Tambang emas di Aceh: Aktivis dan masyarakat akan terus tolak rencana produksi PT EMM
Elshinta
Jumat, 12 April 2019 - 08:58 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Tambang emas di Aceh: Aktivis dan masyarakat akan terus tolak rencana produksi PT EMM
BBC Indonesia - Tambang emas di Aceh: Aktivis dan masyarakat akan terus tolak rencana produksi PT EMM

Aktivis lingkungan dan mahasiswa Aceh menyatakan akan terus berupaya menghentikan rencana operasi produksi perusahaan tambang emas, PT Emas Mineral Murni, walaupun Pengadilan Tata Usaha Negara di Jakarta menyatakan tak berwenang memutus izin operasi produksi.

Rencana PT EMM melakukan eksplorasi di Aceh sudah dimulai sejak 2006 dan pada 2009 dikeluarkan izin usaha sementara pada 2017 perusahaan ini mengantungi izin operasi produksi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal, BKPM.

Tetapi izin ini ditolak masyarakat sampai kalangan DPRD karena pemberian izin dianggap melampaui kewenangan pemerintahan Aceh.

Dalam putusannya Kamis (11/04), PTUN Jakarta menyatakan tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan perkara izin tambang PT EMM dan menilai gugatan yang dilayangkan oleh lembaga Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh prematur sebab gugatan tidak didahului upaya penyelesaian di luar pengadilan.

"Menyatakan gugatan para penggugat tidak diterima. Membebankan para penggugat membayar biaya perkara sebesar 351 rupiah," kata Ketua Majelis Hakim PTUN Jakarta, M. Arief Pratomo, Kamis (11/04), seperti dilaporkan wartawan Muhamad Irham untuk BBC News Indonesia.

Kuasa Hukum Walhi Aceh, Muhammad Reza Maulana, mengatakan akan mengajukan banding dalam waktu 14 hari ke depan.

"Karena (putusan) pengadilan menyatakan tidak berwenang, kita akan uji itu di pengadilan tinggi. Mudah-mudahan pengadilan tinggi nanti memiliki logika hukum yang baik," kata Reza Maulana usai sidang.

Hutan lindung

BKPM mengeluarkan Surat Keputusan Kepala BKPM No. 66/I/IUP/PMA/2017 terkait Persetujuan Penyesuaian dan Peningkatan Tahap Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi menjadi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Mineral Logam dalam Rangka Penanaman Modal Asing untuk Komoditas Emas kepada PT EMM tertanggal 19 Desember 2017.

Berkat surat itu, PT EMM memiliki izin pertambangan sebesar 10.000 hektare di Nagan Raya dan Aceh Tengah. Dari jumlah itu, sebagaimana diklaim Walhi Aceh, lebih 6.000 hektar berada di kawasan hutan lindung yang menjadi jalur lintasan dan habitat harimau Sumatera.

Karena itu, menurut Walhi, pemberian izin ini bertentangan dengan Undang Undang No 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh serta Qanun Aceh No. 15 tahun 2013 tentang Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batubara.

"Karena yang berwenang menerbitkan izin pada lintas kabupaten adalah gubernur Aceh, dan itu tidak ada. Bahkan gubernur Aceh tidak pernah tahu tentang proses pengambilan keputusan, sampai izin produksi itu tidak tahu. Pemerintah Aceh sendiri mengakui itu," kata Reza Maulana.

Hak atas foto Alfath Asmunda
Image caption Aksi menolak izin usaha pertambangan PT EMM memasuki hari ketiga pada Kamis (11/4).

Dalam gugatan ini Walhi Aceh menyampaikan 63 bukti surat, seperti surat keputusan DPR Aceh yang menyatakan IUP Operasi Produksi PT. EMM bertentangan dengan kewenangan Aceh.

Bukti lain yang dilampirkan dalam persidangan lainnya adalah surat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menyatakan PT. EMM tidak memiliki Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH).

Sementara itu, pihak BKPM yang berada di pengadilan menolak untuk dimintai keterangan mengenai keputusan ini.

"Tidak usah," kata salah satu kuasa hukum dari BKPM.

Aksi massa di Aceh

Sementara itu, di Banda Aceh, aksi menolak izin usaha pertambangan PT EMM memasuki hari ketiga pada Kamis (11/4).

Berdasarkan pemantauan wartawan Alfath Asmunda, jalan depan kantor Gubernur Aceh dipenuhi oleh para mahasiswa yang berdatangan dari berbagai daerah di Aceh dan mengatasnamakan diri Barisan Pemuda Aceh (BPA).

Massa yang menggunakan almamater kampus masing-masing membawa poster dan spanduk berisi tuntutan menolak izin usaha pertambangan yang berada di kawasan hutan lindung Beutong, Nagan Raya.

Koordinator Aksi Korps BPA, Mutawali, mengatakan massa yang dipimpinnya itu tidak akan mundur sampai izin PT EMM dicabut.

Hak atas foto Alfath Asmunda
Image caption Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menemui massa mahasiswa Aceh, Kamis (11/4).

Pada Kamis (11/4), Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyatakan di hadapan massa mahasiswa itu bahwa dirinyta sepakat menolak keberadaan tambang di kawasan Beutong Nagan Raya dan Pegasing di Aceh Tengah.

"Saya sepakat bahwa ini harus kita gugat tapi caranya sedang kita cari kalau setuju apapun hasil PTUN kita bentuk tim, duduk bersama. Kita buat apa yang harus kita kerjakan dan saya, pemerintah Aceh menegaskan berada di sisi yang sama dengan saudara-saudara," ungkap Nova.

Lantas Plt Gubernur menandatangan selembar surat pernyataan bernomor 164/A/KORPSBPA/IV/2019 yang diajukan massa demonstran.

Adapun poin yang disepakati tersebut antara lain, siap melakukan gugatan melalui pemerintah Aceh sebagai bentuk mempertahankan kekhususan Aceh dan membela rakyat Aceh serta siap menerbitkan rekomendasi pencabutan izin PT EMM.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
HUT Jakarta: Becak di hadapan wajah baru ibu kota
Selasa, 25 Juni 2019 - 08:49 WIB
Seakan tak terpengaruh oleh panas terik, Rusyid mengayuh becak miliknya di sekitar Pasar Petak Sembi...
Krisis Teluk: Utusan Kemenlu Inggris peringatkan Iran agar hentikan serangan di Teluk Oman
Selasa, 25 Juni 2019 - 08:49 WIB
Utusan Kementerian Luar Negeri Inggris, Andrew Murrison, memperingatkan Iran agar "menghentikan" ser...
Air Canada: Seorang perempuan yang ketiduran selama penerbangan ditinggal sendirian di dalam pesawat
Selasa, 25 Juni 2019 - 08:49 WIB
Seorang perempuan mengatakan ia ditinggalkan sendirian di pesawat Air Canada setelah ketiduran selam...
Sofyan Basir didakwa membantu transaksi suap proyek PLTU Riau
Selasa, 25 Juni 2019 - 08:49 WIB
Mantan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Sofyan Basir, didakwa membantu dugaan tran...
Kenapa anak-anak perempuan luput dari ADHD?
Selasa, 25 Juni 2019 - 08:49 WIB
Lebih banyak bocah laki-laki yang didiagnosa mengidap ADHD daripada anak-anak perempuan. Tetapi bany...
Gempa bumi berkekuatan 7,4 di Maluku Tenggara, guncangannya terasa di Darwin, Australia
Selasa, 25 Juni 2019 - 08:49 WIB
Gempa tektonik berkekuatan 7,4 yang berpusat di wilayah Laut Banda, Maluku Tenggara, Senin (24/06),...
Prancis hadapi gelombang panas melebihi 40 derajat Celcius
Selasa, 25 Juni 2019 - 08:49 WIB
Prancis bersiap menghadapi gelombang panas dengan suhu yang diperkirakan melebihi 40C pada pekan ini...
Ekrem Imamoglu: Inikah politikus yang menjadi saingan berat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan?
Selasa, 25 Juni 2019 - 08:49 WIB
Sampai enam bulan lalu, hanya sedikit orang di Turki yang mengetahui Ekrem Imamoglu, pejabat daerah ...
Dunia Arab dalam tujuh grafik: Apakah orang Arab mulai meninggalkan agama?
Selasa, 25 Juni 2019 - 08:49 WIB
Semakin banyak orang Arab menyatakan bahwa mereka tidak lagi relijius, menurut survei terbesar dan p...
Wacana Jokowi rangkul Gerindra bisa mengarah ke koalisi gemuk yang sarat kepentingan
Selasa, 25 Juni 2019 - 08:49 WIB
Meski sengketa hasil pemilihan presiden masih disidangkan di Mahkamah Konstitusi, petahana Presiden ...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 151
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 154
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once