Nenek Australia Temukan Cucu dan Cicitnya di Kamp Pengungsi Suriah
Elshinta
Kamis, 18 April 2019 - 08:40 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Nenek Australia Temukan Cucu dan Cicitnya di Kamp Pengungsi Suriah
VOA Indonesia - Nenek Australia Temukan Cucu dan Cicitnya di Kamp Pengungsi Suriah
Setelah lima tahun dan dua misi penyelamatan yang gagal, seorang nenek warga Australia bertemu lagi dengan tiga cucu dan dua cicitnya yang masih hidup di kamp pengungsi di Suriah. Mereka dibawa ke Timur Tengah oleh orangtua mereka, warga Australia, tahun 2014 untuk bergabung dengan kelompok yang menamakan diri ISIS. Dari rumahnya di pinggiran kota Sydney, Karen Nettleton telah bertahun-tahun mencoba membebaskan cucunya dari mimpi buruk mereka di Suriah. Mereka menjadi yatim piatu dalam konflik itu dan tinggal di kamp pengungsi yang dikuasai orang-orang Kurdi setelah melarikan diri dari Baghouz, kubu terakhir ISIS. Zaynab, usia 17 tahun, ibu dua anak, dan sedang hamil lagi. Dua saudara laki-lakinya tewas dalam serangan udara bersama ayah mereka, Khaled Sharrouf, pejuang ISIS yang terkenal kejam dan memasang foto putranya yang masih kecil memegang kepala yang terpenggal di kota Raqqa. Tahun 2005, Sharrouf mengaku bersalah karena menyiapkan aksi terorisme di Australia dan dipenjara selama empat tahun. Ia kemudian pergi dari negara itu dengan paspor saudaranya. Istrinya, Tara, seorang mualaf, meninggal akibat masalah usus di zona perang. Pemerintah Australia memberi tahu Karen Nettleton bahwa cucu-cucunya akan segera dibebaskan dan diserahkan kepadanya. “Pemerintah mengatakan akan menyediakan semuanya, misalnya deradikalisasi dan bantuan apa pun yang kami butuhkan supaya anak-anak itu kembali ke masyarakat. Mereka akan membantu kami melakukan itu, dan bahwa anak-anak itu bukan merupakan ancaman atau bahaya bagi siapa pun," ujar Karen Nettleton. Namun, belum jelas, berapa lama proses memulangkan anak-anak itu, sementara anak-anak itu mengatakan sudah putus asa untuk keluar dari kehidupan dibawah militan Muslim. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan pemerintahnya ingin membantu mereka pulang. "Kalau menyangkut anak-anak, maka kami akan bekerja sama dengan Palang Merah. Kalau anak-anak itu bisa dipulangkan ke Australia, maka kami akan menjalani proses itu," ujar Morrison. Kisah Karen Nettleton didokumentasikan oleh Australian Broadcasting Corp. Ia telah dua kali terbang ke Turki untuk mencoba menyelamatkan anak-anak itu, tetapi terpaksa pulang dengan tangan kosong. Diperkirakan terdapat 70 anak yang lahir dari warga Australia di kamp-kamp pengungsi, yang menampung puluhan ribu istri dan anak-anak pejuang ISIS. Menurut pegiat, anak-anak itu adalah korban keputusan mengerikan dari orangtua mereka dan harus diizinkan pulang.(ka)
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tolak kesepakatan, Presiden Guatemala Tunda Lawatan Ke AS 
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:41 WIB
Guatemala, Minggu (14/7), menyatakan menunda lawatan Presiden Jimmy Morales ke Washington untuk memb...
Protes Pemilihan di Rusia, Puluhan Ditangkap 
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:41 WIB
Polisi Rusia menangkap puluhan demonstran di Moskow, termasuk beberapa politisi yang beroposisi, dal...
Huawei Berencana PHK Besar-besaran di AS
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:41 WIB
Raksasa teknologi China, Huawei Technologies, berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) bes...
Perang Tarif dengan AS, Pertumbuhan Ekonomi China Kian Melambat
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:41 WIB
Pertumbuhan ekonomi China melambat ke level terendah dalam triwulan terakhir dalam 10 tahun ini di t...
Hujan Lebat Runtuhkan Bangunan di India, 12 Tewas
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:41 WIB
Sebelas tentara termasuk di antara 12 mayat yang ditemukan dari puing-puing sebuah bangunan berlanta...
Polisi Thailand Sita Lebih dari 1 Ton Metamfetamin Kristal
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:41 WIB
Polisi di Thailand mengatakan mereka telah menyita lebih dari satu ton metamfetamin kristal dalam se...
Polisi Gunakan Tongkat, Semprotan Merica Terhadap Pengunjuk Rasa di Hong Kong
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:41 WIB
Pengunjuk rasa anti-pemerintah yang berjuang dalam bentrokan dengan polisi di pusat perbelanjaan Hon...
Juara Tinju Spanyol Berjuang untuk Hak-Hak Perempuan
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:41 WIB
Pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga saat hamil dan kini menjadi seorang ibu dari dua ...
Minggu Ini, Gerhana Bulan Terakhir Tahun 2019
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:41 WIB
Gerhana bulan terakhir tahun ini akan terjadi minggu ini, yang memungkinkan para penggemar dan penga...
Rusia, Ukraina Bersiap untuk Pertukaran Tahanan
Selasa, 16 Juli 2019 - 17:41 WIB
Para pejabat di Rusia dan Ukraina mengindikasikan bahwa kedua negara bersiap untuk melakukan pertuka...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)