Pelampung Raksasa Jadi Alat Menjaring Sampah Plastik Di Samudera Pasifik
Kamis, 13 September 2018 - 08:24 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
ABC.net.au - Pelampung Raksasa Jadi Alat Menjaring Sampah Plastik Di Samudera Pasifik

Sejumlah insinyur melakukan perjalanan menuju lautan untuk menyebarkan perangkat pengumpulan sampah plastik yang terapung antara California dan Hawaii dalam upaya membersihkan pusat konsentrasi sampah terbesar di dunia di jantung Samudra Pasifik.

Perangkat berbentuk pelampung apung sepanjang 600 meter itu diderek dari San Francisco, Amerika Serikat (AS) menuju ke Great Pacific Garbage Patch - sebuah pulau sampah berukuran hampir seluas Queensland.

Sistem ini diciptakan oleh The Ocean Cleanup, sebuah organisasi yang didirikan oleh Boyan Slat, seorang inovator berusia 24 tahun dari Belanda.

Boyan Slat pertama kali tertarik dengan upaya membersihkan lautan ketika dia pergi menyelam scuba di Laut Mediterania ketika berusia 16 tahun, dan melihat lebih banyak kantong plastik daripada ikan.

"Plastik itu benar-benar sangat tahan lama. mereka tidak hilang dengan sendirinya dan waktunya untuk melakukan sesuatu adalah sekarang," kata Slat.

Menurutnya para peneliti yang bekerja dengan organisasinya telah menemukan plastik yang berasal dari tahun 1960-an dan 1970-an terombang-ambing di kawasan konsentrasi sampah dunia di lautan itu.

Pelampung berbentuk U yang terbuat dari plastik dengan sisi runcing mengarah ke dalam lautan sedalam 3 meter itu dirancang untuk bertindak seperti garis pantai dan menjebak sebagian dari 1,8 triliun potongan plastik yang diperkirakan terapung di tempat sampah tersebut, tetapi memungkinkan kehidupan laut untuk tetap bisa berenang dengan aman di bawahnya.

Dilengkapi dengan lampu, kamera, sensor dan antena satelit yang seluruhnya menggunakan tenaga matahari, sistem pembersihan ini akan mengkomunikasikan posisinya setiap saat.

Menurut Boyan Slat sistem ini memungkinkan kapal pendukung untuk mengambil plastik-plastik yang berhasil dikumpulkannya setiap beberapa bulan dan membawanya ke daratan dimana sampah itu akan didaur ulang.

Meski demikian kapal pengiriman yang berisi jaring ikan, botol plastik, keranjang binatu dan sampah plastik lainnya yang diambil oleh sistem itu diperkirakan akan kembali ke darat dalam setahun, katanya.

Skala penjaringan akan ditingkatkan

Boyan Slat mengatakan dia dan timnya akan memperhatikan dengan seksama apakah sistem ini bekerja secara efisien dan mampu bertahan pada kondisi laut yang keras, termasuk gelombang besar.

Menurutnya menantikan kapal yang penuh dengan plastik yang kembali ke pelabuhan adalah hal yang paling dinantikannya.

"Kami masih harus membuktikan teknologi ini ... yang kemudian akan memungkinkan kami untuk meningkatkan armada dalam sistem ini," katanya.

The Ocean Cleanup, yang telah mengumpulkan donasi sebesar $ 35 juta untuk mendanai proyek ini, termasuk dari CEO Salesforce.com, Marc Benioff dan pendiri PayPal Peter Thiel, akan menyebarkan 60 rintangan yang mengambang bebas di Samudera Pasifik pada tahun 2020.

"Salah satu tujuan kami adalah menghilang hingga 50 persen kawasan pusat konsentrasi sampah plastik dunia di lautan atau dari Great Pacific Garbage Patch dalam lima tahun," kata Slat.

Perangkat penghambat sampah plastik yang akan mengapung bebas ini dibuat untuk mampu bertahan dalam kondisi cuaca yang keras dan pemakaian yang konstan dan anti sobek.

Alat ini akan dibiarkan terapung di air selama dua dekade dan pada saat itu akan mengumpulkan 90 persen dari sampah di patch, tambahnya.

Kepala ilmuwan di kelompok advokasi lingkungan Ocean Conservancy, George Leonard, mengatakan dia skeptis alat milik Boyan Slat bisa mencapai tujuan karena bahkan jika sampah plastik bisa dibawa keluar dari laut, lebih banyak yang akan dibuang ke laut dalam setiap tahun.

"Kami di Ocean Conservancy sangat skeptis tetapi kami berharap alat itu berhasil," katanya.

"Laut membutuhkan semua bantuan yang bisa didapat."

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris disini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:40 WIB
Operator ekspedisi pendakian gunung prihatin dengan jumlah jasad pendaki yang terekspos di Gunung Ev...
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:40 WIB
Presiden Joko Widodo telah meresmikan transportasi publik Moda Raya Terpadu atau MRT Jakarta fase pe...
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:40 WIB
Partai Phalang Pracharat, yang menjagokan Jenderal Prayuth Chan-ocha sebagai perdana menteri, meraih...
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:40 WIB
Seorang bayi laki-laki berusia lima bulan meninggal dunia setelah disunat atau dikhitan oleh orang t...
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:40 WIB
Kampanye terbuka, yang mulai digelar hari Minggu (24/03) hingga tiga minggu ke depan, dinilai kurang...
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:40 WIB
Presiden Donald Trump tidak berkonspirasi dengan Rusia dalam pemilihan umum 2016 lalu, sebut ringkas...
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:40 WIB
Awal pekan lalu, rakyat Kazakhstan memiliki seorang presiden bernama Nursultan, yang memerintah dari...
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:40 WIB
Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini pada The music played to drown out a war di BBC ...
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:40 WIB
Superadobe adalah bangunan dari tanah, ekonomis dan membuat rumah tetap sejuk. Terutama, rumah juga ...
Selasa, 26 Maret 2019 - 12:40 WIB
Maskapai penerbangan Garuda Indonesia memutuskan membatalkan pesanan 49 unit Boeing 737 Max 8 setela...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)