Kalangan muda di Belanda serukan hukuman bagi pengunjung kawasan prostitusi
Elshinta
Jumat, 12 April 2019 - 08:58 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kalangan muda di Belanda serukan hukuman bagi pengunjung kawasan prostitusi
BBC Indonesia - Kalangan muda di Belanda serukan hukuman bagi pengunjung kawasan prostitusi

Lebih dari 40.000 anak muda menandatangani sebuah petisi yang menyerukan agar parlemen Belanda meloloskan aturan yang membuat pengunjung tempat-tempat pelacuran dikenai hukuman.

Tanda tangan dari sekitar 42.000 anak muda itu praktis mendorong topik tersebut dibahas para politisi di negara yang aturan-aturannya paling longgar soal transaksi seks.

Mereka menginginkan agar para pelanggan Pekerja Seks Komersial (PSK) dijerat hukuman sebagaimana diberlakukan di negara-negara Nordik, seperti Norwegia, Swedia, dan Eslandia.

Kampanye yang sebagian diilhami dari pandangan kalangan Kristen dan feminisitudinamai Ik ben onbetaalbaar atau Saya tak ternilai.

Anak-anak muda yang terlibat dalam kampanye tersebut mengunggah foto-foto di Instagram yang menunjukkan para pendukung memegang papan dengan tulisan berwarna hitam dan putih bertuliskan Ik ben onbetaalbaar (Saya tak ternilai).

Ada pula kalimat Bagaimana jika itu adik perempuanmu? dan "Prostitusi adalah penyebab sekaligus konsekuensi dari ketimpangan.

Namun, salah seorang pengguna media sosial menanggapi unggahan tersebut dengan berpendapat: "Saya menjadi pekerja seks secara sukarela. Ada banyak orang seperti saya. Kampanye ini akan membuat pekerjaan saya jauh lebih berbahaya."

Prostitusi dan undang-undangnya

Di Belanda, membeli dan menjajakan hubungan seks adalah tindakan legal selama hal itu melibatkan "seks antara orang dewasa yang saling menyepakati".

Namun, di negara-negara seperti Swedia, Norwegia, Islandia, Irlandia Utara dan Prancis, para pembeli hubungan seks ini bisa dijerat hukum.

Apa yang dikatakan oleh para pegiat?

Para pegiat muda ini berpendapat banyak hal yang harus dilakukan untuk melindungi para perempuan yang rentan.

Menurut petisi bertajuk Saya tak ternilai ini, tindakan Belanda yang memfasilitasi industri seks sudah ketinggalan zaman, eksploitatif, dan harus mencari inspirasi di negara seperti Swedia.

Mereka mengatakan di negara-negara yang telah mengenalkan model Nordik ini sudah terlihat beberapa hal yakni:

  • Jumlah orang yang bertransaksi dengan PSK semakin berkurang.
  • Para pelaku perdagangan manusia tidak berminat melakukan aktivitasnya di negara-negara itu.
  • Jumlah orang yang dieksploitasi oleh pelacuran semakin berkurang.

Di antara para pendiri gerakan Exxpose yang berada di balik petisi tersebut adalah pekerja sosial Sara Lous, yang dulu bekerja di pusat rehabilitasi dengan mantan PSK.

"Kami adalah feminis dan Kristen dan beberapa dari kami netral," katanya.

Hak atas foto Exxpose
Image caption Para pegiat "Saya tak ternilai" mengatakan petisi yang mereka ajukan akan membuat orang-orang berhenti bertransaksi seks.

"Pikiran orang selama ini adalah Belanda memiliki kebijakan yang lebih aman, bahwa dekriminalisasi lebih aman, dan orang punya kebebasan untuk menjual seks. Tetapi banyak yang salah. Kami dilanda begitu banyak perdagangan manusia dan Amsterdam paling rentan karena tingginya permintaan untuk seks murah. "

Ia berpendapat bahwa para perempuan diberi anggapan bahwa pelacuran adalah cara mudah untuk menghasilkan uang. Padahal mereka perlu memiliki pilihan lain.

"Hanya ada beberapa yang tidak mampu menemukan pekerjaan lain. Mereka seharusnya mendapat bantuan untuk menemukan keterampilan lain," katanya.

"Bagaimana reaksi para PSK?

Distrik lampu merah Amsterdam adalah salah satu atraksi paling populer di kota terbesar Belanda tersebut. Dan di Belanda pula praktik pelacuran secara tradisional dibingkai sebagai cerminan dari kebebasan memilih.

"Jika seorang perempuan ingin menjual tubuhnya maka itu adalah pilihannya," adalah argumen yang didorong oleh para politisi dan masyarakat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pemerintah Belanda telah berjanji untuk menyediakan lebih banyak dana untuk membantu perempuan yang ingin meninggalkan pelacuran.

Para perempuan yang bekerja di balik jendela lampu merah mengatakan kepada saya bahwa pekerjaan itu adalah pilihan bebas mereka. Namun ketika berbincang lebih jauh, mereka mengungkapkan bahwa seringkali pilihan itu didasarkan pada keadaan yang mereka rasakan yang membuat mereka tidak memiliki alternatif.

Mereka mencakup orang tua tunggal yang berjuang untuk memastikan bahwa anak-anak mereka di Romania menerima pendidikan yang layak, serta para perempuan muda korban pelecehan yang membuat rasa percaya diri rendah.

Namun Foxxy, seorang anggota dewan di perkumpulan pekerja seks komersil, Proud, memperingatkan bahwa segala upaya untuk mempidanakan para pelanggan akan membahayakan para PSK itu sendiri.

"Petisi ini tidak melayani kepentingan para pekerja seks. Orang-orang yang membaca Alkitab yang mencoba menghentikan kita," katanya.

"Jika tuntutan mereka dipenuhi, para pekerja seks akan bekerja secara ilegal. Lalu besar kemungkinan kami menjadi korban kekerasan.

"Para pelanggan akan tahu kita tidak bisa lapor ke polisi. Kita akan jauh lebih terpapar risiko, para pelanggan akan mencoba untuk tidak memakai kondom, kami lebih berisiko terkena HIV. Itu terjadi di Prancis ketika mereka memulai model Nordik ini. "

Menanggapi petisi itu, juru bicara kementerian kehakiman mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah memiliki rencana untuk meningkatkan langkah-langkah melawan perdagangan manusia.

Mereka juga menyediakan dana untuk membantu para PSK yang mencoba meninggalkan dunia prostitusi.

Rencana itu akan disosialisasikan dan akan diajukan ke parlemen akhir tahun ini, katanya.

Namun perubahan drastis apapun dalam hukum liberal Belanda akan menghadapi penentangan dari para politikus dan masyarakat yang melihat pelacuran sebagai simbol kebebasan alih-alih penindasan.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Teluk Oman: AS akan kerahkan pasukan tambahan di tengah ketegangan dengan Iran
Rabu, 19 Juni 2019 - 07:48 WIB
Militer Amerika Serikat akan mengirim 1.000 serdadu tambahan ke Timur Tengah di tengah ketegangan de...
Sembilan serial pilihan di bulan Juni
Rabu, 19 Juni 2019 - 07:48 WIB
Dari The Handmaids Tale sampai ke kembalinya Big Little Lies, Eddie Mullan memilih program-program y...
Krisis Sudan: Apa yang sebenarnya terjadi?
Rabu, 19 Juni 2019 - 07:48 WIB
Sudan mengalami krisis politik setelah pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa p...
Mohammed Morsi: Pria yang masa kepresidenannya dipangkas militer Mesir
Rabu, 19 Juni 2019 - 07:48 WIB
Mohammed Morsi merupakan presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis, namun masa kepemimp...
Kasus Qatar tuan rumah Piala Dunia, mantan presiden UEFA dan kapten timnas Prancis Michel Platini diperiksa polisi
Rabu, 19 Juni 2019 - 07:48 WIB
Mantan presiden organisasi sepak bola Eropa (UEFA) dan kapten tim nasional Prancis, Michel Platini, ...
Mohammed Morsi: Mantan Presiden Mesir meninggal dunia setelah pingsan di ruang sidang
Rabu, 19 Juni 2019 - 07:48 WIB
Mantan Presiden Mesir, Mohammed Morsi meninggal dunia pada usia 67 tahun setelah pingsan di balik ke...
Vatikan pertimbangkan tahbiskan laki-laki beristri menjadi pastor di Amazon
Rabu, 19 Juni 2019 - 07:48 WIB
Vatikan sebagai otoritas tertinggi Katolik Roma mempertimbangkan menahbiskan laki-laki tengah baya y...
Mahkamah Konstitusi tolak permintaan tim Prabowo agar para saksi dilindungi melalui lembaga perlindungan
Rabu, 19 Juni 2019 - 07:48 WIB
Sidang sengketa pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi akan berlanjut pada Rabu (19/06) dengan agenda m...
Demo 22 Mei: Peluru standar militer yang ditemukan di tubuh korban meninggal dalam demo di Jakarta dapat digunakan siapa saja
Rabu, 19 Juni 2019 - 07:48 WIB
Polisi masih melakukan pendalaman terhadap sembilan orang yang meninggal dalam kerusuhan terkait has...
Kanselir Jerman Angela Merkel baik-baik saja setelah kejang-kejang saat upacara
Rabu, 19 Juni 2019 - 07:48 WIB
Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengatakan dirinya dalam keadaan baik setelah terlihat seperti menga...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)