Jumat, 19 Oktober 2018 | 00:06 WIB

Daftar | Login

MacroAd

Berita Mitra

Terumbu Karang Terancam Jika Listrik Dari Batubara Tak Berkurang

Kamis, 11 Oktober 2018 - 09:23 WIB   
ABC.net.au - Terumbu Karang Terancam Jika Listrik Dari Batubara Tak Berkurang
ABC.net.au - Terumbu Karang Terancam Jika Listrik Dari Batubara Tak Berkurang

Dewan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (IPCC) memeringatkan Australia dan seluruh dunia untuk benar-benar menghilangkan penggunaan batubara untuk listrik dalam 22 tahun mendatang jika ingin menyelamatkan terumbu karang di wilayah Great Barrier Reef, Queensland.

Poin kunci:

• Laporan Dewan Iklim PBB memeringatkan, polusi gas rumah kaca harus mencapai nol sekitar tahun 2050 untuk menghentikan pemanasan global sebesar 1,5 derajat Celsius
• Terumbu karang 1,5C diperkirakan menurun 70 persen hingga 90 persen, kata laporan itu
• Para ahli mengatakan listrik bersumber batubara harus turun menjadi0 hingga 2 persen dari penggunaan yang ada saat ini

Dalam sebuah laporan yang ditulis oleh lebih dari 90 ilmuwan, dan yang menyertakan ribuan potongan penelitian iklim, IPCC mengatakan emisi global polusi gas rumah kaca harus mencapai nol sekitar tahun 2050 untuk menghentikan pemanasan global di tingkat 1,5 derajat Celcius.

Pada tingkat saat ini, mereka mengatakan 1.5C akan tembus pada awal tahun 2040, dan 2C akan tembus pada tahun 2060-an.

Jika itu terjadi, suhu di banyak wilayah daratan akan meningkat dua kali lipat dari jumlah itu. Dan pada pemanasan 2C, para ahli mengatakan bahwa dunia akan berisiko mencapai "titik kritis", yang membawa dunia masuk ke dalam suhu yang tak terkendali.

Dengan dunia yang sudah lebih hangat 1 derajat Celcius dari masa pra-industri, para ahli mengatakan laporan ini -yang dirilis oleh IPCC di Incheon, Korea -kemungkinan merupakan peringatan terakhir sebelum segalanya menjadi tidak mungkin untuk tetap berada di suhu 1.5C.

"Kita tak berada di jalur yang tepat, kita saat ini sedang menuju pemanasan dengan tingkat sekitar 3 hingga 4 derajat di tahun 2100," lapor salah seorang contributor dari Universitas Nasional Australia (ANU), Profesor Mark Howden.

"Untuk membatasi perubahan suhu hingga 1,5 derajat kita harus sangat mengurangi emisi karbon dioksida. Mereka harus turun sekitar 45 persen pada tahun 2030 dan mereka harus mencapai nol pada tahun 2050."

"Secara global, batubara harus turun antara 0 dan 2 persen dari penggunaan yang ada."

Terumbu karang diperkirakan akan menurun 70 hingga 90 persen lagi di bawah 1,5C, tetapi meningkat menjadi lebih dari 99 persen hilangnya terumbu saat suhu naik mencapai 2C.

Di Australia, itu berarti sebagian besar dari terumbu karang di Great Barrier Reef, Queensland, akan mengalami pergolakan atau keruntuhan yang signifikan.

Dikombinasikan dengan peningkatan pengasaman laut karena konsentrasi karbon dioksida yang lebih tinggi, hal itu diperkirakan sangat memengaruhi stok dan keragaman ikan.

Kenaikan 2C berarti tiga kali lebih banyak dari ekosistem terestrial bumi akan mengalami transformasi dibandingkan dengan kenaikan 1,5C, secara signifikan meningkatkan kepunahan spesies.

Manusia modern belum pernah melihat Arktik yang bebas es, tetapi pada tingkat 2C, hal itu akan terjadi sekali dalam satu dekade, dibandingkan dengan satu abad sekali di tingkat 1.5C.

Kenaikan 2C akan berarti tambahan 10 sentimeter dari kenaikan permukaan laut pada akhir abad ini, memengaruhi 10 juta orang tambahan. Dan itu akan menggandakan jumlah orang yang mengalami kelangkaan air.

Dan kita akan dilanda peristiwa cuaca panas yang lebih ekstrem, lebih banyak banjir, dan lebih banyak kekeringan di negara manapun.

Kejadian-kejadian ekstrem itu akan "jauh lebih buruk" karena peningkatan suhu melampaui 1.5C, menurut Will Steffen dari Institut Perubahan Iklim ANU.

"Hilangnya hutan Amazon, mencairnya lapisan es, mencairnya es di Antartika Barat dan Greenland, mereka jauh lebih berisiko pada tingkat 2 derajat ketimbang 1,5," kata Profesor Steffen.

"Mereka bisa mengarah ke fenomena jungkir balik di mana sistem akan menjadi lebih panas dan lebih panas bahkan jika kita menurunkan emisi kita."

Penggunaan batubara harus turun

Pada tahun 2015, hampir setiap negara setuju untuk menghentikan pemanasan global tepat di bawah 2 derajat Celcius (2C), di bawah Perjanjian Paris, dan mencoba untuk membatasi hanya menjadi 1,5C.

Tetapi 1.5C adalah rata-rata global, yang dibasahi oleh suhu lautan dan tidak mewakili daerah ekstrem, menurut laporan kontributor Jatin Kala dari Murdoch University.

"Bahkan beberapa pemimpin dunia tampaknya berpikir bahwa 1,5 derajat adalah angka yang kecil, mengapa kita peduli?" kata Dr Kala.

"Pemanasan di atas tanah berada pada tingkat yang lebih tinggi. Kami peduli karena ketika rata-rata global 1,5 derajat lebih hangat, itu berarti bahwa beberapa wilayah di dunia memanas pada besaran yang jauh lebih tinggi - mereka akan jauh lebih hangat dari 1,5."

Untuk membatasi pemanasan hingga 1.5C, perlu ada "perubahan mendalam dalam semua kehidupan masyarakat", menurut Profesor Howden.

"Itu benar-benar membutuhkan transformasi besar dalam banyak kehidupan masyarakat dan untuk melakukan transisi itu, 10 tahun ke depan sangat penting," kata Profesor Howden.

"Listrik harus dipasok oleh energi terbarukan secara global dengan sekitar 70 hingga 85 persen dari pasokan listrik."

"Batubara harus turun menjadi 0 dan 2 persen dari penggunaan yang ada, dan gas turun menjadi sekitar 8 persen dari penggunaan yang ada, dan hanya jika ada penangkapan dan penyimpanan karbon dioksida yang terkait."

Meskipun energi terbarukan seperti matahari dan angin dengan cepat memengaruhi sistem energi di seluruh dunia, pengangkutan, penerbangan, pelayaran dan industri tertinggal di belakang dalam pengurangan emisi.

Pengolahan LNG (gas cair) memberikan kontribusi emisi gas rumah kaca yang signifikan dan penyerapan karbon "hampir tidak terjadi", menurut kontributor Peter Newman dari Curtin University.

Tetapi Profesor Newman mengatakan ada beberapa gerakan ke arah yang benar.

"Kendaraan listrik dengan cepat muncul di seluruh dunia," katanya.

"[Di Australia], sistem industri tidak baik, tetapi sistem pertanahan merupakan pertanda baik. Ada penghijauan lanskap yang signifikan."

Tak ada jalan mudah

Ada batas jumlah karbon yang dapat kita pompa ke atmosfer, setelah itu titik yang membatasi kenaikan suhu hingga 1,5C menjadi tidak mungkin.

Para peneliti mengatakan, pada tingkat emisi saat ini, dunia akan mencapai titik itu antara 10 dan 14 tahun dari sekarang.

Melebihi indikator itu berarti satu-satunya pilihan kita adalah menggunakan teknologi penghilangan karbon "eksperimental dan belum teruji".

Teknologi ini belum terbukti dalam skala besar, dan para kritikus mengatakan mereka telah terbiasa dengan teori ajaib dari bahan bakar..

"Tidak ada cara mudah untuk melakukan ini," kata Associate Professor Bronwyn Hayward dari University of Canterbury.

"Jika kita tidak melakukan pemotongan yang sangat sulit dan belum pernah terjadi sebelumnya ini, ada lebih sedikit pilihan untuk pembangunan berkelanjutan."

"Kita akan dipaksa untuk lebih mengandalkan bentuk-bentuk penghapusan karbon yang belum terbukti, berisiko dan secara sosial berpotensi tidak diinginkan."

Menteri Lingkungan Hidup Australia, Melissa Price, merilis pernyataan dalam menanggapi laporan tersebut, di mana ia mengatakan bahwa Pemerintah Australia "sangat prihatin" atas implikasi terhadap terumbu karang.

"Lebih dari sebelumnya, laporan ini menunjukkan perlunya investasi $ 444 juta (atau setara Rp 4,44 triliun) dari Pemerintahan Morrison untuk pengelolaan Great Barrier Reef," kata Menteri Price.

"Sementara Australia hanya menyumbang sekitar 1 persen dari emisi global, kami akan mewujudkan komitmen kami untuk mengurangi emisi sebesar 26 hingga 28 persen dari tingkat 2005 pada tahun 2030."

Partai Buruh Australia telah bersumpah untuk mengambil kembali dana Yayasan Great Barrier Reef senilai $ 444 juta (atau setara Rp 4,44 triliun) - yang diberikan tanpa proses tender kompetitif dan tanpa pengajuan permintaan -jika memenangkan Pemilu federal berikutnya.

Pernyataan Menteri Price juga mengatakan bahwa intensitas emisi Australia berada pada level terendah selama 28 tahun. Tetapi menurut data Pemerintah sendiri, emisi keseluruhan Australia telah meningkat selama 3 tahun berturut-turut.

Pemerintah Australia dikritik karena menyimpan data itu selama hampir dua bulan, sebelum merilisnya pada Jumat (5/10/2018) sore, pada malam grand final footy dan akhir pekan yang panjang.

Berbicara di radio sebelum merilis laporan IPCC Senin (8/10/2018) pagi, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengulangi klaim sebelumnya bahwa ia membuat Australia memenuhi target pengurangan emisi sebesar 26 hingga 28 persen.

Ia mengatakan bahwa Australia akan tetap menjadi penandatangan perjanjian Paris, meskipun ada tekanan dari dalam partainya sendiri untuk menarik Australia keluar.

"Saya rasa tidak banyak yang bisa diperoleh dari mencabutnya, itu tidak akan memengaruhi harga listrik, [Menteri Energi] Angus Taylor sudah memberitahu anda soal itu."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
elshinta.com
Pembangunan | 18 September 2018 - 12:49

Akses menuju tol Pekalongan masuk tahap penyempurnaan

Aktual Dalam Negeri | 14 Oktober 2018 - 19:27

Pihak keluarga memakamkan narapidana terorisme di Surabaya

Asian Games 2018 | 28 Agustus 2018 - 17:23

Peraih medali emas dapat bonus uang Rp1,5 miliar, ini jatah pelatih

Aktual Dalam Negeri | 22 Juli 2018 - 12:25

Arab Saudi kirim 17.000 domba kurban ke Indonesia

Komentar

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
elshinta.com

FOLLOW US:

© 2018 All Right Reserved. Elshinta.com