AS Cekal Panglima Militer Myanmar terkait Pembersihan Etnis Rohingya
Elshinta
Kamis, 18 Juli 2019 - 08:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
AS Cekal Panglima Militer Myanmar terkait Pembersihan Etnis Rohingya
VOA Indonesia - AS Cekal Panglima Militer Myanmar terkait Pembersihan Etnis Rohingya
Amerika Serikat, Selasa (16/7), melarang kunjungan pemimpin militer Myanmar dan tiga perwira tinggi lainnya, karena peran mereka dalam "pembersihan etnis" warga minoritas Rohingya. AS mendesak pertanggungjawaban atas tindakan brutal mereka. Kantor Departemen Luar Negeri AS mengatakan, pihaknya mempunyai"bukti yang dapat dipercaya" bahwa panglima militer Min Aung Hlaing dan tiga pejabat militer tersebut, terlibat dalam kekerasan dua tahun lalu, yang menyebabkan sekitar 740.000 warga Rohingya melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh. "Dengan pengumuman ini, Amerika adalah negara pertama yang secara terbuka mengambil tindakan terhadap kepemimpinan militer paling senior Burma," kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo. "Kami tetap khawatir bahwa pemerintah Burma tidak mengambil tindakan yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM dan ada laporan terus-menerus bahwa militer Burma melakukan pelanggaran HAM di seluruh negeri," tambah Pompeo dalam sebuah pernyataan. Pompeo menyuarakan kemarahan karena pada Mei Myanmar membebaskan tujuh tentara yang dihukum karena melakukan pembunuhan di desa-desa Rohingya, sebaliknya dua wartawan Reuters yang mengungkap tentang pembunuhan itu malah dipenjarakan lebih dari 500 hari. [ps/pp]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gunung berapi: Tiada tanda-tanda kehidupan setelah letusan di Selandia Baru, kata PM Jacinda Ardern
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyatakan tiada tanda-tanda kehidupan di Pulau Putih...
Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pada 9 Juni 2019, sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di Hong Kong - potret amarah warga te...
Kisah Greta Thunberg, remaja yang menantang pemimpin dunia di konferensi perubahan iklim COP25
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Kampanye lingkungan yang menjadi tumpuan jutaan orang yang ingin mengubah pikiran pemimpin dunia dim...
Peleburan tubuh maskulin dan feminin inspirasi film Kucumbu Tubuh Indahku dari tari Lengger Lanang
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Film Kucumbu Tubuh Indahku memenangkan delapan penghargaan Piala Citra 2019, termasuk pada kategori ...
Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Tahun lalu, para dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Amerika Serikat berup...
Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Rusia dikenai larangan berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun oleh Badan Anti-Dopi...
Samarinda: Mayat balita tanpa kepala diduga tewas
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda, pada Minggu (08/12), di...
Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
"Saya dibesarkan di dunia di mana perempuan yang tampak seperti saya, dengan jenis kulit seperti say...
Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Abiy Ahmed telah mengguncang Ethiopia sejak menjadi perdana menteri...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)