Ganti Profil Medsos, Pemegang Visa Orangtua Terancam Deportasi Dari Australia
Elshinta
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:39 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ganti Profil Medsos, Pemegang Visa Orangtua Terancam Deportasi Dari Australia
ABC.net.au - Ganti Profil Medsos, Pemegang Visa Orangtua Terancam Deportasi Dari Australia

Sebuah aturan baru di Australia yang dianggap konyol mengatakan bahwa mereka yang datang menggunakan visa orangtua bisa dideportasi bila tidak memberi tahu pihak berwernang bila mereka mengubah alamat email, atau profil online.

Sejak bulan Maret 2019, pemerintah Federal Australia mengeluarkan visa baru untuk orangtua migran datang ke Australia untuk tinggal bersama anak-anak mereka.

Pengajuan visa tersebut dimulai bulan Juli dan setiap tahunnya tersedia 15 ribu visa.

Menurut Direktur Eksekutif Federasi Komunitas Etnis Mohammad Al-Khafaji visa ini bermanfaat untuk menyatukan keluarga yang terpisah.

Namun dia mengkritik aturan ketat bahwa pemegang visa harus memberitahu pemerintah mengenai perubahan data-data pribadi mereka di media sosial.

"Saya kira mayoritas warga Australia akan setuju bahwa beberapa persyaratan dari visa ini konyol dan tidak memberikan ruang kemungkinan pemegang visa berbuat kesalahan," katanya.

"Pemerintah Australia seharusnya menciptakan suasana yang menyenangkan bagi keluarga yang bersatu kembali, dan tidak menerapkan hukuman berat seperti deportasi untuk kesalahan kecil, khususnya bagi orang tua yang sudah lanjut usia."

Juru bicara Departemen Dalam Negeri Australia mengatakan persyaratan "hanya meminta pemegang visa memberitahu Departemen mengenai perubahan data pribadi dan kontak."

Namun Departemen tersebut tidak menjelaskan nama akun atau profil online mana yang berlaku, dan hanya mengatakan "ini tidak berlaku akun di Instagram dan nama akun di media sosial."

Persyaratan visa menyebutkan pemegang visa secara resmi harus memberitahu pemerintah mengenai perubahan nama, alamat, nomor telepon, alamat email, "user name" dan "profil online yang digunakan pengguna."

Dan pemberitahuan perubahan itu harus disampaikan sekurangnya dua hari sebelum perubahan terjadi.

Aturan ini sebenarnya sudah diberlakukan sejak tahun 2013 namun sejauh ini hanya diterapkan bagi pemegang visa sementara atau mereka yang berasal dari China.

Orang tua dari China diperkirakan menjadi sebagian besar pemohon visa yang disebut reunion visa tersebut.

Visa reunion tersebut diumumkan bulan Maret lalu merupakan visa baru.

Jenis visa yang hampir sama adalah visa permanen untuk orangh tua, yang masa tunggunya lebih panjang, yaitu sekitar delapan tahun saat ini.

Ketika mengumumkan visa tersebut Menteri Imigrasi Australia tersebut akan memastikan "ribuan keluarga akan bisa bersatu kembali dan memberikan manfaat sosial bagi keluarga dan komunitas di seluruh Australia."

Syarat dari visa ini adalah anak dari keluarga yang mengajukan harus memiliki pendapatan paling kurang $AUD 83 ribu (sekitar Rp 830 juta) setahun.

Menurut perkiraan pemerintah Australia walau ada persyaratan orang tua pelamar harus memiliki asuransi kesehatan dan juga biaya yang meningkat, diperkirakan tingkat permohonan visa ini akan tinggi.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Trump Ingin Rusia Kembali ke Kelompok G7
Jumat, 23 Agustus 2019 - 08:41 WIB
Presiden Amerika Donald Trump, Rabu (21/8), mengatakan, ia ingin Rusia kembali dimasukkan ke dalam k...
AS Serukan Kuba Bebaskan Wartawan Pengkritik Pemerintah
Jumat, 23 Agustus 2019 - 08:41 WIB
Pemerintah Amerika, Rabu (21/8), menyerukan pada Kuba supaya mencabut tuduhan atas seorang wartawan,...
Dua Tentara AS Tewas Dalam Pertempuran di Afghanistan
Jumat, 23 Agustus 2019 - 08:41 WIB
Dua orang tentara Amerika tewas, Rabu (218), di Afghanistan, kata para pejabat Amerika. Ini terjadi ...
PM Islandia Tolak Kunjungan Wapres AS Mike Pence
Jumat, 23 Agustus 2019 - 08:41 WIB
Perdana Menteri Islandia Katrin Jakobsdottir mengatakan ia tidak akan berada di ibu kota pada hari W...
Presiden Brazil: LSM yang Sebabkan Kebakaran Hutan
Jumat, 23 Agustus 2019 - 08:41 WIB
Presiden Brazil Jair Bolsonaro menuduh sejumlah lembaga swadaya masyarakat atau LSM bertanggung jawa...
Tak Seorang Rohingya pun Muncul untuk Dipulangkan ke Myanmar
Jumat, 23 Agustus 2019 - 08:41 WIB
Komisioner pengungsi Bangladesh, Kamis (22/8) mengatakan bahwa tak seorang pun Muslim Rohingya yang ...
Mantan PM Denmark Kecam Trump Soal Anggaran Pertahanan
Jumat, 23 Agustus 2019 - 08:41 WIB
Mantan Perdana Menteri Denmark Lars Loekke Rasmussen, Kamis (22/8) mengecam Presiden Amerika Donald ...
Iran Pamerkan Sistem Rudal Jarak Jauh Buatan Dalam Negerinya
Jumat, 23 Agustus 2019 - 08:41 WIB
Media pemerintah Iran menyatakan pemerintah, Kamis (22/8) memamerkan sistem rudal jarak jauh yang di...
Trump Bersikeras Katakan Demokrat Buruk Bagi Israel
Jumat, 23 Agustus 2019 - 08:41 WIB
Presiden AS Donald Trump bersikeras mengatakan, warga Amerika keturunan Yahudi seharusnya memberik...
Korut Katakan Uji Coba Rudal AS Bisa Picu Perang Dingin Baru
Jumat, 23 Agustus 2019 - 08:41 WIB
Seorang juru bicara pemerintah Korea Utara, Kamis (22/8) mengatakan, uji coba rudal jelajah jarak me...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)