Gempa dan tsunami raksasa ancam Selatan Jawa dan sejumlah daerah lain
Elshinta
Senin, 22 Juli 2019 - 08:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Gempa dan tsunami raksasa ancam Selatan Jawa dan sejumlah daerah lain
BBC Indonesia - Gempa dan tsunami raksasa ancam Selatan Jawa dan sejumlah daerah lain

Peneliti tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyebut daerah Selatan Jawa berpotensi diguncang gempa bermagnitudo 8,8 dan tsunami setinggi 20 meter. Namun, ancaman serupa ternyata juga dihadapi daerah-daerah lain.

Pakar Tsunami Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, mengatakan potensi gempa dan tsunami dashyat disebabkan segmen-segmen megathrust atau sesar naik.

Sebelumnya, Widjo, membuat pemodelan bencana dengan fokus ke daerah Selatan Jawa dan menemukan gempa bermagnitudo 8,8 dan tsunami dengan tinggi 20 meter berpotensi terjadi di daerah itu.

Pemodelan itu berdasarkan pada data "Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017", yang disusun oleh Pusat Studi Gempa Nasional Pusat Litbang Perumahan & Pemukiman.

"Biasanya (gempa) terjadi di daerah subduksi atau pertemuan lempeng-lempeng. Kalau di Selatan Jawa ya pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia" yang (bergerak) tujuh centimeter per tahun," ujar Widjo.

Sejumlah daerah di Selatan Jawa, dari Cilacap hingga Jawa Timur, ujar Widjo, berpotensi terkena dampak bencana itu.

Kabar ini sempat menimbulkan kepanikan publik, khususnya warga Cilacap.

Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, meminta warga untuk tidak panik mendengar informasi ini.

Widjo menekankan, Indonesia memiliki 16 segmen megathrust yang mencakup Pulau Sumatera, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), juga Laut Banda.

Maka, ujarnya, daerah-daerah itu, katanya, juga menghadapi ancaman serupa.

Hak atas foto "Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 201
Image caption Segmen megathrust nasional.

Mengapa skalanya diprediksi begitu besar?

Nuraini Rahma Hanifa, peneliti pusat penelitian mitigasi bencana Institut Teknologi Bandung (ITB), menyebut dalam waktu 300 tahun terakhir, tidak ada gempa yang melebihi magnitudo 8-8,5 baik di megathrust Selatan Jawa, Mentawai, Selat Sunda, bagian Selatan Bali dan Lombok, hingga Utara Sulawesi.

Secara teori, saat terjadi gempa, akan terjadi pelepasan energi yang terkumpul karena subduksi lempeng.

Sebaliknya, kata Nuraini, semakin jarang terjadi gempa bumi, energi akan semakin terakumulasi, sehingga semakin tinggi pula ancama gempa bermagnitudo tinggi.

Hak atas foto DigitalGlobe/ScapeWare3d
Image caption Foto Aceh dari udara setelah tsunami menerjang daratan.

"Semakin lama (energi) tidak dilepaskan, semakin besar juga energi yang terkumpul. Tapi cara dia melepaskan juga mungkin tidak sekaligus," kata Nuraini.

Contoh energi yang dilepaskan sekaligus, ujar Nuraini, adalah gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004, yang bermagnitudo 9,2 hingga 9,3.

"(Cara pelepasan energi) bisa pelan-pelan, bisa sekaligus... tetapi tidak berarti gempa akan terjadi besok atau bulan ini," kata Nuraini.

"Bisa saja terjadi 50 tahun lagi, 100 tahun lagi, bisa jadi besok."

Apa gempa dan tsunami raksasa memiliki siklus?

Nuraini mengatakan sebetulnya gempa memiliki siklus. Namun, studi terkait hal itu, terutama di daerah Selatan Jawa masih minim, ujarnya.

Pengetahuan akan siklus itu, ujarnya, akan membuat masyarakat tahu periode terjadinya gempa di suatu tempat.

Hak atas foto Jewel Samad/ Getty Image
Image caption Tsunami di Palu, Sulawesi Tengah.

Sementara itu, Eko Yulianto, ahli Paleotsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan hasil penelitiannya, yang dilakukan dengan mempelajari rekaman tanah, menunjukkan gempa raksasa di Selatan Jawa terjadi sekitar 400 tahun yang lalu.

Bukti dari gempa yang memicu tsunami itu ditemukan di sejumlah daerah seperti Lebak, Ciletuh, Pangandaran Cilacap hingga Lumajang.

Seberapa besar gempa itu? Eko menjawabnya dengan perbandingan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Berbagai bangunan di Palu menderita kerusakan setelah tsunami tahun lalu.

Gempa Jepang di tahun 2011 dengan magnitudo 9 menyebabkan rupture atau patahan sepanjang sekitar 500 kilometer.

Sementara patahan daerah yang diamatinya, yakni dari Binuangeun hingga Lumajang, adalah sekitar 700 kilometer.

"Dari situ kita bisa membandingkan, setidaknya (patahan) itu bisa memicu gempa di atas (magnitudo) 9, dan itu terdefinisi sebagai gempa raksasa. Kalau gempa itu terjadi, ia memicu tsunami," ujarnya.

Hak atas foto Getty Images

Lalu, apakah gempa raksasa di Selatan Jawa akan terjadi tiap 400 tahun sekali? Eko menjawab tidak pasti.

Sebagai contoh, sebelum gempa dahsyat di Aceh pada tahun 2004, diestimasi gempa dengan kekuatan yang sama telah terjadi 550 tahun sebelumnya.