Harga Selada Meroket di Australia? Ternyata Harga Kebutuhan Pokok di Negara Lain Juga Meningkat Tajam
Elshinta
Selasa, 21 Juni 2022 - 15:13 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Harga Selada Meroket di Australia? Ternyata Harga Kebutuhan Pokok di Negara Lain Juga Meningkat Tajam
ABC.net.au - Harga Selada Meroket di Australia? Ternyata Harga Kebutuhan Pokok di Negara Lain Juga Meningkat Tajam

Di Australia harga selada menjadi bahan perbincangan, karena naik tajam. Namun ternyata di negara-negara lain harga kebutuhan pokok sehari-hari juga melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Kenaikan harga ini sekarang disebut-sebut sebagai fenomena global dan beberapa pengamat ekonomi mengatakan kenaikan harga masih akan berlanjut.

Berikut ini dampak kenaikan harga di beberapa kota yang selama ini sudah menjadi kota-kota termahal di dunia.

Hidup di hotel di Hong Kong

Di Hong Kong, Yifan Jin memilih tinggal di hotel di dekat tempat kerjanya dibandingkan menyewa apartemen.

Perempuan berusia 26 tahun tersebut membayar sekitar HK$12 ribu (sekitar Rp22 juta) per bulan untuk tinggal di hotel tersebut, biaya yang sama mungkin tidak akan membuatnya bisa menyewa apartemen yang lumayan nyaman.

"

"Untuk HK$12 ribu, saya mungkin akan mendapat apartemen di gedung tua, dengan toilet yang rusak, kaca jendela yang tipis, dan berbagai persoalan lain," kata Jin kepada ABC.

"

Jin menggambarkan dirinya sendiri sebagai 'pengelana di Hong Kong', istilah bagi mereka yang lahir di daratan China namun tinggal di Hong Kong.

Dia mengatakan kebanyakan mereka yang seperti dirinya menghabiskan 30 persen dari gaji untuk sewa tempat tinggal, yang membuat hidup lebih susah sekarang ini karena kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Setelah membayar sewa, makanan dan kebutuhan lain, tidak ada lagi yang tersisa katanya.

Hong Kong adalah salah satu kota termahal menurut lembaga ECA International untuk tahun 2022.

Lembaga itu membuat peringkat tahunan mengenai harga-harga kebutuhan pokok, sewa, transportasi publik dan kekuatan mata uang setempat.

Laporan itu memuat 207 kota di 120 negara, dengan fokus pada pekerja asing yang berada di masing-masing kota.

Meski Hong Kong tidak terlalu terpengaruh oleh meningkatnya inflasi global saat ini dibandingkan kota lain, namun kenaikan harga sejauh ini di sana juga lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, kata laporan tersebut.

Laporan menyebutkan harga secangkir kopi adalah sekitar Rp70 ribu, dan satu kilogram tomat hampir Rp17 ribu.

Anna Michielsen manajer umum ECA untuk kawasan Australia, Selandia Baru dan Pasifik mengatakan dia terkejut dengan tingginya harga kebutuhan hidup sehari-hari.

"

"Kami terkejut dengan cepatnya kenaikan inflasi di berbagai kota di dunia," kata Michielsen.

"

"Jadi kenaikan harga ini bukan terjadi di Australia saja."

Tidak ada satu kota pun di Australia yang masuk dalam 10 kota termahal di dunia, tetapi masuk dalam 100 kota termahal.

Sydney menjadi kota termahal di Australia dan berada di peringkat 39.

Sisa dari lockdown COVID masih terasa di Shanghai

Lima dari 10 kota termahal di dunia menurut laporan ECA berada di Asia, dengan Shanghai berada di peringkat ke-8.

Jerry Jiang mulai merasakan kenaikan harga makanan sejak dua bulan lalu ketika China menerapkan lockdown ketat  COVID di kota kedua terbesar di China tersebut.

"

"Bulan April, Shanghai menghadapi kekurangan pasokan di awal lockdown, sehingga harga melonjak tajam," katanya.

"

"Semuanya bertambah mahal seperti makan di luar, potong rambut, sewa rumah, BBM dan yang lain."

Harga tomat naik dua kali lipat dibandingkan setahun lalu.

Jiang sekarang ini masih menjalani lockdown sehingga dia harus membeli kebutuhan lewat online, yang lebih mahal dibandingkan belanja sendiri ke pasar.

Pandemi dan perang adalah kombinasi yang buruk

Katrina Ell ekonom senior di Moody's Analytics mengatakan pandemi adalah hal pertama yang menyebabkan kenaikan, namun kemudian invasi Rusia ke Ukraina menciptakan keadaan yang "tidak diinginkan semua pihak."

"

"Di saat pandemi mulai mereda, invasi Rusia ke Ukraina menciptakan kesulitan baru dan mendorong inflasi ke tingkat yang tidak pernah diduga sebelumnya," kata Eli kepada ABC.

"

"Kenaikan yang kita lihat sekarang ini seperti badai karena didorong berbagai faktor yang sekarang menjadi fenomena global.'

Perang telah menyebabkan kenaikan harga makanan dan energi karena baik Rusia dan Ukraina adalah pemasok penting komoditas tersebut.

"Ukraina adalah pemasok penting pupuk, gandum dan  bahan makanan lain yang krusial. Jadi itu yang menyebabkan kenaikan harga," kata Eli.

Berbagai kota di Asia terkena dampak besar karena ketergantungan mereka pada impor makanan dan energi.

"Di Asia, ada perkembangan dinamis yang terjadi," kata Eli.

"Di tempat seperti Singapura mereka mengimpor hampir semua kebutuhan makanan, jadi sangat terpengaruh pada harga global."

Beberapa negara, kata Eli, kemudian juga membatasi ekspor mereka untuk mempertahankan harga di dalam negeri supaya tidak melambung, dan itu berpengaruh ke negara lainnya.

Harga sayuran di Seoul sangat mahal

Alexander Ponting, seorang guru bahasa Inggris pindah ke Korea Selatan tahun lalu, merasa bersyukur bahwa biaya transportasi umum dan kopi sangat murah di sana.

Namun, dia masih tidak terbiasa dengan harga makanan yang mahal di  Seoul, yang ada di peringkat ke-10 kota termahal di dunia.

"Buah-buahan dan sayuran mahalnya gila-gilaan," kata Ponting.

"

"Di Inggris harga sekantong bayam sekitar Rp12 ribu, namun di sini harganya sekitar Rp52 ribu."

"

Satu kantong apel di Inggris harganya Rp17 ribu, namun di Seoul harganya sekitar Rp80-90 ribu.

Di Tel Aviv, 'semua orang khawatir'

Di ibu kota Israel, Tel Aviv, harga sayuran dan buah-buahan juga sudah meningkat hampir dua kali lipat.

"Banyak makanan di Israel bahan utamanya adalah sayuran sehingga kenaikan sangat terasa," kata warga Tel Aviv, Ronnie Brodetzky, kepada ABC.

Selada yang biasanya sekitar Rp16 ribu, sekarang katanya naik menjadi Rp30 ribu.

"Tomat sekarang harganya sekitar Rp40 ribu [per kilo], padahal biasanya cuma Rp24 ribu. Semuanya sekarang lebih mahal."

Tel Aviv berada di peringkat ke-6 kota termahal di dunia menurut ECA, namun laporan lain oleh Economist Intelligence Unit menempatkan Tel Aviv sebagai kota nomor 1 termahal di dunia.

Ronnie Brodetzky mengatakan meningkatnya harga menjadi bahan pembicaraan sehari-hari di sana.

"Saya merasakan adanya ketegangan, semua orang di Israel merasakan itu," katanya.

"

"Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi dengan begitu banyak kekacauan di dunia saat ini."

"

Kapan inflasi akan turun lagi?

Sejumlah faktor akan menentukan seberapa lama kenaikan harga ini akan berlangsung sebelum kemudian stabil atau menurun, tetapi konflik di Ukraina akan memainkan peran penting.

"

"Karena invasi Rusia sudah menyebabkan perubahan besar terhadap harga energi dan makanan, maka bila situasi memburuk di sana, tingkat inflasi di seluruh dunia juga akan memburuk," kata Katrina Eli, ekonom senior dari Moody's.

"

"Perkiraan kami saat ini adalah inflasi akan mencapai puncaknya di sekitar kuartal kedua atau ketiga tahun ini dan kemudian turun perlahan." 

Dia memperkirakan tingkat inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan bank sentral di seluruh dunia tersebut akan terus berlangsung di tahun 2023.

"Karena itu, kita akan melihat bank sentral akan menaikkan tingkat suku bunga dan karenanya suku bunga pinjaman juga akan naik."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Populasi India Diprediksi akan Lampaui China, Menjadikannya Negara Terpadat di Dunia 2023
Kamis, 14 Juli 2022 - 09:09 WIB
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, populasi India akan melampaui China pada 202...
Terkait Manuver China di Pasifik, Menhan Australia Peringatkan Koalisi AS-Australia Tidak Bisa Tinggal Diam
Kamis, 14 Juli 2022 - 09:09 WIB
Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, menyerukan kerja sama yang lebih erat dengan Amerika S...
Kisruh Dugaan Penyelewengan Dana ACT, Ini Tanggapan Pengelola Dana Kompensasi Korban Boeing
Kamis, 14 Juli 2022 - 09:09 WIB
Senin dan Selasa kemarin (12/07) Bareskrim Polri telah memeriksa mantan pemimpin organisasi filant...
Kapal Selam Nuklir China Terus Membuntuti Kapal Perang Australia karena Dituding Memasuki Wilayahnya
Kamis, 14 Juli 2022 - 09:09 WIB
Departemen Pertahanan Australia menolak untuk menjelaskan pertemuan kapal perangnya dengan pihak m...
Twitter Gugat Elon Musk, Menuntutnya Bertanggung Jawab Menyelesaikan Perjanjian Akuisisi
Kamis, 14 Juli 2022 - 09:09 WIB
Twitter telah menggugat Elon Musk dengan tuntutan agar bertanggung jawab menyelesaikan akuisisi per...
Presiden Sri Lanka Melarikan Diri Bersama Istrinya ke Maladewa
Kamis, 14 Juli 2022 - 09:09 WIB
Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, telah meninggalkan negara itu tak lama setelah pengunjuk ras...
Presiden Jokowi Akhiri Rangkaian Lawatan, Fokus pada Krisis Pangan dan Misi Perdamaian Rusia-Ukraina
Selasa, 12 Juli 2022 - 11:02 WIB
Presiden Indonesia Joko Widodo mengakhiri perjalanannya ke Ukraina dan Rusia, mendorong pemulihan k...
Kota Leeton di Pedalaman Australia Membuka Diri untuk Pendatang dan Pencari Suaka
Selasa, 12 Juli 2022 - 11:02 WIB
Ketika ayah Ali Mehdi, seorang migran asal Pakistan, meninggal pada tahun 2017, dia mulai mencari ne...
Tiga Orang Tewas dalam Penembakan di Pusat Perbelanjaan di Denmark
Selasa, 12 Juli 2022 - 11:02 WIB
Perdana Menteri Denmark mengatakan penembakan di sebuah pusat perbelanjaan di Kopenhagen adalah &quo...
Warga Migran Berpikir untuk Meninggalkan Australia Karena Kenaikan Biaya Hidup
Selasa, 12 Juli 2022 - 11:02 WIB
Kenaikan harga kebutuhan di Australia telah membuat para migran berpikir dua kali tentang apakah mas...

InfodariAnda (IdA)