 WIB
Penjualan vape melalui pasar gelap tengah marak di Australia, meski sebenarnya dilarang. Sal...
Hasil Sensus 2021: Jumlah Pemeluk Agama Kristen Menurun di Australia
Rabu, 29 Juni 2022 - 09:53 WIB
Sensus Australia tahun 2021 mengungkapkan bahwa untuk pertama kalinya, tidak sampai setengah warga A...
Pemerintah Australia Akan Mendata Etnis Penduduknya untuk Melengkapi Ukuran Keberagaman Budaya
Selasa, 28 Juni 2022 - 09:57 WIB
Pemerintah Australia mengumumkan akan mengumpulkan data etnis penduduk untuk bisa mengukur keberagam...
Kekurangan Pekerja di Bandara Australia Diperkirakan Akan Berlanjut Sampai Setahun ke Depan
Selasa, 28 Juni 2022 - 09:57 WIB
Anda yang akan bepergian ke dan dari Australia harus bersiap-siap mengalami gangguan perjalanan kar...
Hadiri Pertemuan G7 di Jerman, Presiden Jokowi Membawa Misi Perdamaian bagi Konflik Rusia - Ukraina
Selasa, 28 Juni 2022 - 09:57 WIB
Presiden Joko Widodo telah tiba di Munich,Jerman hari Minggu (26/06) waktu setempat atau Senin (27/...
Penyewa Rumah Semakin Tertekan Akibat Kenaikan Biaya Hidup di Australia
Selasa, 28 Juni 2022 - 09:57 WIB
Untung saja Siobhan Joseph menyukai suhu dingin. Karena selama musim dingin, warga Sydney, Australi...
Sebuah Foto yang Menggemparkan Amerika dan Menjadi Lambang Hak Aborsi
Selasa, 28 Juni 2022 - 09:57 WIB
Di sebuah kamar motel, tubuh seorang perempuan terlihat membungkuk di atas handuk berlumuran darah. ...
Pemerintah Indonesia Deportasi Warga Jepang Terduga Pelaku Penipuan Bantuan COVID-19
Senin, 27 Juni 2022 - 09:34 WIB
Indonesia pada Rabu (22/06) pagi mendeportasi seorang pria Jepang ke Tokyo yang diduga bersama denga...
InfodariAnda (IdA)