Apa Itu Gangguan Kecemasan?
Elshinta
Senin, 22 Juli 2019 - 08:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Apa Itu Gangguan Kecemasan?
DW.com - Apa Itu Gangguan Kecemasan?

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dari tahun 2015 menunjukkan bahwa sekitar 264 juta orang menderita gangguan kecemasan. Tapi, apa itu sebenarnya gangguan kecemasan?

Rasa cemas itu wajar. Dalam beberapa situasi, rasa itu adalah bentuk perlindungan diri kita dari bahaya. Tetapi hal itu beda dengan gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan meliputi rasa ketakutan yang muncul dalam situasi yang tidak berbahaya. Bahkan jika dipikir secara rasional, tidak jelas apa yang menjadi sebab dari rasa cemas itu, tapi bagi sang perasa itu terasa sangat nyata.

Gangguan kecemasan umum (Generalized Anxiety Disorder)

Ada beberapa bentuk gangguan kecemasan. Salah satunya adalah fobia.

Rasa takut pada fobia biasanya didasari oleh ketakutan terhadap sebuah situasi atau suatu objek (contohnya aviophobia, ketakutan naik pesawat atau arachnophobia, ketakutan terhadap laba-laba). Namun beda halnya dengan fobia, gangguan kecemasan umum tidak memiliki bentuk ketakutan yang jelas. Rasa takut yang dirasakan selalu mengikuti sang penderita bagai sebuah bayangan.

Meski begitu, tidak berarti bahwa penderita penyakit mental tersebut berada dalam rasa kecemasan yang permanen. Seringkali stres yang berkelanjutan menjadi faktor pemicu. Penderita yang memiliki gangguan kecemasan sejak masa remaja biasanya belajar untuk menutupi dan mengatasi kecemasan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, rasa takut tetap bisa menghancurkan seseorang.

Faktor-faktor yang berperan

Kemungkinan seseorang menderita gangguan kecemasan tergantung pada beberapa faktor. Contohnya, perempuan biasanya memiliki risiko dua kali lipat dibandingkan laki-laki. Gangguan kecemasan juga bisa disebabkan oleh faktor genetik. Selain itu, lingkungan dan pengalaman traumatik seseorang juga bisa berperan dalam perkembangan gangguan kecemasan.

Gejala yang paling sering muncul antara lain adalah rasa lelah, susah tidur dan masalah pencernaan. Jika Anda merasa selalu berada dalam kecemasan dan ketakutan selama lebih dari enam bulan, maka cobalah untuk merujuk kepada seorang ahli. Di luar itu, ada beberapa hal simpel yang bisa Anda lakukan sehari-hari dan bisa membawa dampak positif:

Olahraga

Berolahraga dua atau tiga kali seminggu selama minimal 30 menit sangatlah penting. Jenis olahraga yang Anda pilih tidaklah penting, Anda bisa berlari, pergi ke gym, bermain sepak bola atau pun berenang. Tujuan utamanya adalah agar Anda lelah.

Beraktivitas dapat membantu mengurai hormon adrenalin yang diproduksi tubuh dalam keadaan stres. Reaksi tubuh kita saat berolahraga menyerupai reaksi tubuh kita terhadap stres. Detak jantung semakin cepat, tubuh kita berkeringat dan nafas menjadi berat. Tubuh kita belajar untuk menghadapi reaksi-reaksi tersebut dan kemudian akan bisa mengatasi serangan stres dengan baik.

Nutrisi

Diet sehat dan seimbang yang terdiri dari konsumsi biji-bijian, sayuran dan omega-3 dapat membantu mengurangi stress. Makanan dengan kadar karbohidrat tinggi seperti roti atau pasta yang terbuat dari tepung terigu sebaiknya dihindari karena, makanan tersebut meningkatkan kadar insulin tinggi. Level insulin tinggi dapat menyebabkan peradangan pada tubuh yang dapat berdampak negatif terhadap otak. Di sisi lain, buah-buahan dan sayuran dapat melawan peradangan. Ada beberapa zat yang bahkan dapat berperan bagai obat penenang alami, antara lain lemak omega-3 dan triptofan, yaitu asam amino yang ada dalam susu.

Akan tetapi, kopi sangat tidak dianjurkan bagi orang yang cemas atau gelisah karena kandungan kafein yang dimilikinya. Kopi tidak hanya membuat Anda terjaga, tetapi juga meningkatkan detak jantung. Tubuh kita menangkap hal ini sebagai sinyal stres.

Relaksasi

Selain berolahraga dan makan makanan bernutrisi, teknik-teknik relaksasi juga sangat bagus untuk mengurangi stres. Beberapa contoh teknik relaksasi adalah yoga, meditasi dan pembelajaran pelatihan kesadaran. Semua berkaitan dengan cara kita bernapas. Dalam keadaan stress, nafas kita menjadi pendek dan hal itu memancing reaksi "fight or flight" (hadapi atau hindari) dari tubuh. Reaksi tersebut memberikan sinyal bahwa tubuh kita dalam bahaya dan akhirnya mengeluarkan hormon stres. Sedangkan jika kita bernafas secara pelan dan dalam, tubuh kita akan rileks dan hormon stres pun akan berkurang.

Penerapan kebiasaan-kebiasaan tersebut akan menghasilkan perkembangan setelah dua bulan. Jika Anda tidak merasa ada perkembangan, segera kunjungi dokter atau terapi.

(vv/vlz)



Angka penderita gangguan kecemasan telah meningkat sebanyak 15% dari tahun 2005. Apa saja gejalanya dan bagaimana kita bisa mengatasinya?
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gunung berapi: Tiada tanda-tanda kehidupan setelah letusan di Selandia Baru, kata PM Jacinda Ardern
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyatakan tiada tanda-tanda kehidupan di Pulau Putih...
Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pada 9 Juni 2019, sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di Hong Kong - potret amarah warga te...
Kisah Greta Thunberg, remaja yang menantang pemimpin dunia di konferensi perubahan iklim COP25
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Kampanye lingkungan yang menjadi tumpuan jutaan orang yang ingin mengubah pikiran pemimpin dunia dim...
Peleburan tubuh maskulin dan feminin inspirasi film Kucumbu Tubuh Indahku dari tari Lengger Lanang
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Film Kucumbu Tubuh Indahku memenangkan delapan penghargaan Piala Citra 2019, termasuk pada kategori ...
Mengapa kita suka menyiksa diri dengan menyantap makanan super pedas?
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Tahun lalu, para dokter di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit di Amerika Serikat berup...
Rusia dilarang berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun, termasuk Olimpiade 2020 dan Piala Dunia 2022
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Rusia dikenai larangan berkompetisi di semua ajang olah raga selama empat tahun oleh Badan Anti-Dopi...
Samarinda: Mayat balita tanpa kepala diduga tewas
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Mayat balita tanpa kepala yang ditemukan di saluran drainase Kota Samarinda, pada Minggu (08/12), di...
Miss Universe 2019: Zozibini Tunzi, penyokong kecantikan alami yang tidak pernah dianggap cantik
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
"Saya dibesarkan di dunia di mana perempuan yang tampak seperti saya, dengan jenis kulit seperti say...
Nobel Perdamaian 2019: Abiy Ahmed, filosofi medemer dan pendekatan yang lebih liberal
Rabu, 11 Desember 2019 - 08:57 WIB
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Abiy Ahmed telah mengguncang Ethiopia sejak menjadi perdana menteri...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_mitra_detail.php
Line: 157
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 163
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once