A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: fopen(/var/lib/php/sessions/ci_session63kki0fr9pm39om4qusg8tql6log3a5h): failed to open stream: No space left on device

Filename: drivers/Session_files_driver.php

Line Number: 174

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: session_start(): Failed to read session data: user (path: /var/lib/php/sessions)

Filename: Session/Session.php

Line Number: 143

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once

Mantan Pendeta Mengatakan Ex-Jihadis Orang yang Berkesan
Mantan Pendeta Mengatakan Ex-Jihadis Orang yang Berkesan
Senin, 11 Juni 2018 - 13:36 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
ABC.net.au - Mantan Pendeta Mengatakan Ex-Jihadis Orang yang Berkesan

Seorang mantan pendeta Katolik mengatakan tak bisa mengerti mengapa Australia tidak ingin mantan jihadis, Muhammad Manwar Ali datang.

Ali pembicara utama di acara Pemikiran Gelap dan Berbahaya sebagai bagian dari festival Dark Mofo di Hobart telah mengajukan permohonan visa 30 April lalu. Tapi baru di awal bulan Juni ia diberitahu jika proses visanya akan memakan waktu "berbulan-bulan.

Mantan pendeta Katolik, penyiar dan sejarawan Paul Collins mengatakan Ali adalah "orang yang paling mengesankan".

"Anda ingin pria seperti ini di Australia," kata Paul.

"Pria ini, saya merasa setuju dengan satu hal pun yang dikatakannya."

Paul mengatakan Ali adalah orang rasional dan masuk akal.

"Dia adalah tipe manusia yang kita butuhkan untuk dialog antara umat Kristen dan Islam," katanya.

"Pada akhirnya, satu-satunya cara untuk menangani terorisme adalah mulai berbicara kepada orang-orang."

Ali mengakui latar belakangnya sangat bermasalah

Jurnalis Australia yang pernah dipenjara di Mesir tahun 2013, Peter Greste mewawancarai Ali, ilmuwan sekaligus aktivis perdamaian Inggris melalui tautan video ke London di acara tersebut hari Minggu (10/06).

Kepada 800 orang penonton ia mengatakan telah jujur ​​kepada pihak berwenang tentang masa lalunya.

"Saya sama sekali tidak terkejut akan ada hambatan untuk berikan visa karena latar belakang yang cukup bermasalah," katanya.

"Saya tidak tahu bagaimana komunikasi antara Australia dan Inggris dalam hal memverifikasi orang-orang dari latar belakang seperti saya yang sekarang aman. Tapi saya harus jujur ​​dan terbuka dengan informasi yang diberikan."

Ali mengatakan dia tidak ingin menyembunyikan informasi apa pun.

"Saya ingin memastikan bahwa jika saya tidak diundang, itu karena alasan keamanan dan bukan yang lain, dan itu bisa diterima dan dimengerti oleh saya," katanya.

Kepada penonton, Peter mengungkapkan kekecewaannya karena Ali tidak diberikan visa.

"Seperti yang akan Anda perhatikan, hanya ada satu kursi di sini hari ini, yang saya rasa tidak biasa saat kita datang ke sesi yang seharusnya menjadi sebuah percakapan," katanya.

"Tentu saja, orang yang seharusnya kita ajak bicara adalah seorang pria yang sudah diundang kesini, telah mengajukan permohonan visa beberapa minggu lalu yang menurut pihak berwenang punya banyak wakty, tapi tetap tidak bisa mendapatkannya untuk datang ke Australia."

"Saya rasa seharusnya permohonan visa [Ali] diproses lebih cepat sehingga setidaknya kita punya jawaban."

Panitia berupaya langsungkan acara

Direktur acara Dark Mofo, Laura Kroetsch mengatakan melegakan karena acara masih bisa berlangsung

"Saya bisa menangis," katanya.

"Saya merasa sangat frustrasi karena tidak bisa mendapatkan Ali di sini. Saya ingin dia di Australia untuk dapat berbicara dengan orang-orang."

Laura merasa bersyukur karena teknologi berhasil digunakan.

"Kebebasan berbicara adalah hal yang paling penting di dunia, terutama di masa-masa yang sulit," katanya.

Penyelenggara Dark Mofo mengatakan telah mengundang Ali untuk menghadiri festival tahun depan.

Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jumat, 24 Mei 2019 - 08:35 WIB
Pemilu 2019 merupakan kali keempat bagi Prabowo Subianto mencalonkan diri menjadi presiden. ...
Jumat, 24 Mei 2019 - 08:35 WIB
Hampir dalam waktu bersamaan, tetapi di tempat berbeda, Presiden Jokowi dan calon presiden Prabowo m...
Jumat, 24 Mei 2019 - 08:35 WIB
Efek Jokowi yang melambungkan harapan investor dan pengusaha pasca pilpres 2014 dianggap tidak berul...
Jumat, 24 Mei 2019 - 08:35 WIB
Berita ini akan terus dilengkapi.
Jumat, 24 Mei 2019 - 08:35 WIB
"Bertindak sekarang, atau hadapi krisis besar!" /**/ (function...
Jumat, 24 Mei 2019 - 08:35 WIB
Didirikan sebagai ibu kota negara pada tahun 229, Nanjing sejak lama telah menjadi pelabuhan terpent...
Jumat, 24 Mei 2019 - 08:35 WIB
Perjuangan bintang tenis Jerman Alexander Zverev untuk memahami aksen daerah Yorkshire wartawan olah...
Jumat, 24 Mei 2019 - 08:35 WIB
Anurak Sanruthai seorang pedagang makanan laut kering di Thailand selatan, berjualan lewat penampila...
Jumat, 24 Mei 2019 - 08:35 WIB
Presiden Joko Widodo menyatakan akan menindak tegas para perusuh menyusul kericuhan yang menyebabkan...
Jumat, 24 Mei 2019 - 08:35 WIB
Narasi dalam politik identitas yang muncul sebelum dan setelah pemilihan presiden 2019 menguak poten...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)
ElshintaBandung