Banner imlek 2020 Banner imlek 2020
Ganti Profil Medsos, Pemegang Visa Orangtua Terancam Deportasi Dari Australia
Elshinta
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:39 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Ganti Profil Medsos, Pemegang Visa Orangtua Terancam Deportasi Dari Australia
ABC.net.au - Ganti Profil Medsos, Pemegang Visa Orangtua Terancam Deportasi Dari Australia

Sebuah aturan baru di Australia yang dianggap konyol mengatakan bahwa mereka yang datang menggunakan visa orangtua bisa dideportasi bila tidak memberi tahu pihak berwernang bila mereka mengubah alamat email, atau profil online.

Sejak bulan Maret 2019, pemerintah Federal Australia mengeluarkan visa baru untuk orangtua migran datang ke Australia untuk tinggal bersama anak-anak mereka.

Pengajuan visa tersebut dimulai bulan Juli dan setiap tahunnya tersedia 15 ribu visa.

Menurut Direktur Eksekutif Federasi Komunitas Etnis Mohammad Al-Khafaji visa ini bermanfaat untuk menyatukan keluarga yang terpisah.

Namun dia mengkritik aturan ketat bahwa pemegang visa harus memberitahu pemerintah mengenai perubahan data-data pribadi mereka di media sosial.

"Saya kira mayoritas warga Australia akan setuju bahwa beberapa persyaratan dari visa ini konyol dan tidak memberikan ruang kemungkinan pemegang visa berbuat kesalahan," katanya.

"Pemerintah Australia seharusnya menciptakan suasana yang menyenangkan bagi keluarga yang bersatu kembali, dan tidak menerapkan hukuman berat seperti deportasi untuk kesalahan kecil, khususnya bagi orang tua yang sudah lanjut usia."

Juru bicara Departemen Dalam Negeri Australia mengatakan persyaratan "hanya meminta pemegang visa memberitahu Departemen mengenai perubahan data pribadi dan kontak."

Namun Departemen tersebut tidak menjelaskan nama akun atau profil online mana yang berlaku, dan hanya mengatakan "ini tidak berlaku akun di Instagram dan nama akun di media sosial."

Persyaratan visa menyebutkan pemegang visa secara resmi harus memberitahu pemerintah mengenai perubahan nama, alamat, nomor telepon, alamat email, "user name" dan "profil online yang digunakan pengguna."

Dan pemberitahuan perubahan itu harus disampaikan sekurangnya dua hari sebelum perubahan terjadi.

Aturan ini sebenarnya sudah diberlakukan sejak tahun 2013 namun sejauh ini hanya diterapkan bagi pemegang visa sementara atau mereka yang berasal dari China.

Orang tua dari China diperkirakan menjadi sebagian besar pemohon visa yang disebut reunion visa tersebut.

Visa reunion tersebut diumumkan bulan Maret lalu merupakan visa baru.

Jenis visa yang hampir sama adalah visa permanen untuk orangh tua, yang masa tunggunya lebih panjang, yaitu sekitar delapan tahun saat ini.

Ketika mengumumkan visa tersebut Menteri Imigrasi Australia tersebut akan memastikan "ribuan keluarga akan bisa bersatu kembali dan memberikan manfaat sosial bagi keluarga dan komunitas di seluruh Australia."

Syarat dari visa ini adalah anak dari keluarga yang mengajukan harus memiliki pendapatan paling kurang $AUD 83 ribu (sekitar Rp 830 juta) setahun.

Menurut perkiraan pemerintah Australia walau ada persyaratan orang tua pelamar harus memiliki asuransi kesehatan dan juga biaya yang meningkat, diperkirakan tingkat permohonan visa ini akan tinggi.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
15 Tahun Berlalu, Ratusan Korban Tsunami Asia Masih Belum Teridentifikasi
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Sebuah kontainer kargo di kantor polisi Thailand selatan menjadi saksi masih ada ratusan korban tewa...
Jokowi Ingin Buat Kembaran Silicon Valley di Ibu Kota Baru
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Presiden Joko Widodo mengungkapkan keinginannya agar Indonesia bisa memiliki pusat inovasi, riset, d...
Indonesia Segera Kirim Tenaga Kerja Kesehatan ke Jerman
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:28 WIB
Pada 17 Oktober 2019 lalu, loka karya kerja sama rekrutmen dan pengembangan perawat antara Indonesia...
Di Mana Posisi Indonesia Terkait Kasus Minoritas Uighur di Cina?
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Cina, Wang Yi, di Madrid, Spanyol, Menlu Indonesi...
Pemerkosa Berantai dari Seluruh Dunia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Pemerkosa berantai adalah seseorang yang melakukan tindak perkosaan berulang kali kepada beberapa at...
Indonesia Menyampaikan Rasa Duka dan Siap Bantu Tanggulangi Kebakaran Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:20 WIB
Indonesia telah menyampaikan rasa dukanya kepada perwakilan Australia di Jakarta atas bencana kebaka...
Ratusan Ribu Ternak Australia Terpanggang Matang Akibat Kebakaran Hutan
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie mengatakan hewan ternak yang mati akibat kebakaran hut...
Hewan-hewan Khas Australia Terancam Punah Akibat Kebakaran
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Kangaroo Island di Australia Selatan, adalah pulau yang terkenal karena menjadi rumah hewan-hewan kh...
Setidaknya Dua Ribu Rumah di Australia Terbakar, Kerugian Capai  Rp 7 Triliun
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:18 WIB
Kondisi cuaca yang lebih sejuk dalam beberapa hari terakhir memberikan kesempatan kepada petugas pem...
Waspadai Modus Penipuan Sumbangan Untuk Bencana Kebakaran Hutan Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:17 WIB
Kebakaran hutan dan semak masih terus terjadi di Australia, warga berlomba-lomba untuk memberikan su...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV