Penyintas Persekusi Keagamaan Serukan Tentangan Terhadap Kebencian dan Fanatisme
Elshinta
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Penyintas Persekusi Keagamaan Serukan Tentangan Terhadap Kebencian dan Fanatisme
VOA Indonesia - Penyintas Persekusi Keagamaan Serukan Tentangan Terhadap Kebencian dan Fanatisme
Menteri-menteri luar negeri dari 100 negara, Selasa (16/7) bergabung dengan para penyintas pembantaian di gereja, masjid dan sinagoga untuk menyerukan toleransi dan respek terhadap kebebasan beragama dan kemajemukan agama di seluruh dunia. Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo dan Duta Besar Keliling untuk Kebebasan Beragama Internasional Sam Brownback mengatakan KTT Kebebasan Beragama yang diselenggarakan pekan ini di Washington DC bertujuan mengajak orang-orang dari berbagai keyakinan untuk bersatu dalam menghadapi persekusi agama dan serangan mematikan terhadap tempat-tempat ibadah. Menteri Luar Negeri Pompeo mengatakan,"Semua orang, dari berbagai tempat di dunia, harus diizinkan untuk mempraktikkan keyakinan mereka secara terbuka, di rumah mereka, di tempat ibadah mereka, di tempat umum, dan meyakini apa yang mereka ingin yakini.” Para penyintas persekusi dan serangan agama baru-baru ini memberikan kesaksian yang kuat. Termasuk di antara mereka adalah Nadia Murad, seorang Yazidi dan mantan sandera ISIS dari Irak Utara. Murad, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian itu mengatakan, "Sejarah dan riset telah mengajarkan kita dari waktu ke waktu bahwa genosida merupakan proses yang berlangsung terus menerus. Hampir 350 ribu Yazidi masih telantar di kamp-kamp pengungsi di Kurdistan. Lebih dari 3.000 perempuan dan anak-anak Yazidi masih hilang. Pada tahun 2014, masyarakat internasional bergabung mendukung masalah Yazidi, sekarang ini Yazidi lebih banyak diabaikan.” Yamini Ravindran selamat dari penembakan di gereja pada hari Minggu Paskah lalu di Sri Lanka. Ravindran mengemukakan, “Dampaknya pada masyarakat kami, khususnya komunitas Kristen, ini membuat kami mengalami psikosis berupa ketakutan yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Farid Ahmed selamat dari penembakan di masjid di Christchurch, Selandia Baru, tetapi istrinya tewas sewaktu berusaha mendorong kursi roda sang suami ke pintu keluar lokasi penembakan. Ia mengatakan agamanya mengajarkan untuk memaafkan sang pembunuh. Ahmed mengatakan, "Quran telah mengajari saya, apabila ada orang melakukan hal buruk terhadap kita, balaslah dengan kebaikan. Jika seseorang berbuat jahat terhadap kita, lakukan hal sebaliknya. Jadi ia menumpahkan kebencian pada saya dan saya memberinya cinta.” Para penyintas menyatakan tragedi yang mereka alami membuat orang-orang dari berbagai keyakinan bersatu menghadapi fanatisme dan kebencian. (uh/lt)
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
China Akui Staf Konsulat Inggris Ditahan 15 Hari
Kamis, 22 Agustus 2019 - 08:48 WIB
China mengatakan, seorang staf konsulat Inggris di Hong Kong telah dikenai tahanan administratif sel...
Kebakaran Hutan Mereda di Spanyol, Sebagian Warga Diizinkan Pulang
Kamis, 22 Agustus 2019 - 08:48 WIB
Pihak berwenang di Kepulauan Canary, mengatakan suhu yang menurun dan angin yang melemah telah memba...
Thailand akan Bentuk Pusat Penangkalan Berita Bohong
Kamis, 22 Agustus 2019 - 08:48 WIB
Pemerintah Thailand telah mengumumkan rencana untuk membentuk pusat penangkalan berita-berita di med...
Kapal AL Spanyol Tetap Siaga Untuk Selamatkan Migran di Italia
Kamis, 22 Agustus 2019 - 08:48 WIB
Wakil PM Spanyol Carmen Calvo mengatakan, Rabu (21/8), sebuah kapal angkatan laut negaranya akan tet...
Pemimpin Oposisi Venezuela: Orang-orang Dekat Madura Berusaha Selamatkan Diri
Kamis, 22 Agustus 2019 - 08:48 WIB
Sejumlah perwakilan dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan pemerintahan Presiden Venezuela N...
Aktivis Suriah: Serangan Udara Hantam Rumah Sakit di Desa Pemberontak
Kamis, 22 Agustus 2019 - 08:48 WIB
Sejumlah aktivis oposisi Suriah mengatakan, sejumlah serangan udara menghantam sebuah rumah sakit di...
Beijing Serukan agar AS Capai Kesepakatan Dagang dengan China
Kamis, 22 Agustus 2019 - 08:48 WIB
Beijing menyerukan agar Washington untuk membuat kesepakatan dagang dengan China dan mengakhiri per...
Iran Usahakan Redenominasi Mata Uangnya
Kamis, 22 Agustus 2019 - 08:48 WIB
Presiden Iran Hassan Rohani telah mengajukan sebuah RUU ke parlemen yang akan meredenominasi rial...
PM Denmark Sesalkan Pembatalan Kunjungan Trump Setelah Tolak Penjualan Greenland
Kamis, 22 Agustus 2019 - 08:48 WIB
PM Denmark Mette Frederiksen mengatakan, Rabu (21/8), ia menyesalkan dan terkejut dengan keputusan...
Trump Benarkan Penolakan Denmark soal Greenland Membuatnya Batalkan Kunjungan
Kamis, 22 Agustus 2019 - 08:48 WIB
Presiden AS Donald Trump mengakui ia membatalkan lawatan ke Denmark karena perdana menteri negara i...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 153
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once