Pengamat Australia Menilai Jokowi Lemah "Menjaga Demokrasi" di Indonesia
Elshinta
Kamis, 11 April 2019 - 09:11 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pengamat Australia Menilai Jokowi Lemah
ABC.net.au - Pengamat Australia Menilai Jokowi Lemah "Menjaga Demokrasi" di Indonesia

Dengan diuntungkan sebagai petahana, Joko Widodo diperkirakan akan mengalahkan Prabowo Subianto pada pemilihan presiden Indonesia yang akan dilakukan 17 April mendatang.

Catatan soal pemimpin Indonesia

  • Jokowi dinilai telah berkompromi dengan politisi korup dan pemimpin agama intoleran
  • Demokrasi di Indonesia tidak akan membaik juga jika dibawah pimpinan Prabowo
  • Harapan baru kini ada ditangan para politisi muda untuk membuat perubahan sistematik

Demikian laporan Lowy Institute, lembaga think tank Australia yang berbasis di Sydney yang berjudul Politics in Indonesia: Resilient election, defective democracy, yang baru saja dirilis hari Rabu (10/04/2019).

Laporan yang ditulis Ben Bland membandingkan polling yang dilakukan oleh sembilan lembaga terpercaya di Indonesia, seperti LSI, Kompas, Populi, Charta, Indikator.

Hasilnya, Jokowi lebih disukai oleh 54 persen pemilih Indonesia dibandingkan Prabowo yang mencapai 33 persen dan sisanya, yakni 13 persen tidak memberikan pandangan apapun.

Tetapi lembaga tersebut mencatat jika Jokowi memenangkan masa jabatan kedua, sekaligus yang terakhir bagi dirinya, ia tidak mungkin membuat kemajuan yang signifikan dalam reformasi ekonomi, hukum, dan politik yang mendesak dibutuhkan warga Indonesia saat ini.

Lowy Institute terdengar pesimis dalam melihat masa depan Indonesia, tapi Ben mengatakan kepada ABC Indonesia, setelah melihat sosoknya sebagai presiden dalam lima tahun terakhir, Joko Widodo menjadi pemimpin yang berhati-hati dan seringkali berkompromi dengan lawan-lawan politiknya, ketimbang melawannya.

"Ia menunjukkan dirinya tidak mampu, atau bahkan tidak ingin melakukan reformasi ekonomi dan politik lebih mendalam yang sedang dibutuhkan saat ini," ujar Ben.

"Jika reformasi ini dilakukan akan membuat marah mereka yang memiliki kepentingan," tambahnya yang juga menjabat sebagai Direktur Southeast Asia Project di Lowy Institute.

Laporan tersebut juga menyebut Jokowi telah terbukti sebagai seorang yang lemah dalam menjaga demokrasi di Indonesia.

"Ia telah membiarkan melemahnya aturan hukum dan proteksi terhadap minoritas," jelas Ben.

Menjebloskan Ahmad Dhani ke penjara karena isi Twitternya, atau kasus Robertus Robert yang menyanyikan lagu yang mengejek TNI, serta beberapa acara anti-Jokowi yang dibubarkan polisi, menjadi contoh yang disajikan dalam laporan tersebut.

Prabowo tak berarti lebih baik

Menurut Lowy Institute Prabowo sering berkampanye soal penyediaan lapangan kerja atau akan menekan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari, tapi itu hanyalah janji-janji yang tidak jelas dengan sedikit kebijakan yang substantif.

Banyak pihak menilai Prabowo memilih janji kampanye yang populis dan berpihak pada warga miskin, tetapi belum tentu ia dapat membuktikannya untuk mengatasi kesenjangan ekonomi yang masih merajalela.

"Seperti kebanyakan pemilu di Indonesia, hanya sedikit pembahasan soal kebijakan nyata untuk mengatasi masalah ini," kata Ben.

"Saat kedua kandidat berbicara soal perlunya menciptakan lebih banyak pekerjaan, tidak ada satu pun yang menawarkan dengan jelas jalan keluarnya "

Ben mengatakan tekanan pada demokrasi di Indonesia tidak akan berkurang, baik di bawah pimpinan Jokowi atau Prabowo, mengingat karakter dan koalisi politik mereka.

Dalam menghadapi kritikan dan tantangan yang ditujukan kepada keduanya, menurut Ben, kedua kandidat cenderung menanggapi dengan metode yang membungkam kebebasan berdemokrasi.

"Lembaga-lembaga penegak hukum dan militer telah diberi peran politik yang semakin luas dan partai-partai akan terus membentuk kartel kuat demi kepentingan mereka sendiri," jelas Ben.

Menurutnya yang bisa menghentikan ini semua adalah reformasi yang menyeluruh untuk mengambil alih kendali partai-partai dari sistem.

Lowy Institute justru melihat harapan dari generasi baru politisi yang tidak berasal dari kalangan elit. Kemungkinan besar saat itu mereka pun sedang mempersiapkan diri menuju istana kepresidenan.

Sebut saja Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), atau Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) yang sama-sama mengawali karir kepemimpinannya dari pemerintahan daerah seperti Jokowi.

"Bagaimana para pemimpin masa depan menggunakan mandatnya dari kemenangan pemilu untuk mengatasi mereka yang berusaha menghalangi reformasi dan merusak nilai-nilai demokrasi."

Pemilihan umum serentak untuk memilih presiden dan wakil rakyat di tingkat daerah dan nasional akan dilaksanakan Rabu pekan depan (17/04).

Sementara warga Indonesia di Australia akan memilih lebih awal, yakni hari Sabtu (13/04) dengan jumlah pemilih yang sudah terdaftar mencapai 65 ribu orang.

Anda bisa membaca laporan lengkapnya dari Lowy Institute dalam Bahasa Inggris disini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pemerintah Trump Klaim Sukses dengan Sanksi Iran
Jumat, 19 Juli 2019 - 08:43 WIB
Pejabat-pejabat Amerika menyatakan telah berbuat banyak untuk meredakan ketegangan dengan Iran dan m...
Aktivis Rohingya Desak AS Lakukan Tindakan Lebih Banyak terhadap Myanmar
Jumat, 19 Juli 2019 - 08:43 WIB
Seorang aktivis Rohingya yang pernah dipenjara mengatakan, Rabu (17/7), larangan berkunjung oleh pem...
Pengacara Berharap Trump dan Khan Bahas Nasib Dokter yang Lacak Bin Laden
Jumat, 19 Juli 2019 - 08:43 WIB
Pengacara dan keluarga Shakil Afridi, dokter Pakistan yang membantu Amerika melacak mantan pemimpin ...
Saudara Pria Pengebom Manchester Diekstradisi ke Inggris
Jumat, 19 Juli 2019 - 08:43 WIB
Adik laki-laki pelaku bom bunuh diri yang bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap 22 orang pada k...
Persidangan Kapten Kapal Penyelamat Migran Dijadwalkan Kamis
Jumat, 19 Juli 2019 - 08:43 WIB
Kapten kapal asal Jerman, Carola Rackete, menjadi berita hangat di media internasional karena secara...
Studio Animasi Jepang Dibakar, 13 Orang Dikhawatirkan Tewas
Jumat, 19 Juli 2019 - 08:43 WIB
Setidaknya 13 orang dikhawatirkan meninggal dan puluhan terluka ketika sebuah studio animasi di Kyot...
PM Jepang Hadapi Situasi Sulit Terkait Koalisi Maritim Internasional
Jumat, 19 Juli 2019 - 08:43 WIB
PM Jepang Shinzo Abe kemungkinan menghadapi tantangan diplomatik keras setelah munculnya permohonan ...
Sedikitnya 23 Diyakini Tewas Akibat Kebakaran di Jepang
Jumat, 19 Juli 2019 - 08:43 WIB
Pihak berwenang di Kyoto, Jepang, mengatakan, sedikitnya 23 orang tewas atau diperkirakan tewas sete...
AS Keluarkan Turki dari Program Jet Tempur F-35
Jumat, 19 Juli 2019 - 08:43 WIB
Amerika Serikat telah mengakhiri keikutsertaan Turki dalam program jet tempur F-35. Keputusan yang d...
Kecelakaan Mobil di Turki, 14 Migran Tewas
Jumat, 19 Juli 2019 - 08:43 WIB
Kantor berita pemerintah Turki mengatakan, sebuah kendaraan yang mengangkut migran mengalami kecelak...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 153
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 154
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once