Kiri Kanan
Musim hujan dan politik sungai di balik banjir di Nepal dan India
Elshinta
Senin, 22 Juli 2019 - 08:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Musim hujan dan politik sungai di balik banjir di Nepal dan India
BBC Indonesia - Musim hujan dan politik sungai di balik banjir di Nepal dan India

Dalam urusan sumber daya air, hubungan antara India dengan Nepal tidak pernah berjalan dengan mudah.

Namun belakangan ini, hubungan ini memburuk pada musim hujan tahunan yang berlangsung dari bulan Juni hingga September.

Banjir menyebabkan ketegangan antara dua negara bertetangga itu dan penduduknya saling meyalahkan satu sama lain.

Tahun ini banjir melanda wilayah ini. Puluhan orang meninggal di Nepal dan Bangladesh, serta lebih dari tiga juta orang mengungsi di India bagian utara.

Panjang perbatasan India dan Nepal sepanjang 1.800 km, dan lebih dari 6.000 sungai dan anak sungai mengalir ke India dari Nepal.

Nepal juga menyumbang 70% aliran Sungai Gangga pada saat musim kemarau.

Maka ketika sungai-sungai ini tak mampu lagi menampung air, banjir melanda dataran Nepal maupun India.

Dalam beberapa tahun terakhir, kemarahan jelas terlihat pada orang-orang di Nepal.

Mereka menyalahkan struktur semacam tanggul di perbatasan yang memblokir air melimpah yang biasanya mengalir ke selatan ke India.

Dua tahun lalu, BBC yang melakukan investigasi di selatan Nepal melihat struktur yang dipersoalkan tersebut.

Di lokasi ini para penduduk setempat dari kedua negara sempat bentrok tahun 2016 sesudah Nepal keberatan dengan tanggul tersebut.

Pejabat Nepal mengatakan ada 10 tanggul semacam ini yang menyebabkan banjir ribuan hektare di Nepal.

Image caption Menurut para pejabat Nepal, struktur seperti ini memperburuk banjir di kawasan mereka.

Pejabat India mengatakan struktur itu adalah jalanan, tapi para ahli di Nepal mengatakan itu merupakan tanggul yang melindungi desa-desa di perbatasan India dari banjir.

Gaur, di distrik Rautahat di selatan Nepal masih banjir dalam tiga hari terakhir minggu ini, dan para pejabat di sana khawatir terjadinya bentrokan.

"Setelah panik, dua gerbang di bawah tanggul di India dibuka dan ini sedikit membantu," kata Krishna Dhakal, inspektur polisi di sana kepada BBC.

Pejabat India tidak menjawab permintaan wawancara BBC.

Selama bertahun-tahun, kedua negara mengadakan pertemuan terkait persoalan ini tetapi tak ada yang berubah.

Pertemuan bulan Mei tahun ini antara pejabat manajemen air kedua negara mengakui adanya "pembangunan jalan dan bangunan lain" di sepanjang perbatasan tapi mengatakan bahwa persoalan ini harus dipecahkan melalui "jalur diplomatik".

Diplomat Nepal dikritik di negaranya karena dianggap tak bisa mengangkat masalah ini dengan efektif.

India sendiri mengalami masalah banjir. Sekitar 1,9 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka di negara bagian Bihar di timur laut.

Bihar merupakan wilayah paling terkena dampak ketika sungai besar seperti Kosi dan Gandaki - yang merupakan anak sungai Gangga - banjir.

Nepal kerap disalahkan karena membuka pintu air dan membahayakan pemukiman di sepanjang daerah aliran sungai.

Namun sesungguhnya pemerintah India yang mengoperasikan bendungan di kedua sungai itu, sekalipun letaknya di Nepal.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Pintu-pintu air di sungai Kosi di Nepal ini dioperasikan oleh India.

Ini bisa terjadi sesuai dengan traktat Kosi dan Gandak yang ditandatangani kedua negara tahun 1954 dan 1959.

Bendungan ini dibangun oleh India untuk mengendalikan banjir, irigasi dan pembangkit listrik. Namun keduanya kontroversial di Nepal karena dianggap tidak mengungtungkan penduduk setempat.

Kebalikannya, pemerintah India menyatakan kedua bendungan ini contoh baik mengenai pengelolaan air lintas perbatasan.

Bendungan Kosi punya 56 pintu air.

Ketika banjir musim hujan datang dan sungai mencapai tingkat "berbahaya", India dikritik karena tak membuka semua pintu air. Menurut penduduk setempat ini membahayakan rumah mereka.

Kosi yang dikenal sebagai "duka Bihar" telah banjir beberapa kali di masa lalu dan menyebabkan kerusakan. Tahun 2008, ia melimpat dan ribuan orang meninggal dunia serta tiga juta penduduk di Nepal dan India terkena akibatnya.

Bendungan ini berumur 70 tahun dan bisa hancur apabila ada banjir besar. India berencana membangun bendungan baru di utara untuk menggantikannya. Letaknya juga akan di Nepal.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Banjir bahkan mendatangi ibu kota Nepal, Kathmandu.

Banyak sungai di Nepal mengalir lewat pegunungan Chure, dan bukit-bukit di sana selama ini memperkecil dampak banjir.

Namun pembalakan hutan dan pertambangan telah membahayakan bukit-bukit itu.

Banyak pembangunan belakangan ini menyuburkan pertambangan batu besar, kerikil dan pasir dari dasar sungai. Industri infrastuktur di Uttar Prades dan Bihar juga menambah kerusakan sumber daya alam di kawasan itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Banjir menjadi semakin buruk sejak benteng alam menghilang.

Dengan pengimbang alamiah ini hilang, menurut pejabat setempat, banjir musim hujan tidak bisa lagi dikendalikan.

Sebuah upaya konservasi besar-besaran diluncurkan beberapa tahun lalu tapi gagal. Kerusakan sumber daya alam kini mencapai tingkat mengkhawatirkan.

Ekologi kawasan ini tak hanya penting bagi masa depan dataran Nepal - yang dikenal sebagai lumbung pangan - tapi juga bagi Uttar Pradesh dan Bihar.

Nepal dikritik oleh India karena dianggap gagal mengendalikan pembalakan hutan dan pertambangan.

Kini musim hujan berjalan tidak menentu seiring perubahan iklim dan para ahli khawatir persoalan kedua negara bisa menjadi lebih rumit lagi.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Upaya Selamatkan Berang-Berang Laut Penjaga Keseimbangan Ekologis
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Berang-berang laut di India berperan penting menjaga keseimbangan ekologis di habitatnya. Namun perb...
8 Manfaat Sentuhan Fisik
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Di dunia yang kian penuh digitalisasi, di mana orang lebih sering kirim pesan daripada bertemu, pent...
WHO: Empat dari Lima Remaja di Seluruh Dunia Kurang Gerak dan Olahraga
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Studi yang dilakukan oleh WHO ini menemukan bahwa 81 persen remaja berusia antara 11 dan 17 tidak me...
Kenapa Timor Leste Mendadak Dirundung Serangan Buaya Liar?
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Mario Da Cruz tertegun melihat sekelompok buaya memangsa seorang bocah kecil di tepi pantai. Ia send...
Dari Meja, Kursi Hingga Ponsel, Milenial India Gemar Sewa Berbagai Perabot
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Di usianya yang menginjak 29 tahun, Spandan Sharma tidak memiliki apartemen, mobil, bahkan kursi. Pe...
Bagaimana Ulama Wahabi Terbelah Soal Penawaran Saham Aramco
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:33 WIB
Modernisasi Arab Saudi yang dipacu oleh Pangeran Muhammad bin Salman dengan mengikis doktrin Wahabis...
Erick Thohir Ingin 20% Pegawai Bandara di Abu Dhabi Diisi Orang RI
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:32 WIB
Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir tengah menjajaki kerja sama dengan Ab...
Bagaimana Seorang Perempuan Rusia Menjadi Bintang Tari Perut di Mesir
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:32 WIB
Johara jarang tampil sederhana. Setiap kali diundang, penari perut berusia 31 tahun itu mengenakan k...
Negara-negara Dengan Kualitas Murid Paling Rendah di Dunia
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:32 WIB
Laporan OECD yang mengukur kemampuan anak 15 tahun di bidang membaca, matematika dan pengetahuan ilm...
Peringkat 6 Terbawah, Indonesia Diminta Tinggalkan Sistem Pendidikan Feodalistik
Jumat, 06 Desember 2019 - 08:32 WIB
Survei kemampuan pelajar yang dirilis oleh Programme for International Student Assessment (PISA), pa...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)