Pasien Anak yang Diduga Usus Buntu Meninggal di Melbourne, Orang Tuanya Menuntut Jawaban Rumah Sakit
Elshinta
Kamis, 19 Mei 2022 - 09:09 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pasien Anak yang Diduga Usus Buntu Meninggal di Melbourne, Orang Tuanya Menuntut Jawaban Rumah Sakit
ABC.net.au - Pasien Anak yang Diduga Usus Buntu Meninggal di Melbourne, Orang Tuanya Menuntut Jawaban Rumah Sakit

Ketika Chandra Sekhar Lanka dan Satya Tarapureddi membawa putri mereka Amrita ke Monash's Children Hospital di Melbourne karena menderita sakit perut, mereka tak pernah menduga tragedi yang bakal terjadi 21 jam kemudian.

Amrita Varshini Lanka menderita sakit perut, muntah, dan demam pada 29 April ketika ayahnya membawanya ke dokter umum, yang kemudian merujuk Amrita ke rumah sakit dengan dugaan radang usus buntu.

Setelah dua jam menunggu di ruang UGD (unit gawat darurat), petugas rumah sakit akhirnya melakukan pemindaian pada perut bocah berusia delapan tahun itu.

Staf medis kemudian memberi tahu Satya bahwa apa yang dialami anaknya itu bukan radang usus buntu, dan putrinya kemungkinan menderita gastroenteritis.

Sekitar jam 9 malam, Amrita pun diberi cairan melalui infus tapi menurut orang tuanya, dia "sulit bernafas" tak lama setelah itu.

"Dia bilang, 'Mama, saya susah bernafas, susah bernafas'. Saya langsung menekan tombol bantuan tapi tidak ada orang yang datang," katanya.

"Saya pergi ke meja resepsionis dan melaporkan bahwa saya sudah menunggu 20-25 menit, putri saya mengalami sesak napas. Bisakah seseorang melihatnya," ujar Satya.

"Sekitar 15 menit kemudian, mereka datang dan menyampaikan bahwa perut Amitra kosong — dia tidak makan selama dua hari — jadi itu hal biasa. Katanya tidak perlu khawatir," tambahnya.

Satya menyebut staf rumah sakit menyampaikan bahwa anaknya bisa dipulangkan beberapa jam setelah menerima infus dan diperiksa ulang besok paginya.

Pada pukul 3 pagi keesokan harinya, seorang dokter melakukan tes darah sebagai tanggapan atas keluhan tentang pernapasan Amrita. Itu sudah hampir enam jam setelah keluarganya melapor.

Tiga jam kemudian, pukul 6 pagi, Amrita dipindahkan ke ruang perawatan singkat, dan staf medis tampaknya menyadari bahwa pasien ini sudah dalam kondisi kritis.

"

Tak lama kemudian Amrita mengalami serangan jantung.

"

Ayahnya Chandra yang telah pulang ke rumah bersama kakak Amrita, Venkata, akhirnya bergegas kembali ke rumah sakit setelah mendengar kabar ini.

"Pada saat saya melihat anakku, jantungnya telah berhenti selama dua menit, tapi mereka berhasil menghidupkan degup jantungnya kembali," ujar Chandra.

"Dia sempat bilang, 'Saya ingin bicara dengan Ayah'," katanya.

"Saya menangis. Dia tak menangis. Hanya menatapku. Saya sampaikan, 'Nak, banyak sekali dokter di sini, kamu akan segera sembuh, mereka sedang berusaha'," ujarnya.

Amrita Lanka meninggal pada pukul 10:17 pada Sabtu pagi, sekitar 21 jam setelah dia tiba di RS Monash's Children Hospital, pada akhir April itu.

Mencari jawaban

Orang tua Amrita menyatakan menyambut baik adanya penyelidikan eksternal atas keadaan yang menyebabkan anaknya mengalami serangan jantung.

"Kami ingin kebenarannya terungkap. Jika itu harus melalui penyelidikan eksternal, silakan saja. Tapi pada akhirnya semua orang yang pergi ke rumah sakit seharusnya merasa aman. Kami perlu tahu apa yang terjadi dalam kasus kami," kata Chandra Lanka.

"

Menurut dia, istrinya sampai lima kali memberi tahu petugas rumah sakit malam itu tentang kesulitan bernapas yang dialami Amrita. Tapi selalu ditepis dan diabaikan.

"

"Istri saya menekan tombol untuk meminta bantuan staf. Stafnya datang tapi mereka mengabaikannya dengan dalih 'mungkin karena perutnya kosong'," katanya.

"Jika saja mereka perhatian pada Amrita dan melakukan sesuatu dari jam 9 malam, mungkin keadaanya berbeda. Kami tidak tahu," tambahnya.

"Mungkin hari ini Amrita bisa duduk di sebelahku," tukas Satya.

"Kami ingin jawaban. Apa yang terjadi dengan Amrita," katanya.

Dalam sebuah pernyataan, Monash Health mengatakan telah menghubungi keluarga tersebut untuk memberikan dukungan dan pihaknya juga akan melakukan penyelidikan.

Menteri Kesehatan Negara Bagian Victoria Martin Foley menegaskan meminta Monash Health menyelesaikan tinjauan klinis lengkap.

"Mereka telah merujuk kasus ini ke Safer Care Victoria dan Koroner Victoria, yang merupakan praktik standar ketika seorang pasien meninggal dalam perawatan," katanya.

Setelah kejadian ini, muncul desakan untuk mempermudah  proses bagi pasien yang ingin mendapatkan pendapat kedua (second opinion).

Bercita-cita jadi dokter hewan

Amrita telah dimakamkan akhir pekan lalu. Semasa hidupnya yang singkat itu, dia dikenal sebagai gadis lincah dan cerewet di rumah, tapi pendiam dan pemalu di luar rumah.

Menurut orang tuanya, dia mencintai hewan peliharaan dan bercita-cita menjadi dokter hewan.

Amrita sangat dekat dengan kakaknya, yang kini masih belum sepenuhnya menerima kehilangan adiknya.

"Setelah satu jam dari kematian Amrita, dia tanya saya, 'kapan Amrita akan pulang," kata Chandra Lanka.

"Saat itulah saya menyadari dia tidak mengerti apa itu kematian," katanya.

"Kami dikenal sebagai keluarga bahagia. Tapi sekarang tidak ada lagi kebahagiaan dalam keluarga kami. Kami merasakan kekosongan," tuturnya.

Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News untuk ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pemerintah Australia Akan Mendata Etnis Penduduknya untuk Melengkapi Ukuran Keberagaman Budaya
Selasa, 28 Juni 2022 - 09:57 WIB
Pemerintah Australia mengumumkan akan mengumpulkan data etnis penduduk untuk bisa mengukur keberagam...
Kekurangan Pekerja di Bandara Australia Diperkirakan Akan Berlanjut Sampai Setahun ke Depan
Selasa, 28 Juni 2022 - 09:57 WIB
Anda yang akan bepergian ke dan dari Australia harus bersiap-siap mengalami gangguan perjalanan kar...
Hadiri Pertemuan G7 di Jerman, Presiden Jokowi Membawa Misi Perdamaian bagi Konflik Rusia - Ukraina
Selasa, 28 Juni 2022 - 09:57 WIB
Presiden Joko Widodo telah tiba di Munich,Jerman hari Minggu (26/06) waktu setempat atau Senin (27/...
Penyewa Rumah Semakin Tertekan Akibat Kenaikan Biaya Hidup di Australia
Selasa, 28 Juni 2022 - 09:57 WIB
Untung saja Siobhan Joseph menyukai suhu dingin. Karena selama musim dingin, warga Sydney, Australi...
Sebuah Foto yang Menggemparkan Amerika dan Menjadi Lambang Hak Aborsi
Selasa, 28 Juni 2022 - 09:57 WIB
Di sebuah kamar motel, tubuh seorang perempuan terlihat membungkuk di atas handuk berlumuran darah. ...
Pemerintah Indonesia Deportasi Warga Jepang Terduga Pelaku Penipuan Bantuan COVID-19
Senin, 27 Juni 2022 - 09:34 WIB
Indonesia pada Rabu (22/06) pagi mendeportasi seorang pria Jepang ke Tokyo yang diduga bersama denga...
Umat Islam di Australia Terpukul dengan Melonjaknya Ongkos Naik Haji dan Sistem Undian Haji
Senin, 27 Juni 2022 - 09:34 WIB
Menjelang pelaksanaan ibadah haji 2022, Pemerintah Arab Saudi mengambil langkah mengejutkan dengan m...
Amerika Serikat Mulai Terapkan Larangan Impor Barang dari Xinjiang karena Pelanggaran HAM
Senin, 27 Juni 2022 - 09:34 WIB
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengatakan larangan impor barang produksi dari wi...
Melbourne Turun Peringkat ke Urutan 10, Wina Menjadi Kota Paling Layak Huni 2022
Senin, 27 Juni 2022 - 09:34 WIB
Peringkat kota-kota di Australia telah anjlok sebagai Kota Paling Layak Huni 2022, sebagian besar di...
Pemerintah Taliban Memohon Bantuan Setelah Afghanistan Dilanda Gempa yang Menewaskan 1.000 Orang Lebih
Senin, 27 Juni 2022 - 09:34 WIB
Badan-badan bantuan telah mengirimkan bantuan ke wilayah timur Afghanistan setelah gempa bumi berkek...
InfodariAnda (IdA)