Bagaimana rasanya terjebak dalam serangan senjata kimia dan cara menghindarinya
Elshinta
Senin, 22 Juli 2019 - 08:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Bagaimana rasanya terjebak dalam serangan senjata kimia dan cara menghindarinya
BBC Indonesia - Bagaimana rasanya terjebak dalam serangan senjata kimia dan cara menghindarinya

Zat saraf seperti novichok, sarin, dan VX dapat menimbulkan gejala yang pada awalnya mirip dengan flu berat, tetapi bisa membunuh dalam hitungan menit dan menyebarkan ketakutan yang hampir sama beracunnya dengan zat itu sendiri.

Van putih yang rusak itu sepertinya sudah ditinggalkan. Bemper depannya hilang dan salah satu ban belakangnya sudah kempes. Beberapa orang di sekitarnya bicara dan tertawa di lapangan yang sepi. Mereka tidak melihat gumpalan asap keluar dari bawah kendaraan.

Dalam beberapa menit, asap itu telah berubah menjadi semburan asap yang mengalir dari sekitar pintu dan dari pipa knalpot yang menonjol di bawah van. Mereka yang berdiri di dekatnya hampir sepenuhnya tertelan awan putih dan seorang perempuan menjerit kecil, saat arah angin tiba-tiba berubah dan meniupkan asap itu ke arah saya.

Ketika asap putih itu mencapai saya, ada rasa seperti permen karet. Saya bisa mendengar orang batuk, dan sosok di sekitar saya jatuh ke tanah. Beberapa orang menjerit dan berteriak minta tolong. Yang lain berbaring diam.

Baru 20 menit kemudian saya melihat dengan kabur, ada lampu biru berkedip di sudut, menandakan bantuan datang. Petugas pemadam kebakaran mengenakan setelan perlindungan rumit dengan alat bantu pernapasan penuh. Mereka bergerak dari satu korban ke korban lainnya, memeriksa siapa yang bisa diselamatkan dan siapa yang tidak tertolong.

Untungnya bagi saya dan yang lainnya di kota kecil Mikkeli di Finlandia selatan ini, kejadian ini hanya latihan.

Hari ini adalah persiapan untuk latihan hari berikutnya yang akan mensimulasikan serangan kimia. Skenarionya adalah teroris merilis agen saraf beracun ke tengah hiruk pikuk makan siang di pasar. Simulasi ini dirancang untuk menguji teknologi perintis baru, yang dapat mengubah bagaimana cara layanan darurat bereaksi jika ada pelepasan bahan kimia.

Tapi apa yang kita ketahui tentang kejadian selama serangan kimia? Bagaimana orang merespons, dan bisakah kita benar-benar melakukan sesuatu untuk mencegah hilangnya nyawa?

Di Finlandia, para korban diperankan oleh sukarelawan, tetapi skenario ini didasarkan pada peristiwa nyata yang sangat mengerikan.

Pada 1995, sekte Aum Shinrikyo melakukan lima serangan terkoordinasi dengan melepaskan gas sarin di kereta pada saat jam sibuk. Sebanyak 13 orang tewas dan ribuan lain terluka.

Setahun sebelumnya, serangan sarin oleh kelompok yang sama menewaskan delapan orang dan menyebabkan 600 orang terluka.

"Itu adalah titik awal proyek kami," kata Paul Thomas, seorang ahli kimia analitik di Loughborough University di Inggris yang memimpin proyek yang ada di balik latihan tadi, proyek Toxi-Triage.

Salah satu orang yang selamat dari serangan 1995 adalah Atsushi Sakahara, mantan eksekutif periklanan yang sekarang tinggal di Kyoto, Jepang. Dia berdiri hanya beberapa meter dari salah satu paket cairan yang mengandung sarin.

"Awalnya saya tidak terlalu memikirkannya," kata dia mengenang. "Mata saya terasa kering, agak seperti tegang. Tapi saya punya presentasi penting untuk klien pagi itu, jadi saya pergi ke kantor." Ternyata pagi itu dia akan jadi bagian peristiwa yang akan mempengaruhinya selama sisa hidupnya.

Hari Sakahara telah dimulai seperti biasa, memundurkan alarmnya selama beberapa menit sebelum bangun dan berjalan ke stasiun kereta. Dia membeli koran dan naik kereta Hibiya Line di stasiun Roppongi untuk memulai perjalanan sehari-harinya, 15 menit perjalanan ke stasiun Tsukiji.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Serangan gas sarin di Tokyo pada 1995.

"Saat kereta tiba, saya membaca artikel di surat kabar tentang serangan sarin di Matsumoto sekitar sembilan bulan sebelumnya," kata Sakahara. "Pintu ketiga gerbong kereta pertama agak sepi, jadi saya naik di sana. Di sisi kiri ada tas plastik. Saya hampir duduk di sampingnya, tetapi berubah pikiran."

Nalurinya benar. Kantong plastik yang telah dibungkus koran itu berisi cairan yang terdiri dari 30% sarin.

Dua perhentian sebelum Sakahara naik kereta, seorang anggota Aum Shinrikyo meletakkan bungkusan itu di lantai dan menusuknya dengan ujung payung yang diasah, sehingga isinya menguap ke dalam gerbong.

"Ada seorang pria duduk di sebelah tas itu, dia terlihat tidak sehat, agak lemas dan berkeringat," kata Sakahara.

"Saya hanya merasa tidak seharusnya berada di sana. Mungkin saya seharusnya berteriak, menyuruh semua orang keluar juga, tapi saya tidak melakukannya. Saya berharap saya melakukannya."

Sakahara pindah ke depan gerbong kedua, bersama dengan beberapa penumpang lain yang membanting pintu pembatas di belakang mereka. Ketika dia melihat ke belakang, Sakahara mengatakan dia melihat seorang perempuan hamil di gerbong yang baru saja dia tinggalkan.

Kenangan itu yang melekat padanya ketika dia menyaksikan efek mengerikan sarin mulai berdampak.

"Saya diberi tahu bahwa perempuan hamil itu baik-baik saja, tetapi saya tidak tahu apa yang terjadi padanya," katanya.

Ketika kereta berangkat lagi, pria yang tadi dilihatnya jatuh pingsan. "Seseorang mengatakan dia pingsan. Ketika kami tiba di pemberhentian berikutnya, stasiun Kamiyach?, dia dibawa keluar, staf stasiun bergegas."

Efek sarin bermula dalam beberapa detik setelah dihirup dan gejalanya dapat muncul dalam satu menit setelah terpapar. Sarin bisa menjadi mematikan dalam waktu sekitar 5-10 menit. Namun sebagai uap, dia lebih berat daripada udara sehingga perlu waktu untuk mengisi gerbong.

Penumpang juga dilaporkan membuka jendela di kereta saat mereka mulai merasa tidak sehat. Itu adalah langkah yang mungkin telah menyelamatkan banyak nyawa di gerbong. Hanya satu orang yang kehilangan nyawanya di kereta Sakahara.

Beberapa menit kemudian, gerbong paling depan dievakuasi dan sebuah pengumuman mengatakan ada ledakan di stasiun Tsukiji. Sebenarnya tidak ada ledakan. Kereta lain yang jadi target serangan itu merapat ke peron dengan penumpang yang terhuyung-huyung dan jatuh. Peristiwa yang berlangsung dengan cepat itu menyebabkan kebingungan.

"Tsukiji adalah stasiun tujuan saya," kata Sakahara. "Jadi, saya memutuskan untuk turun dari kereta dan meninggalkan stasiun."

Dia naik taksi ke pusat kebugaran langganannya, mencoba melakukan latihan singkat tetapi kemudian memutuskan untuk mandi sebelum bertemu klien.

Hak atas foto Good People Inc
Image caption Atsushi Sakahara (kiri) sekarang sedang mengerjakan film dokumenter tentang Aum Shinrikyo.

"Saya mulai merasa tidak enak, tapi mandi membantu saya," kata dia. Tanpa disadari, Sakahara telah mengikuti tiga langkah kunci yang direkomendasikan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS jika terjadi serangan kimia: mencari udara bersih, melepaskan pakaian dan mencuci badan dengan sabun dan air.

"Namun ketika saya kembali ke luar, saya seperti melihat ke luar melalui kacamata hitam yang sangat tebal," kata dia.

Penglihatan yang gelap adalah gejala khas paparan sarin bersama dengan nyeri mata, konstriksi pupil, mual dan hidung berdarah.

Ketika Sakahara bertemu dengan seorang rekan di lift kantor yang mengomentari matanya yang merah, barulah dia menyadari apa yang mungkin terjadi.

"Dia bilang saya harus pergi ke rumah sakit," kata Sakahara. "Ketika saya sampai di rumah sakit, sudah ada begitu banyak korban di sana. Saat itu saya sakit kepala dan mata saya sakit. Saya lengket oleh keringat. Seorang dokter menemui saya dan saya bertanya, apa ini. Dia mengatakan tidak tahu."

Perlu waktu beberapa jam sebelum pemerintah Jepang menyatakan bahwa sarin adalah penyebabnya.

Dosis mematikan agen saraf dapat berefek dalam hitungan detik hingga menit, tanda-tanda dari paparan ringan atau sementara bisa sangat tidak jelas. Mata iritasi, pusing, sakit kepala, lendir berlebihan dan kesulitan bernapas. Itu bisa disalahartikan sebagai pilek berat jika tanda-tandanya tak datang terlalu cepat.

Sejumlah bungkusan berisi racun diambil dan dibuang oleh staf stasiun, yang kemudian juga menjadi korban serangan. Banyak dari mereka yang berada di kereta yang terkena dampak dan di stasiun, seperti Sakahara, mondar-mandir ketika layanan darurat sedang mencoba memahami situasi. Mereka kemudian muncul di rumah sakit.

Masalah lain setelah serangan kimia adalah kepanikan. "Di Tokyo, rumah sakit kewalahan saat ribuan orang yang mencari bantuan medis dan jaminan setelah serangan sarin," kata Thomas.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Setetes kecil sarin bisa mematikan, sehingga para tentara yang membersihkan kereta setelah insiden seperti serangan 1995 di Tokyo perlu mengenakan pakaian pelindung.

"Sebagian besar, sekitar 80% dari mereka, sebenarnya tidak perlu perawatan di rumah sakit. Coba bayangkan dampak apa yang terjadi pada rumah sakit yang sibuk ketika ada ratusan orang yang muncul seperti itu. Misalnya nenek Anda terkena stroke hari itu, dia tidak akan mendapatkan perawatan yang diperlukan."

"Kematian itu terlalu mengerikan untuk ditanggung. Banyak orang juga akan dirugikan sebagai akibat dari kemacetan, juga yang terluka karena peristiwa itu."

Di sinilah Thomas percaya teknologi baru dapat membantu: dengan diagnosis cepat jika terjadi serangan di masa depan.

Sebagai contoh, para peneliti di perusahaan elektronik Jerman, Gesellschaft für Analytische Sensorsysteme, atau singkatnya Gas, telah mengembangkan alat analisis napas yang dapat mendeteksi tingkat biokimia rendah yang dikenal sebagai metabolit, yang diproduksi tubuh manusia ketika bereaksi terhadap bahan kimia berbahaya.

Di Mikkeli, asap dicampur dengan peppermint dan sukarelawan diberi kapsul minyak peppermint sebagai pengganti sarin. Karena kapsul ini, tubuh menghasilkan metabolit yang dapat dideteksi oleh instrumen.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rumah sakit di Tokyo dipenuhi korban, dan warga yang panik.

Hanya dengan meniupkan napas ke dalam tabung plastik dengan alat jarum yang terpasang, napas ratusan korban ptensial dapat dianalisis dengan cepat.

"Kita bisa mendapat jawaban dalam waktu sekitar 40 detik," kata Emma Brodrick, manajer aplikasi sistem di Gas yang membantu mengembangkan perangkat BreathSpec.

Sementara itu kembali di Mikkeli, Finlandia, saya menyaksikan teknologi sensor jenis lain yang mendukung petugas emergency darurat selama latihan. Terdengar dengung samar ketika sebuah drone kecil muncul melalui asap berwarna putih yang memang diberi warna seperti itu sehingga bisa dilihat dalam latihan.

Drone itu membawa instrumen kecil yang sangat sensitif yang mengambil sampel gas dan secara nirkabel mengirimkan hasilnya ke petugas emergensi.

"Drone memungkinkan kami mengambil sampel dari dekat sumber tanpa membahayakan personel," jelas George Pallis, seorang insinyur dan direktur pelaksana T4i, perusahaan di balik teknologi tersebut.

Drone juga dapat mengambil sampel di area yang luas dengan sangat cepat sehingga kita juga bisa mendapatkan informasi mengenai sebarannya."

Konsorsium Toxi-Triage juga telah mengembangkan teknologi yang dapat mengambil ciri-ciri khusus bahan kimia beracun dari jarak yang lebih jauh. Menggunakan kamera khusus yang menangkap cahaya, ultraviolet, dan inframerah - yang dikenal dengan sebutan pencitraan hiperspektral - dimungkinkan untuk mendeteksi pola karakteristik yang dapat menunjukkan keberadaan agen kimia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kasus racun Novichok di Salisbury, Inggris, mengingatkan orang akan bahaya senjata kimia.

Meskipun masih dalam tahap pengembangan yang jauh lebih baru daripada teknologi berbasis drone, sistem deteksi hiperspektral ini dapat digunakan dalam perangkat genggam atau dipasang di pesawat terbang kecil.

Ke depannya, tim perancang teknologi ini berharap ciptaan mereka juga dapat dipasang pada satelit dengan optik resolusi tinggi, yang memungkinkan pihak berwenang untuk memantau penggunaan senjata kimia di zona perang.

Di tempat seperti Suriah, laporan penggunaan senjata kimia bergantung pada informasi yang diberikan tim lokal di lapangan. Pengujian selanjutnya terhadap para korban kerap bisa dilakukan berhari-hari setelah serangan yang dituduhkan.

Di wilayah itulah, teknologi baru ini dapat mengubah kemampuan untuk menentukan titik terjadinya serangan dan menemukan mereka yang bertanggung jawab.

"Kewaspadaan berdasarkan data merupakan kunci untuk pencegahan yang efektif," kata Tatyana Novossiolova, seorang peneliti yang mempelajari ancaman yang ditimbulkan oleh senjata kimia dan biologi di Pusat Studi Demokrasi di Sofia, Bulgaria.

Menurutnya, tanggung jawab untuk kewaspadaan ini bukan hanya ada pada pihak berwenang, tapi juga kita semua jika kita ingin memerangi ancaman yang ditimbulkan oleh senjata kimia.

"Ini termasuk juga dengan cara mengetahui siapa yang harus dituju, ketika seseorang menemukan diri mereka dalam situasi berisiko atau darurat, misalnya dengan memahami siapa otoritas atau layanan yang bertanggung jawab yang relevan dan mengetahui cara terbaik untuk menjangkau mereka."

Bagi pihak berwenang dan petugas emergensi sendiri, ketika menangani serangan kimia atau pelepasan bahan kimia berbahaya meskipun secara tidak sengaja, adalah sangat penting untuk mengetahui zat apa yang terlibat di kejadian itu.

Pada tahun 2018, suatu kabut kimia misterius muncul di pantai Selat Inggris, menyebabkan kepanikan yang luas ketika warga melaporkan kesulitan bernapas dan sakit mata. Butuh waktu penyelidikan berbulan-bulan sebelum akhirnya diidentifikasi sebuah kapal yang mengeluarkan gas di selat sebagai sumber gas kimia tersebut.

Akibatnya tenaga emergensi harus bersusah payah untuk mengetahui bagaimana cara merespons kejadian pada saat itu.

"Jika mereka memiliki peralatan kami, mereka akan langsung tahu apa yang mereka hadapi segera begitu mereka tiba di tempat kejadian," kata Thomas. Memahami dengan tepat agen kimia apa yang telah dirilis adalah langkah pertama yang krusial dalam merespon kejadian apa pun, jelasnya.

Tindakan pencegahan dan penanganan dapat bervariasi tergantung pada bahan kimia yang jadi penyebab, sementara mereka yang terpapar harus diperlakukan dengan cara yang berbeda juga. Sebagai contoh, dalam kasus paparan gas saraf dan beberapa keracunan pestisida, pasien biasanya diberikan obat atropin. Tetapi atropin tidak boleh diberikan kepada mereka yang terpapar zat melumpuhkan 3-Quinuclidinyl benzilat, atau BZ, karena justru dapat memperburuk efeknya.

Beberapa agen saraf juga memiliki penangkal khusus yang jika diberikan cukup cepat dapat menyelamatkan nyawa.

Hak atas foto Andy Weekes
Image caption Hanya dengan meniupkan napas ke dalam tabung plastik dengan alat jarum yang terpasang, napas ratusan korban ptensial dapat dianalisis dengan cepat.

Para peneliti seperti Janice Chambers dan timnya di Mississippi State University juga mencoba mengembangkan penangkal yang lebih baik untuk agen saraf yang dapat membantu mengurangi efek mereka pada otak.

"Tujuan kami bukan hanya bertahan hidup, tetapi bertahan hidup dengan kerusakan minimal atau tanpa kerusakan fungsi otak," kata Chambers. Tetapi dia memperingatkan bahwa masih perlu waktu bertahun-tahun sebelum obat baru mereka, yang dikenal sebagai oxime, mendapatkan persetujuan dari pihak berwenang.

Dekontaminasi juga dapat secara drastis mengurangi dampak mematikan senjata kimia. Karena semakin lama suatu zat tertinggal di kulit dan pakaian, semakin banyak zat itu dapat memasuki aliran darah.

Pakaian korban dilepas dari tubuh mereka sebelum dicuci bersih dan digosok di tenda dekontaminasi yang didirikan dengan cepat oleh petugas emergensi yang mengenakan alat pelindung.

Tes telah menunjukkan, dekontaminasi dalam waktu 15 menit setelah paparan bahkan untuk agen saraf yang sangat mematikan seperti VX dapat secara dramatis meningkatkan peluang bertahan hidup korban.

Para sukarelawan di Mikkeli ternyata cukup tabah menjalani bagian latihan yang memalukan dan agak tega ini. Ketika mereka mencapai ujung tenda dekontaminasi, sebuah alat genggam yang terlihat mirip seperti amplas listrik menggilas kulit mereka.

Perangkat pintar yang dikenal sebagai Detektor Gas Array X ini dapat mengidentifikasi keberadaan bahan kimia berbahaya pada kulit, pakaian, dan permukaan lainnya. Mirip seperti penghitung Geiger, tetapi untuk mengukur zat kimia bukan untuk radiasi.

Setiap "korban" juga mengenakan gelang berwarna yang dipasang oleh petugas pemadam kebakaran saat mereka diperiksa.

Di dalamnya ada sebuah chip "pintar" nirkabel yang ketika dipindai dengan ponsel dapat mengungkap siapa dan di mana mereka berada saat kejadian, perubahan kondisi mereka serta perlakuan apa yang telah mereka terima.

Sampel napas, darah, dan urin yang diambil dari mereka juga ditandai. Data ini membantu petugas emergensi melacak para korban ketika mereka kemudian dibawa ke rumah sakit.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Di tempat-tempat seperti Suriah, laporan penggunaan senjata kimia bergantung pada informasi yang diberikan oleh tim lokal.

Beberapa diberikan gelang hitam, indikasi bahwa mereka telah "mati".

Latihan di Mikkeli berakhir dalam beberapa jam dan van usang yang menjadi sumber gas sudah ditarik keluar. Tetapi dalam suatu kejadian nyata bisa jadi berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu sebelum daerah yang mengalami serangan kimia aman bagi manusia untuk didatangi lagi.

Beberapa senjata kimia, seperti sulfur mustard dan VX, dapat bertahan di tanah selama lebih dari sebulan.

Ada area luas antara Lille dan Verdun di Perancis yang tetap menjadi zona merah. Masyarakat, pertanian dan kehutanan terlarang di kawasan ini karena jutaan ton gas beracun dilepaskan selama Perang Dunia I.

Membersihkan banyak amunisi yang tidak meledak yang digali di sini setiap tahun adalah tugas yang menyita waktu dan sulit.

Namun Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan AS telah mengembangkan "penggosok tanah" portabel untuk menghancurkan senjata kimia dengan membakar mereka dan menyaring gas melalui lapisan tanah yang dipilih dengan hati-hati untuk mengubah gas menjadi garam yang tidak berbahaya.

Mungkin warisan yang lebih tahan lama adalah dampak yang ditimbulkan oleh senjata kimia dan kecelakaan pada korbannya.

Korban selamat dari peristiwa Bhopal di India ditemukan menderita berbagai masalah kesehatan jangka panjang yang serius lebih dari 30 tahun setelah mereka terpapar gas beracun. Anak-anak mereka juga menanggung bekas luka insiden itu, anggota tubuh mereka bengkok dan otak mereka rusak.

Hak atas foto Loughborough University

Ada sedikit penelitian tentang efek jangka panjang dari senjata kimia, tapi laporan dari dokter dan penyintas serangan menunjukkan bahwa mereka juga meninggalkan warisan penyakit dan cacat lahir bawaan.

Satu studi tentang orang-orang Kurdi yang selamat dari serangan kimia di Irak pada tahun 1988 baru-baru ini menunjukkan mereka menderita kesehatan fisik dan psikologis yang memburuk, termasuk masalah pernapasan, gangguan tidur, masalah penglihatan dan kecemasan.

Banyak yang terus-menerus hidup dalam ketakutan akan datangnya serangan lain.

Penelitian terhadap orang yang selamat dari serangan sarin 1995 di Tokyo juga mengungkap masalah jantung, cacat otot, dan kesulitan bernapas. Para penyintas juga menunjukkan kerusakan ingatan dan membawa luka psikologis yang dalam.

Atsushi Sakahara yang sekarang berusia 52 tahun masih bergulat dengan efek dari pengalamannya. Secara fisik dia bilang dia sering batuk; matanya lelah ketika harus menyesuaikan diri dengan perubahan pada cahaya.

Dia juga menderita kelelahan parah dan kelumpuhan sesekali di lengan dan kakinya ketika stres. Secara psikologis dia juga menderita.

"Sulit, saya merasa tidak aman sekarang ketika saya keluar," katanya. Penyesalannya karena tidak berteriak untuk memperingatkan orang lain di kereta juga masih jelas di benaknya. "Saya punya banyak kesalahan hari itu."

Namun terlepas dari apa yang telah ia alami, Sakahara juga menunjukkan kemampuan untuk mengatasi kesulitan.

Dia sekarang bekerja sebagai sutradara film dan memenangkan Palm dOr di Canne untuk film pendek berjudul Bean Cake pada tahun 2001. Dia saat ini sedang mengerjakan sebuah film dokumenter tentang sekte di balik serangan yang dia alami, Aum Shinrikyo.

"Saya ingin membantu orang lain untuk memahami apa yang terjadi," katanya. "Jangan sampai peristiwa itu terjadi lagi. Selamanya."

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di How to survive a nerve agent attack di laman BBC Future

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gunung berapi: Tiada tanda-tanda kehidupan setelah letusan di Selandia Baru, kata PM Jacinda Ardern
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyatakan tiada tanda-tanda kehidupan di Pulau Putih...
Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pada 9 Juni 2019, sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di Hong Kong - potret amarah warga te...
Kisah Greta Thunberg, remaja yang menantang pemimpin dunia di konferensi perubahan iklim COP25
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Kampanye lingkungan yang menjadi tumpuan jutaan orang yang ingin mengubah pikiran pemimpin dunia dim...
Peleburan tubuh maskulin dan feminin inspirasi film Kucumbu Tubuh Indahku dari tari Lengger Lanang
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Film Kucumbu Tubuh Indahku memenangkan delapan penghargaan Piala Citra 2019, termasuk pada kategori ...
Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Tahun lalu, para dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Amerika Serikat berup...
Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Rusia dikenai larangan berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun oleh Badan Anti-Dopi...
Samarinda: Mayat balita tanpa kepala diduga tewas
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda, pada Minggu (08/12), di...
Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
"Saya dibesarkan di dunia di mana perempuan yang tampak seperti saya, dengan jenis kulit seperti say...
Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Abiy Ahmed telah mengguncang Ethiopia sejak menjadi perdana menteri...
Terpopuler
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 157
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once