Kardinal George Pell Divonis 6 Tahun Penjara
Elshinta
Kamis, 14 Maret 2019 - 08:48 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kardinal George Pell Divonis 6 Tahun Penjara
ABC.net.au - Kardinal George Pell Divonis 6 Tahun Penjara

Kardinal George Pell hari Rabu (13/3/2019) dijatuhi hukuman enam tahun penjara karena terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap dua anggota paduan suara gereja yang masih di bawah umur. Peristiwanya terjadi ketika terdakwa menjadi uskup agung Katolik di Melbourne pada Desember 1996.

Poin Utama:

  • Kardinal Pell baru diperbolehkan bebas bersyarat setelah 3 tahun 8 bulan
  • Hakim ketua menyebut pelecehan seksual yang dilakukan Pell terhadap dua anak paduan suara gereja sangat kurang ajar
  • Tapi dia menegaskan Pell tak boleh dihukum untuk penderitaan para penyintas pelecehan seksual secara umum

Dalam sidang sebelumnya pada Desember lalu, juri menyatakan Pell bersalah melecehkan dua anak di bawah umur usai misa Minggu di Katedral St Patrick yang pertama kali dipimpin sang uskup saat itu. Dia juga terbukti kembali melecehkan salah satu dari korban untuk kedua kalinya, dua bulan setelah kejadi pertama.

Pell merupakan sosok pemuka agama Katolik paling utama di Australia. Sebagai terdakwa, dia hadir di persidangan vonis ini tanpa mengenakan pakaian pastor dengan segala simbolnya.

Hakim Ketua Pengadilan Melbourne Peter Kidd yang memimpin jalannya persidangan menggambarkan perbuatan Pell terhadap dua korbannya sebagai "serangan seksual yang dilakukan secara kasar dan penuh paksaan".

Hakim Kidd menilai ketimpangan posisi antara para korban dan terdakwa sebagai pejabat senior gereja sangatlah mencolok.

"Kegilaan perilaku saudara mengindikasikan otoritas dan kekuasaan saudara dalam kaitannya dengan para korban," katanya.

"Mungkin saudara pikir bisa mengendalikan situasi karena otoritas saudara sebagai uskup agung," ujarnya.

Hakim Kidd mengatakan pelecehan yang dilakukan Pell memiliki dampak signifikan dan lama pada kondisi salah satu korban, yang dia sebut sebagai J.

"J mengalami serangkaian emosi negatif yang berusaha dia atasi selama bertahun-tahun sejak kejadian itu," katanya.

"Saya mempertimbangkan dampak mendalam dari perbuatanmu itu terhadap hidup J," tegas Hakim Kidd.

Dia menambahkan pihaknya tidak mendapatkan pernyataan dari korban lain, yang disebut R, karena telah meninggal akibat overdosis heroin pada tahun 2014 dan tak pernah melaporkan kasus ini.

"Namun berdasarkan keterangan J dalam persidangan dapat saya katakan bahwa pelanggaran saudara pasti memiliki dampak langsung dan signifikan pada R," kata Hakim Kidd.

Dia mengizinkan persidangan vonis ini disiarkan langsung oleh media serta ruang sidang dipenuhi dengan korban, advokat dan jurnalis.

Pengacara korban Vivian Waller menanggapi sidang vonis Kardinal Pell. Video: Pengacara korban Vivian Waller menanggapi sidang vonis Kardinal Pell. (ABC News)

Dalam pernyataan korban yang disampaikan pengacaranya Vivian Waller, dia menghargai pengadilan yang telah mengakui apa yang dialaminya sebagai seorang anak.

Dia mengaku sulit "merasa puas" dengan vonis Pell, karena yang bersangkutan mengajukan banding atas vonis hari ini.

"Saya mengambil langkah sulit untuk melaporkan ke polisi seseorang yang terkenal dan saya harus membuktikannya," kata korban yang identitasnya dirahasikan tersebut.

Sementara ayah dari korban Pell yang telah meninggal menyatakan kecewa dengan hukuman Pell ini.

Melalui pengacaranya Lisa Flynn, dia menyatakan hukum tersebut sangat singkat dan tak memadai untuk kejahatan yang dilakukan terdakwa.

Dalam vonisnya, Hakim Kidd menegaskan hukuman ini tidak boleh dipandang sebagai vonis terhadap Gereja Katolik.

"Yang dijatuhi hukuman di sini adalah George Pell," tegasnya.

Hakim Kidd juga mengatakan kepada para penyintas pelecehan seksual bahwa hukuman ini tak bisa menjadi pembenaran atas trauma mereka.

"Kardinal Pell tak pernah dihukum karena kesalahan apa pun terhadap kalian," katanya.

"Saya menyadari bahwa kalian mencari keadilan, tetapi hanya bisa adil jika dilakukan sesuai dengan hukum," tambahnya.

Hakim Ketua Pengadilan Melbourne Peter Kidd menjatuhkan vonis 6 tahun penjara kepada George Pell. Video: Hakim Ketua Pengadilan Melbourne Peter Kidd menjatuhkan vonis 6 tahun penjara kepada George Pell. (ABC News)

Pell akan menjalani hukuman penjara minimal tiga tahun delapan bulan sebelum berhak mendapatkan pembebasan bersyarat.

Hakim Kidd mengatakan pihaknya mempertimbangkan kesehatan jantung dan tekanan darah tinggi yang dialami terdakwa.

Dia juga mempertimbangkan karakter dan kehidupan terdakwa tanpa pelanggaran hukum dalam 22 tahun sejak peristiwa tersebut.

Pengacara Pell, Robert Richter QC, dalam sidang sebelumnya berdalih bahwa tindakan penetrasi seksual yang dilakukan Pell terhadap salah satu korban hanyalah kasus biasa.

Namun Hakim Kidd dalam sidang ini menolak argumen tersebut.

Richter sendiri tidak bersedia memberikan komentar usai persidangan ini.

Sebagai konsekuensi dari hukumannya, Pell kini akan terdaftar seumur hidup sebagai seorang pelanggar seksual.

Dalam persidangan terungkap Pell melecehkan kedua korban yang kedapatan minum anggur altar di ruang pastor, yang terlarang bagi anggota paduan suara.

Pell mendapati kedua bocah itu dan menyatakan "kalian bikin apa di sini?" serta "kalian dapat masalah".

Disebutkan, uskup agung tersebut kemudian mengangkat jubah pastornya, mengekspos penisnya dan memaksa salah satu korban melakukan oral seks.

Salah satu korban, menurut keterangan dalam persidangan, kemudian meminta Pell untuk melepaskan mereka.

Tapi uskup Pell malah pindah ke korban lainnya. Sama seperti korban pertama, dia mendorong kepala bocah itu ke bagian selangkangannya dan memperkosanya secara oral.

Beberapa menit kemudian, Pell menyuruh bocah ini melepas celananya dan menggerayangi alat kelamin korban sambil dia sendiri melakukan masturbasi.

Sidang juga mengungkap bahwa uskup Pell kembali melecehkan bocah itu dua bulan kemudian. Juga setelah misa Minggu.

Bukti yang diajukan dalam persidangan disampaikan oleh korban yang mengalami dua kali pelecehan tersebut.

Selama persidangan terdakwa Pell terus menyangkali perbuatannya.

Atas vonis ini, dia langsung mengajukan banding dengan alasan, antara lain, bahwa putusan juri tidak masuk akal.

Sidang banding kasus ini akan digelar selama dua hari pada bulan Juni mendatang.

Simak berita selengkapnya dalam Bahas Inggris di sini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
AS Cekal Panglima Militer Myanmar terkait Pembersihan Etnis Rohingya
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB
Amerika Serikat, Selasa (16/7), melarang kunjungan pemimpin militer Myanmar dan tiga perwira tinggi ...
Polisi Italia Tangkap Tokoh Neo-Nazi, Sita Rudal dan Senjata Berat
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB
Sebuah rudal yang pernah dimiliki oleh angkatan bersenjata Qatar dan disita oleh polisi di Italia da...
Gubernur Rio de Janeiro Samakan Pengedar Narkoba dengan Hizbullah
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB
Gubernur Rio de Janeiro dari sayap kanan, Wilson Witzel, Selasa (16/7), membandingkan pengedar narko...
Unjuk Rasa di Hong Kong Tak Menunjukkan Tanda Usai
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB
Colin Wong, seorang demonstran di Hong Kong, mengenal dengan baik pedihnya “semprotan merica”. ...
Menteri Israel Stop Dukung Terapi untuk Ubah Orientasi Seksual Gay 
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB
Menteri Pendidikan Israel Rafi Peretz, Selasa (16/7), tidak mendukung lagi terapi-terapi untuk mengu...
AS Tangkap Mantan Presiden Peru atas Tuduhan Suap
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB
Pihak berwenang AS mengatakan, Selasa (16/7), mereka telah menangkap mantan presiden Peru, Alejandro...
Penyintas Persekusi Keagamaan Serukan Tentangan Terhadap Kebencian dan Fanatisme
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB
Menteri-menteri luar negeri dari 100 negara, Selasa (16/7) bergabung dengan para penyintas pembantai...
Lansia Hong Kong Gelar Protes Dukung Demonstran Muda
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB
Sekitar 2.000 warga lanjut usia Hong Kong, termasuk seorang aktris populer, menggelar pawai, Rabu (1...
Jumlah Korban Tewas Akibat Gedung Runtuh di India Naik Jadi 14
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB
Tim SAR menemukan 14 mayat dan berhasil menyelamatkan 11 orang dari reruntuhan sementara operasi pen...
AS Bersedia Bantu Selesaikan Pertikaian Korsel-Jepang
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB
Amerika Serikat akan melakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk membantu menyelesaikan pertikaian ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 153
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 154
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once