Kisah perempuan yang memutuskan menikah dengan Yesus Kristus
Senin, 17 Desember 2018 - 08:32 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
BBC Indonesia - Kisah perempuan yang memutuskan menikah dengan Yesus Kristus
Upacara Jessica Hayes
Today’s Catholic/Joe Romie
Upacara di gereja yang memasukkan Jessica Hayes sebagai anggota perawan yang disucikan.

Penampilan Jessica Hayes seperti pengantin pada umumnya, mengenakan gaun berwarna putih. Yang berbeda adalah saat upacara pernikahan dilangsungkan di gereja, tak tampak pengantin laki-laki.

Ini karena, dalam upacara ini, Hayes menikah dengan Yesus Kristus.

Saat mengucapkan ikrar, ia berjanji untuk tidak akan pernah menjalin hubungan cinta dengan orang lain sepanjang hidupnya.

Dalam agama Katolik, Hayes dikenal dengan "perawan yang disucikan".

Tak seperti biarawati, perempuan-perempuan yang disucikan tidak tinggal di komunitas tertutup. Mereka juga tidak mengenakan pakaian khusus.

Mereka seperti orang kebanyakan, punya pekerjaan dan hidup normal.

"Profesi saya adalah guru, saya telah menekuninya selama 18 tahun," ungkap Hayes yang tinggal di Fort Wayne, Indiana, Amerika Serikat.

Ketika tak mengajar, ia mendedikasikan waktunya untuk kegiatan agama.

"Rumah saya tak jauh dari gereja. Saya membantu keluarga dan teman. Saya selalu sisihkan waktu untuk Tuhan," katanya.

Komitmen abadi

Baik di dalam maupun di luar Katolik, tak banyak yang mengenal konsep perawan yang disucikan seperti Hayes karena baru diatur secara terperinci oleh otoritas Gereja Katolik sekitar 50 tahun yang lalu.

Padahal, perempuan yang menjalani fungsi tersebut sudah ada sejak awal kelahiran agama ini.

Jessica Hayes
Todays Catholic/Joe Romie
Salah satu prosesi upacara. Hayes berbaring dengan wajah ke lantai, melambangkan penyerahan diri kepada Tuhan.

Pada tiga abad pertama Setelah Masehi, banyak yang meninggal sebagai martir, meninggal dunia ketika kukuh memegang keyakinan terhadap Tuhan.

Salah satunya adalah Santa Agnes dari Roma, yang dikisahkan menolak menikah dengan gubernur kota itu karena lebih memilih mendedikasikan waktunya untuk Tuhan.

Praktik ini menurun di abad pertengahan seiring dengan popularitas biara dan biarawati.

Pada 1971, Gereja Katolik mengeluarkan dokumen yang mengakui perempuan-perempuan yang secara sukarela menyisihkan waktu untuk agama dan Tuhan.

Hayes mengakui tadinya tak pernah terpikir untuk menjadi perawan yang disucikan dan menikah dengan Yesus Kristus.

Keinginan itu datang saat ia bertemu dengan penasehat spiritualnya.

"Dari sini, menjadi sangat jelas bahwa Tuhan menginginkan saya untuk menjalani hidup sebagai pasangan-Nya," kata Hayes.

Keputusan itu ia ambil pada 2013 dan dua tahun kemudian ia menjalani upacara untuk menjadi perawan yang disucikan.

Saat mengikuti upacara, ia antara lain berbaring di depan altar.

Ia menggambarkan gestur ini sebagai simbol keinginan menghadiahkan diri ke Tuhan dan ia menerima Tuhan. Ia menyebutnya sebagai komitmen abadi.

Hayes adalah satu dari 254 pengantin Yesus di Amerika, menurut data yang dikumpulkan American Association of Consecrated Virgins (USACV).

Mereka berasal dari beragam profesi, mulai dari perawat, psikolog, akuntan, pengusaha, hingga anggota pemadam kebakaran.

Di seluruh dunia, jumlahnya setidaknya 4.000 perawan yang disucikan menurut survei pada 2015.

Vatikan mengatakan ada peningkatan tajam untuk menjadi perawan yang disucikan di berbagai tempat di dunia.

Lebih dari 1.200 di antaranya tinggal di Prancis dan Italia.

Selebihnya berasal dari AS, Meksiko, Rumania, Polandia, Spanyol, Jerman, Argentina, dan beberapa negara lain.

Hayes mengatakan sebelum memutuskan untuk menjadi anggota ordo perawan yang disucikan, ia menjalin hubungan asmara, tapi tak pernah merasakan kepuasaan batin.

Jessica Hayes
Today’s Catholic/Joe Romie
Upacara pernikahan Hayes dengan Yesus dihadiri oleh anggota keluarga, kawan, dan murid-muridnya.

"Saya kencan ... tapi tak serius. Saya kencan dengan orang baik-baik," katanya.

Ia mengatakan tak satu pun dari orang-orang yang ia ajak kencan ini ia anggap cocok untuk menjadi pasangan hidupnya.

Menurutnya, yang paling sulit dari pilihannya ini adalah "kesalahpahaman" di masyarakat.

"Pilihan kami dianggap anti terhadap budaya," kata Hayes.

"Saya sering mendapat komentar seperti Oh, kamu seperti layang ya. Saya harus menjelaskan bahwa hubungan saya yang utama adalah dengan Tuhan saya. Saya menyerahkan fisik saya kepada Tuhan...," katanya.

Apakah memang harus perawan?

Juli lalu, Vatikan mengeluarkan panduan yang mendapat tanggapan beragam di kalangan komunitas perawan yang disucikan.

Perdebatan yang muncul lektika itu, di antaranya adalah, apakah perempuan yang menjadi anggota komunitas harus perawan secara fisik.

"Ecclesiae Sponsae Imago
BBC
"Ecclesia Sponsae Imago", panduan Vatikan tentang perawan yang disucikan.

Tak seperti biarawati, yang memang berikrar untuk selibat, pengantin Yesus ini tidak diharuskan untuk menjadi perawan selamanya.

Menanggapi perdebatan ini, Vatikan mengatakan bahwa "idealnya para perempuan menjaga badan agar tetap suci" tapi untuk untuk menjadi anggota komunitas perawan yang disucikan, perempuan tidak harus perawan secara fisik.

Bagi USACV, panduan tersebut "mengejutkan dan sengaja dibuat pelik".

Pernyataan USACV menyebutkan bahwa tradisi secara tegas memegang teguh prinsip keperawanan "baik secara fisik maupun spiritual".

Jessica Hayes
Joe Romie
Keputusan apakah menerima seseorang untuk menjadi perawan yang disucikan diputuskan oleh keuskupan setempat.

Hayes mengatakan, dirinya secara pribadi, ingin ada penjelasan dari pihak otoritas Gereja.

"Dokumen menyebutkan calon pengantin boleh saja dari mereka yang sudah pernah menikah atau yang pernah melanggar prinsip kesucian," katanya.

Ia menduga mungkin ini bagi perempuan yang di masa lalu pernah menjadi korban perkosaan.

Bagaimanapun, ia mendukung langkah Gereja mendorong makin banyak perempuan menjadi anggota komunitas "perawan yang disucikan".

Ia menyebut ada kebutuhan bagi orang-orang untuk memberikan "komitmen radikal" kepada Tuhan.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Senin, 22 April 2019 - 09:29 WIB
Tuduhan kubu Prabowo yang menuding lembaga pembuat quick count pemilu 2019 "didanai" kubu Jokowi dit...
Senin, 22 April 2019 - 09:29 WIB
Calon presiden Prabowo Subianto menyebut lembaga survei yang mengeluarkan quick count atau hitung ce...
Senin, 22 April 2019 - 09:29 WIB
Anggota parlemen dan lembaga pembela tenaga kerja migran di Malaysia mempertanyakan putusan Pengadil...
Senin, 22 April 2019 - 09:29 WIB
Para pemenang World Press Photo 2019 atau Foto Pers Dunia 2019 telah diumumkan. Mereka terpilih dari...
Senin, 22 April 2019 - 09:29 WIB
Hampir 15 juta orang tinggal dan mencari nafkah di antara sampah kota yang menggunung di seluruh dun...
Senin, 22 April 2019 - 09:29 WIB
Tradisi Muda Tuan Ma mengawali Kamis Putih sebelum prosesi Jumat Agung di Larantuka, Flores Timur, t...
Senin, 22 April 2019 - 09:29 WIB
Ketika dokter membubuhkan tanda tanya dalam kolom jenis kelamin di dokumen kelahiran anaknya, Cather...
Senin, 22 April 2019 - 09:29 WIB
Seusai hasil hitung cepat beberapa lembaga survei yang mengatakan Joko Widodo - Maruf Amin memenangk...
Senin, 22 April 2019 - 09:29 WIB
Desa Sardonoharjo, di Sleman, Yogyakarta, memiliki peraturan khusus yang menolak politik uang. Desa ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)