Batuan Bulan Ungkap Sejarah Pembentukan Bumi
Elshinta
Senin, 22 Juli 2019 - 08:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Batuan Bulan Ungkap Sejarah Pembentukan Bumi
DW.com - Batuan Bulan Ungkap Sejarah Pembentukan Bumi

Para Astronot Apollo, membawa sampel batuan bulan dari enam lokasi pendaratan ke bumi. Beberapa diantaranya sampel inti bor dari kedalaman beberapa meter. Seluruhnya diangkut sekitar 400 kilo batuan bulan, dari yang berukuran debu halus sampai seukuran bola sepak.

Sampel batuan bulan terbukti jadi harta karun berharga tinggi. Pakar geologi planet dari DLR-Institut für Planetenforschung Berlin, Prof. Ralf Jaumann menjelaskan, umat manusia mengeruk banyak keuntungan ilmiahnya dari "oleh-oleh" dari bulan yang dibawa para astronot itu.

Prof. Ralf Jaumann menjelaskan lebih jauh: "Batuan ini berasal dari benda langit lain. Dan hampir seluruh batuan ini berumur sangat tua. Tentu saja ini merupakan harta karun. Batuan menunjukkan, bagaimana perkembangan bulan dalam empat milyar tahun terakhir. Selain itu karena posisinya dekat bumi, kami bisa menarik neraca kecil tentang bagaimana kemungkinan perkembangan bumi."

Informasi ini sudah lama musnah dari bumi. Sebab batuan di bumi terus melakukan daur ulang. Batuan yang ada di bumi saat ini, nyaris semuanya batuan baru dan tidak lagi tersisa batuan dari fase awal pembentukannya.

Tektonik Lempeng gerus sejarah batuan

Akibat tektonik lempeng, batuan purba di bumi menujam ke bawah tanah, dilumerkan suhu tinggi, dan kembali dimuntahkan ke permukaan oleh gunung berapi. Jejak dari masa awal bumi dengan itu dihapus. Proses dinamika ini terus berlangsung di bumi.

Sebaliknya dari bumi, bulan ibaratnya sebuah gudang arsip. Semua jejak sejarah perkembangannya dari awal pembentukan tetap bertahan hingga kini. Sejumlah eksperimen dilakukan sebelum manusia kembali mendarat di bulan. Beberapa negara adidaya ruang angkasa mengirim satelit yang meneliti permukaan bulan.

Rekaman satelit juga membantu mengungkap rahasia kawah-kawah di bulan. Para peneliti sebelumnya menduga, kawah itu indikasi adanya aktivitas vulkanik. Kini diketahui, tabrakan dahsyat meteorit yang menciptakan kawah-kawah di bulan. Salah satunya kawah raksasa dengan diameter 90 kilometer. Yang dikelilingi sebuah pegunungan raksasa setinggi pegunungan Alpina.

"Semua tercipta dalam waktu beberapa menit. Berbeda dengan di bumi. Kita ketahui, lempeng benua bertabrakan, tercipta pegunungan dalam kurun jutaan tahun. Kemudian lenyap kembali. Di bulan semua tercipta dalam waktu hanya 20 menit, setelah itu tuntas. Dalam peristiwa itu tercipta pegunungan raksasa. Tentu saja hal ini mengubah secara mendasar gagasan perkembangan geologi di bumi.", paparProf. Ralf Jaumann lebih jauh lagi.

Ungkap perkembangan planet di Tata Surya

Batuan bulan yang diangkut ke bumi dalam rangkaian misi Apollo diteliti lebih rinci di laboratorium di bumi. Batuan ini memberikan pengetahuan baru tentang bagaimana perkembangan planet-planet di Tata Surya.

Pakar geologi planet dari DLR-Institut für Planetenforschung Berlin, Prof. Ralf Jauman menjelaskan lebih lanjut: "Jika melangkah lebih jauh, dan berasumsi ini bukan hanya berlaku buat bulan, tapi untuk seluruh tata surya, artinya ini bisa berlaku juga di planet-planet lain. Artinya, bulan memasok skala waktu untuk perkembangan di dalam tata surya. Hal ini tidak eksis sebelum misi Apollo.

Perkembangan di sistem Tata Surya sangat bergejolak, lebih hebat dari dugaan semula. Asteroid dan komet terus menerus menabrak benda langit lainnya. Empat milyar tahun silam, bombardemen benda langit ini sangat dahsyat.

Setelah pendaratan pertama di Bulan, peneliti mengembangkan teori baru. Bulan tercipta dari lontaran material, akibat sebuah benda langit seukuran Mars menabrak bumi. Tapi hingga kini, masih banyak rahasia yang belum terkuak.



Misi pendaratan di bulan juga membawa ratusan kilo batuan bulan. Berbeda dengan batu bumi, batu bulan ibarat arsip yang menyimpan sejarah bumi dan planet dari saat pembentukannya.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
15 Tahun Berlalu, Ratusan Korban Tsunami Asia Masih Belum Teridentifikasi
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Sebuah kontainer kargo di kantor polisi Thailand selatan menjadi saksi masih ada ratusan korban tewa...
Jokowi Ingin Buat Kembaran Silicon Valley di Ibu Kota Baru
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:30 WIB
Presiden Joko Widodo mengungkapkan keinginannya agar Indonesia bisa memiliki pusat inovasi, riset, d...
Indonesia Segera Kirim Tenaga Kerja Kesehatan ke Jerman
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:28 WIB
Pada 17 Oktober 2019 lalu, loka karya kerja sama rekrutmen dan pengembangan perawat antara Indonesia...
Di Mana Posisi Indonesia Terkait Kasus Minoritas Uighur di Cina?
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Cina, Wang Yi, di Madrid, Spanyol, Menlu Indonesi...
Pemerkosa Berantai dari Seluruh Dunia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:27 WIB
Pemerkosa berantai adalah seseorang yang melakukan tindak perkosaan berulang kali kepada beberapa at...
Indonesia Menyampaikan Rasa Duka dan Siap Bantu Tanggulangi Kebakaran Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:20 WIB
Indonesia telah menyampaikan rasa dukanya kepada perwakilan Australia di Jakarta atas bencana kebaka...
Ratusan Ribu Ternak Australia Terpanggang Matang Akibat Kebakaran Hutan
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Menteri Pertanian Australia, Bridget McKenzie mengatakan hewan ternak yang mati akibat kebakaran hut...
Hewan-hewan Khas Australia Terancam Punah Akibat Kebakaran
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:19 WIB
Kangaroo Island di Australia Selatan, adalah pulau yang terkenal karena menjadi rumah hewan-hewan kh...
Setidaknya Dua Ribu Rumah di Australia Terbakar, Kerugian Capai  Rp 7 Triliun
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:18 WIB
Kondisi cuaca yang lebih sejuk dalam beberapa hari terakhir memberikan kesempatan kepada petugas pem...
Waspadai Modus Penipuan Sumbangan Untuk Bencana Kebakaran Hutan Australia
Rabu, 08 Januari 2020 - 09:17 WIB
Kebakaran hutan dan semak masih terus terjadi di Australia, warga berlomba-lomba untuk memberikan su...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV